phariyadi's blog

mencari dan memberi yang terbaik

 

INGRIDIEN PANGAN LOKAL

 
FRI Vol XV/09 2020
Editorial

INGRIDIEN PANGAN LOKAL

Kebutuhan dan tuntutan masyarakat terhadap produk pangan selalu berubah dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangan masyarakat itu sendiri. Kebutuhan dan tuntutan ini juga menyebabkan perubahan cara penilaian konsumen terhadap pangan. Pangan tidak lagi hanya dinilai dari cita rasanya, tetapi juga dari kandungan gizinya, atau juga dari fungsi khusus bagi kesehatan tubuh, atau bahkan dari fungsi yang menunjukkan status sosial dan identitas -misalnya.

Kesadaran masyarakat terhadap lingkungan yang semakin meningkat juga memengaruhi penilaian terhadap produk pangan. Konsumen demikian, akan memberikan penilaian lebih untuk pangan lokal, pangan dengan ingridien lokal. Pangan lokal, ingridien lokal tidak mengalami transportasi jauh-jauh, jadi ini membantu mengurangi emisi gas rumah kaca. Tidak hanya itu, membeli pangan lokal juga berarti membantu bisnis lokal, ekonomi lokal, pekerja lokal dan mempertahankan kebiasaan dan kebudayaan lokal. Tambahan pula, rantai pasok berbagai sumber daya lokal ternyata lebih tahan terhadap berbagai gangguan karena pandemi seperti sekarang ini.

Dalam hal pangan, Indonesia sebenarnya kaya dengan aneka sumber daya lokal. Sebut saja cokelat, gula palma, buah merah, aneka umbi -yang sebagian bahkan sudah mendunia. Memang tidak ada definisi yang pasti mengenai pangan lokal, atau ingridien pangan lokal. Secara umum, pangan atau ingridien pangan lokal adalah pangan atau ingridien pangan yang telah dikenal, ditanam, dikembangkan dan diproduksi, diolah, diperdagangkan, serta dijual secara lokal. Di United Kingdom, istilah lokal ini didefinisikan sebagai suatu lokasi geografi tertentu dengan radius sekitar 48-80 kilometer atau 30-50 mil (www.makinglokalfoodwork.co.uk).

Indonesia mempunyai kekayaan yang besar dalam hal ingridien pangan lokal ini. Untuk soto saja -misalnya- banyak daerah mempunyai ragam ingridien yang beraneka pula; ada soto Kudus, soto Lamongan, soto Betawi, soto Madura, soto Medan, soto Bandung, yang semuanya mempunyai komposisi dan cita rasa yang berbeda dan khas. Kekhasan dari setiap ingridien pangan lokal tersebut akan menjadi daya tarik baik bagi industri pangan, untuk dapat dikembangkan sesuai dengan kekayaan sumber daya lokal Nusantara kita. Untuk itu, perlu ada upaya pendidikan konsumen guna mendorong, mendukung dan mencintai ingridien pangan lokal ini.

Di samping itu, diperlukan skema hukum atau undang-undang yang menyediakan sistem perlindungan atas kekayaan ingridien pangan lokal kita, terutama yang telah mempunyai sejarah panjang sebagai pangan/ingridien khas, tradisional Indonesia. Lagilagi contoh di Uni Eropa (https://ec.europa.eu/info/food-farming-fisheries/food-safetyand-quality/certification/quality-labels/quality-schemes-explained_en), yang telah sejak tahun 1993 membentuk undang-undang untuk melindungi kekayaan ingridien pangan lokalnya, dengan skema perlindungan (dilengkapi dengan logo yang berbeda), yaitu skema (i) Protected Designation of Origin, (ii) Protected Geographical Indication, dan (iii) Traditional Speciality Guaranteed. Intinya, skema perlindungan ini dikembangkan untuk mengeksplorasi dan melindungi kekayaan ingridien lokal tradisional, sehingga kekhasan dan kualitas sebagaimana aslinya dapat dijamin.

FOODREVIEW INDONESIA edisi kali ini membahas mengenai beberapa hal terkait dengan ingridien pangan lokal Nusantara. Semoga informasi ini bermanfaat dalam meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

foodreview.co.id

https://pustakapangan.com/store/?category=Foodreview

 

Flavor Indonesia

 
FRI Vol XV/08 2020
www.foodreview.co.id

FLAVOR INDONESIA

Produk pangan mempunyai banyak fungsi dalam kehidupan manusia, mulai dari fungsi primer, sekunder, dan tersier. Fungsi primer pangan adalah sebagai pemasok zat gizi dan energi bagi tubuh. Karena itulah maka mutu pangan sering dinilai dari jumlah dan komposisi zat zat gizinya. Energi dari pangan dapat diperoleh dari proses pembakaran zat gizi makro, terutama karbohidrat. Fungsi sekunder pangan adalah adalah fungsi kenikmatan; yaitu memberikan sensasi kenikmatan indrawi yang dirasakan manusia ketika mengonsumsi pangan -melalui seluruh panca indranya.  Sedangkan fungsi tersiernya –yang muncul belakangan- adalah fungsi fisiologis tertentu, khususnya untuk memberikan manfaat kesehatan (meningkatkan daya tahan tubuh atau menurunkan risiko terkena penyakit tertentu, misalnya).

Baik untuk mendapatkan fungsi primer maupun fungsi tersiernya, fungsi sekunder –yaitu fungsi kenikmatan- tetap merupakan elemen penting dalam pangan. Pangan yang tidak memberikan sensasi nikmat, bisa jadi tidak dikonsumsi atau dikonsumsi dalam jumlah yang tidak cukup untuk memberikan fungsi primer maupun fungsi tersiernya. Jadi, fungsi kenikmatan ini sebenarnya juga memiliki keterkaitan erat dengan pemenuhan gizi (fungsi primer) dan memberikan manfaat kesehatan (fungsi tersier).

Memahami hal tersebut, pengembang produk pangan perlu mengombinasikan ingridien pangan dengan baik, untuk menghasilkan produk pangan dengan sensasi flavor yang baik pula, sehingga bisa memenuhi ketiga fungsi pangan sekaligus.

Indonesia merupakan negara tropis dengan rempah-rempah dan bahan tanaman bumbu melimpah, serta telah mempunyai sejarah lama digunakan untuk memberikan flavor produk pangan.  Bahkan aneka pangan tradisional Indonesia dengan flavor khasnya sudah terbukti disukai dan dikenal luas secara global, seperti rendang, nasi goreng, dan kecap manis. Indonesia juga terkenal dengan bahan flavor seperti pala, lada, cengkeh, kopi, dan masih banyak lagi. Apalagi saat dunia menjadi lebih terhubung, konsumen lebih terbuka, lebih mengeksplorasi pengalaman flavor baru, maka ragam flavor lokal, etnis dan regional akan lebih berpeluang untuk berkembang.

Dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-75, 17 Agustus 2020, maka potensi ini, flavor Indonesia, perlu dikembangkan oleh insan pangan Indonesia. Hal ini adalah tantangan dan kesempatan bagi Industri pangan Indonesia. Termasuk juga tantangan dan kesempatan bagi semua pemangku kepentingan, generasi milenial -khususnya Gen Z- pangan (dan industri pangan) Indonesia, untuk tidak hanya mencoba flavor dan rasa baru, tetapi juga mengembangkan dan memperkenalkannya kepada dunia.

Dirgahayu Indonesia. Dengan semangat peringatan hari kemerdekaan Indonesia, semoga insan pangan Indonesia semangat menggali dan mengembangkan potensi pangan Indonesia, untuk Indonesia maju, menduniakan flavor Indonesia. Semoga.

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

Recap on hot topics and trends in the Food and Beverage Industry [Webinar]

 
Recap-on-Hot-Topics-and-Trends-in-Food-and-Beverage-Industry.jpg

Recap on hot topics and trends in the Food and Beverage Industry [Webinar]

https://www.youtube.com/watch?v=1XMHstbf73M

In this webinar Fi Asia brings back the speakers from all their previous webinars for an extensive Q&A around what has been happening in the F&B Industry.

Jul 17, 2020

Speakers

Mr. Visit Limlurcha – Chairman of Food Processing Industry Club, The Federation of Thai Industries and President of Thai Food Processors’ Association

Mr. Adhi S. Lukman – Chairman of Indonesian Food & Beverages Industry Association (GAPMMI)

Prof. Dr. Purwiyatno Hariyadi, MSC. (phariyadi.staff.ipb.ac.id) –  Professor at Department of Food Science and Technology & Senior Scientist of Southeast Asian Food and Agricultural Science and Technology (SEAFAST) Center, IPB University (Bogor Agricultural University), Bogor-Indonesia and Vice Chairperson of Codex Alimentarius Commission.

Asst. Prof. Pisit Dhamvithee Ph.D. – Vice Dean of Faculty of Agricultural Product Innovation and Technology, Srinakharinwirot University

Ms. Irene Kersbergen – Insights & Innovation Manager APAC, Innova Market Insights

Moderator

Ms. Rungphech Chitanuwat Group Director – ASEAN, Informa Markets

 

BACK TO BASIC: FOOD SAFETY FIRST

 
FRI Vol XV/07 2020
http://pustakapangan.com/store/?category=Foodreview

BACK TO BASIC: FOOD SAFETY FIRST

 

Keamanan Pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah Pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi. UU No 18, 2012

Food Safety:  Assurance that food will not cause harm to the consumer when it is prepared and/or eaten according to its intended use. General Principles of Food Hygiene, CAC/RCP 1-1969

 

Keamanan adalah prasyarat dasar pangan. Jika tidak aman, maka itu bukanlah pangan. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO; http://www.fao.org/fao-stories/ article/en/c/1179647/) menyatakan bahwa “If it isn’t safe, it isn’t food”. Jadi, hal pertama dan utama tentang pangan adalah keamanannya.

Arti keamanan pangan ini, menjadi lebih penting lagi ketika dunia mengalami permasalahan pandemi COVID-19. Hal ini bisa dipahami karena peranan pangan yang esensial untuk memberikan dan (bahkan) meningkatkan daya tahan tubuh melawan COVID-19. Pangan yang tidak aman, bukannya berkontribusi pada daya tahan tubuh, tetapi bahkan bisa jadi menurunkan, atau menyebabkan sakit.

Jelas, pangan tidak aman merupakan hal yang tidak diinginkan. Karena itu, setiap insan pangan perlu memperkuat persyaratan dasar untuk memproduksi pangan yang baik, Back to Basic: Food Safety First.  Semuanya -mulai dari petani/pekebun/peternak/ nelayan, pengepul, pedagang, pengolah, penjaja sampai ke konsumen pangan- perlu secara disiplin dan bertanggung jawab melaksanakan praktik-praktik baik dalam proses produksi, penanganan, pengolahan, distribusi, dan konsumsi pangan, untuk memastikan keamanan pangan.

Khususnya pada masa pandemi dan kenormalan baru, setiap insan pangan pada setiap mata rantai pasok pangan, perlu melakukan langkah-langkah tambahan, sebagaimana direkomendasikan oleh otoritas keamanan pangan – misalnya rekomendasi dari Badan POM RI (Pedoman Produksi dan Distribusi Pangan Olahan pada Masa Status Darurat Kesehatan Corona Virus Disease 2019 (COVID19) di Indonesia (https://bit.ly/ PedomanProduksiDistribusiPanganOlahan).  Industri pangan perlu semaksimal mungkin memastikan (i) bahwa setiap insan pangan tetap sehat, dengan mengaplikasikan protokol kesehatan dalam penyelenggaraan kegiatan produksi pangan, dan (ii) bahwa pangan yang diproduksi tetap aman (dan bergizi, bermutu). Artinya, industri pangan perlu disiplin dan bertanggung jawab memastikan tidak menyebabkan terjadinya wabah keamanan pangan –seperti wabah Listeria monocytogenes pada jamur enoki, misalnya – di tengah-tengah wabah COVID-19.

Dalam hal ini, penting sekali kita –setiap insan pangan- menyadari bahwa “Food safety is everyone’s business”, sesuai dengan tema peringatan Hari Keamanan Pangan Dunia, yang diperingati setiap tanggal 7 Juni. Perlu kesadaran kolektif, bahwa keamanan adalah prasyarat bagi produk pangan. Tidak bermakna kita bicara gizi pangan, atau mutu pangan, jika pangan tersebut tidak aman.

Di sinilah peran penting industri pangan –from farm to table– yaitu peran untuk tetap berproduksi, menyediakan pangan aman dan bergizi, yang merupakan kebutuhan (dan hak) esensial manusia untuk hidup sehat, aktif, produktif secara bekelanjutan. Semoga kita semua tetap sehat, tetap semangat dan bermanfaat memproduksi kebutuhan esensial bagi bangsa.

Semoga informasi yang kami sajikan bermanfaat dalam meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

Lessons learned from COVID-19 for Food Industry

 

Lessons learned from COVID-19 for Indonesian Food Industry [On-demand webinar]

This webinar gives an update on some of the lessons learnt from COVID-19 on the food and beverage industry in Indonesia. Watch it here to learn more.

https://insights.figlobal.com/regional/lessons-learned-covid-19-indonesian-food-industry-demand-webinar

Presentation may be downloaded here : https://www.figlobal.com/content/dam/Informa/figlobal/asia-indonesia/en/2020/pdf/HLN20FIA-GM-Webinar_LessonsLearnedfromCOVID-19_forFoodIndustry.pdf

 

Virus Corona Bukan Penyakit Bawaan Pangan

 

Virus Corona Bukan Penyakit Bawaan Pangan

Berbagai badan otoritas keamanan pangan dunia speerti CDC, WHO, EFSA (Otoritas Keamanan Pangan Eropa), FAO, FDA, CFIA (Canada), termasuk BPOM, menyatakan Covid-19 ditularkan melalui pangan atau kemasan pangan.
David Eka Issetiabudi – Bisnis.com 08 Juni 2020  |  10:59 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Guru Besar Institute Pertanian Bogor (IPB) Purwiyatno Hariyadi menyebut sampai saat ini tidak terdapat bukti virus corona atau Covid-19 dapat ditularkan melalui pangan atau kemasan pangan.

Dengan begitu, menurutnya, Covid-19 bukanlah penyakit bawaan pangan. Dia mencontohkan, berbagai badan otoritas keamanan pangan dunia speerti CDC, WHO, EFSA (Otoritas Keamanan Pangan Eropa), FAO, FDA, CFIA (Canada), termasuk BPOM, menyatakan Covid-19 ditularkan melalui pangan atau kemasan pangan.

Hanya saja, hasil penelitian menjunjukkan bahwa virus corona dapat bertahan (tetap hidup) pada berbagai permukaan selama waktu bebarapa jam hingga beberapa hari, tergantung kondisi suhu, kelembaban relatif, cahaya, dan lainnya.

“Jadi, sesungguhnya ada risiko penularan Covid-19 melalui kontak dengan permukaan yang terkontaminasi.  Hal ini dapat terjadi ketika seseorang menyentuh permukaan yang terkontaminasi Covid-19 dan kemudian ia menyentuh hidung, mulut, atau mata mereka.  Jadi, secara teoritis, virus corona dapat ditularkan dengan menyentuh pangan [atau kemasan pangan] yang terkontaminasi,” katanya kepada Bisnis, Senin (8/6/2020).

Dia menjelaskan virus corona juga diketahui sangat stabil pada suhu rendah (bertahan hingga 2 tahun pada –20 ° C). Dengan begitu, ada potensi coronavisrus dapat bertahan lama pada produk pangan beku.

Selain itu, virus corona mempunyai sifat rentan terhadap suhu tinggi (70°C), sehingga sangat mudah diinaktivasikan dengan pemanasan.

Dengan mempelajari dan memahami karakteristik virus corona tersebut, maka risiko penularan virus corona dapat diminimalkan dengan mengimplementasikan program manajemen keamanan pangan, khususnya praktik-praktik yang baik dalam Produksi Pangan (Good Manufacturing Practices), Higiene Pangan (Good Hygienic Practices), Penangan Pangan (Good Handling Practices) dan lain-lain.

“Penekanan khusus diberikan terutama pada proses pembersihan dan sanitasi untuk peralatan dan fasilitas pengolahan pangan pangan, terutama pada permukaan-permukaan kontak, baik kontak manusia maupun kontak pangan,” tambahnya.

Editor : David Eka Issetiabudi
 

BSN Bahas Eliminasi Asam Lemak Trans Industrial dalam Peringatan Hari Keamanan Pangan Dunia 2020

 

BSN Bahas Eliminasi Asam Lemak Trans Industrial dalam Peringatan Hari Keamanan Pangan Dunia 2020

World Health Organization (WHO) atau Badan Kesehatan Dunia menargetkan untuk mengeliminasi Asam Lemak Trans Industrial (ALTi) dalam rantai pasok pangan dunia pada tahun 2022 atau menjelang 2023. Untuk itu, perlu dicari terobosan sumber-sumber baru pengganti ALTi di dalam negeri. Badan Standardisasi Nasional (BSN) selaku Sekretariat Komite Nasional Codex Indonesia yang terkait dengan standar pangan, memandang bahwa sangat penting untuk menjawab tantangan ini, mengingat waktu yang ditargetkan WHO tinggal beberapa tahun lagi. Oleh karena itu, bertepatan dengan Peringatan World Food Safety Day atau hari Keamanan Pangan Dunia yang diperingati setiap tanggal 7 Juni, BSN menyelenggarakan webinar dengan tema Menghilangkan Asam Lemak Trans Industrial (ALTi) dari Rantai Pasok Pangan: Perspektif Indonesia secara online pada senin (8/6/2020).

Acara dibuka oleh Plt. Kepala Badan Standardisasi Nasional, Puji Winarni yang menyatakan bahwa, “Merujuk pada pelarangan penggunaan Asam Lemak Trans Industrial, webinar ini bertujuan untuk mencari terobosan sumber-sumber baru pengganti ALTi di dalam negeri yang menjadi sangat penting dan berkelanjutan.”

Minyak sawit atau Crude Palm Oil (CPO) dapat menjadi sumber lemak yang menjanjikan, sehingga hal ini menjadi alternatif yang cukup baik dari pelarangan ekspor CPO yang saat ini dihadapi Indonesia. Dengan melalui kajian yang lebih dalam mengingat food safety bukan hanya urusan para pakar, para akademisi, para peneliti, juga menjadi urusan para pembuat keputusan baik di tingkat negara, maupun di tingkat rumah tangga sebagai konsumen akhir dari seluruh rantai pasokan makanan. “Keamanan pangan menjadi urusan kita semua,” demikian diungkapkan oleh Puji Winarni. “BSN selalu mendukung segala upaya untuk menghasilkan makanan yang bergizi, enak dimakan, juga memberikan jaminan keamanan dan keselamatan konsumen,” pungkas Puji Winarni yang juga mewakili para Ibu Rumah Tangga di Indonesia.

Acara yang dimoderatori oleh Vice-Chair Codex Alimentarius Commission, Purwiyatno Hariyadi ini menekankan bahwa tema webinar kali ini menyangkut berbagai upaya yang sudah dilakukan oleh banyak negara yang berhubungan dengan industrially produced trans fat atau asam lemak trans industrial. Poin penting disini adalah bagaimana perspektif Indonesia terhadap hal tersebut. WHO sudah menargetkan untuk menghilangkan atau mengeliminasi industrially produced trans fat dari sistem rantai pasok pangan dunia pada tahun 2022 atau menjelang tahun 2023.

Asam lemak trans industrial yang bersumber dari partially hydrogenated oil (PHO) diperlukan oleh industri makanan, seperti produsen biskuit. Sebagaimana yang diketahui, bahwa untuk Indonesia harus memiliki perspektif berbeda karena posisinya sebagai penghasil minyak sawit yang memiliki karakter tertentu. “Di berbagai negara, minyak sawit sudah dijadikan alternatif menggantikan PHO,” terang Purwiyatno Hariyadi.

Sementara itu, dari Badan Litbang Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Nelis Imanningsih menjelaskan bahwa penyakit stroke, jantung, dan diabetes adalah 3 peringkat teratas penyakit penyebab kematian di Indonesia. Dari hasil studi diet total tahun 2015, berhasil diidentifikasi beberapa jenis pangan yang berkontribusi pada trans fatty acid, no.1 adalah palm oil dengan catatan tergantung dari proses pengolahannya sebelum menyambungkan dengan data kandungan fatty acid di dalamnya. Selain itu, mie instan, roti, biskuit, margarin, hingga keripik juga termasuk makanan yang mengadung fatty acid atau asam lemak.

Nelis menyayangkan hingga saat ini belum terdapat data nasional paparan asam lemak di Indonesia. Namun, masih terdapat arsip sampel dari foodlist Indonesia, berupa komposit sampel dari 15 provinsi yang dapat dilakukan analisis untuk mendapatkan database makanan komposit yang bisa dijadikan satu dengan data konsumsinya.

Kemudian, Nelis berpesan kajian paparan asam lemak trans sebaiknya menggunakan database kandungan makanan olahan yang ada di Indonesia. Analisis lanjut pada data konsumsi Survei Konsumsi Makanan Individu (SKMI) masih sangat mungkin berdasarkan faktor pengolahan makanan, faktor usia, dan lain-lain. “Dua hal yang harus diperhatikan adalah makanan yang mengandung asam lemak trans tinggi dan banyak konsumennya.,” tutup Nelis.

Kemudian dari Departemen Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Sri Raharjo memaparkan mengenai efek ALTi terhadap kesehatan. Dalam materinya, Sri Raharjo menjelaskan industri makanan menggunakan lemak trans atau PHO untuk tujuan menghantarkan panas saat menggoreng, menghasilkan rasa dan tekstur tertentu pada produk makanan, dan lain-lain. Banyak industri makanan menggunakan lemak trans atau PHO pada waktu yang lalu adalah karena PHO memberikan banyak kemudahan dalam penanganannya, formulasi, juga dari sisi harga relatif lebih murah dan bisa berkontribusi pada umur simpan bahan makanan yang lebih lama.

Lemak trans industrial atau Trans Fatty Acid (TFA) bisa berasal dari bahan alami maupun buatan, ruminansia atau hewan pemakan tumbuhan (herbivora) yang mencerna makanannya dalam dua langkah: pertama dengan menelan bahan mentah, kemudian mengeluarkan makanan yang sudah setengah dicerna dari perutnya dan mengunyahnya lagi. TFA dihasilkan dari bakteri yang hidup di area rumen (perut) hewan herbivora tersebut, ini merupakan contoh lemak trans alami.

Sri Raharjo  melanjutkan, TFA buatan biasanya berasal dari PHO. Proses-proses pemurnian minyak, menggoreng makanan dengan minyak bersuhu tinggi secara berulang kali turut memproduksi TFA buatan. Sedangkan, pada produk minyak sawit segar atau belum digunakan untuk proses-proses memasak cenderung tidak ditemukan kandungan lemak trans.

Adapun, menurut Sri Raharjo, “Porsi terbesar asupan lemak trans di Indonesia berasal dari makanan yang digoreng.” Lemak trans buatan memberikan efek buruk terhadap kesehatan jantung.  Sebaliknya, lemak trans alami tidak memberikan efek negatif, bahkan memberikan efek protektif bagi kesehatan.

Disjmpulkan lemak trans menimbulkan banyak penyakit, selanjutnya yang bisa dilakukan sebagai alternatif penggunaan lemak trans, dari sisi performance, ketersediaan, harga harus bisa memenuhi kriteria kebutuhan industri. Satu alternatif untuk menggantikan lemak trans adalah penggunaan minyak sawit, karena memiliki beberapa fraksi yang memiliki karakteristik performance seperti PHO, dari sisi harga cukup terjangkau. “Salah satu penelitian dari Italia menyatakan bahwa konsumsi bahan-bahan dari minyak sawit tidak menyebabkan gangguan kesehatan, juga salah satu penelitan dari Spanyol pun menyatakan bahwa konsumsi minyak sawit tidak menimbulkan penyakit atau beresiko rendah terhadap gangguan kesehatan,” ungkap Sri Raharjo.

Lebih lanjut perwakilan dari Southeast Asian Food and Agriculture Science and Technology (SEAFAST) Center, Institut Pertanian Bogor, Nuri Andarwulan memaparkan mengenai kebijakan manajemen resiko ALTi. Program WHO menyebutkan replacing trans fat dengan unsaturated fatty acid yang dapat menurunkan resiko penyakit jantung. Kebijakan tersebut dikenal dengan nama REPLACE atau REviewing dietary sources of industrial produced trans fat; Promoting the replacement of industrially produced trans fat with healthier alternatives; Legislating or enacting regulatory actions to ban industrially produced trans fat; Assessing the trans-fat content in food and the population’s consumption; Creating awareness of the negative health effects of trans fats; Enforcing policies and regulations.

Saat ini terdapat 23 negara yang meregulasi pelarangan atau pembatasan penggunaan TFA, diantaranya adalah Kanada, Denmark, Afrika Selatan, India, Singapura, Amerika Serikat, Austria, Arab Saudi, Argentina, dan lain-lain. Eropa memberikan regulasi berbeda untuk pelabelan produk makanan, basisnya adalah 2% kandungan lemak trans pada makanan bukan pada total produknya. Singapura diketahui akan mengeliminasi penggunaan PHO pada tahun 2021 mendatang.

Mengutip dari presentasi Nuri Andarwulan, sebuah studi mengenai kebijakan terhadap pengurangan konsumsi TFA, berhubungan dengan cardiovascular disease dan kebijakannya yang intinya adalah semua kebijakan yang diambil terkait TFA oleh suatu negara menurunkan angka asupannya yang juga akan berefek pada performa kesehatan yang berhubungan dengan cardiovascular disease. Regulasi manajemen resiko yang berhubungan dengan eliminasi TFA memberikan dampak yang paling besar, dibandingkan yang sukarela yang menurunkan asupan konsumsi TFA sebesar 38%. Disebutkan juga sebagai kewajiban pelabelan yang menurunkan asupan TFA sebesar 30% – 74%.

Menurut Nuri Andarwulan, yang paling ideal untuk kebijakan manajemen resiko menghilangkan ALTi adalah melarang, mengeliminasi secara wajib untuk PHO, berdasarkan kajian ilmiah yang dilakukan oleh Nuri.

Metode interestifikasi fat bisa menjadi alternatif pengganti PHO yang tidak mengandung trans fat di dalamnya. Interestifikasi merupakan proses pengolahan lemak atau minyak dimana trigleserida dalam minyak akan ditukar satu dengan yang lainnya dengan bantuan katalis Sodium Methooxide, mengutip presentasi perwakilan dari PT. Salim Ivomas Pratama, Susan Tjahjadi mengenai strategi dan peta jalan penggunaan dan eliminasi ALTi di PT. Salim Ivomas Pratama (SIMP).

Interesterified (IE) fats sebagai pengganti penggunaan TFA di PT. Salim Ivomas Pratama sudah mulai dilakukan pada tahun 2020 ini, yang mana sebagian produk margarin sudah mulai menggunakan IE fats, selain itu SIMP sudah memiliki plant untuk memproduksi IE fats di Surabaya, yang selanjutnya SIMP terus melakukan pengembangan untuk produksi IE fats sendiri. Ditargetkan semua produk margarin SIMP tidak menggunakan PHO mulai tahun 2023 mendatang.

Direktur Pengembangan Standar Agro, Kimia, Kesehatan dan Halal BSN, Wahyu Purbowasito turut memberikan sambutan di awal acara yang bekerja sama dengan Kementerian dan Lembaga yang tergabung dalam Komite Nasional Codex Indonesia, diantaranya adalah Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perindustian, Kementerian Kesehatan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Luar Negeri, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPPMI). (PjA – Humas).

 

DAIRY OPPORTUNITIES

 

#worldmilkday #harisusunusantara

DAIRY OPPORTUNITIES

Kondisi sekarang sungguh berbeda. Dampak pendemi COVID-19 sangat dirasakan oleh semua sektor kehidupan, termasuk sektor industri pangan. Namun demikian, Kementerian Perindustrian menggolongkan sektor pangan (makanan dan minuman) sebagai industri dengan permintaan tinggi walaupun pada kondisi pandemi ini. Hal ini disebabkan karena pangan memang adalah salah satu kebutuhan dasar manusia. Pangan – sebagaimana udara yang kita hirup dan air yang kita minum – merupakan kebutuhan esensial untuk kehidupan manusia. Manusia tidak akan mampu bertahan hidup tanpa pangan. Karena alasan itulah maka Food Review Indonesia memberikan apresiasi tinggi kepada semua pekerja pangan, yang dalam kondisi sulit tetap bekerja memenuhi kebutuhan gizi bangsa.

Pada kenyataannya, dampak negatif COVID-19 juga dipikul industri pangan Indonesia, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (GAPMMI), Adhi S. Lukman, menyatakan bahwa sekitar 71,4 persen pelaku industri pangan menyebutkan penjualannya menurun sekitar 20-40 persen. Beberapa produk industri pangan ternyata memang tetap mengalami permintaan meningkat dalam situasi pandemi ini. Beberapa produk pangan dengan kinerja positif di antaranya adalah produk minyak goreng, bumbu masak, pangan sarapan, ikan dan daging kalengan, mi instan, pangan kering, biskuit, dan susu –termasuk susu cair. Peningkatan permintaan ini menarik dianalisis dan dikaitkan dengan respons atau reaksi konsumen dalam kondisi pandemi, yang antara lain memilih produk pangan yang awet (shelf stable) dan praktis.

Khusus untuk produk dairi, hal ini dapat dikaitkan dengan kesadaran konsumen mengenai pentingnya konsumsi dan asupan pangan yang baik akan memberikan gizi yang diperlukan bagi peningkatan daya tahan tubuh untuk melawan serangan virus. Susu dan produk-produk susu merupakan produk kaya gizi, sumber protein berkualitas tinggi, sumber Vitamin B2, Vitamin A, kalsium, dan zat gizi lain yang penting bagi kesehatan dan daya tahan tubuh manusia. Ini adalah kesempatan yang baik untuk memberikan edukasi kepada konsumen tentang pentingnya asupan susu dan produk susu dalam memenuhi target asupan gizi – dairy opportunities.

Kesempatan dan peluang ini hendaknya dapat direalisasikan terutama dalam momentum hari susu dunia (#worldmilkday) dan Hari Susu Nusantara, tanggal 1 Juni 2020 ini. Kondisi pandemi COVID-19 yang memberikan gangguan pada rantai pasok susu secara global, hendaknya dapat pula dipandang sebagai kesempatan bagi peternak susu (termasuk susu kambing) berskala kecil di Indonesia, khususnya untuk mengganti/mensubstitusi beberapa jenis produk susu impor, misalnya produk-produk keju dan yoghurt, dengan produk-produk lokal. Peranan pemerintah (khususnya pemerintah daerah) serta jejaring industri pengolah/peternak susu sangat diperlukan untuk mendorong industri susu lokal memanfaatkan peluang ini.

Untuk itu, Food Review Indonesia edisi kali ini membahas mengenai produk susu dan potensi pengembangannya, yang mudah-mudahan dapat dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk berkembang.

Akhirnya, pada kesempatan ini, Food Review Indonesia juga mengucapkan Selamat Hari Raya Idulfitri 1441 H, mohon maaf lahir dan batin.

Semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat dalam meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

http://www.foodreview.co.id/COVID-19%20DAN%20KEAMANAN%20PANGAN.pdf

 

Hariyadi, P dan Dewanti-Hariyadi, R. 2020. COVID-19 dan Keamanan Pangan – Sepuluh Pelajaran untuk Industri Pangan.  FOODREVIEW Indonesia.  VOL. XV, NO. 5, Mei 2020.  Hal  21 – 27

 

WEBINAR FOOD SECURITY POLICY MEASURES DURING COVID-19 PANDEMIC

 

WEBINAR FOOD SECURITY POLICY MEASURES DURING COVID-19 PANDEMIC

Pada Hari Sabtu Tanggal 16 Mei 2020, telah dilaksanakan Webinar ICSDH dengan tema “Food Security Policy Measures During Covid-19 Pandemic”.

Pembicara dalam webinar tersebut, Prof. Visith Chavasit (Institute of Nutrition, Mahidol University), Prof. Purwiyatno Hariyadi (Vice-Chair of Codex Alimentarius Commission, IPB University), Dr. Drajat Martianto (IPB University) dan moderator Mouhamad Bigwanto, S.K.M., MPHM (Lecturer, FIKES UHAMKA Head of PUSKAKES UHAMKA).

Materi yang disampaikan oleh masing-masing pembicara, Prof. Visith Chavasit (Institute of Nutrition, Mahidol University) “Covid-19 Pandemic Impact on Food Security”, Prof. Purwiyatno Hariyadi (Vice-Chair of Codex Alimentarius Commission, IPB University) “Food Security Policy Measures Globally During Covid-19”, Dr. Drajat Martianto (IPB University) “Covid-19 Impact on Food Security in Indonesia”.

Peserta yang hadir sekitar 250 peserta via Zoom dan 240 peserta via YouTube.  Selain itu juga, peserta yang hadir juga tidak hanya dari institusi di Jakarta saja. Tetapi ada yang berasal dari Thailand, Universitas Negeri Medan, Universitas Nahdhatul Ulama NTB, Politeknik Sambas Kalbar, Puskesmas Kukutio (Sulawesi Tenggara), Universitas Hasanuddin (Makasar), Universitas Halu Leo (Sulawesi Selatan), Politeknik Kesehatan Kemenkes Jayapura (Poltekkes Kemenkes Jayapura)

Webinar ini bertujuan untuk mengetahui langkah-langkah kebijakan tentang ketahanan pangan selama pandemic covid-19. Semoga dengan webinar ini dapat memberikan manfaat kepada masyarakat luas untuk dapat melakukan rencana-rencana ketahanan pangan terutama dalam keluarga selama pandemic covid-19.

Sebenarnya, banyak peserta yang ketika berlansung inging gabung via zoom, namun karena terbatas hanya bisa via youtube. Meskipun acara ini sudah selesai, bagi yang ingin menyimak ulang bisa disimak di alamat Youtube berikut.

Webinar : “Food Security Policy Measures During COVID-19 Pandemic”

Siapapun harus siap menghadapi kemungkinan terburuk dari covid-19 ini. Dan food security adalah salah satu solusi yang harus dipertimbangkan saat kemungkinan terburuk itu terjadi.