phariyadi's blog

mencari dan memberi yang terbaik

 

KONTAMINAN PADA BEBERAPA KOMODITI PENTING INDONESIA DIBAHAS PADA SIDANG CODEX COMMITTEE ON CONTAMINANTS IN FOODS KE-11

 

Kontaminan Pada Beberapa Komoditi Penting Indonesia Dibahas Pada Sidang Codex Committee on Contaminants in Foods ke-11

11 Apr 2017 9:16 AM

 

Permasalahan tentang kontaminan pada bahan pangan tidak hanya menjadi isu keamanan pangan bagi kesehatan konsumen tetapi juga terkait perdagangan komoditi pangan internasional.  Codex Alimentarius Commission sebagai organisasi standar pangan internasional yang menjadi acuan Negara dalam menetapkan regulasi pangan telah membahas permasalahan kontaminan ini dalam Codex Committee on Food Additives and Contaminants.  Dengan mempertimbangkan banyaknya agenda yang dibahas, Komite ini dipecah menjadi dua yaitu Codex Committee on Food Additives dan Codex Committee on Contaminants in Foods (CCCF).

 

Sidang ke-11 CCCF dilaksanakan pada tanggal 3-7 April 2017 di Windsor Marapendi Hotel, Rio de Janieiro, Brazil.  Negara tuan rumah (host country) CCCF sebenarnya adalah Belanda sedangkan penyelenggaraan sidang kali ini di Brazil dilakukan melalui mekanisme co-hosting.  Sidang dihadiri oleh 49 Negara Anggota, 1 Organisasi Anggota dan observer dari 11 Organisasi Internasional.  Delegasi Indonesia diketuai oleh Prof. Purwiyatno Hariyadi (Institut Pertanian Bogor/Komite Nasional Codex), dengan anggota Siti Elyani (Badan Pengawas Obat dan Makanan), Yeni Restiani (Badan Pengawas Obat dan Makanan), Singgih Harjanto (Badan Standardisasi Nasional) dan Febrizki Bagja Mukti (KBRI Brazil).

 

Sidang CCCF membahas 17 Agenda item yang terkait dengan kontaminan pada bahan pangan segar maupun pangan olahan. Sebelum pelaksanaan sidang, delegasi Indonesia mengadakan pertemuan informal dengan negara-negara Asia pada tanggal 2 April 2017 untuk sharing informasi posisi masing-masing negara terhadap seluruh agenda sidang. Beberapa agenda yang terkait dengan keamanan dan perdagangan internasional produk/komoditi pangan Indonesia adalah sebagai berikut: pembahasan revisi batas maksimum timbal (Pb) pada produk buah dan sayuran (segar dan olahan) dan beberapa kategori pangan lainnya, pembahasan batas maksimum cadmium (Cd) pada produk cokelat dan cokelat olahan, pembahasan Code of Practice pencegahan dan pengurangan kontaminasi arsen pada beras, pembahasan usulan batas maksimum aflatoksin pada ready-to-eat peanuts dan pembahasan Code of Practice tentang pencegahan dan pengurangan mikotoksin pada rempah-rempah.

 

Delegasi Indonesia telah menyampaikan posisi Indonesia sesuai dengan kertas posisi yang telah disiapkan, dibawah koordinasi Badan Pengawas Obat dan Makanan selaku Koordiator Mirror Committee untuk CCCF di Indonesia, dengan beberapa penyesuaian dengan perkembangan selama sidang berlangsung.

 

Beberapa hasil sidang memerlukan perhatian dan langkah tindak lanjut dari kementerian/lembaga terkait (antara lain: Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Badan POM dan BSN) di Indonesia khususnya komoditi yang terkait dengan kepentingan Indonesia diantaranya adalah:

  1. Sebagai negara produsen dan konsumen beras, Indonesia perlu mempelajari lebih lanjut aturan yang ada dalam Proposed draft Code of practice for the prevention and reduction of arsenic contamination in rice yang diajukan untuk diadopsi pada step 5/8 oleh Codex, karena tiga tahun setelah aplikasinya, maximum level (ML) arsen pada beras akan direview oleh CCCF.
  2. Sebagai negara produsen dan konsumen produk coklat dan turunannya, Indonesia perlu terlibat dalam pembahasan electronic working group (eWG) serta menyiapkan data terkait kontaminan cadmium untuk didiskusikan dalam eWG sebelum dibahas pada sidang CCCF mendatang (baik untuk penetapan maximum level (ML) maupun untuk kemungkinan penyusunan code of practice). Menurut laporan JECFA asupan cadmium sebagai akibat konsumsi coklat dan produk-produk coklat tidak menyebabkan permasalahan kesehatan (not a health concern), sehingga penetapan ML untuk cadmium seharusnya digunakan sebagai upaya untuk meningkatkan daya saing produk dan industri coklat dan produk-produk coklat Indonesia.
  3. Komite menyetujui “Proposed Draft Code of Practice for the Prevention and Reduction of Mycotoxin Contamination in Spices” untuk adopsi pada Step 5/8 oleh Codex.  Indonesia perlu mempelajari lebih lanjut dan mensosialisasikan code of practicetersebut, karena mycotoksin merupakan salah satu masalah bagi daya saing rempah-rempah Indonesia. Masih dalam kaitannya dengan rempah-rempah (spices), komite juga setuju untuk memulai new work untuk pembahasan ML untuk aflatoksin total  dan ochratoksin A pada beberapa spices, yaitu nutmeg, chili and paprika, ginger, pepper and turmeric.  Untuk memfasilitasi pembahasannya, akan dibentuk eWG setelah ada persetujuan new work oleh CAC.  Data yang akan digunakan dalam penentuan ML adalah yang tersedia pada GEMS/Food database sehingga apabila ada informasi tambahan yang perlu dikumpulkan, WG dapat berkonsultasi dengan Sekretariat GEMS untuk pengumpulan datanya. Nutmeg (pala) merupakan komiditi rempah-rempah unggulan dari Indonesia, maka  penyiapan data (khususnya mengenai cemaran Aflatoksin dan Ochratoksin A) perlu secara serius dilakukan; sehingga penetapan ML bisa dilakukan dengan baik; dan tidak menyebabkan terjadinya penolakan ekspor produk pala Indonesia di perdagangan internasional.
  4. Komite menyetujui New work Code of Practice for the Reduction of 3-monochloropropane-1,2-diol esters and glycidyl esters in refined oils and products made with refined oils, especially infant formulaNew work ini sangat terkait dengan kepentingan Indonesia sebagai penghasil minyak sawit; produk ekspor unggulan Indonesia.  Menurut hasil kajian Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA) kontaminan ini terdapat pada berbagai minyak (refined oils), tetapi konsentrasi kontaminans pada minyak sawit lebih besar dibandingkan dengan minyak lainnya.  Indonesia perlu melakukan langkah-langkah koordinasi untuk merumuskan dan melakukan penelitian dan upaya mitigasi untuk penurunan kadar kontaminan ini (3-monochloropropane-1,2-diol esters and glycidyl esters) pada produk minyak sawit.  Data-data (hasil penelitian dan percobaan mitigasi) ini sangat penting bagi Indonesia untuk dapat berkontribusi secara aktif dan efektif pada penyusunan draft Code of Practice di electronic working group, sebelum dibahas pada sidang CCCF mendatang.

http://codexindonesia.bsn.go.id/main/berita/berita_det/1080

(Kontaminan Pada Beberapa Komoditi Penting Indonesia Dibahas Pada Sidang Codex Committee on Contaminants in Foods ke-11)

 

INDONESIAN FLAVORS: Spicing Up the World

 
FRI VOL XII/04 2017
01042017-Screen-Shot-2017-04-01-at-9.24.06-AM
INDONESIAN FLAVORS: Spicing Up the World
 
If you combine good flavors, food turns into an orchestra. Joey Fatone (American – Musician)

Sejarah Indonesia banyak diwarnai dengan sejarah tentang rempah-rempah. Buah pala (Myristica fragrans) adalah contoh yang sangat melegenda tentang rempah-rempah Indonesia. Keistimewaan dan manfaat pala telah menjadi incaran pedagang Eropa sejak abad ke-15, sebagai produk yang sangat berharga. Tidak hanya pala; Indonesia kaya dengan aneka rempah-rempah lainnya; seperti pala, cengkeh, lada, kayu manis, dan lain sebagainya.Salah satu peran penting rempah-rempah adalah sebagai bahan baku avor atau perisa. Aneka rempah-rempah ini telah lama digunakan sebagai komponen bumbu aneka pangan pangan yang menghasilkan avor khas, bahkan dapat berperan sebagai penciri produk tersebut. Rendang adalah contohnya, produk olahan daging dari Sumatera Barat ini mempunyai karakter bumbu yang khas, sehingga menghasilkan avor yang khas pula. Beberapa avor khas Indonesia itu bahkan telah mendunia; dikenal dan disukai oleh konsumen global. Contohnya avor rendang dan avor nasi goreng.

Tidak hanya rempah-rempah; sumber bahan baku avor khas Indonesia lainnya adalah dari jenis buah dan tanaman eksotis tropika, seperti aneka jenis mangga, jeruk, pandan, dengan karakteristik avor uniknya masing-masing.

Namun sangat disayangkan jika avor tersebut hanya dapat dinikmati oleh lingkup yang terbatas saja. Kekayaan ini perlu dipertahankan, dilindungi dan dikembangkan menjadi bentuk yang dapat diterima secara global. Tidak hanya itu, eksplorasi keunggulan avor khas Indonesia juga perlu terus dilakukan; karena kebanyakan rempah-rempah dan produk tanaman tropika ini kaya dengan senyawa aktif yang yang dapat memberikan nilai tambah tersendiri. Jelas bahwa hal ini adalah kesempatan yang menantang bagi avor Indonesia untuk membumbui pangan dunia. Indonesian avors; spicing up the world.

Semoga berbagai artikel dan ulasan pada edisi FOODREVIEW INDONESIA kali ini dapat berkontribusi pada perkembangan ingridien, produk dan industri pangan di Indonesia.

Selamat membaca,
Prof. Purwiyatno Hariyadi

 

HAPPY INDULGENCE

 

02032017-Screen-Shot-2017-03-02-at-9.53.36-AM

HAPPY INDULGENCE

Sometimes, it’s just easier to say yes to that extra snack or dessert, because frankly, it is exhausting to keep saying no. Michelle Obama

Peranan pangan memang tidak terbatas untuk pemenuhan kebutuhan gizi dan menjaga kesehatan; tetapi juga mempunyai peran sosial dan budaya. Dalam konteks inilah maka; konsumsi pangan harus juga memberikan kenikmatan dan memanjakan sensori (indulgence) saat dikonsumsi. Dalam peranannya sebagai pemberi kenikmatan inilah muncul kategori produk makanan ringan.

Kebiasaan mencari kenikmatan menyenangkan dengan mengonsumsi makanan ringan ini telah menjadi tradisi dan kebiasaan sebagian konsumen. Happy Indulgence. Kebiasaan ngemil (snacking) inilah yang telah menjadi faktor pendorong tumbuh dan berkembangnya industri makanan di Indonesia, termasuk industri ingridien -seperti- industri krim isian untuk biskuit dan enzyme modified cheese (EMC) pada produk bakeri, dan sebagainya.

Namun demikian, konsumen juga semakin demanding, memiliki tuntutan yang tinggi. Konsumen tidak hanya menuntut bahwa produk harus memberikan kenikmatan (indulgence), tetapi juga harus menyehatkan (healthfull), praktis dan mudah (convenience) untuk dikonsumsi kapan saja. Kategori produk yang memiliki peluang besar memenuhi ketiga tuntutan tersebut adalah produk makanan ringan (snack).

Oleh karena itu, inovasi untuk menciptakan produk yang memberikan kenikmatan, praktis, dan juga menyehatkan perlu menjadi perhatian karena membuka peluang tersendiri bagi industri. Misalnya; inovasi penggunaan bahan baku lokal (misalnya talas, ubi, dan singkong) dan atau pengembangan fl avor sesuai dengan kebiasaan bagi penikmatnya; perlu selalu diusahakan untuk memenuhi tuntutan kenikmatan, kepraktisan, dan sekaligus kesehatan.

Akhirnya, semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat untuk berkontribusi peningkatan daya saing produk dan industri pangan.

Selamat membaca,
Prof. Purwiyatno Hariyadi

 

Seminar Nasional Excess – Universitas Lampung, 4 Maret 2017

 

Seminar Nasional Excess – Universitas Lampung, 4 Maret 2017
“PERAN KETEKNIKAN DALAM KETAHANAN PANGAN DAN ENERGI”
▪ Hari, Tanggal: Sabtu, 4 Maret 2017
▪ Pukul: 08.00 WIB
▪ Tempat: Aula Dekanat Fakultas Teknik Universitas Lampung

Pamflet-Seminar-Nasional-EXCESS-2017-2

Sumber:

http://www.teknikkimiaindonesia.org/index.php/2017/02/11/himatemia-unila-seminar-excess-2017/

 

QUALITY BAKERY

 

QUALITY BAKERY

01022017-Screen-Shot-2017-02-01-at-4.11.37-PM

 

Bread gains populartity in rice state
The Jakarta Post (June 8, 2016)

Produk bakeri, aneka roti, kue, biskuit dan lain-lain, semakin populer dan memiliki tingkat penerimaan yang tinggi oleh konsumen di berbagai wilayah Indonesia. Karena alasan itu, tepat sekali analisis Koran the Jakarta Post, 8 Juni 2016 lalu yang menyoroti laporan dari Rabobank yang melihat meningkatnya popularitas produk roti di negara yang secara tradisi mengonsumsi nasi. Laporan Rabobank tersebut juga menyatakan bahwa industri bakeri di Indonesia tumbuh pesat; dengan laju pertumbuhan volume produk bakeri mencapai 5,5% setara dengan peningkatan nilai 11,7%.

Pertumbuhan industri bakeri termasuk tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan kategori pangan lainnya. Hal ini juga terlihat dengan tumbuh dan berkembangnya industri bakeri baik dalam skala besar maupun kecil, termasuk munculnya aneka outlet dan ritel, berupa aneka toko roti dan warung kopi. Antara lain, pertumbuhan ini dipengaruhi oleh konsumen kelas menengah di Indonesia beserta perubahan gaya hidupnya. Konsumen selalu menuntut industri bakeri untuk bisa memberikan aneka pilihan produk serta memberikan jaminan keamanan dan mutu produk; termasuk pula produk bakeri.

Quality Bakery. Aspek mutu produk bakeri, baik mutu fisik, kimia/ gizi, dan mikrobiologis merupakan salah satu aspek yang harus serius diperhatikan oleh industri untuk memuaskan tuntutan konsumennya. Pembahasan aspek mutu inilah yang disajikan pada FOODREVIEW INDONESIA kali ini. Pembahasan quality bakery ini juga diharapkan dapat menjadi pemicu munculnya ide-ide baru, antara lain pengembangan aneka tepung lokal (non-terigu; tepung talas, tepung singkong, tepung garut, dan lain-lain) serta aneka ingridien lokal lainnya, misalnya aneka buah kering untuk lebih menumbuhkembangkan produk bakeri, khususnya bakeri berkualitas dan berciri lokal.

Selain itu, kami juga menyajikan aneka peraturan mutu dan keamanan pangan yang dikeluarkan oleh Badan POM RI yang tentunya erat terkait dengan mutu dan keamanan produk bakeri. Semoga ulasan yang kami sajikan dapat memberikan kontribusi untuk daya saing produk dan industri bakeri Indonesia.

 Purwiyatno Hariyadi

 

 

Innovation Challenges 2017

 
FRI VOL XII/01 2017
1-17-03012017-Screen-Shot-2017-01-03-at-8.38.11-AM

Innovation Challenges 2017

“In a world of plenty, no one, not a single person, should go hungry. But almost 1 billion still do not have enough to eat. I want to see an end to hunger everywhere within my lifetime.”
-Ban Ki-moon, United Nations Secretary-General

“Today we are seeing best practices in action. We know that, if scaled up with speed, these approaches could increase food production and improve livelihoods without damaging the environment. We need to create conditions for innovation and then invest so that innovation moves from the lab to the farmer’s fields.”
-Rachel Kyte, Vice President of the World Bank

“We need to strengthen research for efficiently produced, healthy food, while ensuring the availability of food at affordable prices. This includes improving logistics, infrastructure, and transportation systems to ensure those who need food are supplied with it.”
-Paul Bulcke, CEO of Nestle

Tantangan pangan untuk tahun 2017 dan tahun-tahun berikut akan semakin berat, terutama dikaitkan dengan tiga hal, yaitu (i) semakin meingkatnya jumlah penduduk, (ii) semakin menurunnya luas lahan untuk produksi pangan, dan (iii) semakin menurunnya kualitas lingkungan.
Dalam konteks global, untuk dapat menyediakan pangan bagi 9 miliar penduduk dunia pada tahun 2050, dunia harus mampu berinovasi untuk mendobel jumlah produksi panganya. Kutipan di atas, dari Ban Ki-moon, Rachel Kyte, dan Paul Bulcke kiranya dapat memberikan gambaran mengenai tantangan pangan masa depan yang perlu dijawab dengan mengembangkan kemampuan inovasi. Tantangan yang tidak mudah.
Sebagaimana pepatah “a journey of a thousand miles begins with a single step”, tantangan 2050 tersebut harus mulai dijawab sejak sekarang 2017, dengan semangat innovasi sebagai langkah pertama; Innovation Challenges 2017.
Dalam konetsks Indonesia, mandat UU Pangan No. 18, tahun 2012 kepada pemerintah untuk menuju ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan pangan juga hanya bisa dijawab dengan inovasi. Mengingat anatomi industri Indonesia yang didominasi oleh usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), maka perlu ada dorongan dan insentif khusus buat kelompok UMKM pangan ini untuk menyuburkan inovasi. Antara lain adalah dengan dikembangkannya skema nurturing, insentif, dan perlindungan-khususnya perlindungan kekayaan tradisi pangan lokal yang tersebar luas di Indonesia.
Akhirnya, semoga informasi yang kami berikan dapat bermanfaat untuk industri pangan. Selamat Tahun Baru 2017.

Selamat membaca,

Prof. Purwiyatno Hariyadi

 

Inovasi Produk Susu untuk Pembangunan Gizi

 
FRI VOL X1/06 2016
 6-01062016-Screen-Shot-2016-06-01-at-9.45.13-AM
Inovasi Produk Susu untuk Pembangunan Gizi

Susu berpotensi untuk berperan penting dalam struktur diet untuk menunjang kesehatan dan kebugaran. Banyak program perbaikan gizi yang menggunakan susu sebagai salah satu komponennya.

Tanggapan industri susu untuk menangkap peluang ini sungguh beragam. Salah satunya, secara inovatif melakukan pengembangan produk berbasis susu. Secara umum, bisa inovasi ini melahirkan 3 kelompok produk; yaitu (i) produk susu dasar (PSD; basic dairy products), (ii) produk susu dengan nilai tambah (PSNT; added-value dairy products), dan (iii) produk susu fungsional (PSF; functional dairy products).

PSD biasanya berupa susu & minuman susu, keju, es krim, frozen desserts & novelties, yogurt & produk susu fermentasi lainnya. PSNT pada dasarnya adalah PSD dengan perubahan komposisi sehingga memberikan nilai tambah bagi konsumennya. Contoh PSNT adalah produk susu rendah/bebas laktosa, produk susu hypoallergenic (dengan protein terhidrolisis), produk susu kaya kalsium, kaya vitamin, dan lain-lain. Sedangkan PSF adalah pengembangan produk PSD dan/ atau PSNT dengan menambahkan ingridien khusus dengan manfaat fungsional yang telah teruji. Contoh PSF adalah produk susu diperkaya dengan probiotik dan/atau prebiotik, kaya serat pangan, dan lain-lain.

Berbagai inovasi ini menambah variasi produk yang sekaligus meningkatkan peranan susu dan produk susu membentuk struktur diet untuk menunjang kesehatan dan kebugaran populasi.

Konsumen dihadapkan pada aneka pilihan produk susu; yang sering disertai dengan aneka klaim atas manfaat yang bisa diperoleh jika mengonsumsi produk tersebut. Disinilah peranan dan tanggung jawab industri diperlukan. Klaim harus sesuai dengan regulasi yang berlaku dan itu haruslah berdasarkan pada kaidah ilmiah yang baik. Dengan klaim yang tepat, disertai dengan edukasi dan promosi yang tepat pula, maka bukan tidak mungkin jika konsumsi susu yang semakin bervariasi, akan meningkatkan peranan susu dan produk susu membentuk struktur diet untuk menunjang kesehatan dan kebugaran populasi.

Semoga, bulan Juni, bulan susu, dimana kita memperingati Hari Susu Nusantara, bisa dijadikan sebagai momentum untuk menjalin kerja sama berbagai pihak dalam meningkatkan peranan susu dan produk susu nasional untuk pembangunan gizi nasional.

Semoga informasi yang diberikan dapat bermanfaat bagi para Pembaca sekalian.

Selamat menikmati,
Prof. Purwiyatno Hariyadi

 

Masa Depan Cerah Pangan Fungsional

 
FRI VOL X1/05 2016
edisi 5.indd

Masa Depan Cerah Pangan Fungsional

Untuk menjadi sehat, seseorang perlu asupan pangan; khususnya pangan yang aman dan bergizi. Hubungan antara pangan dan kesehatan telah lama disadari oleh banyak pihak. Hippocrates (460 BC – 370 BC), misalnya, lebih dari 2000 tahun yang lalu, dengan tajam mengidentifikasi hubungan antara pangan dan kesehatan dengan pernyataan yang sangat populer; “let food be thy medicine and medicine be thy food.” Dari waktu ke waktu, semakin banyak bukti-bukti ditemukan betapa pentingnya pangan terhadap kesehatan manusia. Penemuan vitamin -suatu zat penting bagi kesehatan walaupun jumlahnya sangat kecil- semakin menekankan pentingnya hubungan antara pangan dan kesehatan ini.

Konsep ini terus berkembang, dengan ditemukannya berbagai senyawa aktif bersifat non gizi pada bahan pangan, yang ternyata diketahui mempunyai peran penting bagi kesehatan manusia. Sebagai contoh Negara Jepang yang merupakan pioneer dalam mengembangkan peranan pangan untuk membangun status kesehatan populasinya; dengan meluncurkan kategori pangan khusus, yaitu FOSHU (Foods for Specified Health Uses) pada tahun 1991.

Sejak itulah maka secara global berkembang industri pangan fungsional. Sampai saat ini industri pangan fungsional masih terus berkembang, sejalan dengan meningkatnya kesadaran konsumen atas peranan pangan (fungsional) dan kesehatan.

Pertanyaannya adalah bagaimana masa depan pangan fungsional ini? Jawabannya, industri pangan fungsional mempunyai masa depan yang cerah.

Sebagai ilustrasi, Future Market Insights (http://www.reuters.com/ article/future-market-insights-idUSnBw175946a+100+BSW20150217) melaporkan bahwa nilai pasar pangan fungsional di negara Teluk Arab (Gulf Cooperation Council, GCC) saja, pada tahun 2014 mencapai 4.8 milyar USD, dan diharapkan tumbuh mencapai 9.07 milyar USD pada tahun 2020. Pertumbuhan ini jelas memerlukan ingridien fungsional. Menurut Marketsandmarkets (http://www.marketsandmarkets.com/ Market-Reports/functional-food-ingredients-market-9242020.html), pasar global ingridien pangan fungsional diproyeksikan mencapai sekitar 2,5 milyar USD pada tahun 2020, tumbuh sekitar 6 persen dari 2015-2020.

FOODREVIEW INDONESIA edisi ini mengulas beberapa informasi dan tren perkembangan pangan fungsional ini.

Selamat menikmati,
Prof. Purwiyatno Hariyadi

 

Menjawab Tantangan Keamanan Pangan

 
4-01042016-Screen-Shot-2016-04-01-at-10.22.14-AM
Menjawab Tantangan Keamanan Pangan
Keamanan pangan adalah prasyarat dasar produk pangan. Karena itu, isu keamanan pangan selalu menjadi faktor penting pada perdagangan pangan, apalagi pada skala global.Persyaratan keamanan di berbagai Negara menjadi semakin ketat, sehingga sering menjadi hambatan bagi perdagangan internasional. Bagi Negara maju, dengan kemampuan teknologi lebih tinggi, tentu menerapkan standar yang tinggi –seperti pada penetapan batas cemaran yang semakin kecil, semakin mendekati angka nol, chasing zero- bukanlah masalah yang terlalu pelik. Namun sebaliknya bagi Negara berkembang yang menjadi mitra dagangnya, fenomena chasing zero ini dapat menjadi tantangan yang berat. Selain terkendala oleh good practices, ketersediaan metode analisis juga menjadi masalah tersendiri yang perlu dijawab. Jika tidak bisa memenuhinya, maka bisa dipastikan penolakan akan terjadi, yang ujungujungnya dapat menurunkan nilai ekspor dan mempengaruhi ekonomi suatu Negara.

Di lain pihak, dengan semakin terbuka dan terintegrasikannya pasar global; berbagai perjanjian perdagangan bebas mendorong produk pangan semakin mudah keluar masuk suatu batas Negara. Kondisi ini tentu mendorong setiap Negara (dan setiap industri pangan yang melakukan perdagangan antar Negara) untuk tidak saja melakukan review; tetapi juga melakukan upaya harmonisasi atau saling pengakuan terhadap berbagai standar keamanan pangan yang bisa berbeda untuk berbagai negara. Tantangan lain lagi bagi industri adalah adanya kenyataan bahwa tingkat kepedulian konsumen terhadap keamanan pangan juga semakin meningkat dari waktu ke waktu, dan berbeda dari Negara satu ke Negara lain.

Tantangan ini juga berlaku bagi industri pangan Indonesia. Tantangan ini menjadi semakin nyata dengan mulai berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Untuk memenangkan persaingan, termasuk persaingan dalam pasar domestik, industri pangan Indonesia dan stakeholdernya harus mampu menjawab tantangan keamanan ini. Jawabannya bisa berupa perbaikan sarana dan prasarana keamanan pangan, perbaikan fasilitas produksi pangan, perbaikan sistem manajemen keamanan (bahkan pertahanan) pangan, pengembangan sumber daya manusia dan lain-lain yang perlu dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan. Jelas semua stakeholder perlu menyadari tantangan ini dengan baik, sehingga bisa memberikan jawaban yang tepat pula. Hanya dengan ini maka prasyarat untuk peningkatkan daya saing industri pangan nasional, termasuk usaha kecil dan menengah, bisa dipenuhi.

Semoga informasi pada FOODREVIWEW INDONESIA edisi ini bisa memberikan manfaat bagi peningkatan daya saing industri pangan Indonesia.

Selamat membaca,
Prof. Purwiyatno Hariyadi

 

Machinery for More Competitive Food Industry

 
FRI VOL X1/02 2016
2-01022016-Screen-Shot-2016-02-01-at-9.13.07-AM
Machinery for More Competitive Food Industry

Persaingan industri pangan akan semakin ketat dengan datangnya MEA. Tidak bisa dipungkiri bahwa pengembangan mesin dan peralatan pengolahan pangan untuk industri sangat diperlukan untuk peningkatan daya saing industri pangan nasional kita. Mesin/peralatan pengolahan pangan tidak hanya akan berkontribusi pada peningkatan produktivitas; tetapi juga dalam upaya pemastian mutu dan keamanan produk pangan yang dihasilkan.

Mesin/peralatan pengolahan pangan akan sangat membantu industri untuk memproduksi pangan dengan lebih “seragam” dalam jumlah yang besar dalam waktu yang lebih singkat. Mesin/peralatan pengolahan pangan biasanya didesain untuk melakukan fungsi pengolahan tertentu, berulang-ulang, secara lebih persis dan konsisten. Karena itulah maka, perhatian utama dalam desainnya, umumnya lebih menitikberatkan pada bagaimana mesin/peralatan bisa melakukan fungsi tersebut dengan efektif dan efisien. Sebagai akibatnya, sering mesin/peralatan yang dihasilkan menjadi lebih sulit untuk dibersihkan. Atau bahkan, tidak jarang mesin/peralatan tersebut mempunyai bagian-bagian yang tidak mungkin dibersihkan. Dengan semakin ketatnya peraturan dan persyaratan keamanan dan mutu pangan, maka semakin tinggi pula tuntutan teknologi –termasuk mesin/peralatan pengolahan pangan- yang memungkinkan industri pangan menghasilkan produk yang aman, bergizi, bermutu secara lebih efesien.

Kondisi industri mesin/peralatan pengolahan pangan di Indonesia masih belum berkembang. Industri mesin/peralatan pengolahan pangan perlu mendapatkan perhatian dan dorongan serius semua pihak; supaya bisa lebih berkembang. Posisi Indonesia sebagai pasar besar; hendaknya tidak menjadikan Indonesia lupa pada potensinya. Mesin/peralatan pengolahan pangan yang saat ini masih didominasi oleh produk impor, hendaknya menjadi pemicu semua pihak untuk bergeliat “bangkit”.

FOODREVIEW INDONESIA berharap, industri mesin/peralatan pengolahan pangan di Indonesia bisa lebih berkembang; mendukung perkembangan industri pangan untuk memproduksi pangan yang aman, bergizi, bermutu secara lebih berdaya saing. Machinery for more competitive food industry.

Selamat membaca,
Prof. Purwiyatno Hariyadi