phariyadi's blog

mencari dan memberi yang terbaik

 

BACK TO BASIC: FOOD SAFETY FIRST

 
FRI Vol XV/07 2020
http://pustakapangan.com/store/?category=Foodreview

BACK TO BASIC: FOOD SAFETY FIRST

 

Keamanan Pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah Pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi. UU No 18, 2012

Food Safety:  Assurance that food will not cause harm to the consumer when it is prepared and/or eaten according to its intended use. General Principles of Food Hygiene, CAC/RCP 1-1969

 

Keamanan adalah prasyarat dasar pangan. Jika tidak aman, maka itu bukanlah pangan. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO; http://www.fao.org/fao-stories/ article/en/c/1179647/) menyatakan bahwa “If it isn’t safe, it isn’t food”. Jadi, hal pertama dan utama tentang pangan adalah keamanannya.

Arti keamanan pangan ini, menjadi lebih penting lagi ketika dunia mengalami permasalahan pandemi COVID-19. Hal ini bisa dipahami karena peranan pangan yang esensial untuk memberikan dan (bahkan) meningkatkan daya tahan tubuh melawan COVID-19. Pangan yang tidak aman, bukannya berkontribusi pada daya tahan tubuh, tetapi bahkan bisa jadi menurunkan, atau menyebabkan sakit.

Jelas, pangan tidak aman merupakan hal yang tidak diinginkan. Karena itu, setiap insan pangan perlu memperkuat persyaratan dasar untuk memproduksi pangan yang baik, Back to Basic: Food Safety First.  Semuanya -mulai dari petani/pekebun/peternak/ nelayan, pengepul, pedagang, pengolah, penjaja sampai ke konsumen pangan- perlu secara disiplin dan bertanggung jawab melaksanakan praktik-praktik baik dalam proses produksi, penanganan, pengolahan, distribusi, dan konsumsi pangan, untuk memastikan keamanan pangan.

Khususnya pada masa pandemi dan kenormalan baru, setiap insan pangan pada setiap mata rantai pasok pangan, perlu melakukan langkah-langkah tambahan, sebagaimana direkomendasikan oleh otoritas keamanan pangan – misalnya rekomendasi dari Badan POM RI (Pedoman Produksi dan Distribusi Pangan Olahan pada Masa Status Darurat Kesehatan Corona Virus Disease 2019 (COVID19) di Indonesia (https://bit.ly/ PedomanProduksiDistribusiPanganOlahan).  Industri pangan perlu semaksimal mungkin memastikan (i) bahwa setiap insan pangan tetap sehat, dengan mengaplikasikan protokol kesehatan dalam penyelenggaraan kegiatan produksi pangan, dan (ii) bahwa pangan yang diproduksi tetap aman (dan bergizi, bermutu). Artinya, industri pangan perlu disiplin dan bertanggung jawab memastikan tidak menyebabkan terjadinya wabah keamanan pangan –seperti wabah Listeria monocytogenes pada jamur enoki, misalnya – di tengah-tengah wabah COVID-19.

Dalam hal ini, penting sekali kita –setiap insan pangan- menyadari bahwa “Food safety is everyone’s business”, sesuai dengan tema peringatan Hari Keamanan Pangan Dunia, yang diperingati setiap tanggal 7 Juni. Perlu kesadaran kolektif, bahwa keamanan adalah prasyarat bagi produk pangan. Tidak bermakna kita bicara gizi pangan, atau mutu pangan, jika pangan tersebut tidak aman.

Di sinilah peran penting industri pangan –from farm to table– yaitu peran untuk tetap berproduksi, menyediakan pangan aman dan bergizi, yang merupakan kebutuhan (dan hak) esensial manusia untuk hidup sehat, aktif, produktif secara bekelanjutan. Semoga kita semua tetap sehat, tetap semangat dan bermanfaat memproduksi kebutuhan esensial bagi bangsa.

Semoga informasi yang kami sajikan bermanfaat dalam meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

Lessons learned from COVID-19 for Food Industry

 

Lessons learned from COVID-19 for Indonesian Food Industry [On-demand webinar]

This webinar gives an update on some of the lessons learnt from COVID-19 on the food and beverage industry in Indonesia. Watch it here to learn more.

https://insights.figlobal.com/regional/lessons-learned-covid-19-indonesian-food-industry-demand-webinar

Presentation may be downloaded here : https://www.figlobal.com/content/dam/Informa/figlobal/asia-indonesia/en/2020/pdf/HLN20FIA-GM-Webinar_LessonsLearnedfromCOVID-19_forFoodIndustry.pdf

 

Virus Corona Bukan Penyakit Bawaan Pangan

 

Virus Corona Bukan Penyakit Bawaan Pangan

Berbagai badan otoritas keamanan pangan dunia speerti CDC, WHO, EFSA (Otoritas Keamanan Pangan Eropa), FAO, FDA, CFIA (Canada), termasuk BPOM, menyatakan Covid-19 ditularkan melalui pangan atau kemasan pangan.
David Eka Issetiabudi – Bisnis.com 08 Juni 2020  |  10:59 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Guru Besar Institute Pertanian Bogor (IPB) Purwiyatno Hariyadi menyebut sampai saat ini tidak terdapat bukti virus corona atau Covid-19 dapat ditularkan melalui pangan atau kemasan pangan.

Dengan begitu, menurutnya, Covid-19 bukanlah penyakit bawaan pangan. Dia mencontohkan, berbagai badan otoritas keamanan pangan dunia speerti CDC, WHO, EFSA (Otoritas Keamanan Pangan Eropa), FAO, FDA, CFIA (Canada), termasuk BPOM, menyatakan Covid-19 ditularkan melalui pangan atau kemasan pangan.

Hanya saja, hasil penelitian menjunjukkan bahwa virus corona dapat bertahan (tetap hidup) pada berbagai permukaan selama waktu bebarapa jam hingga beberapa hari, tergantung kondisi suhu, kelembaban relatif, cahaya, dan lainnya.

“Jadi, sesungguhnya ada risiko penularan Covid-19 melalui kontak dengan permukaan yang terkontaminasi.  Hal ini dapat terjadi ketika seseorang menyentuh permukaan yang terkontaminasi Covid-19 dan kemudian ia menyentuh hidung, mulut, atau mata mereka.  Jadi, secara teoritis, virus corona dapat ditularkan dengan menyentuh pangan [atau kemasan pangan] yang terkontaminasi,” katanya kepada Bisnis, Senin (8/6/2020).

Dia menjelaskan virus corona juga diketahui sangat stabil pada suhu rendah (bertahan hingga 2 tahun pada –20 ° C). Dengan begitu, ada potensi coronavisrus dapat bertahan lama pada produk pangan beku.

Selain itu, virus corona mempunyai sifat rentan terhadap suhu tinggi (70°C), sehingga sangat mudah diinaktivasikan dengan pemanasan.

Dengan mempelajari dan memahami karakteristik virus corona tersebut, maka risiko penularan virus corona dapat diminimalkan dengan mengimplementasikan program manajemen keamanan pangan, khususnya praktik-praktik yang baik dalam Produksi Pangan (Good Manufacturing Practices), Higiene Pangan (Good Hygienic Practices), Penangan Pangan (Good Handling Practices) dan lain-lain.

“Penekanan khusus diberikan terutama pada proses pembersihan dan sanitasi untuk peralatan dan fasilitas pengolahan pangan pangan, terutama pada permukaan-permukaan kontak, baik kontak manusia maupun kontak pangan,” tambahnya.

Editor : David Eka Issetiabudi
 

BSN Bahas Eliminasi Asam Lemak Trans Industrial dalam Peringatan Hari Keamanan Pangan Dunia 2020

 

BSN Bahas Eliminasi Asam Lemak Trans Industrial dalam Peringatan Hari Keamanan Pangan Dunia 2020

World Health Organization (WHO) atau Badan Kesehatan Dunia menargetkan untuk mengeliminasi Asam Lemak Trans Industrial (ALTi) dalam rantai pasok pangan dunia pada tahun 2022 atau menjelang 2023. Untuk itu, perlu dicari terobosan sumber-sumber baru pengganti ALTi di dalam negeri. Badan Standardisasi Nasional (BSN) selaku Sekretariat Komite Nasional Codex Indonesia yang terkait dengan standar pangan, memandang bahwa sangat penting untuk menjawab tantangan ini, mengingat waktu yang ditargetkan WHO tinggal beberapa tahun lagi. Oleh karena itu, bertepatan dengan Peringatan World Food Safety Day atau hari Keamanan Pangan Dunia yang diperingati setiap tanggal 7 Juni, BSN menyelenggarakan webinar dengan tema Menghilangkan Asam Lemak Trans Industrial (ALTi) dari Rantai Pasok Pangan: Perspektif Indonesia secara online pada senin (8/6/2020).

Acara dibuka oleh Plt. Kepala Badan Standardisasi Nasional, Puji Winarni yang menyatakan bahwa, “Merujuk pada pelarangan penggunaan Asam Lemak Trans Industrial, webinar ini bertujuan untuk mencari terobosan sumber-sumber baru pengganti ALTi di dalam negeri yang menjadi sangat penting dan berkelanjutan.”

Minyak sawit atau Crude Palm Oil (CPO) dapat menjadi sumber lemak yang menjanjikan, sehingga hal ini menjadi alternatif yang cukup baik dari pelarangan ekspor CPO yang saat ini dihadapi Indonesia. Dengan melalui kajian yang lebih dalam mengingat food safety bukan hanya urusan para pakar, para akademisi, para peneliti, juga menjadi urusan para pembuat keputusan baik di tingkat negara, maupun di tingkat rumah tangga sebagai konsumen akhir dari seluruh rantai pasokan makanan. “Keamanan pangan menjadi urusan kita semua,” demikian diungkapkan oleh Puji Winarni. “BSN selalu mendukung segala upaya untuk menghasilkan makanan yang bergizi, enak dimakan, juga memberikan jaminan keamanan dan keselamatan konsumen,” pungkas Puji Winarni yang juga mewakili para Ibu Rumah Tangga di Indonesia.

Acara yang dimoderatori oleh Vice-Chair Codex Alimentarius Commission, Purwiyatno Hariyadi ini menekankan bahwa tema webinar kali ini menyangkut berbagai upaya yang sudah dilakukan oleh banyak negara yang berhubungan dengan industrially produced trans fat atau asam lemak trans industrial. Poin penting disini adalah bagaimana perspektif Indonesia terhadap hal tersebut. WHO sudah menargetkan untuk menghilangkan atau mengeliminasi industrially produced trans fat dari sistem rantai pasok pangan dunia pada tahun 2022 atau menjelang tahun 2023.

Asam lemak trans industrial yang bersumber dari partially hydrogenated oil (PHO) diperlukan oleh industri makanan, seperti produsen biskuit. Sebagaimana yang diketahui, bahwa untuk Indonesia harus memiliki perspektif berbeda karena posisinya sebagai penghasil minyak sawit yang memiliki karakter tertentu. “Di berbagai negara, minyak sawit sudah dijadikan alternatif menggantikan PHO,” terang Purwiyatno Hariyadi.

Sementara itu, dari Badan Litbang Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Nelis Imanningsih menjelaskan bahwa penyakit stroke, jantung, dan diabetes adalah 3 peringkat teratas penyakit penyebab kematian di Indonesia. Dari hasil studi diet total tahun 2015, berhasil diidentifikasi beberapa jenis pangan yang berkontribusi pada trans fatty acid, no.1 adalah palm oil dengan catatan tergantung dari proses pengolahannya sebelum menyambungkan dengan data kandungan fatty acid di dalamnya. Selain itu, mie instan, roti, biskuit, margarin, hingga keripik juga termasuk makanan yang mengadung fatty acid atau asam lemak.

Nelis menyayangkan hingga saat ini belum terdapat data nasional paparan asam lemak di Indonesia. Namun, masih terdapat arsip sampel dari foodlist Indonesia, berupa komposit sampel dari 15 provinsi yang dapat dilakukan analisis untuk mendapatkan database makanan komposit yang bisa dijadikan satu dengan data konsumsinya.

Kemudian, Nelis berpesan kajian paparan asam lemak trans sebaiknya menggunakan database kandungan makanan olahan yang ada di Indonesia. Analisis lanjut pada data konsumsi Survei Konsumsi Makanan Individu (SKMI) masih sangat mungkin berdasarkan faktor pengolahan makanan, faktor usia, dan lain-lain. “Dua hal yang harus diperhatikan adalah makanan yang mengandung asam lemak trans tinggi dan banyak konsumennya.,” tutup Nelis.

Kemudian dari Departemen Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Sri Raharjo memaparkan mengenai efek ALTi terhadap kesehatan. Dalam materinya, Sri Raharjo menjelaskan industri makanan menggunakan lemak trans atau PHO untuk tujuan menghantarkan panas saat menggoreng, menghasilkan rasa dan tekstur tertentu pada produk makanan, dan lain-lain. Banyak industri makanan menggunakan lemak trans atau PHO pada waktu yang lalu adalah karena PHO memberikan banyak kemudahan dalam penanganannya, formulasi, juga dari sisi harga relatif lebih murah dan bisa berkontribusi pada umur simpan bahan makanan yang lebih lama.

Lemak trans industrial atau Trans Fatty Acid (TFA) bisa berasal dari bahan alami maupun buatan, ruminansia atau hewan pemakan tumbuhan (herbivora) yang mencerna makanannya dalam dua langkah: pertama dengan menelan bahan mentah, kemudian mengeluarkan makanan yang sudah setengah dicerna dari perutnya dan mengunyahnya lagi. TFA dihasilkan dari bakteri yang hidup di area rumen (perut) hewan herbivora tersebut, ini merupakan contoh lemak trans alami.

Sri Raharjo  melanjutkan, TFA buatan biasanya berasal dari PHO. Proses-proses pemurnian minyak, menggoreng makanan dengan minyak bersuhu tinggi secara berulang kali turut memproduksi TFA buatan. Sedangkan, pada produk minyak sawit segar atau belum digunakan untuk proses-proses memasak cenderung tidak ditemukan kandungan lemak trans.

Adapun, menurut Sri Raharjo, “Porsi terbesar asupan lemak trans di Indonesia berasal dari makanan yang digoreng.” Lemak trans buatan memberikan efek buruk terhadap kesehatan jantung.  Sebaliknya, lemak trans alami tidak memberikan efek negatif, bahkan memberikan efek protektif bagi kesehatan.

Disjmpulkan lemak trans menimbulkan banyak penyakit, selanjutnya yang bisa dilakukan sebagai alternatif penggunaan lemak trans, dari sisi performance, ketersediaan, harga harus bisa memenuhi kriteria kebutuhan industri. Satu alternatif untuk menggantikan lemak trans adalah penggunaan minyak sawit, karena memiliki beberapa fraksi yang memiliki karakteristik performance seperti PHO, dari sisi harga cukup terjangkau. “Salah satu penelitian dari Italia menyatakan bahwa konsumsi bahan-bahan dari minyak sawit tidak menyebabkan gangguan kesehatan, juga salah satu penelitan dari Spanyol pun menyatakan bahwa konsumsi minyak sawit tidak menimbulkan penyakit atau beresiko rendah terhadap gangguan kesehatan,” ungkap Sri Raharjo.

Lebih lanjut perwakilan dari Southeast Asian Food and Agriculture Science and Technology (SEAFAST) Center, Institut Pertanian Bogor, Nuri Andarwulan memaparkan mengenai kebijakan manajemen resiko ALTi. Program WHO menyebutkan replacing trans fat dengan unsaturated fatty acid yang dapat menurunkan resiko penyakit jantung. Kebijakan tersebut dikenal dengan nama REPLACE atau REviewing dietary sources of industrial produced trans fat; Promoting the replacement of industrially produced trans fat with healthier alternatives; Legislating or enacting regulatory actions to ban industrially produced trans fat; Assessing the trans-fat content in food and the population’s consumption; Creating awareness of the negative health effects of trans fats; Enforcing policies and regulations.

Saat ini terdapat 23 negara yang meregulasi pelarangan atau pembatasan penggunaan TFA, diantaranya adalah Kanada, Denmark, Afrika Selatan, India, Singapura, Amerika Serikat, Austria, Arab Saudi, Argentina, dan lain-lain. Eropa memberikan regulasi berbeda untuk pelabelan produk makanan, basisnya adalah 2% kandungan lemak trans pada makanan bukan pada total produknya. Singapura diketahui akan mengeliminasi penggunaan PHO pada tahun 2021 mendatang.

Mengutip dari presentasi Nuri Andarwulan, sebuah studi mengenai kebijakan terhadap pengurangan konsumsi TFA, berhubungan dengan cardiovascular disease dan kebijakannya yang intinya adalah semua kebijakan yang diambil terkait TFA oleh suatu negara menurunkan angka asupannya yang juga akan berefek pada performa kesehatan yang berhubungan dengan cardiovascular disease. Regulasi manajemen resiko yang berhubungan dengan eliminasi TFA memberikan dampak yang paling besar, dibandingkan yang sukarela yang menurunkan asupan konsumsi TFA sebesar 38%. Disebutkan juga sebagai kewajiban pelabelan yang menurunkan asupan TFA sebesar 30% – 74%.

Menurut Nuri Andarwulan, yang paling ideal untuk kebijakan manajemen resiko menghilangkan ALTi adalah melarang, mengeliminasi secara wajib untuk PHO, berdasarkan kajian ilmiah yang dilakukan oleh Nuri.

Metode interestifikasi fat bisa menjadi alternatif pengganti PHO yang tidak mengandung trans fat di dalamnya. Interestifikasi merupakan proses pengolahan lemak atau minyak dimana trigleserida dalam minyak akan ditukar satu dengan yang lainnya dengan bantuan katalis Sodium Methooxide, mengutip presentasi perwakilan dari PT. Salim Ivomas Pratama, Susan Tjahjadi mengenai strategi dan peta jalan penggunaan dan eliminasi ALTi di PT. Salim Ivomas Pratama (SIMP).

Interesterified (IE) fats sebagai pengganti penggunaan TFA di PT. Salim Ivomas Pratama sudah mulai dilakukan pada tahun 2020 ini, yang mana sebagian produk margarin sudah mulai menggunakan IE fats, selain itu SIMP sudah memiliki plant untuk memproduksi IE fats di Surabaya, yang selanjutnya SIMP terus melakukan pengembangan untuk produksi IE fats sendiri. Ditargetkan semua produk margarin SIMP tidak menggunakan PHO mulai tahun 2023 mendatang.

Direktur Pengembangan Standar Agro, Kimia, Kesehatan dan Halal BSN, Wahyu Purbowasito turut memberikan sambutan di awal acara yang bekerja sama dengan Kementerian dan Lembaga yang tergabung dalam Komite Nasional Codex Indonesia, diantaranya adalah Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perindustian, Kementerian Kesehatan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Luar Negeri, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPPMI). (PjA – Humas).

 

DAIRY OPPORTUNITIES

 

#worldmilkday #harisusunusantara

DAIRY OPPORTUNITIES

Kondisi sekarang sungguh berbeda. Dampak pendemi COVID-19 sangat dirasakan oleh semua sektor kehidupan, termasuk sektor industri pangan. Namun demikian, Kementerian Perindustrian menggolongkan sektor pangan (makanan dan minuman) sebagai industri dengan permintaan tinggi walaupun pada kondisi pandemi ini. Hal ini disebabkan karena pangan memang adalah salah satu kebutuhan dasar manusia. Pangan – sebagaimana udara yang kita hirup dan air yang kita minum – merupakan kebutuhan esensial untuk kehidupan manusia. Manusia tidak akan mampu bertahan hidup tanpa pangan. Karena alasan itulah maka Food Review Indonesia memberikan apresiasi tinggi kepada semua pekerja pangan, yang dalam kondisi sulit tetap bekerja memenuhi kebutuhan gizi bangsa.

Pada kenyataannya, dampak negatif COVID-19 juga dipikul industri pangan Indonesia, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (GAPMMI), Adhi S. Lukman, menyatakan bahwa sekitar 71,4 persen pelaku industri pangan menyebutkan penjualannya menurun sekitar 20-40 persen. Beberapa produk industri pangan ternyata memang tetap mengalami permintaan meningkat dalam situasi pandemi ini. Beberapa produk pangan dengan kinerja positif di antaranya adalah produk minyak goreng, bumbu masak, pangan sarapan, ikan dan daging kalengan, mi instan, pangan kering, biskuit, dan susu –termasuk susu cair. Peningkatan permintaan ini menarik dianalisis dan dikaitkan dengan respons atau reaksi konsumen dalam kondisi pandemi, yang antara lain memilih produk pangan yang awet (shelf stable) dan praktis.

Khusus untuk produk dairi, hal ini dapat dikaitkan dengan kesadaran konsumen mengenai pentingnya konsumsi dan asupan pangan yang baik akan memberikan gizi yang diperlukan bagi peningkatan daya tahan tubuh untuk melawan serangan virus. Susu dan produk-produk susu merupakan produk kaya gizi, sumber protein berkualitas tinggi, sumber Vitamin B2, Vitamin A, kalsium, dan zat gizi lain yang penting bagi kesehatan dan daya tahan tubuh manusia. Ini adalah kesempatan yang baik untuk memberikan edukasi kepada konsumen tentang pentingnya asupan susu dan produk susu dalam memenuhi target asupan gizi – dairy opportunities.

Kesempatan dan peluang ini hendaknya dapat direalisasikan terutama dalam momentum hari susu dunia (#worldmilkday) dan Hari Susu Nusantara, tanggal 1 Juni 2020 ini. Kondisi pandemi COVID-19 yang memberikan gangguan pada rantai pasok susu secara global, hendaknya dapat pula dipandang sebagai kesempatan bagi peternak susu (termasuk susu kambing) berskala kecil di Indonesia, khususnya untuk mengganti/mensubstitusi beberapa jenis produk susu impor, misalnya produk-produk keju dan yoghurt, dengan produk-produk lokal. Peranan pemerintah (khususnya pemerintah daerah) serta jejaring industri pengolah/peternak susu sangat diperlukan untuk mendorong industri susu lokal memanfaatkan peluang ini.

Untuk itu, Food Review Indonesia edisi kali ini membahas mengenai produk susu dan potensi pengembangannya, yang mudah-mudahan dapat dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk berkembang.

Akhirnya, pada kesempatan ini, Food Review Indonesia juga mengucapkan Selamat Hari Raya Idulfitri 1441 H, mohon maaf lahir dan batin.

Semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat dalam meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

http://www.foodreview.co.id/COVID-19%20DAN%20KEAMANAN%20PANGAN.pdf

 

Hariyadi, P dan Dewanti-Hariyadi, R. 2020. COVID-19 dan Keamanan Pangan – Sepuluh Pelajaran untuk Industri Pangan.  FOODREVIEW Indonesia.  VOL. XV, NO. 5, Mei 2020.  Hal  21 – 27

 

WEBINAR FOOD SECURITY POLICY MEASURES DURING COVID-19 PANDEMIC

 

WEBINAR FOOD SECURITY POLICY MEASURES DURING COVID-19 PANDEMIC

Pada Hari Sabtu Tanggal 16 Mei 2020, telah dilaksanakan Webinar ICSDH dengan tema “Food Security Policy Measures During Covid-19 Pandemic”.

Pembicara dalam webinar tersebut, Prof. Visith Chavasit (Institute of Nutrition, Mahidol University), Prof. Purwiyatno Hariyadi (Vice-Chair of Codex Alimentarius Commission, IPB University), Dr. Drajat Martianto (IPB University) dan moderator Mouhamad Bigwanto, S.K.M., MPHM (Lecturer, FIKES UHAMKA Head of PUSKAKES UHAMKA).

Materi yang disampaikan oleh masing-masing pembicara, Prof. Visith Chavasit (Institute of Nutrition, Mahidol University) “Covid-19 Pandemic Impact on Food Security”, Prof. Purwiyatno Hariyadi (Vice-Chair of Codex Alimentarius Commission, IPB University) “Food Security Policy Measures Globally During Covid-19”, Dr. Drajat Martianto (IPB University) “Covid-19 Impact on Food Security in Indonesia”.

Peserta yang hadir sekitar 250 peserta via Zoom dan 240 peserta via YouTube.  Selain itu juga, peserta yang hadir juga tidak hanya dari institusi di Jakarta saja. Tetapi ada yang berasal dari Thailand, Universitas Negeri Medan, Universitas Nahdhatul Ulama NTB, Politeknik Sambas Kalbar, Puskesmas Kukutio (Sulawesi Tenggara), Universitas Hasanuddin (Makasar), Universitas Halu Leo (Sulawesi Selatan), Politeknik Kesehatan Kemenkes Jayapura (Poltekkes Kemenkes Jayapura)

Webinar ini bertujuan untuk mengetahui langkah-langkah kebijakan tentang ketahanan pangan selama pandemic covid-19. Semoga dengan webinar ini dapat memberikan manfaat kepada masyarakat luas untuk dapat melakukan rencana-rencana ketahanan pangan terutama dalam keluarga selama pandemic covid-19.

Sebenarnya, banyak peserta yang ketika berlansung inging gabung via zoom, namun karena terbatas hanya bisa via youtube. Meskipun acara ini sudah selesai, bagi yang ingin menyimak ulang bisa disimak di alamat Youtube berikut.

Webinar : “Food Security Policy Measures During COVID-19 Pandemic”

Siapapun harus siap menghadapi kemungkinan terburuk dari covid-19 ini. Dan food security adalah salah satu solusi yang harus dipertimbangkan saat kemungkinan terburuk itu terjadi.

 

Webinar Codex Indonesia: Jaminan Standar Mutu dan Keamanan Pangan selama Pandemi Covid-19

 

Webinar Codex Indonesia: Jaminan Standar Mutu dan Keamanan Pangan selama Pandemi Covid-19

  • Kamis, 30 April 2020
  • Humas BSN
  • https://bsn.go.id/main/berita/detail/11061/webinar-codex-indonesia-jaminan-standar-mutu-dan-keamanan-pangan-selama-pandemi-covid-19

Isu-isu mengenai kesehatan sebagai akibat dari pandemi Covid-19 telah menjadi perhatian banyak pihak untuk melakukan berbagai usaha dalam meminimalkan hingga menghilangkan dampak negatif yang timbul. Di sisi lain pangan juga menjadi persoalan utama sehingga banyak negara berlomba mengamankan ketahanan pangan agar mampu menghadapi masa krisis yang diperkirakan masih akan terjadi dalam jangka panjang.

Untuk mencegah semakin meluasnya penyebaran Covid-19, sejumlah negara menerapkan karantina beberapa wilayah bahkan lockdown. Opsi tersebut mengharuskan ketersediaan pangan dalam jumlah besar di setiap negara, yang ujungnya dapat mengganggu pasokan pangan global. Selain ketersedian pasokan pangan yang cukup, proses produksi pangan yang baik atau Good Manufacturing Practice(GMP) perlu diperhatikan sebagai jaminan standar mutu dan keamanan pangan. Dalam rangka mengelaborasikan segala informasi berkaitan dengan pangan selama pandemic Covid-19, Badan Standardisasi Nasional (BSN) mengadakan Web Seminar (Webinar) Codex Indonesia pada Kamis (30/4/2020) yang menghadirkan Vice-Chairperson of the Codex Alimentarius Commission, Purwiyatno Hariyadi dan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman sebagai narasumber.

Purwiyatno Hariyadi menyampaikan bahwa Covid-19 yang diindikasikan sebagai sesuatu yang baru berkaitan dengan virus yang menyerang sistem pernapasan manusia menjadikannya sebagai suatu hazard yang berpengaruh terhadap keamanan pangan. Untuk itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia menyusun pedoman produksi dan distribusi pangan olahan pada masa status darurat kesehatan corona virus disease 2019 (Covid-19) di Indonesia. Sambung Purwiyatno Hariyadi.

Selain kesehatan pangan, kecukupan pasokan bahan pangan selama pandemi Covid-19 perlu menjadi perhatian yang mengacu pada lembaga pangan otoritatif. “Perlu langkah-langkah tambahan atau additional measure untuk menjaga pasokan bahan pangan yang mengacu pada lembaga pangan otoritatif yang menghimbau para pelaku usaha bidang pangan agar tidak hanya fokus pada bahan pangan saja tetapi juga fokus kepada orang yang memproduksi atau mengolah bahan pangan yang mana mempengaruhi keamanan juga untuk menjaga pasokan pangan,” jelas Purwiyatno.

Purwiyatno menambahkan bahwa Covid-19 bukanlah penyakit bawaaan makanan, karena pangan bukan materi perantaranya, sehingga dari sisi science tidak ada perubahan standar keamanan pangan terkait kejadian pandemi Covid-19, atau saat ini beresiko kecil bahwa pangan sebagai perantara virus Covid-19.

Walau tidak berhubungan langsung dengan keamanan pangan, tetapi kita harus berfokus pada standar praktik-nya atau code of practice. Ini disebabkan karena orang yang memproduksi makanan tersebut harus aman dan selamat. Covid-19 berpotensi mengganggu berkurangya jumlah pekerja yang mengakibatkan terhambatnya mobilitas orang dan barang atau logistik.

Dapat diambil kesimpulan, standar tidak berubah namun standar keamanan pangan benar-benar harus diaplikasikan, terutama pangan yang masuk kategori Code of Practice General Principles of Food Hygiene dan Good Manufacturing Practice. “Jangan sampai virus masuk ke fasilitas produksi pangan sehingga protokol kesehatan perlu dilaksanakan secara konsisten,” tutup Purwiyatno Hariyadi.

Sementara itu, dari kaca mata bisnis, pandemi Covid-19 memberikan pengaruh pada pola bisnis dan upaya produsen untuk mendukung ketersediaan pangan yang bermutu dan aman. Ketua Umum GAPMMI, Adhi S. Lukman menyampaikan bahwa selama pandemi yang berlangsung sejauh ini pemerintah pusat telah mengeluarkan kebijakan untuk menjaga daya beli masyarakat, industri pangan kesehatan, obat, dan lain-lain tetap beroperasi untuk menjaga ketersediaan, pengawasan dan penerapan physical distancing secara ketat oleh industri. Di lingkup pemerintah daerah memiliki kebijakan untuk pembatasan aktivitas, industri diminta berhenti di beberapa daerah, wajib rapid testkepada seluruh karyawan bagi industri yang beroperasi. Adapun, beberapa peraturan yang ditetapkan pemerintah diantaranya adalah Keppres 12/2020 : Penetapan bencana non-alam penyebaran corona virus disease 2019 (COVID -19) sebagai bencana nasional (13 April 2O2O); SE Menperin 7/2020 : Pedoman Pengajuan Permohonan Perizinan Pelaksanaan Kegiatan Industri dalam masa Kedaruratan Kesehatan Masyarakat COVID-19 (9 April 2020); SE Menperin 4/2020 : Pelaksanaan Operasional Pabrik dalam Masa Kedaruratan Kesehatan Masyarakat COVID-19 (7 April 2020); Surat Mendag 317/M-DAG/SD/04/2020 : Menjaga Ketersediaan dan Kelancaran Pasokan Barang Bagi Masyarakat (3 April 2020); dan lain-lain.

Menurut data yang disajikan dalam presentasi hasil survei menunjukkan bahwa sebesar 71,4% responden dari industri makanan dan minuman menyatakan adanya penurunan penjualan dengan perkiraan 20% sampai 40% sepanjang wabah terjadi. Sehingga sebanyak 64% responden berencana mengurangi kapasitas produksi makanan dan minuman . Adapun produk air minum dalam kemasan atau AMDK yang memiliki imbas penurunan penjualan paling besar yang terdiri dari air gallon mengalami penurunan penjualan sebanyak 20%, air minum dalam kemasan ukuran 600 ml mengalami penurunan sebanyak 37,70%, air minum dalam kemasan ukuran 220 ml mengalami penurunan sebanyak 42,20%, dan lain sebagainya. Diprediksi sektor yang akan cepat pulih adalah yang terkait kebutuhan pangan pokok, kebutuhan gizi anak seperti susu dan sereal, juga pangan untuk kelas menengah ke atas

Untuk itu perubahan pola hidup setelah Covid-19 akibat ketakutan pandemi yang diprediksi akan berlangsung lama adalah banyak orang akan memasak di rumah dengan mengonsumsi bahan pangan yang sehat. Hal ini dapat menimbulkan perhatian terhadap food safety atau keamanan pangan baik di kalangan produsen maupun konsumen. Sehingga diharapkan BSN dapat mengeluarkan kebijakan pangan yang utuh dari hulu ke hilir, “Pangan harus aman agar dapat dijual dengan baik,” tegas Adhi S. Lukman.

Webinar yang dibuka oleh Direktur Pengembangan Standar Agro, Kimia, Kesehatan, dan Halal BSN, Wahyu Purbowasito dan dimoderatori oleh Kepala Subdirektorat Pengembangan Standar Pertanian dan Halal BSN, Singgih Harjanto ini berjalan secara interaktif dan diakhiri dengan tanya-jawab oleh peserta dan narasumber. Tercatat 500 peserta mengikuti secara langsung melalui Zoom Webinar dan siaran langsungnya melalui Facebook dilihat sebanyak 331 kali sedang melalui YouTube telah dilihat sebanyak 987 kali pada saat berita ini ditulis.

(PjA – Humas)

 

CONFECTIONERY STORY

 

http://www.foodreview.co.id/

CONFECTIONERY STORY

All you need is love. But a little chocolate now and then doesn’t hurt. Charles M. Schulz (Cartoonist, 1922-2000).

Dessert is probably the most important stage of the meal, since it will be the last thing your guests remember before they pass out all over the table. William Powell (Actoes, 1892-1984)

Indonesia memang kaya aneka ragam jenis pangan. Jenis pangan dan kebiasaan makan suatu masyarakat memang dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain dipengaruhi oleh faktor ekonomi, sosial dan budaya, pendidikan, kesehatan, pengalaman dan lain-lain. Karena itu, pangan mempunyai banyak arti dan nilai. Pangan bisa berarti budaya, bisa juga berarti identitas. Di suatu masyarakat tertentu, selalu ada tradisi dan budaya yang bercerita tentang produk pangan, kebiasaan makan, khasiat dan tentu saja komposisi nilai gizinya.

Demikian pula dengan produk konfeksioneri. Contoh produk konfeksioneri ini adalah produk-produk permen (kembang gula) dan cokelat. Kekayaan Indonesia juga luar biasa. Sebut saja ampyang (kembang gula khas Jawa, terbuat dari kacang tanah dan gula jawa), gulali, dan dodol. Dodol, misalnya, mempunyai nama yang berbeda di daerah yang berbeda, seperti wajit, jenang, lempok, dan gelinak, yang menunjukkan adanya tradisi, khususnya tradisi pengolahan pangan berdasarkan bahan baku yang sesuai dengan sumber daya khas daerahnya.

Produk konfeksioneri ini biasanya dikonsumsi sebagai hadiah, sebagai hiburan, sebagai “sesuatu yang istimewa” karena produk ini memberikan kenikmatan yang tinggi. Juga sebagai oleh-oleh yang berharga. Nikmat? Ya, karena produk konfeksioneri adalah kelompok produk pangan yang umumnya memiliki kandungan gula dan/atau lemak yang tinggi. Terlepas dari nasihat dan saran gizi dari berbagai lembaga berwenang, untuk mengurangi konsumsi gula dan lemak, produk konfeksioneri tetap mempunyai tempat yang spesial dalam budaya makan berbagai bangsa. Termasuk di Indonesia.

Pangan memang tidak pernah hanya dinilai dari sisi gizi saja. Walaupun produk konfeksioneri sering dilabel dengan istilah “junk food”, misalnya, produk yang memang menonjolkan aspek kenikmatan dan kesenangan (enjoyment and indulgence) ini tetap mempunyai tempat di masyarakat. Tantangannya adalah, bagaimana industri bisa berinovasi, sehingga mampu menawarkan produk konfeksioneri yang tetap nikmat dan menyenangkan, tetapi juga memberikan fungsi baik untuk kesehatan, sesuai tradisi, serta tetap menarik untuk menjadi objek cerita. Confectionery Story.

FOODREVIEW INDONESIA edisi kali ini akan membahas beberapa produk konfeksioneri. Tidak lupa, pada masa pandemi COVID-19 ini, industri pangan harus mampu beradaptasi dan mengambil pelajaran, di mana orang-orang yang bekerja memproduksi pangan aman dan bermutu perlu dijaga agar tetap sehat dan selamat. Seperti halnya udara yang kita hirup, dan air yang kita minum, pangan merupakan hal esensial untuk kehidupan, pangan adalah kebutuhan dasar manusia. Karena itu, produksi pangan perlu terus dijaga keberlangsungannya.

Semoga informasi yang kami sajikan bermanfaat dalam meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

http://pustakapangan.com/store/?category=Foodreview

 

COVID-19 / Codex discusses working online

 

Source:

http://www.fao.org/fao-who-codexalimentarius/news-and-events/news-details/en/c/1271514/

COVID-19 / Codex discusses working online

 

 17/04/2020

Members of the Codex Executive Committee met up via online video conferencing technology for an informal meeting on 2 April 2020. Discussions revolved around the subsidiary body meetings that have either been cancelled or postponed and how to maintain the momentum of standards development work that is already underway.

The Chairperson of the Codex Alimentarius Commission Guilherme da Costa, Brazil, said: “This is a completely unexpected situation for us when we take a look at our field of work. Producers, transporters, industries, traders, wholesalers, retailers, sanitary authorities and consumers are facing a completely new situation in their routine and work due to the pandemic”.

Purwiyatno Hariyadi, Indonesia, Vice-Chairperson said that during the difficult COVID-19 pandemic situation, Codex should feel fortunate to have access to modern technology, which allows us to continue to connect. “This meeting mode can be explored as an alternative way of working for Codex to ensure that the important work of developing standards to protect consumer health and ensuring fair practices in international food trade will not stop”.

Jean-Baptiste Lemoyne – rethinking Codex working methods.

Before the COVID-19 pandemic, the feasibility of Codex Committees working by correspondence, using information technology, had already emerged and been debated in the Codex system and procedural guidance is currently being discussed in the Codex Committee on General Principles hosted by France. Jean-Baptiste Lemoyne, State Secretary to the Minister for Europe and Foreign Affairs, in charge of foreign trade said: “Codex, by initiating several months ago the development of procedures adapted to committees working by correspondence, is in a position to continue its work remotely which is particularly important in this troubled period, as the work of Codex contributes to the safety of the food consumed around the world and to promoting fair practices in food trade. Within the framework of its host country responsibilities, France will continue to support the work led by the Codex Committee on General Principles so that pragmatic options for working electronically, in accordance with the principles of multilateralism, allow the whole of the international community to participate in its work”.

“The COVID-19 pandemic we are experiencing today certainly reinforces the need to have such procedural guidance,” said Hariyadi. Not only for emergency situations but also as a method of future work, something that is not only more effective, but also more efficient and sustainable.

Ways forward for a digital Codex 

“The core element of the Codex vision is to collaborate together in assuring safe food to protect everyone everywhere”, said Mariam Eid, Lebanon, Vice Chairperson. “The success we have had in organizing the informal meeting leads me to believe that we can do it”. In the 21st century, distance is no longer an issue and “nothing can stop the Codex community coming together and advancing our work”.

Steve Wearne, UK, Vice Chairperson said: “My reflection is that video conferencing software is extremely powerful and allows you to do the things you would in a normal meeting – ask for the floor, have sidebar conversations, even to show when you’re taking a break. Unfortunately, it doesn’t help in operating across multiple time zones”.

The broad and active participation of the different regions of the world across many time zones and contents was a valuable experiment for Codex as holding physical sessions is currently not an option. “This is a very challenging situation and the COVID-19 pandemic pushes us to use and explore digital technology to keep Codex on track and working”, said Chairperson Da Costa.

 

Read more

FAO response to COVID-19

WHO and COVID-19

COVID-19 / Maintaining the momentum of Codex work

Protecting the food supply chain from COVID-19