phariyadi's blog

mencari dan memberi yang terbaik

 

Beverages: Thirst Quenching Industry

 

31072017-Screen-Shot-2017-07-31-at-10.21.38-AM

Beverages: Thirst Quenching Industry

Industri minuman telah berkembang pesat. Aneka produk minuman terus diperkenalkan ke pasar dengan berbagai atribut mutu yang semakin inovatif. Menurut Beverage Industry’s 2017 New Product Development Outlook Executive Survey, kategori produk minuman yang menawarkan atribut alami (natural), menyehatkan (healthful) dan organik merupakan jenis produk dengan permintaan tinggi.

Jelas bahwa produk minuman tidak lagi hanya sebagai penawar dahaga; tetapi sekaligus juga memberikan aneka kenikmatan, pengalaman, dan bahkan kesehatan. Dan hal ini pun sangat dipengaruhi oleh demografi konsumen targetnya. Di AS, laporan dari Mintel yang berjudul Beverage Blurring menyatakan bahwa jika dapat mendisain minumannya sendiri, 49% konsumen dewasa mengatakan bahwa dia akan menambahkan vitamin/ mineral; 42% menambahkan antioksidan; 37% menambahkan energi; 33% elektrolit; 29% menambahkan protein; serta 25% ingin menambahkan probiotik.  Faktor inilah yang merupakan daya pendorong; kenapa angka penjualan minuman fungsional/difortifikasi meningkat sebesar 6% dari tahun lalu (Euromonitor).  Di antara jenis minuman tersebut, jenis non-cola sparkling beverages dan kopi siap minum (RTD) merupakan kategori produk yang tumbuh paling tinggi –berturut-turut– mencapai 17% dan 16%.

Selain faktor konsumen, faktor teknologi (baik teknologi proses, teknologi ingridien, teknologi pemgemasan), faktor kebijakan pemerintah juga sangat mewarnai perkembangan dan pertumbuhan industri minuman.

FOODREVIEW INDONESIA edisi ini membahas beberapa perkembangan terkini dalam industri minuman.  Semoga, informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat untuk berkontribusi dalam peningkatan daya saing produk dan industri minuman Indonesia.

Prof. Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

RI Terpilih Sebagai Wakil Ketua Codex Alimentarius Commission 2017-2018

 

RI Terpilih Sebagai Wakil Ketua Codex Alimentarius Commission 2017-2018

Prof. Purwiyatno Hariyadi (Wakil Ketua CAC, kiri), Dr. Bambang Prasetya (Kepala Badan Standarisasi Nasional, kanan) dan Watapri Jenewa, Duta Besar Hasan Kleib pada sidang pleno pemilihan Wakil Ketua CAC, Jenewa, 19 Juli 2017.

 

Jenewa, Swiss: Kandidat Indonesia, Prof. Purwiyatno Hariyadi terpilih sebagai Wakil Ketua Codex Alimentarius Commission (CAC) periode 2017-2018 pada pemilihan yang berlangsung selama Pertemuan CAC ke-40 di Jenewa (19/7).

Dengan dukungan bersama Kementerian Luar Negeri RI, Badan Standarisasi Nasional (BSN) dan PTRI Jenewa, Prof. Purwiyatno, guru besar pada Institut Pertanian Bogor (IPB), berhasil meraih suara tertinggi sebanyak 103 suara dari total 122 suara, mengalahkan kandidat Inggris dan Lebanon yang masing-masing meraih 102 suara, dan kandidat Papua Nugini sebanyak 59 suara.

Tiga kandidat peraih suara terbanyak menduduki 3 (tiga) posisi Wakil Ketua Codex. Para Wakil Ketua Codex ini selanjutnya akan bekerja sama dengan kandidat Brasil yang terpilih sebagai Ketua Codex periode 2017-2018 pada pemilihan hari sebelumnya. Pada praktek periode-periode sebelumnya, Ketua dan Wakil Ketua Codex diperpanjang masa penugasannya sampai dua periode.

Ketua dan Wakil Ketua dari Brasil, Indonesia, Inggris dan Lebanon tersebut akan tergabung dalam Executive Committee yang merupakan badan eksekutif Codex.

Bagi Indonesia, peran aktif di Codex adalah penting karena statusnya sebagai badan pembentuk standar internasional yang menjadi acuan dan rujukan global dalam standarisasi pangan guna melindungi kesehatan konsumen dan memfasilitasi perdagangan pangan internasional yang adil.

Dalam sambutan kemenangan, mewakili delegasi Indonesia, Kepala BSN, Dr. Bambang Prasetyo menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang telah mendukung pencalonan Prof. Purwiyatno. Keberhasilan Indonesia tersebut bukan hanya menegaskan komitmen Indonesia untuk mendorong pembentukan standar Codex yang tidak saja ditujukan untuk melindungi kesehatan konsumen, tetapi juga untuk mewujudkan ketahanan pangan global, dengan memfasilitasi akses makanan yang sehat, aman dan memadai bagi masyarakat (food security dan food safety).

Selain itu, partisipasi aktif Indonesia dalam badan tersebut juga ditujukan guna memastikan praktik perdagangan makanan internasional berlangsung secara adil.

Watapri Jenewa, Duta Besar Hasan Kleib, yang turut menyaksikan proses pemilihan yang berlangsung ketat, menilai bahwa terpilihnya kandidat Indonesia merupakan pengakuan 188 negara anggota Codex atas kompetensi Prof. Purwiyatno dan komitmen Indonesia untuk berkontribusi dalam CAC. Keberhasilan tersebut juga bukan hanya akan meningkatkan citra dan kredibilitas Indonesia pada forum-forum internasional lainnya, namun juga dapat dimanfaatkan untuk terlibat aktif dalam mempengaruhi penetapan standar internasional yang berdampak pada peningkatan akses pasar makanan Indonesia.

Menurut Duta Besar Hasan Kleib, keterlibatan Indonesia dalam penyusunan standar Codex diperlukan tidak hanya untuk meningkatkan perlindungan kesehatan konsumen tapi juga guna memastikan pemenuhan standar dan regulasi sehingga produk pangan Indonesia dapat diterima dalam perdagangan internasional.

Kompetensi Prof. Purwiyatno sebagai Wakil Ketua akan memperkuat fungsi Codex Alimentarius Commission. Mengingat keahliannya di bidang food engineering dan kemampuannya dalam bernegosiasi dengan berbagai pihak akan sangat membantu pengambilan keputusan dan penyusunan substansi di Codex yang sesuai dengan kepentingan seluruh negara anggota. Disamping itu, terpilihnya Prof. Purwiyatno diharapkan dapat meningkatkan keahlian para pemangku kepentingan terkait dalam merumuskan dan memperbaiki standar pangan di Indonesia. (sumber: PTRI Jenewa)

 http://www.kemlu.go.id/id/berita/Pages/RI-Terpilih-Sebagai-Wakil-Ketua-Codex-Alimentarius-Commission-2017-2018.aspx
 

Codex elects 3 new vice chairs

 
Codex elects 3 new vice chairs

The Codex Alimentsarius Commission has elected three vice Chairpersons, Dr Mariam Eid (Lebanon), Dr Purwiyatno Hariyadi (Indonesia), and Dr Steve Wearne (United Kingdom).

Vice Chairs

Left to right; Dr Purwiyatno Hariyadi (Indonesia), Dr Mariam Eid (Lebanon), Dr Steve Wearne (United Kingdom).

The delegation of Lebanon thanked the outgoing officers and looked forward to a “new phase with a new governing team” that could work together towards achieving the mandate and vision of Codex. “With Dr Mariam Eid we have a vice Chair who knows the challenges of the region very well and will be extremely pro-active in order to make a difference”, they said.

The delegation of Indonesia thanked the Commission for its support and also thanked the outgoing Chair and Vice Chairs for “having brought Codex to this level”. They expressed the hope that with Dr Purwiyatno Hariyadi Codex could “become more relevant to real problems of food safety and international trade”.

The delegation of the United Kingdom said: “We are proud and honoured that the UK candidate Steve Wearne has been elected today vice Chair of the Codex Alimentarius Commission. As a vice Chair Steve looks forward to serving in the interests of all Codex members for an inclusive, transparent and effective Codex which can deliver on its twin objectives”, they added.

Source: http://www.fao.org/fao-who-codexalimentarius/roster/detail/en/c/1025316/

 

Prof. Purwiyatno Hariyadi, anggota Komite Nasional Codex Indonesia, terpilih sebagai Vice-Chair Codex Alimentarius Commission

 

Prof. Purwiyatno Hariyadi, anggota Komite Nasional Codex Indonesia, terpilih sebagai Vice-Chair Codex Alimentarius Commission

Salah satu pakar teknologi pangan Indonesia, yang juga merupakan anggota Komite Nasional Codex Indonesia, Prof. Purwiyatno Hariyadi, telah terpilih sebagai Vice-Chair Codex Alimentarius Commission (CAC).   Dalam pemilihan yang dilaksanakan pada sidang CAC ke-40 di Jenewa, Swiss, 17-22 Juli 2017, terdapat empat kandidat dari Indonesia, Lebanon, PNG dan UK yang bersaing untuk mengisi tiga posisi Vice Chair CAC.

Sebelum pelaksanaan sidang, Indonesia telah melakukan lobi secara formal maupun informal kepada negara anggota Codex melalui BSN selaku Codex Contact Point maupun nota diplomatik yang dikirimkan oleh Kementerian Luar Negeri.  Permintaan dukungan juga dilakukan saat pertemuan ASEAN Task Force on Codex, pendekatan informal saat sidang Komite maupun kolokium yang dilaksanakan oleh regional tertentu.

Selama pelaksanaan sidang CAC ke-40 delegasi Indonesia yang dipimpin langsung oleh Kepala BSN Prof. Bambang Prasetya, juga semakin internsif melakukan lobi melalui serangkaian pertemuan untuk menyampaikan visi kandidat.  Delegasi Indonesia berhasil meminta kepada seluruh Regional Codex yang terdiri dari Asia, Africa, EuropeNear East, Latin America and Carribean serta North America and South West Pacific untuk mendengarkan paparan visi dan misi Prof. Purwiyatno Hariyadi sehingga mereka mengatahui kapasitas dan kompetensinya.  Pendekatan diplomatik juga terus dilakukan oleh PTRI Jenewa sehingga Indonesia mendapatkan garansi dukungan saat pemilihan.

Setelah seluruh upaya telah maksimal dijalankan, pada saat pemilihan yang berlangsung dengan voting secara tertutup, Prof. Purwiyatno Hariyadi dipilih oleh 103 negara anggota Codex,  sedangkan  kandidat dari Libanon 102 negara, UK 102 negara dan PNG 59 negara.  Dengan demikian, Prof. Purwiyatno Hariyadi bersama kandidat terpilih dari Lebanon dan UK secara resmi ditetapkan sebagai Vice Chair, mendampingi Chair terpilih dari Brazil untuk mempimpin sidang CAC.

 

Prestasi ini merupakan suatu kebanggaan sekaligus kesempatan bagi Indonesia untuk semakin berkiprah dan memberikan warna dalam forum standar pangan  internasional karena  CAC merupakan badan internasional dibawah FAO dan  WHO yang diberi mandat untuk mengembangkan standar pangan dan teks terkait dalam rangka melindungi kesehatan konsumen dan memfasilitasi perdagangan pangan internasional yang fair.  Saat ini keanggotaan Codex yang diwakili oleh pemerintah telah mencakup 188 Negara, 1 Organisasi Internasonal (European Union) serta organisasi internasional non pemerintah yang bertindak sebagai observer.

 

Standar, pedoman, rekomendasi, dan teks lain yang terkait di bidang pangan ditetapkan oleh CAC secara konsensus berdasarkan data ilmiah untuk memastikan pemenuhannya terhadap persyaratan keamanan pangan.  Dalam perdagangan pangan internasional, standar Codex merupakan referensi bagi negara anggota WTO dalam melakukan harmonisasi standar atau regulasi di bidang pangan dan menjadi acuan apabila terjadi perselisihan (dispute) dalam perdagangan internasional.

 

Melihat posisinya yang strategis di tingkat internasional, terpilihnya Prof. Purwiyatno Hariyadi merupakan suatu momentum bagi Kementerian/Lembaga serta pihak lain yang tergabung dalam organsiasi Codex Indonesia, untuk semakin meningkatkan kontribusi dan  kemampuannya dalam penyusunan standar internasional sehingga produk pangan Indonesia tidak hanya dapat menjadi tuan rumah di negaranya sendiri, tapi dapat diterima di pasar  internasional.

Sumber: http://www.bsn.go.id/main/berita/berita_det/8615#.WXgfaYSGPIU

 

BSN Selenggarakan Rapat Komite Nasional Codex ke-2 Tahun 2017

 

BSN Selenggarakan Rapat Komite Nasional Codex ke-2 Tahun 2017

Dalam rangka menyusun dan membahas kebijakan Codex Indonesia dan strategi pencalonan Vice-Chair Codex pada sidang CAC ke-40, Komite nasional Codex Indonesia mengadakan rapat di Aula Gedung C Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Jumat 7 Julli 2017. Rapat ini dibuka oleh Kepalan BPOM, Penny Kusumastuti Lukito.

Penny menyatakan bahwa tujuan codex sejalan dengan tugas Badan POM. “Tujuan codex yang melindungi kesehatan konsumen, menjamin praktek perdagangan internasional yang jujur, dan mengkoordinasikan proses standardisasi pangan yang dilakukan oleh masing-masing negara anggota dan oleh organisasi internasional lainnya, sejalan dengan tugas Badan POM yaitu menjamin perlindungan terhadap masyarakat khususnya aspek mutu dan keamanan pangan,” ujarnya.

Tentunya peraturan dan kebijakan-kebijakan yang dihasilkan oleh sidang-sidang codex internasional akan sangat mempengaruhi proses standardisasi, baik itu perubahan standar, revisi standar, atau pembuatan standar-standar baru di bidang pangan. Ini adalah proses yang penting bagi Badan POM. Penny juga mendukung keterlibatan aktif komnas codex Indonesia dalam forum codex internasional, sehingga keputusan yang dihasilkan oleh forum codex internasional akan menguntungkan bagi Indonesia, terkait akses peradgangan, kesehatan, dan terutama adalah mendukung daya saing produk lokal, baik dari segi competitiveness maupun persyaratan produk impor.

Penny berharap, hasil dari rapat komnas codex ini dapat meningkatkan peran aktif Indonesia dalam forum-forum codex internasional. tidak lupa, Penny juga mendukung pengusulan Prof Purwiyatno Hariyadi sebagai kandidat vice chair codex.

Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN) selaku Ketua Komite Nasional Codex Indonesia, Bambang Prasetya menyambut baik dukungan yang disampaikan oleh Penny. Bambang juga menyampaikan bahwa kedepannya akan ada forum Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG). Ruang lingkup kegiatan WNPG meliputi permasalahan pangan dan gizi nasional dari hulu sampai dengan hilir. Diharapkan, BPOM dapat turut mendukung forum tersebut.

Rapat ini memiliki 5 agenda. Agenda pertama adalah pemaparan hasil keputusan Komite Nasional Codex Indonesia, 31 Januari 2017, dan Tindak Lanjut yang telah dilakukan. Deputi Bidang Penerapan Standar dan Akreditasi BSN selaku sekretaris Komnas Codex, Kukuh S. Achmad, menyampaikan bahwa untuk mendukung rencana pencalonan Indonesia sebagai Vice Chair Codex, diperlukan beberapa strategi. Beberapa strategi yang telah diterapkan antara lain menyampaikan surat resmi permintaan dukungan dan CV kandidat kepada semuia Negara anggota codex, pertemuan kandidat Indonesia dengan kandidat cjair dari Brazil, serta pertemuan kepala BSN dengan duta besar Brazil. Selain itu, Kukuh juga menyampaikan rencana pelaksanaan WNPG tahun 2018.

Agenda kedua adalah Laporan Hasil Sidang oleh MC Codex atau Delegasi Indonesia. Dalam kesempatan ini, setiap coordinator MC atau delegasi RI yang hadir pada siding-sidang codex periode Februari-Juni 2017 menyampaikan laporan-laporannya.

Kemudian, rapat membahas penetapan posisi Indonesia pada Sidang Codex mendatang. Salah satunya adalah membahas pemilihan Chairdan Vice Chair yang akan dilaksanakan pada sidang CAC ke-40, tanggal 17-22 Juli di Jenewa, Swiss. Berdasarkan informasi yang diterima sampai saat ini ada dua kandidat yang telah menyatakan kesediaannya untuk menjadi Chair yaitu dari Brazil dan Mali, sedangkan untuk Vice Chair terdapat 4 kandidat yaitu Indonesia, Libanon, Papua Nugini dan Inggris.  Apabila kondisi tersebut tidak berubah, maka akan dilakukan pemungutan suara pada Sidang CAC40 untuk memilih 1 orang Chair dan 3 orang Vice Chair. Untuk itu, delegasi Indonesia perlu bekerjasama dengan perwakilan Indonesia di Jenewa, melakukan lobi ke setiap negara untuk penggalangan dukungan pencalonan Prof. Purwiyatno sebagai Vice Chair Codex.

Untuk menguatkan posisi Indonesia dalam codex internasional, salah satu pendukungnya adalah Indonesia harus mampu memberikan masukan / sanggahan yang berdasarkan penelitian. Untuk itu, forum menyatakan bahwa komite nasional Codex Indonesia perlu didukung oleh lembaga penelitian, contohnya dari Kementerian riset teknologi dan pendidikan tinggi. (ald-Humas)

 

Source:

http://www.bsn.go.id/main/berita/berita_det/8578/BSN-Selenggarakan-Rapat-Komite-Nasional-Codex-ke-2-Tahun-2017#.WWcWgYSGPIU

 

Peran Indonesia dalam Codex untuk Daya Saing Produk Lokal di Pasar Dunia

 

Peran Indonesia dalam Codex untuk Daya Saing Produk Lokal di Pasar Dunia

10 Juli 2017 12:40 WIB

JAKARTA – Menjamin perlindungan masyarakat khususnya keamanan dan mutu produk pangan terus dilakukan Badan POM. “Diharapkan  daya saing produk lokal di pasar dunia dapat ditingkatkan, dan produk impor yang masuk memenuhi persyaratan Indonesia”, ujar Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito dalam sambutannya pada Pertemuan Komite Nasional Codex di Jakarta (07/07).

Pertemuan yang merupakan kali ke-dua diselenggarakan Badan POM ini bertujuan untuk menetapkan kebijakan yang bersifat makro dalam pengembangan penanganan Codex Indonesia serta penetapan posisi Indonesia dalam sidang Codex.

“Indonesia sebagai salah satu anggota Codex Alimentarius Commision (CAC) sangat berkepentingan terhadap keputusan yang dikeluarkan oleh sidang-sidang Codex, karena segala keputusan yang dikeluarkan mencakup kepentingan internasional baik terkait perdagangan maupun perlindungan kesehatan konsumen”, jelas Kepala Badan POM.

Codex merupakan badan antar pemerintah yang bertugas melaksanakan program standar pangan FAO/WHO. Forum ini dibentuk untuk melindungi kesehatan konsumen, menjamin praktik yang jujur dalam perdagangan pangan internasional, serta mempromosikan koordinasi pekerjaan standardisasi pangan yang dilakukan oleh organisasi internasional lain.

“Saya berharap pertemuan ini dapat meningkatkan peran aktif Indonesia dalam forum-forum Codex Internasional untuk penyusunan standar dan pedoman Codex”, tegas Kepala Badan POM pada acara yang dihadiri oleh Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN), Prof. Dr. Ir. Bambang Prasetya, M.Sc; Deputi Bidang Penerapan Standar dan Akreditasi BSN, Drs. Kukuh Syaefudin Achmad M.Sc; PT Mbrio Biotekindo, Prof. Dr. F.G. Winarno; Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof.Dr. Purwiyatno Hariyadi; Gabungan Asosiasi dan YLKI tersebut.

Codex menetapkan teks-teks yang terdiri dari standar, pedoman, code of practice dan rekomendasi lainnya yang mencakup bidang komoditi pangan, kententuan bahan tambahan dan kontaminan pangan, batas maksimum residu pestisida dan residu obat hewan, prosedur sertifikasi dan inspeksi, serta metoda analisa dan sampling.

Beberapa komoditi pangan yang saat ini dicakup oleh Codex adalah minyak dan lemak, ikan dan produk perikanan, buah dan sayuran segar, buah dan sayuran olahan, jus buah dan sayuran, susu dan produk susu, gula, produk kakao dan cokelat, produk turunan dari sereal, dan lain-lain. (HM-Grace)

Source:

http://www.pom.go.id/new/view/more/berita/13293/Peran-Indonesia-dalam-Codex-untuk-Daya-Saing-Produk-Lokal-di-Pasar-Dunia.html

 

MACHINERY: Improving productivity and eficiency in bakeries

 

03072017-edisi717

MACHINERY: Improving productivity and eficiency in bakeries

If you don’t understand how to run an ef cient operation, new machinery will just give you new problems of operation and maintenance.    The sure way to increase productivity is to better administrate man and machine.

W. Edwards Deming

Seperti halnya dengan sektor industri pangan lainnya, industri bakeri juga selalu menghadapi persaingan yang semakin tajam. Untuk memenangkan persaingan ini, upaya-upaya cerdas untuk memastikan keamanan, meningkatkan mutu, produktivitas, dan efisiensi selalu menjadi perhatian penting. Salah satu faktor esensial untuk memenangkan persaingan tersebut adalah faktor mesin.

Keseluruhan proses dalam industri bakeri mulai dari mixing hingga packaging melibatkan mesin di dalamnya. Semakin berkembangnya produk bakeri dan turunannya termasuk biskuit, wafer dan lain sebagainya juga memberikan keragaman pada mesin-mesin yang digunakan. Suatu tantangan dan sekaligus peluang bagi industri mesin dan industri bakeri di Indonesia. Diperlukan kerjasama tim lintas disiplin (baik disiplin teknis, rekayasa maupun sistem) secara konsisten dan terus-menerus menciptakan mesin tepat dan sekaligus kompetitif untuk industri bakeri. Tanpa pemahaman yang baik, pemilihan dan penggunaan mesin yang tidak tepat justru bisa menganggu produktivitas dan e siensi; bahkan “just give you new problems of operation and maintenance”.

Hal ini terbukti bisa dilakukan oleh industri mesin dan industri bakeri Indonesia. Performa ini diulas pada FOODREVIEW INDONESIA; khususnya untuk mesin kontinu pada industri wafer stik dan wafer at. Ulasan mesin lain seperti dividing machine dan oven, serta peralatan yang sangat dibutuhkan pada pada industri seperti kompresor dan detektor logam juga disajikan pada edisi kali ini. Tidak terlewat tentunya ulasan mengenai pembahasan isu keamanan pangan, pertahanan pangan serta berbagai perkembangan teknologi industri pangan penting lainnya.

Semoga sajian pada edisi ini dapat melengkapi referensi untuk meningkatkan daya saing industri dan produk pangan Indonesia.

Selamat membaca,
Prof. Purwiyatno Hariyadi
Phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

Selamat Idul Fitri, 1 Syawal 1438 H.

 

Ied 1438 H

Selamat Idul Fitri, 1 Syawal 1438 H.

Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Taqabbal Ya Karim. 

Mohon maaf lahir dan bathin.

Purwiyatno Hariyadi & kelg.

phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

 

Managing Shelf Life of Dairy Products

 
FRI VOL XII/06 2017
01062017-edisijuni17
Managing Shelf Life of Dairy Products

Berdasarkan data dari Euromonitor tahun 2016 (http://www.euromonitor.com/dairy-in-indonesia/ report) Indonesia mengonsumsi susu dan produk- produk susu (dairy products); seperti susu cair (susu pasteurisasi, susu steril), susu bubuk, yogurt, keju, dan lain-lain, dengan jumlah yang semakin meningkat. Hal ini dapat dikaitkan dengan berbagai faktor; antara lain meningkatnya jumlah dan tingkat pemahaman konsumen menengah-atas tentang hubungan konsumsi susu, status gizi dan kesehatan.

Kondisi ini ditangkap oleh industri sebagai peluang; dengan pengembangan bermacam produk susu sebagaimana terpampang dijajakan pada rak-rak berbagai toko dan super market. Disamping produk susu siap konsumsi; susu juga banyak diolah menjadi ingridien untuk aneka produk olahan lainnya; atau bahkan sebagai topping dalam berbagai pangan jajanan; seperti martabak, pisang goreng, singkong goreng, roti dan lain-lain.

Baik sebagai produk pangan siap konsumsi maupun sebagai ingridien pangan; pengelolaan masa simpan produk susu -managing shelf life of dairy products- merupakan salah satu tantangan bagi industri. Tantangannya antara lain adalah bagaimana menjamin bahwa setiap konsumen produk susu akan mendapatkan produk yang aman dan bermutu sesuai dengan janji atau klaim pada label. Jaminan ini harus dapat diberikan kepada konsumen, kapan pun konsumen tersebut membeli atau mengkonsumsinya, sebelum produk mencapai titik kadaluarsa.

Pada FOODREVIEW INDONESIA kali ini; disajikan berbagai artikel yang mengulas mengenai masa simpan produk susu. Berbagai metoda untuk pengelolaan (misalnya memperpanjang) umur simpan produk susu disajikan sebagai ulasan pada edisi ini. Semoga artikel-artikel tersebut bermanfaat bagi industri persusuan di Indonesia; yang pada bulan Juni ini memeperingati Hari Susu Nusantara.

Semoga edisi ini dapat melengkapi referensi pembaca dalam menangani produk dairy.

Selamat membaca,
Prof. Purwiyatno Hariyadi

http://pustakapangan.com/store/?category=Foodreview

 

“Let food be thy medicine…”

 

29042017-Screen-Shot-2017-04-29-at-1.31.49-PM“Let food be thy medicine…”

 

“When diet is wrong medicine is of no use. When diet is correct medicine is of no need”
Ayurvedic proverb.

An apple a day keeps the doctor away
English proverb.

 

Pangan, gizi dan kesehatan memang sangat erat berkaitan. Telah sejak 2000 tahun yang lalu; Hippocrates (460 BC – 370 BC), menekankan pentingnya hubungan ini; “let food be thy medicine and medicine be thy food.” Demikian juga dengan budaya pangan dan kesehatan diberbagai belahan dunia; seperti kutipan pepatah (proverb) diatas tulisan ini.
Dunia modern dengan kamajuan ilmu dan teknologi pangan, gizi dan kesehatan telah memberikan bukti bukti mengenai betapa pentingnya peranan pangan terhadap kesehatan manusia. Hal ini memberikan arah pengembangan industri pangan; munculnya kategori baru –kategori pangan fungsional. Secara umum, pangan fungsional bisa didifinisikan sebagai pangan yang terbukti mengandung satu atau lebih komponen tertentu yang jika dikonsumsi dalam jumlah cukup akan bermanfaat bagi kesehatan. Fungsi manfaat bagi kesehatan ini adalah fungsi di luar dari fungsi dasar pangan sebagai sumber energy dan gizi bagi tubuh.
Hal ini juga terjadi di Indonesia. Di berbagai rak supermarket dan toko Indonesia banyak dijajakan berbagai jenis pangan fungsional ini. Sebenarnya; Indonesia juga mempunyai tradisi kuat mengenai pangan fungsional ini. Di berbagai kelompok masyarakat etnis Indonesia dikenal tradisi jamu; umumnya bersumber dari bahan tanaman yang diseduh dan diminum sebagai upaya meningkatkan daya tahan tubuh atau pun menurunkan risiko terkena serangan penyakit. Aneka tradisi ini perlu digali dan dikembangkan untuk bisa ditumbuh-kembangkan sebagai pangan (atau pun ingridien pangan) fungsional khas Indonesia.
FOODREVIEW INDONESIA kali ini menyajikan beberapa contohnya saja; seperti alpukat, umbi lokal, dan serta beras analog yang juga mengandung senyawa fungsional. Harapannya; ulasan ini bisa memicu munculnya prakarsa pengembangan aneka potensi pangan (dan ingridien pangan) Nusantara; yang kaya ragam.
Selamat membaca,

Prof. Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id