phariyadi's blog

mencari dan memberi yang terbaik

 

Gizi dan Kesehatan: Tantangan Industri Pangan

 

04112019-Cover-FRI-edisi-11_2019

Gizi dan Kesehatan: Tantangan Industri Pangan

Baru saja kita memperingati Hari Pangan Sedunia (HPS), 16 Oktober yang lalu.  Kemudian, pada bulan November ini, tanggal 14, kita memperingati Hari Diabetes Sedunia.  Dua peringatan ini meneguhkan hubungan erat antara pangan, gizi, dan kesehatan.  Kualitas konsumsi pangan akan menentukan kualitas asupan dan kecukupan gizi, dan pada akhirnya akan menentukan tingkat kesehatan masyarakat. Secara khusus, pola konsumsi pangan sering menjadi salah satu faktor pemicu munculnya berbagai jenis penyakit tak menular. Konsumsi pangan bergula berlebihan, misalnya, dapat meningkatkan risiko terkena diabetes.

Karena alasan itulah maka sektor penyedia pangan merupakan sektor strategis bagi suatu negara. Sektor produksi pangan, termasuk industri pangan, mempunyai tanggung jawab untuk memastikan tercapainya tujuan-tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/ SGDs). Kenyataan bahwa tingkat kerawanan pangan di Indonesia yang masih mengkhawatirkan, perlu menjadi keprihatinan dan sekaligus tantangan bagi industri.

Menurut Riset Kesehatan Dasar terbaru (2018), prevalensi anak-anak kurang gizi (di bawah 5 tahun) adalah 17,7%. Laporan yang sama juga menyatakan bahwa prevalensi stunting anak-anak (di bawah usia 5 tahun) di Indonesia adalah 30,8%. Konsekuensi dari tingginya angka stunting ini sangat signifikan, terutama dalam kaitannya dengan kapasitas kecerdasan sumber daya manusia, karena kondisi stunting akan memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak serta kecerdasan.

Keprihatinan industri ini, perlu dimanifestasikan dengan memastikan bahwa produk pangan yang dihasilkan perlu dirancang dengan bertanggung jawab, untuk dapat memberikan dampak positif bagi status gizi dan kesehatan konsumennya. Demikian pula dalam beriklan, memberikan pendidikan pangan dan gizi yang tepat; sehingga akan membangun gaya hidup yang lebih sehat.

Tentu saja industri tidak bisa bermain sendirian, perlu dukungan dan rancangan kebijakan yang mendorong industri bisa memerankan peran dan tanggung jawabnya dengan baik.  Konsumen juga demikian, perlu melengkapi pengetahuan dan berupaya mengubah gaya hidup yang lebih sehat; baik dalam memilih konsumsi pangannya, maupun dalam berbagai aktivitas sik lainnya.

Foodreview Indonesia edisi kali ini akan membahas hal terkait dengan hubungan pangan, gizi dan kesehatan; serta berbagai tren-tren terkait gaya hidup konsumen. Semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat
dan menjadi referensi dalam meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia; yang pada akhirnya akan meningkatkan daya saing manusia Indonesia.

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

http://pustakapangan.com/store/?category=Foodreview

 

01102019-Cover-edisi-10_2019

Better Machinery, Better Processing, Better Quality of Foods

Pangan adalah kebutuhan dasar manusia.  Selain jumlah, aspek keamanan dan mutu pangan perlu mendapatkan perhatian serius.  Hal ini untuk memastikan bahwa pangan yang beredar memenuhi persyaratan keamanan dan mutu; sehingga akan memberikan manfaat kesehatan bagi konsumen.

Dalam atmosfir persaingan usaha global yang semakin menguat, untuk meningkatkan produksi secara lebih efisien, industri mengolah pangan dengan berbagai teknik pengolahan.  Tujuan utamanya adalah untuk menghasilkan produk pangan yang mampu memenuhi persyaratan keamanan dan mutu, serta memenuhi keinginan konsumen yang bervariasi.

Karena itulah, terdapat tuntutan untuk mendapatkan dan menggunakan mesin-mesin pengolahan yang lebih baik, teknologi proses yang lebih baik, untuk mendapatkan produk pangan yang lebih bermutu.  Better Machinery, Better Processing, Better Quality of Foods.

Selain itu, pengendalian dan optimalisasi proses juga perlu menjadi perhatian industri pangan. Karena itu, kebutuhan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas SDM juga menjadi faktor penting yang sangat menentukan upaya menjadi lebih baik. Pemahaman mengenai mesin-mesin dan teknologi pengolahan pangan sangat diperlukan untuk proses inovasi guna peningkatan daya saing dan keberlanjutan industri pangan.

Jika dipahami dengan baik, dipilih dengan benar, penggunaan mesin dan proses pengolahan pangan, akan menghasilkan pangan olahan yang beraneka ragam, memberikan aneka pilihan pangan aman dan bermutu bagi konsumen, mendorong permintaan dan menawarkan kesempatan pertumbuhan industri, yang pada gilirannya menciptakan lapangan kerja.

Untuk itu, Foodreview Indonesia edisi kali ini akan membahas beberapa hal terkait dengan upaya mengoptimalkan proses dalam rantai produksi dan teknologi dalam beberapa mesin yang digunakan. Semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat dan menjadi referensi dalam meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

https://www.agrofarm.co.id/2019/09/18623/

 

Pemerintah Diminta Atasi Isu 3-MCPD dan GE pada Minyak Sawit

https://www.agrofarm.co.id/2019/09/18623/

Agrofarm.co.id-Pemerintah diminta menyelesaikan isu kontaminan 3-monochlorpro-pandiol ester (3-MCPD Ester) dan glycidol esters (GE). Ini dapat menghambat perdagangan minyak sawit Indonesia ke Uni Eropa.

Berdasarkan hasil penelitian di Eropa menyebutkan bahwa minyak sawit mengandung 3-MCPD Ester dan GE yang tertinggi diantara minyak nabati lainnya, yakni masing-masing sebesar 3-7 ppm sebesar 3-11 ppm.

Senyawa 3-MCPD merupakan senyawa hasil hidrolisis 3-MCPD ester yang memiliki efek negatif terhadap ginjal, sistem syaraf pusat, dan sistem reproduksi pada hewan percobaan. Menurut International Agency for Research on Cancer (IARC), senyawa 3-MCPD kemungkinan juga dapat menyebabkan kanker bagi manusia.

Sahat Sinaga Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mengungkapkan, Uni Eropa sangat konsen terhadap isu ini . “Apalagi tahun 2020 masalah ini tidak segera terselesaikan, ini akan mnjadi hambatan dagang minyak sawit Indonesia ke depannya,” ujar Sahat dalam acara 1st International Seminar on Oil Palm di IPB International Convention Center (IICC) Bogor, Rabu (05/9/2019).

Menurutnya, jika tidak mencapai standar produk sawit Indonesia kemungkinan tidak laku dijual. Parahnya lagi selama ini Indonesia tidak mempunyai standar minyak sawit mentah (crude palm oil).

“Untuk itu, perlu satu kementerian yang fokus dalam mengatasi masalah ini. Kementerian Kesehatan dapat memimpin guna menyelesaikan masalah 3-MCPD. Selain itu, di Indonesiatidak ada laboratorium pengujian khusus 3-MCPD,” jelasnya.

Sahat menuturkan, perusahaan pengolahan minyak sawit pada dasarnya siap untuk memenuhi standar kandungan 3-MCPD maksimum 2,5 ppm seperti yang diatur oleh Komisi Eropa. Meskipun para pelaku usaha membutuhkan waktu.

Guru Besar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian (ITP-Fateta) Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Purwiyatno Hariyadi menambahkan, isu keamanan pangan pada kelapa sawit menjadi pennting karena 80-85% digunakan untuk pangan.

“Sehingga isu yang berkaitan dengan pangan mempengaruhi isu pada kelapa sawit. Konsumen sangat peduli terhdap isu keamanan pangan, termasuk labeling dan gizi,” ujar Purwiyatno.

Dia mengatakan, 3-MCPD dan GE sebagai kontaminan dalam proses pengolahan (refeneri) sawit. Masalah ini menjadi perhatin serius di negara-negara konsumen sawit. Apalagi minyak sawit banyak digunakan untuk bahan baku makanan bayi.

“Untuk itu, pemerintah harus menjamin bahwa minyak sawit itu aman untuk dikonsumsi, terutama untuk konsumen dalam negeri karena cukup besar penggunaannya. Standar internasional 3-MCPD belum ada, namun di beberapa negara Eropa sudah mulai menggunakan standar,” terangnya.

Dia meminta, industri dan petani awit menerapkan tata cara produksi yang baik agar kadar 3-MCPD dan GE yang dihasilkan rendah. “Perlu penanganan dari perbaikan penanaman, pemupukan hingga pengolahan sawit dengan pembuatan SOP,” katanya. Bantolo

 

http://www.fao.org/fao-who-codexalimentarius/news-and-events/news-details/en/c/1234630/

 

http://www.fao.org/fao-who-codexalimentarius/news-and-events/news-details/en/c/1234630/

Through Codex, Asia works together to strengthen the Codex system and regional cooperation

 23/09/2019

Delegates from 18 member countries are gathered in Goa, India 23 to 27 September, for the 21st FAO/WHO Coordinating Committee for the Asian region (CCASIA).

Sunil Bakshi, Chairperson of the committee and Head of Regulations at the Food Safety and Standards Authority of India (FSSAI), extended a warm welcome to those present emphasising that the main objective of CCASIA is to promote mutual communication and resource sharing to develop regional standards and regulations for food products.

A great opportunity to work together.

Rita Teaotia (main photo), Chairperson FSSAI, in her inaugural address, said it was a difficult time for trade and globally economies including major ones were slowing down. “Trade tensions and rising protectionism are increasing and in this environment the Codex Alimentarius Commission and CCASIA in particular offer us a great opportunity to work together to strengthen both the Codex systems as well as our regional cooperation”, she said.

Asia is a rapidly growing region, rich in linguistic, economic and cultural diversity and shares an ancient history of robust trading relations. Countries trade extensively with each other and at least in food, almost 60 percent of food trade is within the region. “To my view, this alone is enough reason for us to develop a common ground for cooperation”, said Teaotia, underlining the need to create a network of scientific and research institutions for collection and assimilation of scientific data for the region and the opportunity to explore ways of exchanging information regarding food fraud and other areas of core interest to countries.

CCASIA21-Goa-Speakers

Left to right: Sunil Bakshi, Rajeev Kumar Jain, Purwiyatno Hariyadi, Steve Wearne, Rita Teaotia, Sridhar Dharmapuri, Gyanendra Gongal, Sarah Cahill 

Sarah Cahill, Senior Food Standards Officer, Codex Secretariat said the “coordinating committees are unique among Codex meetings and the focus of such meetings is not only on standard setting but also to shine a light on various food safety and quality issues in the region”. Regional meetings provide a forum for collaboration and knowledge sharing, for promoting discussions on new issues emerging on the horizon and then “to take critical decisions on setting standards that are central to addressing food safety and quality in the region”, she said.

Steve Wearne, Vice-Chair, Codex Alimentarius Commission highlighted said “the regional coordinating committees and member countries collectively set the direction and the priorities of Codex”, and looked forward to seeing the results of the deliberations and key analysis to facilitate the continuing discussions on what more Codex can do “to ensure our international and national food control systems”.

Purwiyatno Hariyadi, Vice-Chair, Codex Alimentarius Commission said the “countries should aim to have more such initiatives at the regional level to ensure that key issues unique to Asia can be discussed”.

Elevating the status of food safety on the international development agenda.

Sridhar Dharmapuri, Senior Food Safety and Nutrition Officer, FAO said the two high-level events in Addis Ababa and Geneva “have firmly placed the topic of food safety front and center of the food agenda, alongside ending hunger and tackling the consequences of climate change”. Unlike the other two priorities, food safety is under-represented within the Sustainable Development Goals, “but we now have the opportunity to elevate its status on the international development agenda and integrate it as we proceed towards 2030”, he said.

Gyanendra Gongal, Technical Officer, WHO, representing Regional Director Poonal Khetrapal, said that standards set by Codex are of global relevance: “All countries have a duty to adhere to the Codex standards and guidelines and to ensure more coordination amongst the regions”, he said.

CCASIA21-lighting the lamp

Rita Teaotia leads the lighting of the lamp ceremony at the opening of CCASIA21.

 

Read more

Follow the CCASIA21 agenda on the Codex website and on social media #CCASIA21

Source:

http://www.fao.org/fao-who-codexalimentarius/news-and-events/news-details/en/c/1234630/

 

http://www.fao.org/fao-who-codexalimentarius/news-and-events/news-details/en/c/1234495/

 

Goa, India – FAO/WHO regional meeting discussing key issues for Asia

 22/09/2019

Taken from: http://www.fao.org/fao-who-codexalimentarius/news-and-events/news-details/en/c/1234495/

“Asian countries play a key role in the global supply chain”, said Codex Vice Chairperson Purwiyatno Hariyadi as delegates from the Codex Asia region gathered in Goa, India for the FAO/WHO Coordinating Committee for Asia (CCASIA), 23 to 27 September 2019. This meeting is an opportunity for countries to meet and discuss their common concerns and “ensure the standards that advance in the Codex system are relevant” he said.

A packed agenda will deal with the food safety issues that the region considers to be of the highest priority, work on the development of food safety standards and seek to deliver a regional workplan that responds to the goals and objectives of the new Codex Strategic Plan.

Gyanendra Gongal, from the WHO Regional Office for South-East Asia said: “There is no food security without food safety and Codex standards and guidelines have critical roles to play in ensuring people have healthy diets and safe food”.

Seah Peik Ching, from the Singapore Food Agency, attending CCASIA for the first time said the meeting was a chance for Asian countries to network at the regional level.

Codex Alimentarius

@FAOWHOCodex

📽️ | As preparations get underway, Seah Peik Ching @SGFoodAgency says is a good platform to understand the Asian context and the needs of the region.

Embedded video

See Codex Alimentarius’s other Tweets

CCASIA is a chance to discuss the big ideas, big issues and topics

“This is where part of the global Codex work is generated”, said Peter Ben Embarek, from the WHO Department of Food Safety and Zoonoses. With the momentum food safety has gained on the global agenda in 2019 following The First FAO/WHO/AU International Conference on Food Safety held in Addis Ababa and the International Forum on Food Safety and Trade (Geneva), CCASIA is a chance to discuss “the big ideas, the big issues and the big topics” that are priorities for the region, he said.

What are we actually eating?

In many countries it is possible to order a taxi through a phone app and food along with it, shop for groceries online and get lunch without even leaving the house or office. “Is this food safe and who is ensuring that? And when it comes to processed food what’s in it? What are we actually eating? These are questions that consumers are concerned about”, said Sridhar Dharmapuri, FAO Senior Food Safety and Nutrition Officer. With food safety issues never far away from traditional and social media, “the fundamentals of food control constantly need upgrading and food safety needs to be well integrated with national and regional agriculture development programmes to have maximum positive impact on public health and trade”, he said.

Keynote speaker Prof Ayyappan, Central Agricultural University in Manipur, India, will address the issue of food safety at the primary production level. Asia sits at the fulcrum of the global food system, with diverse food production systems contributing to 48.2% of the world’s food basket. Ayyappan will tell delegates that regulatory frameworks in Asian countries need to apply the same stringent compliance requirements that are in place for processing and trade also at the primary production level.

 

Read more

Follow the CCASIA21 agenda on the Codex website and on social media #CCASIA21

(http://www.fao.org/fao-who-codexalimentarius/news-and-events/news-details/en/c/1234495/)

 

Unika Atma Jaya dan AIPI Rancang Strategi Pangan Masa Depan Indonesiahttps://m.atmajaya.ac.id/web/Konten.aspx?gid=highlight&cid=Unika-Atma-Jaya-dan-AIPI-Rancang-Strategi-Pangan-Masa-Depan-Indonesia

 
Unika Atma Jaya dan AIPI Rancang Strategi Pangan Masa Depan Indonesia

  

Pusat Penelitian dan  Pengembangan Tempe (P3T) dan Pusat Riset Rempah Nasional (PRRN) diluncurkan

 

Jakarta, 20 September 2019 – Fakultas Teknobiologi Unika Atma Jaya bersama Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) menyelenggarakan lokakarya bertajuk “Paradigma Baru Pangan Masa Depan: Gizi, Mikrobiota, dan Pengolahan” sekaligus peluncuran praresmi  Pusat Penelitian dan Pengembangan Tempe (P3T) dan Pusat Riset Rempah Nasional (PRRN) di Kampus 3 BSD, Kamis (19/09/2019).

 

Ketua pelaksana Dr. Ir. Rory A. Hutagalung, DEA, mengatakan, tujuan dari acara ini untuk melihat paradigma pangan yang akan terjadi ke depannya serta berdiskusi mengenai inovasi yang akan dilakukan khususnya dalam bidang pangan.

 

“Mengingat Indoneisa memiliki sumber daya di bidang pangan, namun masih rendah dalam pengelolahannya. Itulah sebabnya kami mengudang beberapa narasumber yang tidak hanya pakar di bidang pangan nasional, tetapi juga pakar dalam bidang kesehatan dan kedokteran , biologi, institusi pangan, obat dan juga kebijakan tentang pangan untuk melihat perspektif pangan ke depan dari berbagai bidang,” katanya.

 

Senada dengan Dr. Rory, selaku perwakilan AIPI Prof. Dr. Ir Purwiyatno Hariyadi mengatakan bahwa acara diharapkan memunculkan perspektif lintas ilmu dan inovasi baru khususnya di bidang pangan Indonesia. Selain itu, dia juga memberikan apresiasi kepada Fakultas Teknobiologi Unika Atma Jaya atas peresmian P3T dan PRRN.

 

“Melihat tema yang diusung kali ini, diharapkan kita dapat mengembangkan pemikiran mengenai paradigma pangan ke depannya sehingga dapat memunculkan inovasi baru dalam bidang ini. Saya juga mengucapkan selamat atas peresmian P3T dan PRRN Unika Atma Jaya. Semoga ini dapat mendukung dalam pengembangan pengan nasional,” ujar Prof. Purwiyatno dalam sambutannya.

 

Pada sesi diskusi, lokakarya ini menghadirkan beberapa narasumber yaitu Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi (Fakultas Teknologi Pertanian, IPB & Komisi Ilmu Rekayasa AIPI), Prof. Dr. Ir. Antonius Suwanto, M.Sc. ( Dekan Fakultas Teknobiologi, Unika Atma Jaya), Prof. Dr. F.G. Winarno (PT Embrio Biotekindo & Komisi Ilmu Rekayasa AIPI), Prof. dr. Sultana M.H. Faradz, PhD (Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro & Komisi Ilmu Kedokteran AIPI), Prof. dr. Herawati Sudoyo, M.S., Ph.D. (Lembaga Biologi Molekuler Eijkman & Komisi Ilmu Kedokteran AIPI), Raymond R. Tjandrawinata, Ph.D. (Kaprodi Magister Bioteknologi, Unika Atma Jaya & Dexa Group), dan Dr. Roy Sparringa (Senior Advisor at the Agency for the Assessment and Application of Tech).

 

Suasana Diskusi Strategi Pangan Masa Depan Indonesia

 

Prof. Purwiyatno menjelaskan rekayasa pangan (food engineering) telah dan terus memberikan kontribusi penting dalam inovasi proses produksi pangan, menjamin keamanan, kualitas dan gizi, serta kuantitas pangan. Namun, dengan perkembangan dan perubahan tantangan yang harus dijawab, maka perlu penyesuaian dan pengembangan konsep baru untuk lebih efektif menjawab tantangan tersebut.

 

“Disiplin rekayasa pangan perlu dikembangkan sebagai disiplin inti dalam proses di industri pangan; menjadi motor pendorong strategis pertumbuhan industri pangan. Tantangan yang ada, seperti keamanan pangan, kesehatan, dan lingkungan, merupakan faktor pendorong utama disiplin ilmu rekayasa pangan,” jelasnya.

 

Di sisi lain, Prof. Antonius memaparkan bahwa konsumsi berbagai pangan lokal di Indonesia secara langsung mau pun tidak langsung terpaut dengan probiotik atau paraprobiotik yang dapat memberikan efek baik atau kesehatan pada tubuh manusia.

 

“Hampir semua pangan fermentasi lokal sangat kaya dengan probiotik atau paraprobiotik yang mempunyai fungsi lebih dari sekadar pelengkap nutrisi manusia. Mikrobiom pangan selain memberikan kontribusi pada biosintesis berbagai vitamin dan senyawa bioaktif unik, juga berpotensi dalam modulasi sistem kekebalan, supresi penyakit, kesehatan psikis, dan tingkah laku pada manusia,” kata Prof. Antonius.

 

Sementara Prof. Winarno mengatakan perlu adanya inovasi baru untuk menunjang pengolahan pangan di Indonesia, salah satunya terkait madu. Menurutnya, madu merupakan pangan yang bekhasiat bagi kesehatan tubuh dan peran madu besar bagi keseimbangan mikroba dan kesehatan usus. Itu sebabnya, ia menyarankan didirikan Institut Madu Indonesia.

 

“Indonesia memiliki madunya sendiri / indigenous, bermutu tinggi, dan memiliki sifat therapeutic yang unggul. peran madu besar bagi keseimbangan mikroba dan kesehatan usus. Karena itu perlu didirikan Institut Madu Indonesia,” tutunya.

 

Melalui kegiatan ini diharapkan dapat melihat paradigma pangan ke depannya. Tujuan lain adalah agar para peserta menjadi agen perubahan di lingkungannya masing-masing bagaimana merumuskan model dan implementasi pangan dengan inovasi baru yang efisien dan inklusif terkait dengan gizi dan kesehatan, layak secara bisnis dan berkelanjutan (SDGs). (CTF)

 

 

Confectionery: Art of Healthy Indulgence

 

Confectionery: Art of Healthy Indulgence

03092019-Screen-Shot-2019-09-03-at-12.46.40-PM

Konfeksioneri (confectionery) bisa diartikan sebagai seni dan teknologi dalam hal membuat confections. Secara istilah, confections adalah produk pangan yang didominasi oleh rasa “manis” karena pada umumnya banyak mengandung gula dan karbohidrat. Dalam istilah bahasa Indonesia, hal ini mencakup banyak jenis produk pangan. Kembang gula, gula-gula, permen (termasuk permen cokelat), bahkan juga aneka jenis produk cokelat dan biskuit sering dimasukkan dalam kategori ini. Produk ini sering digunakan sebagai “hadiah” karena sifatnya yang memberikan kesenangan (indulgence) bagi penikmatnya.

Namun, seiring dengan meningkatnya prevalensi penyakit tidak menular (PTM), khususnya yang berkaitan dengan upaya pemerintah untuk mengurangi asupan gula, garam dan lemak, maka hal ini jelas merupakan tantangan bagi industri konfeksioneri. Industri telah melakukan respon positif terhadap tantangan ini. Perlu dikemukakan bahwa walaupun secara umum masih didominasi rasa manis, produk ini dapat diformulasikan dengan bahan yang sangat beragam; beragam dalam hal rasa, avor, warna, dan tekstur. Dalam hal ini, kreativitas sungguh sangat diperlukan. Hampir tidak ada batasan mengenai bahan yang dapat dipakai untuk produk “permen” ini; untuk memenuhi permintaan konsumen yang beragam selera, usia, atau gaya hidup.

Secara global, respon tersebut dapat dikategorisasikan sebagai upaya reformulasi, antara lain (i) mengurangi dan/atau mengganti gula dengan pemanis non- dan/atau less calory; (ii) menggunakan protein dan/atau hidrokoloid –terutama pembentuk gel, seperti aneka gum, gelatin – sebagai bahan dasar utama pengganti karbohidrat, dan; (iii) mengunakan aneka buah dan sayuran dalam formulasinya. Selain reformulasi, upaya lain berupa penyesuaian porsi dan ukuran, serta pendidikan kepada konsumen secara umum; khususnya melalui iklan dan label pangan.

Upaya pendidikan ini menjadi sangat penting karena perubahan dari sisi industri saja tidak cukup. Perlu upaya bersama; baik dari pemerintah, industri, dan konsumen, untuk mengatasi risiko PTM. Salah satunya adalah dengan penggunaan label dan iklan. Label iklan menjadi jembatan antara semua pihak untuk dapat saling berkolaborasi menciptakan cara menyajikan dan mengonsumsi produk konfeksioneri yang menyenangkan, tetapi juga menyehatkan; art of healthy indulgence.

Semoga informasi yang kami sajikan pada edisi Food Review Indonesia kali ini dapat bermanfaat dan menjadi referensi untuk menjawab tantangan tersebut; sebagai upaya dalam meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.

Purwiyatno Hariyadi
Phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

Perlu Strategi Nasional bagi Keamanan Pangan Minyak Sawit

 

Perlu Strategi Nasional bagi Keamanan Pangan Minyak Sawit


Sumber: https://www.infosawit.com/news/9226/perlu-startegi-nasional-bagi-keamanan-pangan-minyak-sawit

Perlu Startegi Nasional bagi Keamanan Pangan Minyak Sawit

Prof Hariyadi dari IPB menjelaskan adanya aturan baru CODEX bagi minyak makanan global.

InfoSAWIT, BOGOR – Prof. Purwiyatno Hariyadi dari Institut Pertanian Bogor (IPB), menjelaskan konsen konsumen dunia saatini terhadap konsumsi minyak makanan termasuk minyak sawit pada acara The 1st Internasional Conference on Sustainable Plantation (ICSP) dengan tema “Better Environtment with better prosperity, harmonization of Humankind and Nature”.

Prof Hariyadi dalam presentasinya menjelaskan berbagai standar baru Codex yang wajib dilakukan para produsen minyak makanan. Kendati kewajiban ini bagi anggota, namun keanggotaan Codex sendiri bersifat sukarela. Namun, Prof Hariyadi mengingatkan pentingnya memenuhi standar Codex, dimana standar ini akan digunakan bila ada persoalan perdagangan internasional, seperti sidang WTO.

Menurut Prof Hariyadi, persoalan transportasi dan packaging, masih menjadi persoalan besar bagi minyak makanan berbahan baku minyak sawit mentah (CPO). Sebab itu, industri minyak makanan (refineri) harus berbenah untuk memenuhi keinginan konsumen global.

“Jika industri refineri tidak bisa memenuhi standar Codex, maka permintaan minyak sawit (CPO) dan produk turunannya bisa menurun,” ungkap Prof Hariyadi menegaskan kepada InfoSAWIT, Selasa (20/8/2019) di Bogor.

Menurutnya, sebagai produsen terbesar CPO dunia, dimana lebih dari 41% dihasilkan petani kelapa sawit. Sebab itu, penting bagi Indonesia, untuk berbenah segera mungkin, sehingga dapat memenuhi standar Codex yang berlaku universal. (T1)

https://www.infosawit.com/news/9226/perlu-startegi-nasional-bagi-keamanan-pangan-minyak-sawit

 

Keamanan Pangan Langkah Pertama Menuju Pola Makan Sehat

 

Keamanan Pangan Langkah Pertama Menuju Pola Makan Sehat

M. Reza Sulaiman
Senin, 05 Agustus 2019 | 22:42 WIB

Keamanan Pangan Langkah Pertama Menuju Pola Makan Sehat

Keamanan pangan sering diabaikan. (Shutterstock)

Keamanan pangan merupakan aspek penting dalam pola makan sehat yang sering diabaikan.

https://www.suara.com/health/2019/08/05/224220/keamanan-pangan-langkah-pertama-menuju-pola-makan-sehat
Suara.com – Keamanan Pangan Langkah Pertama Menuju Pola Makan SehatPola makan sehat tidak bisa dicapai melalui bahan makanan yang sehat saja. Pakar mengatakan keamanan pangan (food safety) yang sering diabaikan, justru menjadi faktor paling penting.

Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc, ahli pangan dan Ketua Pusat Pangan SEAFAST IPB mengatakan keamanan pangan wajib diperhatikan jika ingin memulai pola makan sehat.

Ia menyebut makanan apapun dengan nilai gizi tidak akan bermanfaat untuk tubuh jika sudah tercemar atau terkontaminasi.

“Pangan kan mengandung protein, karbohidrat, lemak, dan mineral yang dibutuhkan tubuh. Tapi kalau tercemar, terkontaminasi, atau ada bakterinya, maka protein, mineral, dan lain-lain itu tidak bisa dimanfaatkan oleh tubuh, malah bisa menyebabkan penyakit,” tutur Prof Purwiyatno, di sela-sela acara Asian Congress of Nutrition 2019 di Nusa Dua, Bali, Senin (5/8/20190).

Bahkan menurut Prof Purwiyatno, sebuah bahan pangan tidak bisa disebut sebagai makanan jika mengabaikan aspek keamanan. Oleh karena itu, pengawasan keamanan pangan harus dimulai bukan sejak pangan diolah, namun sejak diproduksi.

“Misalnya penggunaan pestisida, kalau ini pangan yang nanti digunakan untuk dimakan manusia, maka level kontaminan dari sisa-sisa pestisidanya bisa membuat produk pangan tidak aman. Jadi kalau bicara pangan yang pertama harus aman dulu,” urainya lagi.

Di kesempatan yang sama, Dr. Ir. Roy Sparringa M.App.Sc menekankan pentingnya pengawasan komunitas dalam keamanan pangan. Sebab, pemerintah dalam hal ini pemerintah daerah maupun Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tidak bisa bekerja sendirian.

Ia mengambil contoh pengawasan keamanan pangan di pasar. Pasar merupakan tempat utama transaksi jual-beli bahan pangan masyarakat untuk rumah tangga ataupun usaha.

Ikan yang dijual di Pasar Ikan Muara Angke, Jakarta. (Suara.com/Walda Marison)
Pasar Ikan Muara Angke, Jakarta. (Suara.com/Walda Marison)

“Pasar kan tempat orang beli bahan pangan. Kalau dari pasar saja makanan sudah tidak aman, food safety tidak terjaga, begitu akhirnya dimasak di rumah atau dijual lagi dalam bentuk makanan sudah tidak sehat,” ungkapnya.

Karena itu komunitas yang ada di pasar, baik pedagang, distributor makanan, hingga pembeli, wajib memerhatikan keamanan pangan. Kolaborasi dengan pemerintah daerah menjadi penting agar kasus keamanan pangan tidak menimbulkan masalah kesehatan di kemudian hari.

BPOM dan pemerintah daerah melalui dinas terkait bisa memberikan pembekalan soal bagaimana menjaga keamanan pangan hingga apa saja ciri makanan yang terkontaminasi. Dengan begitu keamanan pangan bisa terjaga, dan masalah kesehatan pun bisa dihindari.

“Tentu saja kita inginnya masyarakat mandiri, maka dilibatkan masyarakat di sana, pemerintah daerah, dinas terkait, tujuannya memandirikan masyarakat,” tutupnya.

https://www.suara.com/health/2019/08/05/224220/keamanan-pangan-langkah-pertama-menuju-pola-makan-sehat

 

Ingredient Insights

 

Book CoverIngredient Insights

Pada industri makanan, seperti halnya industri lainnya, faktor pendorong utama inovasi umumnya adalah kemajuan teknologi dan perubahan tuntutan (kebutuhan dan keinginan) konsumen. Kemajuan teknologi pangan telah memungkinkan industri menghasilkan produk pangan dengan lebih aman, bermutu dan bernilai gizi lebih baik, mempunyai umur simpan yang lebih lama, serta memberikan aspek kenikmatan yang lebih tinggi, misalnya. Namun, itu saja tidak cukup. Buktinya, banyak produk pangan baru yang secara teknologi mumpuni tetapi kenyataannya gagal ketika diluncurkan ke pasaran. Kegagalan ini terutama disebabkan keberadaan produk tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen.

Perubahan kebutuhan dan keinginan konsumen ini haruslah melatarbelakangi inovasi industri pangan. Hanya industri yang melakukan inovasi dengan tepat sajalah yang akan mampu memenangkan kompetisi yang sangat ketat. Kompetisi mengharuskan industri pangan secara terus-menerus melakukan pengembangan dan memformulasi ulang produk-produknya untuk memenuhi dan menyesuaikan dengan perubahan kebutuhan dan keinginan konsumen.

Saat ini, faktor penting yang sangat memengaruhi perubahan kebutuhan dan keinginan konsumen adalah dalam bidang keamanan dan kesehatan. Untuk dapat mengembangkan dan memformulasi ulang produk-produknya maka diperlukan adanya bahan-bahan atau ingridien yang tepat. Pertama dan utama, ingridien yang digunakan harus memenuhi persyaratan peraturan keamanan yang diberlakukan oleh lembaga berwenang; baik secara nasional dan internasional.

Selanjutnya; terdapat dua pendekatan untuk memformulasikan produk pangan yang lebih menyehatkan. Pertama, mengganti, mengurangi atau menghilangkan ingridien yang dianggap menjadi penyebab permasalahan kesehatan (ingredients of public health concern) – seperti gula, garam, dan lemak. Kedua, menambahkan ingridien yang memberikan manfaat gizi dan kesehatan. Tantangannya adalah, dalam melakukan hal itu, industri perlu memastikan bahwa produk pangan yang dihasilkan tetap harus menarik dan enak untuk dikonsumi.

Dalam hal ini, perlu ketepatan dalam hal memilih ingridien. Perlu ada informasi mendalam mengenai ingridien yang ada. Saat memilih, jelas sangat penting informasi tentang ingridien dan pengaruhnya terhadap keamanan, gizi, kesehatan, rasa, dan aspek penting lain dari produk pangan yang dihasilkan. Industri juga harus mempertimbangkan bagaimana perubahan yang terjadi pada ingridien tersebut selama proses pengolahan, penanganan, distribusi, dan tahap penyajian di rumah tangga, sampai akhirnya dikonsumsi oleh konsumen. Ingredient Insights.

Bahkan, belakangan ini konsumen juga menuntut supaya proses produksi, transportasi, distribusi ingridien tersebut tidak berkontribusi terhadap pemanasan global. Demikian juga, apakah ingridien tersebut melindungi keanekaragaman hayati dan ekosistem? Itulah tantangan industri pangan termasuk industri ingridien pangan.

Untuk itu, Foodreview Indonesia edisi kali ini akan membahas beberapa hal terkait dengan ingridien produk pangan. Semoga informasi yang kami sajikan bermanfaat dan menjadi referensi dalam meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.

Purwiyatno Hariyadi
Phariyadi.staff.ipb.ac.id