phariyadi's blog

mencari dan memberi yang terbaik

 

REMBUK NASIONAL DI UNSYIAH BAHAS KEDAULATAN PANGAN

 

REMBUK NASIONAL DI UNSYIAH BAHAS KEDAULATAN PANGAN


Bertepatan dengan Hari Pangan Sedunia panitia Rembuk Nasional 2017 bekerja sama dengan Universitas Syiah Kuala, menggelar Rembuk Daerah dengan tema Menuju Kedaulatan Pangan dan Mengelola Keamanan Pangan di Gedung AAC Dayan Dawood, Darussalam. (Senin, 16/10).

Isu kedaulatan dan keamanan pangan diangkat menjadi tema acara karena pemenuhan hak atas pangan merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dijamin di dalam Undang-Undang Dasar, sebagai komponen dasar untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Terlebih sejak tahun 2012, Indonesia sudah memiliki regulasi yang secara khusus mengatur urusan pangan melalui Undang-Undang No.18 tahun 2012.

Wakil Rektor I Unsyiah Dr. Hizir mengatakan, Rembuk Nasional ini merupakan langkah yang positif untuk menjawab berbagai permasalahan kedaulatan pangan di akar rumput. Maka Hizir berharap, keterlibatan para akademisi Unsyiah pada kegiatan ini bisa memberikan saran ataupun masukkan yang kemudian menjadi bahan evaluasi pemerintah ke depan.

“Melalui Rembuk Nasional ini, kita ingin bersama-sama mencari penyelesaian keamanan pangan, sehingga menjadi perbaikkan untuk sistem kemanan pangan Indonesia di masa mendatang,” ujar Hizir.

Ketua Umum Rembuk Nasional 2017  Dr.Ir.Firdaus Ali, M.Sc menjelaskan, Rembuk Nasional bertujuan untuk mendalami sekaligus mengkritisi capaian tiga tahun pemerintahan Jokowi-JK, dalam 12 bidang pembangunan dan masalah nasional yang perlu mendapat perhatian khusus.

“Dan kedaulatan pangan adalah salah satu isu penting yang menjadi perhatian pemerintah, yang diwujudkan dalam program Nawacita ,” ujar Firdaus.

Firdaus juga menjelaskan, Rembuk nasional di Unsyiah ini adalah Rembuk ke 14 dari rangkaian ke 16 Rembuk Daerah yang telah dilaksanakan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Hasilnya akan dikompilasi dengan hasil rembuk dari 16 Perguruan Tinggi lainnya untuk disampaikan kepada Presiden pada acara puncak Rembuk Nasional pada 23 Oktober 2017 di Jakarta International Expo, Kemayoran.

Hadir sebagai pemateri pada kegiatan ini Dr.Ir. Penny K Lukito, MCP Kepala Badan Pengawan Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia. Ketua Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Unsyiah Dr. Ikhsan Sulaiman, M.Sc dan Guru Besar IPB Purwiyatno Hariyadi.

Sebelumnya, Panitia Rembuk Nasional 2017 telah menyelenggaran kegiatan yang sama di 16 Perguruan Tinggi di Indonesia yaitu Universitas Cendrawasih- Jayapura (Papua), Universitas Pattimura (Ambon), Universitas Hassanudin (Makassar), Universitas Samratulangi (Manado), Universitas Mulawarman (Samarinda), Universitas Udayana (Bali), Universitas Airlangga (Surabaya), Universitas Gajah Mada (Yogyakarta), Universitas Diponegoro (Semarang), ITB (Bandung), UI (Depok), IPB (Bogor), Universitas Sriwijaya (Palembang), Universitas Andalas (Padang), Universitas Sumatera Utara (Medan), dan IPB (Bogor).

 

 

 

FUNCTIONAL PACKAGING: More Than Just a Wrap

 

FUNCTIONAL PACKAGING:  More Than Just a Wrap

02102017-foodreview10

Kemasan pangan memang mempunyai banyak fungsi, multi fungsi.  Dengan semakin meningkatnya tuntutan konsumen atas tersedianya produk pangan yang lebih sehat, lebih aman, lebih sustainable, maka peranan kemasan pangan di masa yang akan datang akan semakin penting. Dalam hal ini, kemasan pangan juga berfungsi (i) mengurangi kehilangan selama distribusi dan penyimpanan, (ii) menjaga keaslian dan mencegah pemalsuan (tampering) produk selama distribusi dan penyimpanan, (iii) memberikan ketelusuran (traceability) produk dari sumbernya (produsen) ke konsumen; termasuk memonitor kondisinya selama transportasi, distribusi dan penyimpanan, (iv) memberikan informasi kepada konsumen mengenai nilai produk pangan, (v) mempromosikan dan meningkatkan produk dan perusahaan (brand awareness), dan (vi) meminimisasi dampak lingkungan, kerusakan (food wastage) dan biaya.  It’s More Than Just a Wrap.

Peranan kemasan pangan jelas akan semakin penting dan menantang.  Kemasan pangan akan semakin sulit dipisahkan dari proses produksi pangan. Kemasan pangan akan menjadi satu kesatuan dengan indentitas produk pangan, bagian integral dari upaya branding dan marketing produk dan bisnis pangan.

Namun demikian, pertimbangan pertama dan utama dalam pemilihan kemasan pangan adalah kemampuannya untuk berfungsi mempertahankan keamanan dan mutu pangan. Fungsi lain adalah fungsi tambahan.  Fungsi tambahan kemasan ini juga selalu berkembang, seiring dengan perkembangan teknologi.  Ada pengemas yang mampu mengendalikan (memanipulasi) kondisi lingkungan yang melingkupi produk pangan untuk tujuan menmpertahankan mutu dan keamanannya. Itulah pengemas aktif.  Ada pula pengemas yang mampu mengolah informasi mengenai produk pangan yang dikemasnya, dan menerjemahkan informasi tersebut menjadi status tentang keamanan atau mutu produk pangan , dan sekaligus menyampaikan hal itu melalui tanda-tanda yang mudah kepada konsumen. Itulah pengemas pintar. Itulah functional packaging.

Jadi, jika kemasan tidak memiliki fungsi yang berarti, sekedar hanya memiliki tampilan yang menarik, maka seharusnya tidak perlu dilakukan; karena hanya akan menambah biaya ekonomi dan ekologis saja.

Berbagai isu tentang kemasan pangan disajikan pada FOODREVIEW INDONESIA edisi kali ini. Harapannya, semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat bagi perkembangan saya saing pangan dan industri pangan, serta –tentunya- kemasan dan industri kemasan di Indonesia.

Selamat membaca.

Prof. Purwiyatno Hariyadi

phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

Retortable Packaging untuk Produk Steril Komersial

 

Retortable Packaging untuk Produk Steril Komersial – Foodreview

 

Menurut Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 24 Tahun 2016 tentang Persyaratan Pangan Steril Komersial, pangan steril komersial adalah pangan berasam rendah yang dikemas secara hermetis, disterilisasi komersial dan disimpan pada suhu ruang.Pangan steril komersial sangat rentan kaitannya dengan cemaran mikroorganisme, sehingga diperlukan beberapa proses perlakuan yang bertujuan agar pangan tersebut tetap aman sampai dikonsumsi oleh konsumen. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan menerapkan teknologi pengemasan yang sesuai, misalnya retortable packaging.

Menurut Peneliti Senior Southeast Asian Food and Agricultural Science and Technology (SEAFAST) Center Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Purwiyatno Hariyadi dalam A Two Day Intensive Workshop: Packaging Requirements of Ready To Eat (RTE) Product pada 14 September 2017 di Bogor, ada tiga syarat yang harus dipenuhi agar proses retort sukses, yaitu kemasan yang digunakan harus tertutup secara hermatis, perlakukan pemanasan yang diberikan harus cukup, dan penanganan kemasan harus dengan baik dan hermatis.

Fri-34 (http://foodreview.co.id/blog-5669230-Retortable-Packaging-untuk-Produk-Steril-Komersial.html)

 

 

Untirta Gelar Workshop Revitalisasi Industri Pasca Panen dan Pengolahan Pangan

 

Untirta Gelar Workshop Revitalisasi Industri Pasca Panen dan Pengolahan Pangan

 

Untirta menyelenggarakan kegiatan Workshop dengan tema Revitalisasi Industri Pasca Panen dan Pengolahan Pangan Untuk Produk Pangan Berkualitas Dalam Rangka Ketahanan Pangan Provinsi Banten bertempat di gedung Center Of Exellent (CoE) Untirta Kampus Fakultas Teknik Cilegon. (13/09/2017).

Workshop dibuka oleh Rektor yang diwakili Prof. Dr. Kartina AM, MP yang menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerjasama, Humas dan Sistem Informasi Untirta. Pada acara sambutan beliau menyampaikan kegiatan ini merupakan yang kedua kalinya dalam rangkaian acara riset konsorsia yang memfokuskan melakukan penelitian dengan bekerjasama dengan dinas/instansi terkait yang ada di provinsi Banten, beliau berharap workshop ini dapat bermanfaat bagi semua dan dapat ditindak lanjuti dalam kehidupan yang nyata.

Hal senada disampaikan juga oleh Ketua Pelaksana, Workshop ini bertujuan untuk menyamakan persepsi bagi revitalisasi industri pasca panen dan pengolahan pangan untuk menghasilkan produk pangan berkualitas berbasis pangan lokal, memperkuat jejaring pemerintah, peneliti, akademisi, praktisi dalam hal ini industri dan ukm sehingga dapat terjalin kerjasama riset yang kompetitif di industri pasca panen dan pengolahan pangan dalam rangka untuk mendukung pembangunan ketahanan pangan yang berkelanjutan, memantapkan dukungan seluruh stakeholder di Provinsi Banten untuk mendukung Untirta menjadi CoE bidang food security

Adapun Pembicara yang dihadirkan yaitu Prof. Dr. Purwiyatno Hariyadi (senior Scientist, Seafast Center, LPPM, IPB, Bogor), Ir. Wiwik Puntorini, S.Pd (Umkm binaan Institut Pertanian Bogor) serta dimoderatori oleh Dr. Hj. Meutia, SE., MP, sedangkan Peserta kegiatannya yaitu Para pejabat Struktural, Peneliti dan Dosen Untirta, Dinas Umkm baik di Kota maupun Kabupaten yang ada di lingkungan provinsi Banten, pelaku usaha Umkm, mahasiswa/i Untirta. Para narasumber pada pemaparan materi menyampaikan beberapa hal penting diantaranya tentang industri pangan, sinergi UKM dan industri yang mendukung ketahanan pangan, nilai pangan, ketahanan pangan mandiri dan berdaulat beserta pilar dan indikatornya, industri pangan yang terfokus pada Umkm pangan, gambaran daya saing produk pangan Indonesia, klasifikasi usaha kecil dan industri, inovasi regulasi dan standarisasi industri pangan dapat mendorong produk lokal serta mendukung ketahanan pangan.

 

 

 

Magister Ilmu Pangan Gelar Kuliah Umum Ulas Industri Pangan

 

Magister Ilmu Pangan Gelar Kuliah Umum Ulas Industri Pangan

[unsoed.ac.id, Rab 13/09/17] Program Megister  Ilmu Pangan Fakulatas Pertanian (Faperta)  Unsoed menyelenggarakan kuliah umum dengan tema “Tren, Peluang & Tantangan Industri Pangan di Era Global”, Senin (11/9). Acara ini diikuti oleh 240 mahasiswa Jurusan Teknologi Pertanian, 6 mahasiswa baru Program Studi Megister Ilmu Pangan. Hadir Wakil Dekan Bidang Akademik, Ketua Jurusan Teknologi Pertanian, Ketua Program Studi Megister Ilmu Pangan dan Beberapa Dosen di Ruang D107 Komplek Gedung D Faperta.

Hadir sebagai narasumber kuliah umum ini yaitu Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc., Vice Chair Codex Alimentarius Commission 2017 -2019 Word Healt Organization ( WHO ) and Food and Agriculture Organization (FAO). Dengan moderator  Dr  Ervina Mela Dewi, ST, MSi., Staf Pengajar Megister Ilmu Pangan Faperta Unsoed

Dalam paparan materinya Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc. menjelaskan diantaranya  tentang teknologi pangan berperan penting dalam memproduksi pangan yang mempunyai value yang lebih baik. Diuraikan bahwa value terhadap produk pangan ditentukan antara lain dengan terciptanya pangan yang akan membuat konsumen sehat, aktif dan produktif, dan ketersediaan pangan berkesinambungan dan mengembangkan produk pangan lokal yang bisa diterima secara global.

Harapan kedepan dengan adanya kegiatan ini dapat menambah pemahaman dan kepedulian para akademis, terhadap pentingnya penyediaan pangan yang cukup dan bergizi, baik bagi masyarakat Indonesia maupun dunia.

Maju Terus Pantang Mundur, Tak Kenal Menyerah!

 

Beasiswa untuk Riset Pangan Lokal

 

Kompas · 7 Sep 2017 · (ELN)

Source: https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20170907/281741269571073

 

Beasiswa untuk Riset Pangan Lokal

 

BOGOR, KOMPAS — Kearifan pangan lokal yang dimiliki Indonesia berpotensi dikembangkan. Untuk itu, dibutuhkan riset pangan yang bermutu agar dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi, keragaman pangan lokal yang dimiliki bangsa ini dapat mendukung ketahanan pangan nasional. Pengembangan riset pangan lokal salah satunya didukung PT Indofood Sukses Makmur Tbk lewat program Indofood Riset Nugraha (IRN) yang memberikan beasiswa riset mahasiswa S-1 dari 25 perguruan tinggi. Pada Rabu (6/9), dilakukan penandatanganan kerja sama penelitian antara 58 mahasiswa penerima beasiswa riset IRN, manajemen Indofood, dan tim panelis. Penerima riset mendapatkan bimbingan dan pembinaan untuk menyelesaikan penelitiannya di bidang pangan, sebagai salah satu syarat kelulusan kuliah. ”Kebudayaan bangsa ini bukan hanya tergerus di aspek tingkah laku yang makin tidak nasionalis. Ketahanan pangan kita juga terancam karena terdesak makanan dari luar yang justru tidak sehat. Padahal, kita punya kekayaan pangan lokal dan makanan tradisional yang berpotensi dikembangkan,” kata Ketua Tim Panelis IRN FG Winarno.

Solusi
Winarno berharap program IRN akan dapat menghasilkan solusi-solusi pangan pada masa depan melalui hasil penelitian yang mengembangkan kekayaan pangan Indonesia. Seperti Indofood, mengembangkan potensi pangan lokal, misalnya tempe dan singkong, untuk jadi camilan. Anggota tim panelis, Purwiyatno Hariyadi, mengatakan, dukungan riset untuk mahasiswa ini membuka peluang untuk mengeksplorasi bahan pangan lokal. Di kawasan Indonesia timur, misalnya, potensi sagu, buah merah, harus terus diriset. Ketua Program IRN Suaimi Suriady mengatakan, jumlah proposal penelitian yang diterima tahun ini meningkat menjadi 215 proposal daripada tahun sebelumnya yang berjumlah 148 proposal. ”Melalui Program IRN, kami secara konsisten mendorong minat mahasiswa untuk terus melakukan penelitian, khususnya di bidang pangan,” katanya. Suaimi menambahkan, tahun ini Indofood melakukan coaching clinic (pelatihan singkat) bagi mahasiswa di Indonesia bagian timur. Hasilnya, dari 58 proposal yang lolos seleksi tim panelis, 12 proposal di antaranya berasal dari tujuh universitas di wilayah Indonesia bagian timur.

Source: https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20170907/281741269571073

 

 
FRI VOL XII/09 2017
 02092017-Screen-Shot-2017-09-02-at-9.36.49-AM

Ingredient Matters

Industri pangan adalah industri yang harus selalu berusaha memenuhi tuntutan konsumen yang berkaitan dengan keamanan, gizi dan kesehatan. Di lain pihak, konsumen juga menuntut pangan yang cepat, mudah dan praktis. Itulah tantangan yang harus dihadapi oleh industri pangan; bagaimana mampu menawarkan produk yang aman, berperan meningkatkan status gizi dan kesehatan masyarakat, tetapi tetap harus menarik dan enak untuk dikonsumsi.

Umumnya; ada dua pendekatan untuk menformulasikan produk pangan yang lebih menyehatkan. Pendekatan pertama adalah mengurangi atau menghilangkan bahan dan ingridien yang dianggap menjadi penyebab permasalahan kesehatan (ingredients of public health concern) seperti gula, garam, dan lemak atau kalori. Pendekatan kedua adalah menambahkan bahan atau ingridien yang memberikan manfaat gizi dan kesehatan. Tetapi –sekali lagi- produk pangan yang dihasilkan tetap harus menarik dan enak untuk dikonsumi.

Dalam mengembangkan dan memproduksi produk pangan sesuai tuntutan konsumen dalam hal keamanan, gizi, kesehatan, rasa dan kepraktisan, industri pangan memerlukan ingridien yang tepat untuk pengembangan produknya. Saat memilih ingridien, jelas sangat penting untuk mempertimbangkan pengaruhnya terhadap keamanan, gizi, kesehatan, rasa dan kepraktisan produk pangan yang dihasilkan. Tidak hanya itu, industri juga harus mempertimbangkan bagaimana perubahan yang terjadi pada ingridien tersebut selama proses pengolahan, penanganan, distribusi dan tahap penyajian di rumah tangga, sampai akhirnya dikonsumsi oleh konsumen.

Itulah tantangan industri pangan. Itu pulalah tantangan industri ingridien pangan. Ingredient matters. Dan itu pulalah yang mendorong aneka inovasi ingridien pangan saat ini, termasuk eksplorasi ingridien- ingridien baru.

Semoga sajian FOODREVIEW INDONESIA kali ini dapat berkontribusi bagi peningkatan daya saing produk dan industri (ingridien) pangan Indonesia.

Selamat membaca,
Prof. Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

Beverages: Thirst Quenching Industry

 

31072017-Screen-Shot-2017-07-31-at-10.21.38-AM

Beverages: Thirst Quenching Industry

Industri minuman telah berkembang pesat. Aneka produk minuman terus diperkenalkan ke pasar dengan berbagai atribut mutu yang semakin inovatif. Menurut Beverage Industry’s 2017 New Product Development Outlook Executive Survey, kategori produk minuman yang menawarkan atribut alami (natural), menyehatkan (healthful) dan organik merupakan jenis produk dengan permintaan tinggi.

Jelas bahwa produk minuman tidak lagi hanya sebagai penawar dahaga; tetapi sekaligus juga memberikan aneka kenikmatan, pengalaman, dan bahkan kesehatan. Dan hal ini pun sangat dipengaruhi oleh demografi konsumen targetnya. Di AS, laporan dari Mintel yang berjudul Beverage Blurring menyatakan bahwa jika dapat mendisain minumannya sendiri, 49% konsumen dewasa mengatakan bahwa dia akan menambahkan vitamin/ mineral; 42% menambahkan antioksidan; 37% menambahkan energi; 33% elektrolit; 29% menambahkan protein; serta 25% ingin menambahkan probiotik.  Faktor inilah yang merupakan daya pendorong; kenapa angka penjualan minuman fungsional/difortifikasi meningkat sebesar 6% dari tahun lalu (Euromonitor).  Di antara jenis minuman tersebut, jenis non-cola sparkling beverages dan kopi siap minum (RTD) merupakan kategori produk yang tumbuh paling tinggi –berturut-turut– mencapai 17% dan 16%.

Selain faktor konsumen, faktor teknologi (baik teknologi proses, teknologi ingridien, teknologi pemgemasan), faktor kebijakan pemerintah juga sangat mewarnai perkembangan dan pertumbuhan industri minuman.

FOODREVIEW INDONESIA edisi ini membahas beberapa perkembangan terkini dalam industri minuman.  Semoga, informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat untuk berkontribusi dalam peningkatan daya saing produk dan industri minuman Indonesia.

Prof. Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

RI Terpilih Sebagai Wakil Ketua Codex Alimentarius Commission 2017-2018

 

RI Terpilih Sebagai Wakil Ketua Codex Alimentarius Commission 2017-2018

Prof. Purwiyatno Hariyadi (Wakil Ketua CAC, kiri), Dr. Bambang Prasetya (Kepala Badan Standarisasi Nasional, kanan) dan Watapri Jenewa, Duta Besar Hasan Kleib pada sidang pleno pemilihan Wakil Ketua CAC, Jenewa, 19 Juli 2017.

 

Jenewa, Swiss: Kandidat Indonesia, Prof. Purwiyatno Hariyadi terpilih sebagai Wakil Ketua Codex Alimentarius Commission (CAC) periode 2017-2018 pada pemilihan yang berlangsung selama Pertemuan CAC ke-40 di Jenewa (19/7).

Dengan dukungan bersama Kementerian Luar Negeri RI, Badan Standarisasi Nasional (BSN) dan PTRI Jenewa, Prof. Purwiyatno, guru besar pada Institut Pertanian Bogor (IPB), berhasil meraih suara tertinggi sebanyak 103 suara dari total 122 suara, mengalahkan kandidat Inggris dan Lebanon yang masing-masing meraih 102 suara, dan kandidat Papua Nugini sebanyak 59 suara.

Tiga kandidat peraih suara terbanyak menduduki 3 (tiga) posisi Wakil Ketua Codex. Para Wakil Ketua Codex ini selanjutnya akan bekerja sama dengan kandidat Brasil yang terpilih sebagai Ketua Codex periode 2017-2018 pada pemilihan hari sebelumnya. Pada praktek periode-periode sebelumnya, Ketua dan Wakil Ketua Codex diperpanjang masa penugasannya sampai dua periode.

Ketua dan Wakil Ketua dari Brasil, Indonesia, Inggris dan Lebanon tersebut akan tergabung dalam Executive Committee yang merupakan badan eksekutif Codex.

Bagi Indonesia, peran aktif di Codex adalah penting karena statusnya sebagai badan pembentuk standar internasional yang menjadi acuan dan rujukan global dalam standarisasi pangan guna melindungi kesehatan konsumen dan memfasilitasi perdagangan pangan internasional yang adil.

Dalam sambutan kemenangan, mewakili delegasi Indonesia, Kepala BSN, Dr. Bambang Prasetyo menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang telah mendukung pencalonan Prof. Purwiyatno. Keberhasilan Indonesia tersebut bukan hanya menegaskan komitmen Indonesia untuk mendorong pembentukan standar Codex yang tidak saja ditujukan untuk melindungi kesehatan konsumen, tetapi juga untuk mewujudkan ketahanan pangan global, dengan memfasilitasi akses makanan yang sehat, aman dan memadai bagi masyarakat (food security dan food safety).

Selain itu, partisipasi aktif Indonesia dalam badan tersebut juga ditujukan guna memastikan praktik perdagangan makanan internasional berlangsung secara adil.

Watapri Jenewa, Duta Besar Hasan Kleib, yang turut menyaksikan proses pemilihan yang berlangsung ketat, menilai bahwa terpilihnya kandidat Indonesia merupakan pengakuan 188 negara anggota Codex atas kompetensi Prof. Purwiyatno dan komitmen Indonesia untuk berkontribusi dalam CAC. Keberhasilan tersebut juga bukan hanya akan meningkatkan citra dan kredibilitas Indonesia pada forum-forum internasional lainnya, namun juga dapat dimanfaatkan untuk terlibat aktif dalam mempengaruhi penetapan standar internasional yang berdampak pada peningkatan akses pasar makanan Indonesia.

Menurut Duta Besar Hasan Kleib, keterlibatan Indonesia dalam penyusunan standar Codex diperlukan tidak hanya untuk meningkatkan perlindungan kesehatan konsumen tapi juga guna memastikan pemenuhan standar dan regulasi sehingga produk pangan Indonesia dapat diterima dalam perdagangan internasional.

Kompetensi Prof. Purwiyatno sebagai Wakil Ketua akan memperkuat fungsi Codex Alimentarius Commission. Mengingat keahliannya di bidang food engineering dan kemampuannya dalam bernegosiasi dengan berbagai pihak akan sangat membantu pengambilan keputusan dan penyusunan substansi di Codex yang sesuai dengan kepentingan seluruh negara anggota. Disamping itu, terpilihnya Prof. Purwiyatno diharapkan dapat meningkatkan keahlian para pemangku kepentingan terkait dalam merumuskan dan memperbaiki standar pangan di Indonesia. (sumber: PTRI Jenewa)

 http://www.kemlu.go.id/id/berita/Pages/RI-Terpilih-Sebagai-Wakil-Ketua-Codex-Alimentarius-Commission-2017-2018.aspx
 

Codex elects 3 new vice chairs

 
Codex elects 3 new vice chairs

The Codex Alimentsarius Commission has elected three vice Chairpersons, Dr Mariam Eid (Lebanon), Dr Purwiyatno Hariyadi (Indonesia), and Dr Steve Wearne (United Kingdom).

Vice Chairs

Left to right; Dr Purwiyatno Hariyadi (Indonesia), Dr Mariam Eid (Lebanon), Dr Steve Wearne (United Kingdom).

The delegation of Lebanon thanked the outgoing officers and looked forward to a “new phase with a new governing team” that could work together towards achieving the mandate and vision of Codex. “With Dr Mariam Eid we have a vice Chair who knows the challenges of the region very well and will be extremely pro-active in order to make a difference”, they said.

The delegation of Indonesia thanked the Commission for its support and also thanked the outgoing Chair and Vice Chairs for “having brought Codex to this level”. They expressed the hope that with Dr Purwiyatno Hariyadi Codex could “become more relevant to real problems of food safety and international trade”.

The delegation of the United Kingdom said: “We are proud and honoured that the UK candidate Steve Wearne has been elected today vice Chair of the Codex Alimentarius Commission. As a vice Chair Steve looks forward to serving in the interests of all Codex members for an inclusive, transparent and effective Codex which can deliver on its twin objectives”, they added.

Source: http://www.fao.org/fao-who-codexalimentarius/roster/detail/en/c/1025316/