phariyadi's blog

mencari dan memberi yang terbaik

 

Retortable Packaging untuk Produk Steril Komersial

 

Retortable Packaging untuk Produk Steril Komersial – Foodreview

Menurut Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 24 Tahun 2016 tentang Persyaratan Pangan Steril Komersial, pangan steril komersial adalah pangan berasam rendah yang dikemas secara hermetis, disterilisasi komersial dan disimpan pada suhu ruang.Pangan steril komersial sangat rentan kaitannya dengan cemaran mikroorganisme, sehingga diperlukan beberapa proses perlakuan yang bertujuan agar pangan tersebut tetap aman sampai dikonsumsi oleh konsumen. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan menerapkan teknologi pengemasan yang sesuai, misalnya retortable packaging.

Menurut Peneliti Senior Southeast Asian Food and Agricultural Science and Technology (SEAFAST) Center Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Purwiyatno Hariyadi dalam A Two Day Intensive Workshop: Packaging Requirements of Ready To Eat (RTE) Product pada 14 September 2017 di Bogor, ada tiga syarat yang harus dipenuhi agar proses retort sukses, yaitu kemasan yang digunakan harus tertutup secara hermatis, perlakukan pemanasan yang diberikan harus cukup, dan penanganan kemasan harus dengan baik dan hermatis.

Fri-34 (http://foodreview.co.id/blog-5669230-Retortable-Packaging-untuk-Produk-Steril-Komersial.html)

 

 

Untirta Gelar Workshop Revitalisasi Industri Pasca Panen dan Pengolahan Pangan

 

Untirta Gelar Workshop Revitalisasi Industri Pasca Panen dan Pengolahan Pangan

 

Untirta menyelenggarakan kegiatan Workshop dengan tema Revitalisasi Industri Pasca Panen dan Pengolahan Pangan Untuk Produk Pangan Berkualitas Dalam Rangka Ketahanan Pangan Provinsi Banten bertempat di gedung Center Of Exellent (CoE) Untirta Kampus Fakultas Teknik Cilegon. (13/09/2017).

Workshop dibuka oleh Rektor yang diwakili Prof. Dr. Kartina AM, MP yang menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerjasama, Humas dan Sistem Informasi Untirta. Pada acara sambutan beliau menyampaikan kegiatan ini merupakan yang kedua kalinya dalam rangkaian acara riset konsorsia yang memfokuskan melakukan penelitian dengan bekerjasama dengan dinas/instansi terkait yang ada di provinsi Banten, beliau berharap workshop ini dapat bermanfaat bagi semua dan dapat ditindak lanjuti dalam kehidupan yang nyata.

Hal senada disampaikan juga oleh Ketua Pelaksana, Workshop ini bertujuan untuk menyamakan persepsi bagi revitalisasi industri pasca panen dan pengolahan pangan untuk menghasilkan produk pangan berkualitas berbasis pangan lokal, memperkuat jejaring pemerintah, peneliti, akademisi, praktisi dalam hal ini industri dan ukm sehingga dapat terjalin kerjasama riset yang kompetitif di industri pasca panen dan pengolahan pangan dalam rangka untuk mendukung pembangunan ketahanan pangan yang berkelanjutan, memantapkan dukungan seluruh stakeholder di Provinsi Banten untuk mendukung Untirta menjadi CoE bidang food security

Adapun Pembicara yang dihadirkan yaitu Prof. Dr. Purwiyatno Hariyadi (senior Scientist, Seafast Center, LPPM, IPB, Bogor), Ir. Wiwik Puntorini, S.Pd (Umkm binaan Institut Pertanian Bogor) serta dimoderatori oleh Dr. Hj. Meutia, SE., MP, sedangkan Peserta kegiatannya yaitu Para pejabat Struktural, Peneliti dan Dosen Untirta, Dinas Umkm baik di Kota maupun Kabupaten yang ada di lingkungan provinsi Banten, pelaku usaha Umkm, mahasiswa/i Untirta. Para narasumber pada pemaparan materi menyampaikan beberapa hal penting diantaranya tentang industri pangan, sinergi UKM dan industri yang mendukung ketahanan pangan, nilai pangan, ketahanan pangan mandiri dan berdaulat beserta pilar dan indikatornya, industri pangan yang terfokus pada Umkm pangan, gambaran daya saing produk pangan Indonesia, klasifikasi usaha kecil dan industri, inovasi regulasi dan standarisasi industri pangan dapat mendorong produk lokal serta mendukung ketahanan pangan.

 

 

 

Magister Ilmu Pangan Gelar Kuliah Umum Ulas Industri Pangan

 

Magister Ilmu Pangan Gelar Kuliah Umum Ulas Industri Pangan

[unsoed.ac.id, Rab 13/09/17] Program Megister  Ilmu Pangan Fakulatas Pertanian (Faperta)  Unsoed menyelenggarakan kuliah umum dengan tema “Tren, Peluang & Tantangan Industri Pangan di Era Global”, Senin (11/9). Acara ini diikuti oleh 240 mahasiswa Jurusan Teknologi Pertanian, 6 mahasiswa baru Program Studi Megister Ilmu Pangan. Hadir Wakil Dekan Bidang Akademik, Ketua Jurusan Teknologi Pertanian, Ketua Program Studi Megister Ilmu Pangan dan Beberapa Dosen di Ruang D107 Komplek Gedung D Faperta.

Hadir sebagai narasumber kuliah umum ini yaitu Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc., Vice Chair Codex Alimentarius Commission 2017 -2019 Word Healt Organization ( WHO ) and Food and Agriculture Organization (FAO). Dengan moderator  Dr  Ervina Mela Dewi, ST, MSi., Staf Pengajar Megister Ilmu Pangan Faperta Unsoed

Dalam paparan materinya Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc. menjelaskan diantaranya  tentang teknologi pangan berperan penting dalam memproduksi pangan yang mempunyai value yang lebih baik. Diuraikan bahwa value terhadap produk pangan ditentukan antara lain dengan terciptanya pangan yang akan membuat konsumen sehat, aktif dan produktif, dan ketersediaan pangan berkesinambungan dan mengembangkan produk pangan lokal yang bisa diterima secara global.

Harapan kedepan dengan adanya kegiatan ini dapat menambah pemahaman dan kepedulian para akademis, terhadap pentingnya penyediaan pangan yang cukup dan bergizi, baik bagi masyarakat Indonesia maupun dunia.

Maju Terus Pantang Mundur, Tak Kenal Menyerah!

 

Beasiswa untuk Riset Pangan Lokal

 

Kompas · 7 Sep 2017 · (ELN)

Source: https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20170907/281741269571073

 

Beasiswa untuk Riset Pangan Lokal

 

BOGOR, KOMPAS — Kearifan pangan lokal yang dimiliki Indonesia berpotensi dikembangkan. Untuk itu, dibutuhkan riset pangan yang bermutu agar dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi, keragaman pangan lokal yang dimiliki bangsa ini dapat mendukung ketahanan pangan nasional. Pengembangan riset pangan lokal salah satunya didukung PT Indofood Sukses Makmur Tbk lewat program Indofood Riset Nugraha (IRN) yang memberikan beasiswa riset mahasiswa S-1 dari 25 perguruan tinggi. Pada Rabu (6/9), dilakukan penandatanganan kerja sama penelitian antara 58 mahasiswa penerima beasiswa riset IRN, manajemen Indofood, dan tim panelis. Penerima riset mendapatkan bimbingan dan pembinaan untuk menyelesaikan penelitiannya di bidang pangan, sebagai salah satu syarat kelulusan kuliah. ”Kebudayaan bangsa ini bukan hanya tergerus di aspek tingkah laku yang makin tidak nasionalis. Ketahanan pangan kita juga terancam karena terdesak makanan dari luar yang justru tidak sehat. Padahal, kita punya kekayaan pangan lokal dan makanan tradisional yang berpotensi dikembangkan,” kata Ketua Tim Panelis IRN FG Winarno.

Solusi
Winarno berharap program IRN akan dapat menghasilkan solusi-solusi pangan pada masa depan melalui hasil penelitian yang mengembangkan kekayaan pangan Indonesia. Seperti Indofood, mengembangkan potensi pangan lokal, misalnya tempe dan singkong, untuk jadi camilan. Anggota tim panelis, Purwiyatno Hariyadi, mengatakan, dukungan riset untuk mahasiswa ini membuka peluang untuk mengeksplorasi bahan pangan lokal. Di kawasan Indonesia timur, misalnya, potensi sagu, buah merah, harus terus diriset. Ketua Program IRN Suaimi Suriady mengatakan, jumlah proposal penelitian yang diterima tahun ini meningkat menjadi 215 proposal daripada tahun sebelumnya yang berjumlah 148 proposal. ”Melalui Program IRN, kami secara konsisten mendorong minat mahasiswa untuk terus melakukan penelitian, khususnya di bidang pangan,” katanya. Suaimi menambahkan, tahun ini Indofood melakukan coaching clinic (pelatihan singkat) bagi mahasiswa di Indonesia bagian timur. Hasilnya, dari 58 proposal yang lolos seleksi tim panelis, 12 proposal di antaranya berasal dari tujuh universitas di wilayah Indonesia bagian timur.

Source: https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20170907/281741269571073

 

 
FRI VOL XII/09 2017
 02092017-Screen-Shot-2017-09-02-at-9.36.49-AM

Ingredient Matters

Industri pangan adalah industri yang harus selalu berusaha memenuhi tuntutan konsumen yang berkaitan dengan keamanan, gizi dan kesehatan. Di lain pihak, konsumen juga menuntut pangan yang cepat, mudah dan praktis. Itulah tantangan yang harus dihadapi oleh industri pangan; bagaimana mampu menawarkan produk yang aman, berperan meningkatkan status gizi dan kesehatan masyarakat, tetapi tetap harus menarik dan enak untuk dikonsumsi.

Umumnya; ada dua pendekatan untuk menformulasikan produk pangan yang lebih menyehatkan. Pendekatan pertama adalah mengurangi atau menghilangkan bahan dan ingridien yang dianggap menjadi penyebab permasalahan kesehatan (ingredients of public health concern) seperti gula, garam, dan lemak atau kalori. Pendekatan kedua adalah menambahkan bahan atau ingridien yang memberikan manfaat gizi dan kesehatan. Tetapi –sekali lagi- produk pangan yang dihasilkan tetap harus menarik dan enak untuk dikonsumi.

Dalam mengembangkan dan memproduksi produk pangan sesuai tuntutan konsumen dalam hal keamanan, gizi, kesehatan, rasa dan kepraktisan, industri pangan memerlukan ingridien yang tepat untuk pengembangan produknya. Saat memilih ingridien, jelas sangat penting untuk mempertimbangkan pengaruhnya terhadap keamanan, gizi, kesehatan, rasa dan kepraktisan produk pangan yang dihasilkan. Tidak hanya itu, industri juga harus mempertimbangkan bagaimana perubahan yang terjadi pada ingridien tersebut selama proses pengolahan, penanganan, distribusi dan tahap penyajian di rumah tangga, sampai akhirnya dikonsumsi oleh konsumen.

Itulah tantangan industri pangan. Itu pulalah tantangan industri ingridien pangan. Ingredient matters. Dan itu pulalah yang mendorong aneka inovasi ingridien pangan saat ini, termasuk eksplorasi ingridien- ingridien baru.

Semoga sajian FOODREVIEW INDONESIA kali ini dapat berkontribusi bagi peningkatan daya saing produk dan industri (ingridien) pangan Indonesia.

Selamat membaca,
Prof. Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

Beverages: Thirst Quenching Industry

 

31072017-Screen-Shot-2017-07-31-at-10.21.38-AM

Beverages: Thirst Quenching Industry

Industri minuman telah berkembang pesat. Aneka produk minuman terus diperkenalkan ke pasar dengan berbagai atribut mutu yang semakin inovatif. Menurut Beverage Industry’s 2017 New Product Development Outlook Executive Survey, kategori produk minuman yang menawarkan atribut alami (natural), menyehatkan (healthful) dan organik merupakan jenis produk dengan permintaan tinggi.

Jelas bahwa produk minuman tidak lagi hanya sebagai penawar dahaga; tetapi sekaligus juga memberikan aneka kenikmatan, pengalaman, dan bahkan kesehatan. Dan hal ini pun sangat dipengaruhi oleh demografi konsumen targetnya. Di AS, laporan dari Mintel yang berjudul Beverage Blurring menyatakan bahwa jika dapat mendisain minumannya sendiri, 49% konsumen dewasa mengatakan bahwa dia akan menambahkan vitamin/ mineral; 42% menambahkan antioksidan; 37% menambahkan energi; 33% elektrolit; 29% menambahkan protein; serta 25% ingin menambahkan probiotik.  Faktor inilah yang merupakan daya pendorong; kenapa angka penjualan minuman fungsional/difortifikasi meningkat sebesar 6% dari tahun lalu (Euromonitor).  Di antara jenis minuman tersebut, jenis non-cola sparkling beverages dan kopi siap minum (RTD) merupakan kategori produk yang tumbuh paling tinggi –berturut-turut– mencapai 17% dan 16%.

Selain faktor konsumen, faktor teknologi (baik teknologi proses, teknologi ingridien, teknologi pemgemasan), faktor kebijakan pemerintah juga sangat mewarnai perkembangan dan pertumbuhan industri minuman.

FOODREVIEW INDONESIA edisi ini membahas beberapa perkembangan terkini dalam industri minuman.  Semoga, informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat untuk berkontribusi dalam peningkatan daya saing produk dan industri minuman Indonesia.

Prof. Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

RI Terpilih Sebagai Wakil Ketua Codex Alimentarius Commission 2017-2018

 

RI Terpilih Sebagai Wakil Ketua Codex Alimentarius Commission 2017-2018

Prof. Purwiyatno Hariyadi (Wakil Ketua CAC, kiri), Dr. Bambang Prasetya (Kepala Badan Standarisasi Nasional, kanan) dan Watapri Jenewa, Duta Besar Hasan Kleib pada sidang pleno pemilihan Wakil Ketua CAC, Jenewa, 19 Juli 2017.

 

Jenewa, Swiss: Kandidat Indonesia, Prof. Purwiyatno Hariyadi terpilih sebagai Wakil Ketua Codex Alimentarius Commission (CAC) periode 2017-2018 pada pemilihan yang berlangsung selama Pertemuan CAC ke-40 di Jenewa (19/7).

Dengan dukungan bersama Kementerian Luar Negeri RI, Badan Standarisasi Nasional (BSN) dan PTRI Jenewa, Prof. Purwiyatno, guru besar pada Institut Pertanian Bogor (IPB), berhasil meraih suara tertinggi sebanyak 103 suara dari total 122 suara, mengalahkan kandidat Inggris dan Lebanon yang masing-masing meraih 102 suara, dan kandidat Papua Nugini sebanyak 59 suara.

Tiga kandidat peraih suara terbanyak menduduki 3 (tiga) posisi Wakil Ketua Codex. Para Wakil Ketua Codex ini selanjutnya akan bekerja sama dengan kandidat Brasil yang terpilih sebagai Ketua Codex periode 2017-2018 pada pemilihan hari sebelumnya. Pada praktek periode-periode sebelumnya, Ketua dan Wakil Ketua Codex diperpanjang masa penugasannya sampai dua periode.

Ketua dan Wakil Ketua dari Brasil, Indonesia, Inggris dan Lebanon tersebut akan tergabung dalam Executive Committee yang merupakan badan eksekutif Codex.

Bagi Indonesia, peran aktif di Codex adalah penting karena statusnya sebagai badan pembentuk standar internasional yang menjadi acuan dan rujukan global dalam standarisasi pangan guna melindungi kesehatan konsumen dan memfasilitasi perdagangan pangan internasional yang adil.

Dalam sambutan kemenangan, mewakili delegasi Indonesia, Kepala BSN, Dr. Bambang Prasetyo menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang telah mendukung pencalonan Prof. Purwiyatno. Keberhasilan Indonesia tersebut bukan hanya menegaskan komitmen Indonesia untuk mendorong pembentukan standar Codex yang tidak saja ditujukan untuk melindungi kesehatan konsumen, tetapi juga untuk mewujudkan ketahanan pangan global, dengan memfasilitasi akses makanan yang sehat, aman dan memadai bagi masyarakat (food security dan food safety).

Selain itu, partisipasi aktif Indonesia dalam badan tersebut juga ditujukan guna memastikan praktik perdagangan makanan internasional berlangsung secara adil.

Watapri Jenewa, Duta Besar Hasan Kleib, yang turut menyaksikan proses pemilihan yang berlangsung ketat, menilai bahwa terpilihnya kandidat Indonesia merupakan pengakuan 188 negara anggota Codex atas kompetensi Prof. Purwiyatno dan komitmen Indonesia untuk berkontribusi dalam CAC. Keberhasilan tersebut juga bukan hanya akan meningkatkan citra dan kredibilitas Indonesia pada forum-forum internasional lainnya, namun juga dapat dimanfaatkan untuk terlibat aktif dalam mempengaruhi penetapan standar internasional yang berdampak pada peningkatan akses pasar makanan Indonesia.

Menurut Duta Besar Hasan Kleib, keterlibatan Indonesia dalam penyusunan standar Codex diperlukan tidak hanya untuk meningkatkan perlindungan kesehatan konsumen tapi juga guna memastikan pemenuhan standar dan regulasi sehingga produk pangan Indonesia dapat diterima dalam perdagangan internasional.

Kompetensi Prof. Purwiyatno sebagai Wakil Ketua akan memperkuat fungsi Codex Alimentarius Commission. Mengingat keahliannya di bidang food engineering dan kemampuannya dalam bernegosiasi dengan berbagai pihak akan sangat membantu pengambilan keputusan dan penyusunan substansi di Codex yang sesuai dengan kepentingan seluruh negara anggota. Disamping itu, terpilihnya Prof. Purwiyatno diharapkan dapat meningkatkan keahlian para pemangku kepentingan terkait dalam merumuskan dan memperbaiki standar pangan di Indonesia. (sumber: PTRI Jenewa)

 http://www.kemlu.go.id/id/berita/Pages/RI-Terpilih-Sebagai-Wakil-Ketua-Codex-Alimentarius-Commission-2017-2018.aspx
 

Codex elects 3 new vice chairs

 
Codex elects 3 new vice chairs

The Codex Alimentsarius Commission has elected three vice Chairpersons, Dr Mariam Eid (Lebanon), Dr Purwiyatno Hariyadi (Indonesia), and Dr Steve Wearne (United Kingdom).

Vice Chairs

Left to right; Dr Purwiyatno Hariyadi (Indonesia), Dr Mariam Eid (Lebanon), Dr Steve Wearne (United Kingdom).

The delegation of Lebanon thanked the outgoing officers and looked forward to a “new phase with a new governing team” that could work together towards achieving the mandate and vision of Codex. “With Dr Mariam Eid we have a vice Chair who knows the challenges of the region very well and will be extremely pro-active in order to make a difference”, they said.

The delegation of Indonesia thanked the Commission for its support and also thanked the outgoing Chair and Vice Chairs for “having brought Codex to this level”. They expressed the hope that with Dr Purwiyatno Hariyadi Codex could “become more relevant to real problems of food safety and international trade”.

The delegation of the United Kingdom said: “We are proud and honoured that the UK candidate Steve Wearne has been elected today vice Chair of the Codex Alimentarius Commission. As a vice Chair Steve looks forward to serving in the interests of all Codex members for an inclusive, transparent and effective Codex which can deliver on its twin objectives”, they added.

Source: http://www.fao.org/fao-who-codexalimentarius/roster/detail/en/c/1025316/

 

Prof. Purwiyatno Hariyadi, anggota Komite Nasional Codex Indonesia, terpilih sebagai Vice-Chair Codex Alimentarius Commission

 

Prof. Purwiyatno Hariyadi, anggota Komite Nasional Codex Indonesia, terpilih sebagai Vice-Chair Codex Alimentarius Commission

Salah satu pakar teknologi pangan Indonesia, yang juga merupakan anggota Komite Nasional Codex Indonesia, Prof. Purwiyatno Hariyadi, telah terpilih sebagai Vice-Chair Codex Alimentarius Commission (CAC).   Dalam pemilihan yang dilaksanakan pada sidang CAC ke-40 di Jenewa, Swiss, 17-22 Juli 2017, terdapat empat kandidat dari Indonesia, Lebanon, PNG dan UK yang bersaing untuk mengisi tiga posisi Vice Chair CAC.

Sebelum pelaksanaan sidang, Indonesia telah melakukan lobi secara formal maupun informal kepada negara anggota Codex melalui BSN selaku Codex Contact Point maupun nota diplomatik yang dikirimkan oleh Kementerian Luar Negeri.  Permintaan dukungan juga dilakukan saat pertemuan ASEAN Task Force on Codex, pendekatan informal saat sidang Komite maupun kolokium yang dilaksanakan oleh regional tertentu.

Selama pelaksanaan sidang CAC ke-40 delegasi Indonesia yang dipimpin langsung oleh Kepala BSN Prof. Bambang Prasetya, juga semakin internsif melakukan lobi melalui serangkaian pertemuan untuk menyampaikan visi kandidat.  Delegasi Indonesia berhasil meminta kepada seluruh Regional Codex yang terdiri dari Asia, Africa, EuropeNear East, Latin America and Carribean serta North America and South West Pacific untuk mendengarkan paparan visi dan misi Prof. Purwiyatno Hariyadi sehingga mereka mengatahui kapasitas dan kompetensinya.  Pendekatan diplomatik juga terus dilakukan oleh PTRI Jenewa sehingga Indonesia mendapatkan garansi dukungan saat pemilihan.

Setelah seluruh upaya telah maksimal dijalankan, pada saat pemilihan yang berlangsung dengan voting secara tertutup, Prof. Purwiyatno Hariyadi dipilih oleh 103 negara anggota Codex,  sedangkan  kandidat dari Libanon 102 negara, UK 102 negara dan PNG 59 negara.  Dengan demikian, Prof. Purwiyatno Hariyadi bersama kandidat terpilih dari Lebanon dan UK secara resmi ditetapkan sebagai Vice Chair, mendampingi Chair terpilih dari Brazil untuk mempimpin sidang CAC.

 

Prestasi ini merupakan suatu kebanggaan sekaligus kesempatan bagi Indonesia untuk semakin berkiprah dan memberikan warna dalam forum standar pangan  internasional karena  CAC merupakan badan internasional dibawah FAO dan  WHO yang diberi mandat untuk mengembangkan standar pangan dan teks terkait dalam rangka melindungi kesehatan konsumen dan memfasilitasi perdagangan pangan internasional yang fair.  Saat ini keanggotaan Codex yang diwakili oleh pemerintah telah mencakup 188 Negara, 1 Organisasi Internasonal (European Union) serta organisasi internasional non pemerintah yang bertindak sebagai observer.

 

Standar, pedoman, rekomendasi, dan teks lain yang terkait di bidang pangan ditetapkan oleh CAC secara konsensus berdasarkan data ilmiah untuk memastikan pemenuhannya terhadap persyaratan keamanan pangan.  Dalam perdagangan pangan internasional, standar Codex merupakan referensi bagi negara anggota WTO dalam melakukan harmonisasi standar atau regulasi di bidang pangan dan menjadi acuan apabila terjadi perselisihan (dispute) dalam perdagangan internasional.

 

Melihat posisinya yang strategis di tingkat internasional, terpilihnya Prof. Purwiyatno Hariyadi merupakan suatu momentum bagi Kementerian/Lembaga serta pihak lain yang tergabung dalam organsiasi Codex Indonesia, untuk semakin meningkatkan kontribusi dan  kemampuannya dalam penyusunan standar internasional sehingga produk pangan Indonesia tidak hanya dapat menjadi tuan rumah di negaranya sendiri, tapi dapat diterima di pasar  internasional.

Sumber: http://www.bsn.go.id/main/berita/berita_det/8615#.WXgfaYSGPIU

 

BSN Selenggarakan Rapat Komite Nasional Codex ke-2 Tahun 2017

 

BSN Selenggarakan Rapat Komite Nasional Codex ke-2 Tahun 2017

Dalam rangka menyusun dan membahas kebijakan Codex Indonesia dan strategi pencalonan Vice-Chair Codex pada sidang CAC ke-40, Komite nasional Codex Indonesia mengadakan rapat di Aula Gedung C Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Jumat 7 Julli 2017. Rapat ini dibuka oleh Kepalan BPOM, Penny Kusumastuti Lukito.

Penny menyatakan bahwa tujuan codex sejalan dengan tugas Badan POM. “Tujuan codex yang melindungi kesehatan konsumen, menjamin praktek perdagangan internasional yang jujur, dan mengkoordinasikan proses standardisasi pangan yang dilakukan oleh masing-masing negara anggota dan oleh organisasi internasional lainnya, sejalan dengan tugas Badan POM yaitu menjamin perlindungan terhadap masyarakat khususnya aspek mutu dan keamanan pangan,” ujarnya.

Tentunya peraturan dan kebijakan-kebijakan yang dihasilkan oleh sidang-sidang codex internasional akan sangat mempengaruhi proses standardisasi, baik itu perubahan standar, revisi standar, atau pembuatan standar-standar baru di bidang pangan. Ini adalah proses yang penting bagi Badan POM. Penny juga mendukung keterlibatan aktif komnas codex Indonesia dalam forum codex internasional, sehingga keputusan yang dihasilkan oleh forum codex internasional akan menguntungkan bagi Indonesia, terkait akses peradgangan, kesehatan, dan terutama adalah mendukung daya saing produk lokal, baik dari segi competitiveness maupun persyaratan produk impor.

Penny berharap, hasil dari rapat komnas codex ini dapat meningkatkan peran aktif Indonesia dalam forum-forum codex internasional. tidak lupa, Penny juga mendukung pengusulan Prof Purwiyatno Hariyadi sebagai kandidat vice chair codex.

Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN) selaku Ketua Komite Nasional Codex Indonesia, Bambang Prasetya menyambut baik dukungan yang disampaikan oleh Penny. Bambang juga menyampaikan bahwa kedepannya akan ada forum Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG). Ruang lingkup kegiatan WNPG meliputi permasalahan pangan dan gizi nasional dari hulu sampai dengan hilir. Diharapkan, BPOM dapat turut mendukung forum tersebut.

Rapat ini memiliki 5 agenda. Agenda pertama adalah pemaparan hasil keputusan Komite Nasional Codex Indonesia, 31 Januari 2017, dan Tindak Lanjut yang telah dilakukan. Deputi Bidang Penerapan Standar dan Akreditasi BSN selaku sekretaris Komnas Codex, Kukuh S. Achmad, menyampaikan bahwa untuk mendukung rencana pencalonan Indonesia sebagai Vice Chair Codex, diperlukan beberapa strategi. Beberapa strategi yang telah diterapkan antara lain menyampaikan surat resmi permintaan dukungan dan CV kandidat kepada semuia Negara anggota codex, pertemuan kandidat Indonesia dengan kandidat cjair dari Brazil, serta pertemuan kepala BSN dengan duta besar Brazil. Selain itu, Kukuh juga menyampaikan rencana pelaksanaan WNPG tahun 2018.

Agenda kedua adalah Laporan Hasil Sidang oleh MC Codex atau Delegasi Indonesia. Dalam kesempatan ini, setiap coordinator MC atau delegasi RI yang hadir pada siding-sidang codex periode Februari-Juni 2017 menyampaikan laporan-laporannya.

Kemudian, rapat membahas penetapan posisi Indonesia pada Sidang Codex mendatang. Salah satunya adalah membahas pemilihan Chairdan Vice Chair yang akan dilaksanakan pada sidang CAC ke-40, tanggal 17-22 Juli di Jenewa, Swiss. Berdasarkan informasi yang diterima sampai saat ini ada dua kandidat yang telah menyatakan kesediaannya untuk menjadi Chair yaitu dari Brazil dan Mali, sedangkan untuk Vice Chair terdapat 4 kandidat yaitu Indonesia, Libanon, Papua Nugini dan Inggris.  Apabila kondisi tersebut tidak berubah, maka akan dilakukan pemungutan suara pada Sidang CAC40 untuk memilih 1 orang Chair dan 3 orang Vice Chair. Untuk itu, delegasi Indonesia perlu bekerjasama dengan perwakilan Indonesia di Jenewa, melakukan lobi ke setiap negara untuk penggalangan dukungan pencalonan Prof. Purwiyatno sebagai Vice Chair Codex.

Untuk menguatkan posisi Indonesia dalam codex internasional, salah satu pendukungnya adalah Indonesia harus mampu memberikan masukan / sanggahan yang berdasarkan penelitian. Untuk itu, forum menyatakan bahwa komite nasional Codex Indonesia perlu didukung oleh lembaga penelitian, contohnya dari Kementerian riset teknologi dan pendidikan tinggi. (ald-Humas)

 

Source:

http://www.bsn.go.id/main/berita/berita_det/8578/BSN-Selenggarakan-Rapat-Komite-Nasional-Codex-ke-2-Tahun-2017#.WWcWgYSGPIU