phariyadi's blog

mencari dan memberi yang terbaik

 

Codex salutes outgoing chair of Fats and Oils

 

Codex salutes outgoing chair of Fats and Oils

 05/03/2019

http://www.fao.org/fao-who-codexalimentarius/news-and-events/news-details/jp/c/1184182/

Following 10 years’ service to the Codex Committee on Fats and Oils as chairperson and after nearly 40 years working on Codex in the Malaysian Ministry of Health, Noraini Dato’ Mohd Othman used her closing remarks at CCFO26 in Kuala Lumpur to announce her retirement.

CCFO Chair

Noraini Dato’ Mohd Othman, Chairperson

Noraini also served as the Vice Chair of Codex Alimentarius Commission for three terms from 2005 to 2008 and spoke of the privilege her service had brought. Chairing the Fats and Oils Committee “has been a remarkable learning experience”, she said and a “highpoint of my career”.

VC Purwiyatno Hariyadi

Purwiyatno Hariyadi, Vice Chairperson of the Codex Alimentarius Commission

Purwiyatno Hariyadi, Vice Chairperson of the Codex Alimentarius Commission thanked the outgoing chairperson for “all her time, energy and efforts to make CCFO more productive”.  Noraini brought many valuable skills and leadership to the role.  “Your exceptional qualities have inspired us in so many ways and on behalf of all the members of the Codex family we wish you success”, he said.

Chairpersons across all committees hold a vital position in the work of Codex. “They play a unique and often lonely role as they step away from their national positions to guide discussions in a neutral manner for the global good”, said Sarah Cahill, Senior Food Standards Officer in the Codex Secretariat. “We should not underestimate the challenge of this role and how from the secretariat we appreciate their great efforts”, she said.

 

Read more

Follow the last session of CCFO

 

Pemenuhan Pangan di Era Milenial

 

Pemenuhan Pangan di Era Milenial

http://kulinologi.co.id/blog-988752-Pemenuhan-Pangan-di-Era-Milenial.html

Saat ini dunia sedang mengalami disrupsi yang ditandai dengan masuknya teknologi sebagai basis dari segala sisi, terutama dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari seperti pemenuhan pangan. Tidak lagi menginginkan sesuatu yang sekadar baru, melainkan yang mampu menggeser atau menggantikan yang sudah ada sebelumnya dalam waktu yang cepat.

“Pergeseran segmen konsumen yang kini disebut sebagai generasi milenial memerlukan pengembangan dari berbagai aspek termasuk layanan. Industri harus mampu menghadirkan nilai yang lebih besar bagi para konsumennya,” terang Guru Besar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB, Prof. Purwiyatno Hariyadi, dalam Workshop Pengolahan Hasil Ternak di Era 4.0, pada 5 Maret lalu di Kwmpus IPB, Darmaga, Bogor.

Generasi milenial ini cenderung menyukai produk dengan karakter (i) brand story yang kuat, yaitu produk yang memiliki nilai cerita yang bisa dibagikan, karena generasi ini bersifat narsisistik; (ii) praktis, yaitu mudah digunakan dan didapatkan; (iii) mengedepankan aspek teknologi; serta (iv) mampu memenuhi kebutuhan personal.

Kini, pangan bukan sekadar kebutuhan primer semata. Generasi milenial ini sangat menyukai hal-hal baru, dan pemenuhannya tidak lagi hanya berdasarkan kebutuhan untuk mengisi sumber energi dan pemenuhan gizi, namun juga dipengaruhi oleh gaya hidup, idealisme yang dibangun, juga kenyamanan dari bentuk penyajian makanan tersebut. Fri-37

 

Tantangan Industri Olahan Ternak di Era Industri 4.0

 

Tantangan Industri Olahan Ternak di Era Industri 4.0


Industri peternakan sebagai produsen pangan hasil olahan ternak semakin berkembang. “Di era industri 4.0 atau industri disrupsi (disruption), dimana hasil olahan ternak  diciptakan dan dibuat segala sesuatunya menjadi lebih cepat, smart, dan efisien. Industri di era disrupsi berkaitan dengan teknologi serba digital yang terhubung dengan internet,” kata Dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP), Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (Fateta IPB), Prof. Purwiyatno Hariyadi dalam Workshop Inovasi Pengolahan Hasil Ternak di Era Industri 4.0, Selasa (5/3) di Kampus IPB Dramaga Bogor. Workshop ini digelar Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan T (IPTP), Fakultas Peternakan (Fapet) IPB.

Lebih lanjut Prof. Purwiyatno menjelaskan manusia akan selalu bergantung pada ketersediaan pangan dalam hal ini daging. Permintaan bahan daging dan unggas terus mengalami peningkatan seiring pertumbuhan eksponensial penduduk dunia. Oleh sebab itu, industri penyedia daging dan unggas harus terus berinovasi untuk menghasilkan bahan pangan dengan jumlah besar dalam waktu yang cepat di era revolusi industri 4.0.

“Teknologi akan selalu berkembang untuk mendukung berbagai aspek kehidupan manusia, tidak terkecuali di bidang peternakan. Disrupsi pada dasarnya dapat dikatakan sebagai bentuk inovasi pada berbagai aspek, tidak melulu dikaitkan dengan teknologi informasi (information technology), sehingga bisa terjadi pada konsep usaha atau berbagai hal apapun. Era disrupsi dianggap akan mengubah kehidupan menjadi lebih baik,” ujar Peneliti South East Asia Food  Agricultural Science and Technology (SEAFAST) IPB ini.

Prof. Purwiyatno menambahkan, era disrupsi ditandai dengan generasi milenial yang terus unjuk gigi dengan karya, berlomba menghadirkan teknologi yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha bidang peternakan. Beberapa start-up bidang peternakan memberikan perspektifpektif baru, baik untuk industri peternakan maupun kepada peternak.

Prof. Purwiyatno menyebutkan di era revolusi industri 4.0 bagi peternak terutama peternak rakyat harus menjadi perhatian. Ada beberapa kewajiban peternak rakyat untuk bertahan di era bisnis digital. Pertama, infrastruktur informasi dan teknologi dalam bentuk jaringan internet. Kedua, klasterisasi wilayah sesuai spesialisasi dalam peternakan seperti  sapi dan unggas, untuk pembagian pembibitan, penggemukan, pemotongan, atau penghasil susu. Ketiga, penggunaan teknologi finansial sebagai inovasi dalam akses permodalan. Terakhir, jejaring bisnis lewat sistem aplikasi. “Efisiensi bisa tercapai dalam transportasi, logistik, komunikasi, serta produksi lewat jejaring,” ujar Prof. Purwiyatno.

Prof. Purwiyatno menghimbau, bagi para lulusan atau mahasiswa bahwa era revolusi industri 4.0 merupakan peluang sekaligus tantangan untuk bisa dicermati dengan baik. Peran manusia setahap demi setahap diambil alih oleh mesin otomatis. Akibatnya, jumlah pengangguran semakin meningkat. Oleh karena itu, untuk memanfaatkan peluang dan menjawab tantangan revolusi industri 4.0, para lulusan perguruan tinggi di Indonesia wajib memiliki kemampuan literasi data, teknologi dan informasi. Literasi data yang dibutuhkan untuk meningkatkan skill dalam mengolah dan menganalisis big data untuk kepentingan peningkatan layanan publik dan bisnis. Literasi teknologi menunjukkan kemampuan untuk memanfaatkan teknologi digital guna mengolah data dan informasi. Sedangkan literasi manusia wajib dikuasai karena menunjukkan elemen softskill atau pengembangan karakter individu untuk bisa berkolaborasi, adaptif dan menjadi arif di era “banjir” informasi.

Sedangkan narasumber lain Direktur CV Fiva Food, Ir. Betsy Monoarta menyampaikan, penerapan industri 4.0 pada pengolahan hasil ternak yaitu dapat mendorong proses inovasi dan meningkatkan produktivitas, mempercepat proses produk dan kemasan dengan baik, produk yang dihasilkan lebih bersifat khusus dengan skala lebih baik sehingga mendorong terciptanya pabrik yang handal. “

Sementara Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fapet IPB, Prof. Sumiati menyampaikan, di era industri 4.0 keberadaan teknologi hasil ternak sangat penting. Dimana sekarang ini pertumbuhan penduduk semakin meningkat dan banyak mengkonsumsi produk olahan hasil ternak dan unggas. Sementara  gererasi milenial menuntut serba praktis dan instan dalam pola penyajian menu makanan atau cepat dalam mengkonsumsi produk olahan dari daging.  ”Ini peluang bagi bidang hasil ternak untuk dapat memenuhi permintaan dari konsumen dan tantangannya untuk memberikan yang terbaik bagi konsumen dalam penyediaan terutama dalam era industri 4.0 ini, setiap olahan hasil ternak bisa disajikan dengan cepat, praktis dan ekonomis,” papar Prof. Sumiati.(Awl/ris

 

Published Date : 06-Mar-2019

Narasumber : Prof. Purwiyatno Hariyadi

Kata kunci : industri olahan ternak, Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Ternak, Sumiati

 

Prof. Purwiyatno Hariyadi Sampaikan Pentingnya Fats and Oils dalam Perdagangan Internasional

 

Prof. Purwiyatno Hariyadi Sampaikan Pentingnya Fats and Oils dalam Perdagangan Internasional

05 Mar 2019 9:31 AM

Codex Committee on Fats and Oils (CCFO) menyelenggarakan Sidang ke-26 di Hotel Royale Chulan, Kuala Lumpur, Malaysia pada tanggal 25 Februari – 1 Maret 2019. Sidang tersebut dihadiri oleh 40 negara anggota, 1 organisasi anggota dan 5 observer. Malaysia merupakan negara tuan rumah CCFO sejak tahun 2009 setelah sebelumnya berada di Inggris.

Prof. Purwiyatno Hariyadi, Vice-chair Codex Alimentarius Commission (CAC) memberikan sambutan pada pembukaan sidang CCFO sebagai perwakilan Chair dan Vice-chair CAC. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa saat ini CAC bekerja untuk mengembangkan standar dan mendorong harmonisasi penerapan standar internasional yang mencakup aspek kualitas dan keamanan pangan, termasuk penanganan dan distribusi pangan disepanjang rantai pangan. Hal ini termasuk lemak dan minyak (fats and oils) yang merupakan pangan dan bahan pangan penting yang diperdagangkan di seluruh dunia.

We can’t imagine enjoying food without fats and oils” ujar Purwiyatno. Beliau menekankan kembali pentingnya lemak dan minyak sehingga sebagai konsekuensinya, aspek kualitas, keamanan dan keaslian (authenticity) dari lemak dan minyak sangat penting bagi semua pihak, disepanjang rantai pasokan lemak dan minyak (from farm to table) di seluruh dunia.

Source of picture: http://www.fao.org/fileadmin/user_upload/codexalimentarius/photo-archive/CCFO-Pur-1.jpg

Agenda yang dibahas pada Sidang CCFO ini dinilai sangat penting bagi Indonesia karena juga menyangkut produk minyak sawit yang merupakan salah satu komoditas unggulan ekspor Indonesia. Beberapa diantaranya adalah revisi Codex Standard for Named Vegetable Oils untuk mengubah suhu analisa pengukuran indeks refraktif dan apparent density dari palm superolein; penggantian nilai asam dengan asam lemak bebas untuk virgin palm oil; dan menyertakan nilai asam lemak bebas untuk crude palm kernel oil.

Revisi dari Standar Codex tersebut diharapkan dapat membantu konsumen, supplierretailer dan regulator, termasuk di Indonesia, untuk memastikan kualitas dan keamanan dari komoditas penting tersebut. (ccp)

 

SAVOR THE FLAVOR

 

SAVOR THE FLAVOR
01032019-edisimaret19

The more you eat, the less flavor; the less you eat, the more flavor. Chinese Proverb

Gaya hidup sehat telah menjadi kebutuhan masyarakat. Salah satu komponen penting dari gaya hidup sehat ini adalah pola dan kebiasaan makan yang baik. Peranan pangan menjadi penting, yaitu sebagai sumber gizi. Pola dan kebiasaan makan yang baik akan dapat memastikan tubuh mendapatkan asupan gizi yang cukup untuk menjadi sehat.

Namun perlu diingat, bahwa pangan akan memasok gizi bagi tubuh manusia, jika dan hanya jika produk pangan tersebut dikonsumsi, dan dikonsumsi dalam jumlah yang cukup. Kuncinya adalah, konsumsi yang cukup sehingga dapat memberikan asupan gizi yang optimal. Artinya, konsumsi pangan harus mampu menyediakan semua gizi yang diperlukan, baik dalam jumlah maupun jenis.

Karena itulah maka, faktor avor menjadi sangat penting, untuk menghasilkan aneka ragam produk pangan yang memberikan kenikmatan, sehingga dapat dikonsumsi dalam jumah yang cukup. Bahkan, produk pangan dengan mutu avor yang baik akan memberikan kepuasan yang lebih baik, sehingga dapat menghindari konsumsi berlebihan yang tidak perlu. Sebagaimana diungkapkan oleh pepatah Cina, yang mengatakan “the more you eat, the less flavor; the less you eat, the more flavor”.

Untuk itu, penggunaan avor (perisa) dalam formulasi produk pangan juga semakin berkembang, tidak hanya dalam hal jenis, tetapi juga dalam hal kualitas. Berbagai teknologi produksi dan proteksi avor juga berkembang, antara lain dengan aplikasi lm dan pelapisan, serta teknologi enkapsulasi.

Berbagai hal berkaitan dengan avor dibahas pada FOODREVIEW Indonesia edisi kali ini. Harapannya, semoga hal ini dapat memberikan dorongan untuk berinovasi. Semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat dalam meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

Experts meet to discuss fats and oils in Malaysia

 

Experts meet to discuss fats and oils in Malaysia

(http://www.fao.org/fao-who-codexalimentarius/news-and-events/news-details/en/c/1181737/)

 25/02/2019

Members and Observers of the Codex Alimentarius Commission are meeting in Kuala Lumpur, Malyasia from 25 February to 1 March 2019 at the 26th session of the Codex Fats and Oils Committee. Discussions taking place include the addition of palm oil to the Codex Standard for Named Vegetable Oils; a proposed revision of the Standard for Olive Oils and Olive Pomace Oils; discussions on walnut oil, almond oil, hazelnut oil, pistachio oil, flaxseed oil and avocado oil, as well as alignment of food additives in standards for some fats and oils.

According to FAOSTAT the world export value of fats and oils in 2016 was approximately USD 90 billion and over the last ten years this value has almost doubled.

Minister of Health, Malaysia

Dr. Dzulkefly Bin Ahmad, Minister of Health, Malaysia

Welcoming delegates and opening the meeting, Dr. Dzulkefly Bin Ahmad, Minister of Health, Malaysia noted the challenges facing the committee in establishing new standards. “With increased health awareness of consumers worldwide, there has been increased demand for healthier oils”, he said. The committee brings together diverse expertise and talent from around the world, representing the various needs of different countries, “without compromising the common goal of protecting consumer health and ensuring fair practices in food trade”, he said.

The Minister also announced that the Malaysian government will elevate the Food Safety and Quality Division in the Ministry of Health to become the Food Safety Authority Malaysia.

We can not imagine enjoying food without fats and oils

Oils of animal, vegetable and marine origin are important foods and food ingredients traded worldwide. “The aspects of safety, quality and authenticity of fats and oils are of immense importance to all parties along the fats and oils supply chain, from farm to table around the world”, said Purwiyatno Hariyadi, Vice Chairperson of the Codex Alimentarius Commission. Revisions on Codex standards are expected to help consumers, suppliers, retailers and regulators, to assure the quality and safety of these important products.

VC-Pur H

Purwiyatno Hariyadi, Vice Chairperson of the Codex Alimentarius Commission

Codex contributes directly to the Sustainable Development Goals regarding zero hunger (SDG2), good health and well-being (SDG3), responsible consumption and production (SDG12) and is a leading example of partnerships for the goals (SDG17). “Protecting consumer health and ensuring fair practices in the food trade are an important contribution to achieving these goals”, said Hariyadi.

A drop of oil, a tonne of value

Publication launch

Patrick Sekitoleko, Codex Secretariat, Dr. Chen Chaw Min, Secretary General, Ministry of Health Malaysia, Dr. Dzulkefly Bin Ahmad, Minister of Health, Malaysia, Ms. Noraini binti Dato’ Mohd. Othman, Chairperson to the Codex Committee on Fats and Oils and Purwiyatno Hariyadi, Vice Chairperson of the Codex Alimentarius Commission

The opening of the meeting also saw the launch of a publication exploring the work of the committee. This publication, “A drop of oil, a tonne of value” examines how the committee operates and the role Malaysia has played since taking over leadership from the UK in 2009. With contributions from producing nations, traders, members and observers, the publication offers an insight into fats and oils and what takes place inside an international standard setting body to ensure safe food and a level playing field for trade.

 

Read more

Download A drop of oil, a tonne of value

Follow the current session of CCFO

Official portal – Ministry of Health, Malaysia

 

Inovasi Bakeri

 
FRI Vol XIV/2 2019

02022019-Screen-Shot-2019-02-02-at-1.21.34-PM

Inovasi Bakeri

Produk bakeri telah lama menjadi produk pangan yang disukai konsumen. Aneka produk panggang berbasis tepung ini telah menjadi produk sehari-hari yang dikonsumsi masyarakat. Tuntutan akan kemudahan (kepraktisan), kesehatan dan kenikmatan, telah memun- culkan aneka pilihan produk bakeri yang inovatif. Dalam memenuhi aneka tuntutan konsumen ini, produsen perlu selalu mengeksplorasi aneka pilihan ingridien yang tersedia.

Indonesia kaya dengan potensi ingridien untuk produk bakeri. Aneka jenis tepung dapat dikembangkan menjadi bahan baku utama produk bakeri, yang akan menghasilkan produk dengan berbagai karakteristik fisika, kimia dan fungsional yang khas. Sebut saja, tepung sukun, tepung singkong, tepung aneka ubi, adalah jenis-jenis tepung berpotensi digunakan sebagai bahan baku produk bakeri yang khas. Di samping itu, aneka buah-buahan, biji-bijian, dan kacang-kacangan dapat digunakan sebagai bahan pembantu yang juga memberikan mutu gizi, tekstur, kenampakan yang khas pula. Kombinasi pasangan aneka tepung dan aneka buah, biji, dan kacang tentu akan menghasilkan berbagai kemungkinan inovasi produk.

Di samping itu, Indonesia juga kaya dengan aneka produk pangan tradis- ional yang termasuk dalam produk bakeri. Dengan menggabungkan potensi lokal dan kebiasaan lokal yang ada, potensi inovasi produk bakeri ini sungguh tidak terkira. Kata kuncinya adalah asimilasi; penyesuaian dengan sifat, kondisi, dan potensi lokal, termasuk potensi tepung, isi (filling) atau pun topping yang berkarakter lokal. Roti isi pisang adalah salah satu contoh produk asimilasi ini. Kombinasi singkong dan keju; sebagai ingridien inovasi produk bakeri sungguh perlu ditangani secara serius. Penggunaan ingridien tradisional seperti abon, sambal, petai, dan teri –misalnya– untuk pengembangan produk bakeri mod- ern perlu ditangani secara serius. Itulah asimilasi, strategi inovasi pada produk bakeri untuk memenuhi tuntutan konsumen yang semakin kompleks.

Inovasi untuk memenuhi tuntutan konsumen yang semakin sadar kesehatan, perlu juga selalu dilakukan. Di bidang pangan, demikian juga bakeri, industri perlu berkreasi inovatif memenuhi tuntutan konsumen dalam hal (i) keamanan (dan terutama kehalalan), (ii) kesehatan, (iii) kemudahan, dan (iv) kenikmatan. Dengan terbitnya UU pangan (UU No. 18, 2012) dan UU Jaminan Produk Halal (UU No. 33, 2014) maka keamanan merupakan prasyarat dasar produk pangan. Dalam hal kesehatan, inovasi bakeri umumnya dilakukan dengan penggunaan tepung utuh (whole grains), penambahan serat pangan, prebiotik, dan probiotik, antioksidan, dan lain-lain.

Selain itu, pengembangan produk bakeri alternatif “gluten- and allergen- free” juga banyak dikembangkan. Demikian pula berkembang produk bakeri dengan formula khusus untuk penderita diabetes, untuk penderita darah tinggi, atau untuk kelompok vegetarian. Antara lain, hal ini terlihat dengan munculnya aneka produk bakeri rendah kandungan gula, garam, dan lemak di pasaran.

Pada edisi kali ini, Foodreview Indonesia menyajikan dan membahas mengenai beberapa hal terkait dengan inovasi, khususnya di industri bakeri. Semoga sajian Foodreview Indonesia kali ini mampu memberikan inspirasi untuk berinovasi. Semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat untuk meningkatkan daya saing produk dan industri bakeri Indonesia.

 

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

Halal: Food Challenges (Opportunities) 2019

 

http://pustakapangan.com/store/?category=Foodreview

01012019-Cover_FRI-edisi-1-vol-XIVHalal: Food Challenges (Opportunities) 2019

Industri pangan selalu penuh dengan tantangan. Banyaknya tantangan inilah yang membuat industri pangan menjadi bergairah, karena tantangan pada umumnya akan melahirkan peluang.

Secara nasional, industri dan masyarakat pangan Indonesia, memasuki tahun 2019 ini akan dihadapkan pada dua tantangan besar; yaitu berkaitan dengan (i) UU No. 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (UU JPH) dan (ii) Permenkes (Peraturan Menteri Kesehatan) RI No. 63 (2015) tentang Perubahan atas Permenkes No. 30 (2013) tentang Pencantuman Informasi Kandungan Gula, Garam, dan Lemak serta Pesan Kesehatan untuk Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji.

Mengenai UU JPH (UU No. 33, 2014), dipersyaratkan bahwa produk yang masuk, beredar, dan diperdagangkan di wilayah Indonesia wajib bersertifikat halal (Pasal 4). Kewajiban bersertifikat halal bagi produk yang beredar dan diperdagangkan di wilayah Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 mulai berlaku 5 (lima) tahun terhitung sejak diundangkan; yang berarti berlaku mulai pada bulan Oktober tahun ini, 2019. Sedangkan mengenai Permenkes, juga memberlakukan Pencantuman Informasi Kandungan Gula, Garam, dan Lemak serta Pesan Kesehatan untuk Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji mulai 2019, juga tahun ini.

Tahun 2019 juga merupakan tahun politik bagi Indonesia. Secara politis, konsumen dan masyarakat Indonesia juga mempunyai perhatian besar terhadap aspek “kemandirian” dan “kedaulatan” pangan. Dari mana datangnya bahan baku dan ingridien lain yang digunakan oleh industri untuk menghasilkan produk pangan menjadi lebih sering dipertanyakan.

Hal-hal tersebut tentu merupakan tantangan (yang berarti juga peluang) khas bagi industri pangan di Indonesia dalam menghadapi tahun 2019 ini. Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang kaya akan sumber daya pangan. Industri perlu merasa tertantang untuk memunculkan peluang baru eksplorasi dan pemanfaatan aneka bahan lokal; untuk memenuhi tuntutan tentang “kemandirian” dan “kedaulatan” pangan. Karena itu, sudah selayaknya bahwa eksplorasi dan pengembangan bahan baku lokal potensial untuk pangan perlu mendapat dukungan.

Indonesia jelas mempunyai penduduk dengan mayoritas beragama Islam, dengan tradisi agama yang sangat kuat. Hal ini tentunya mempunyai keunggulan dalam pemastian mengenai kehalalannya. Karena alasan itu, FOODREVIEW Indonesia kali ini lebih memfokuskan ulasannya pada kesiapan Indonesia dalam mengembangkan industri pangan halal; terutama untuk membantu mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang besar ini.

Semua aspek ini jelas perlu dimanfaatkan dan dikelola dengan baik, sehingga menjadi peluang tumbuh dan memenangkan kompetisi. Dengan meramu segala aspek ini, termasuk aspek sosial, budaya dan ekonomi, industri pangan Indonesia berpeluang besar untuk meningkatkan daya saingnya secara global. Serta dengan memanfaatkan prakarsa Kementerian Perindustrian yang mendorong industri pangan sebagai sektor prioritas bagi Indonesia untuk masuk ke industri 4.0, maka peluang itu tentu akan semakin besar.

Untuk itu, diperlukan komitmen dan prakarsa sinergis berbagai pihak, yaitu pihak pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat.

Selamat tahun baru 2019.

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

Packaging Solutions

 

01112018-frinov18

Packaging Solutions

Salah satu tantangan besar yang dihadapi dunia saat ini adalah dalam hal penyediaan pangan aman dan bermutu bagi populasi yang semakin meningkat.  Laporan PBB yang berjudul The State of Food Security and Nutrition in the World 2018: Building climate resilience for food security and nutrition, menyatakan bahwa dalam tiga tahun berturut-turut, telah terjadi peningkatan kelaparan dunia. Untuk tahun 2017, jumlah penderita kurang gizi (kekurangan pangan secara kronis) meningkat menjadi hampir 821 juta orang, 17 juta orang lebih banyak dibandingkan dengan angka pada tahun 2016 (yaitu sekitar 804 juta orang). Untuk mengatasi hal tersebut, khususnya untuk mencapai tujuan-tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals; SDGs), PBB telah menyusun UN Decade of Action on Nutrition, 2016-2025, yang salah satu agendanya adalah promosi mengenai pentingnya konsumsi dan produksi pangan secara bertanggung jawab, untuk mengurangi kehilangan/ kerusakan dan kemubaziran pangan (food loss and food waste). Dalam konteks menjawab tantangan inilah maka pengemasan pangan mempunyai peran strategis yang perlu dimainkan. Pengemas pangan harus dikembangkan untuk tidak menjadi bagian dari masalah keberlanjutan (dengan produksi berlebihan sampah anorganik, misalnya), tetapi harus menjadi jawaban atas permasalahan, khususnya untuk mengurangi food loss and food waste. Itulah packaging solutions.

Bagaimana teknologi pengemasan dapat memperpanjang masa simpan produk segar hasil pertanian dan perikanan? Bagaimana pengemasan dapat memberikan dan memastikan perlindungan produk pangan selama distribusi sehingga tidak mudah rusak dan terbuang? Bagaimana pengemasan dapat memberikan pemastian mutu dan keamanan pangan selama penyimpanan di tingkat rumah tangga? Pertanyaan-pertanyaan itulah –antara lain- yang harus dijawab untuk memberikan packaging solutions. Bagaimana packaging solutions ini diterapkan pada UMKM pangan?  Jelas bahwa untuk tujuan tersebut perlu inovasi. Namun demikian, aspek dasar kemasan pangan yang mencakup keamanan dan kehalalan pangan tetap menjadi hal utama yang perlu diperhatikan.

Itulah beberapa hal yang menjadi ulasan pokok FOODREVIEW INDONESIA kali ini. Semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat dalam meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.

Selamat membaca.
Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

Pertemuan Codex Committee on Food Import and Export Inspection and Certification System ke-24

 

Pertemuan Codex Committee on Food Import and Export Inspection and Certification System (CCFICS) ke-24

__pertemuan-codex-committee-on-food-import-and-export-inspection-and-certification-system-ke-24-5-1540793873 (1) __pertemuan-codex-committee-on-food-import-and-export-inspection-and-certification-system-ke-24-3-1540793806 (1) __pertemuan-codex-committee-on-food-import-and-export-inspection-and-certification-system-ke-24-2-1540793790 __pertemuan-codex-committee-on-food-import-and-export-inspection-and-certification-system-ke-24-1-1540793622

http://www.kemendag.go.id/id/photo/2018/10/29/pertemuan-codex-committee-on-food-import-and-export-inspection-and-certification-system-ke-24

 

01 Nov 2018 8:33 AM

Pertemuan Codex Committee on Food Import and Export Inspection and Certification System (CCFICS) ke-24 berlangsung di Sofitel Brisbane, Australia pada 22 – 26 Oktober 2018. Komite CCFICS adalah komite yang bertugas mengembangkan standar terkait principles danguidelines sistem sertifikasi dan inspeksi ekspor dan impor untuk produk pangan. Komite ini dibentuk dalam rangka harmonisasi metode dan prosedur terkait hal tersebut .

 

Pertemuan CCFICS ke 24 ini membahas 3 draft pedoman yaitu Guidance on the Use of System Equivalence, Guidance on Paperless Use of Electronic Certificates, serta Guidance on Regulatory Approaches to Third Party Assurance Schemes in Food Safety and Fair Practices in the Food Trade.

 

Delegasi Indonesia dipimpin oleh Direktur Standardisasi dan Pengendalian Mutu, Frida Adiati selaku koordinator Mirror Committee(MC) CCFICS yang juga dihadiri oleh Guru Besar SEAFAST Center Institut Pertanian Bogor, Prof. Purwiyatno Hariyadi selaku Vice Chairperson of the Codex Alimentarius Commission, perwakilan dari Badan POM serta Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Pertemuan diawali dengan pertemuan Codex Committee Asia (CCASIA) yang ditujukan untuk melakukan konsolidasi dengan sesama anggota Asia. Dimana terdapat usulan penyusunan standar dalam bentuk discussion paper terkait Food Integrity and Food Authenticity,discussion paper on consideration of emerging issues and future directions for the work of CCFICS, maupun prosedur Intersessional dalam Project Working Grup di CCFICS.

 

Di sela-sela Sidang, Delri juga melakukan pertemuan bilateral. Bilateral dengan Australia dilakukan dengan Slava Zeman, Direktur pada Exports Division, Department of Agriculture and Water Resources, Australia. Dalam Pertemuan dimaksud dibahas mengenai kendala perdagangan yang dihadapi Australia, terutama terkait dengan proses audit dan registrasi produk bahan baku pakan ternak serta proses pembayaran.

Sumber: http://codexindonesia.bsn.go.id/main/berita/berita_det/1245