phariyadi's blog

mencari dan memberi yang terbaik

 

BSN Selenggarakan Rapat Komite Nasional Codex ke-2 Tahun 2017

 

BSN Selenggarakan Rapat Komite Nasional Codex ke-2 Tahun 2017

Dalam rangka menyusun dan membahas kebijakan Codex Indonesia dan strategi pencalonan Vice-Chair Codex pada sidang CAC ke-40, Komite nasional Codex Indonesia mengadakan rapat di Aula Gedung C Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Jumat 7 Julli 2017. Rapat ini dibuka oleh Kepalan BPOM, Penny Kusumastuti Lukito.

Penny menyatakan bahwa tujuan codex sejalan dengan tugas Badan POM. “Tujuan codex yang melindungi kesehatan konsumen, menjamin praktek perdagangan internasional yang jujur, dan mengkoordinasikan proses standardisasi pangan yang dilakukan oleh masing-masing negara anggota dan oleh organisasi internasional lainnya, sejalan dengan tugas Badan POM yaitu menjamin perlindungan terhadap masyarakat khususnya aspek mutu dan keamanan pangan,” ujarnya.

Tentunya peraturan dan kebijakan-kebijakan yang dihasilkan oleh sidang-sidang codex internasional akan sangat mempengaruhi proses standardisasi, baik itu perubahan standar, revisi standar, atau pembuatan standar-standar baru di bidang pangan. Ini adalah proses yang penting bagi Badan POM. Penny juga mendukung keterlibatan aktif komnas codex Indonesia dalam forum codex internasional, sehingga keputusan yang dihasilkan oleh forum codex internasional akan menguntungkan bagi Indonesia, terkait akses peradgangan, kesehatan, dan terutama adalah mendukung daya saing produk lokal, baik dari segi competitiveness maupun persyaratan produk impor.

Penny berharap, hasil dari rapat komnas codex ini dapat meningkatkan peran aktif Indonesia dalam forum-forum codex internasional. tidak lupa, Penny juga mendukung pengusulan Prof Purwiyatno Hariyadi sebagai kandidat vice chair codex.

Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN) selaku Ketua Komite Nasional Codex Indonesia, Bambang Prasetya menyambut baik dukungan yang disampaikan oleh Penny. Bambang juga menyampaikan bahwa kedepannya akan ada forum Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG). Ruang lingkup kegiatan WNPG meliputi permasalahan pangan dan gizi nasional dari hulu sampai dengan hilir. Diharapkan, BPOM dapat turut mendukung forum tersebut.

Rapat ini memiliki 5 agenda. Agenda pertama adalah pemaparan hasil keputusan Komite Nasional Codex Indonesia, 31 Januari 2017, dan Tindak Lanjut yang telah dilakukan. Deputi Bidang Penerapan Standar dan Akreditasi BSN selaku sekretaris Komnas Codex, Kukuh S. Achmad, menyampaikan bahwa untuk mendukung rencana pencalonan Indonesia sebagai Vice Chair Codex, diperlukan beberapa strategi. Beberapa strategi yang telah diterapkan antara lain menyampaikan surat resmi permintaan dukungan dan CV kandidat kepada semuia Negara anggota codex, pertemuan kandidat Indonesia dengan kandidat cjair dari Brazil, serta pertemuan kepala BSN dengan duta besar Brazil. Selain itu, Kukuh juga menyampaikan rencana pelaksanaan WNPG tahun 2018.

Agenda kedua adalah Laporan Hasil Sidang oleh MC Codex atau Delegasi Indonesia. Dalam kesempatan ini, setiap coordinator MC atau delegasi RI yang hadir pada siding-sidang codex periode Februari-Juni 2017 menyampaikan laporan-laporannya.

Kemudian, rapat membahas penetapan posisi Indonesia pada Sidang Codex mendatang. Salah satunya adalah membahas pemilihan Chairdan Vice Chair yang akan dilaksanakan pada sidang CAC ke-40, tanggal 17-22 Juli di Jenewa, Swiss. Berdasarkan informasi yang diterima sampai saat ini ada dua kandidat yang telah menyatakan kesediaannya untuk menjadi Chair yaitu dari Brazil dan Mali, sedangkan untuk Vice Chair terdapat 4 kandidat yaitu Indonesia, Libanon, Papua Nugini dan Inggris.  Apabila kondisi tersebut tidak berubah, maka akan dilakukan pemungutan suara pada Sidang CAC40 untuk memilih 1 orang Chair dan 3 orang Vice Chair. Untuk itu, delegasi Indonesia perlu bekerjasama dengan perwakilan Indonesia di Jenewa, melakukan lobi ke setiap negara untuk penggalangan dukungan pencalonan Prof. Purwiyatno sebagai Vice Chair Codex.

Untuk menguatkan posisi Indonesia dalam codex internasional, salah satu pendukungnya adalah Indonesia harus mampu memberikan masukan / sanggahan yang berdasarkan penelitian. Untuk itu, forum menyatakan bahwa komite nasional Codex Indonesia perlu didukung oleh lembaga penelitian, contohnya dari Kementerian riset teknologi dan pendidikan tinggi. (ald-Humas)

 

Source:

http://www.bsn.go.id/main/berita/berita_det/8578/BSN-Selenggarakan-Rapat-Komite-Nasional-Codex-ke-2-Tahun-2017#.WWcWgYSGPIU

 

Peran Indonesia dalam Codex untuk Daya Saing Produk Lokal di Pasar Dunia

 

Peran Indonesia dalam Codex untuk Daya Saing Produk Lokal di Pasar Dunia

10 Juli 2017 12:40 WIB

JAKARTA – Menjamin perlindungan masyarakat khususnya keamanan dan mutu produk pangan terus dilakukan Badan POM. “Diharapkan  daya saing produk lokal di pasar dunia dapat ditingkatkan, dan produk impor yang masuk memenuhi persyaratan Indonesia”, ujar Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito dalam sambutannya pada Pertemuan Komite Nasional Codex di Jakarta (07/07).

Pertemuan yang merupakan kali ke-dua diselenggarakan Badan POM ini bertujuan untuk menetapkan kebijakan yang bersifat makro dalam pengembangan penanganan Codex Indonesia serta penetapan posisi Indonesia dalam sidang Codex.

“Indonesia sebagai salah satu anggota Codex Alimentarius Commision (CAC) sangat berkepentingan terhadap keputusan yang dikeluarkan oleh sidang-sidang Codex, karena segala keputusan yang dikeluarkan mencakup kepentingan internasional baik terkait perdagangan maupun perlindungan kesehatan konsumen”, jelas Kepala Badan POM.

Codex merupakan badan antar pemerintah yang bertugas melaksanakan program standar pangan FAO/WHO. Forum ini dibentuk untuk melindungi kesehatan konsumen, menjamin praktik yang jujur dalam perdagangan pangan internasional, serta mempromosikan koordinasi pekerjaan standardisasi pangan yang dilakukan oleh organisasi internasional lain.

“Saya berharap pertemuan ini dapat meningkatkan peran aktif Indonesia dalam forum-forum Codex Internasional untuk penyusunan standar dan pedoman Codex”, tegas Kepala Badan POM pada acara yang dihadiri oleh Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN), Prof. Dr. Ir. Bambang Prasetya, M.Sc; Deputi Bidang Penerapan Standar dan Akreditasi BSN, Drs. Kukuh Syaefudin Achmad M.Sc; PT Mbrio Biotekindo, Prof. Dr. F.G. Winarno; Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof.Dr. Purwiyatno Hariyadi; Gabungan Asosiasi dan YLKI tersebut.

Codex menetapkan teks-teks yang terdiri dari standar, pedoman, code of practice dan rekomendasi lainnya yang mencakup bidang komoditi pangan, kententuan bahan tambahan dan kontaminan pangan, batas maksimum residu pestisida dan residu obat hewan, prosedur sertifikasi dan inspeksi, serta metoda analisa dan sampling.

Beberapa komoditi pangan yang saat ini dicakup oleh Codex adalah minyak dan lemak, ikan dan produk perikanan, buah dan sayuran segar, buah dan sayuran olahan, jus buah dan sayuran, susu dan produk susu, gula, produk kakao dan cokelat, produk turunan dari sereal, dan lain-lain. (HM-Grace)

Source:

http://www.pom.go.id/new/view/more/berita/13293/Peran-Indonesia-dalam-Codex-untuk-Daya-Saing-Produk-Lokal-di-Pasar-Dunia.html

 

MACHINERY: Improving productivity and eficiency in bakeries

 

03072017-edisi717

MACHINERY: Improving productivity and eficiency in bakeries

If you don’t understand how to run an ef cient operation, new machinery will just give you new problems of operation and maintenance.    The sure way to increase productivity is to better administrate man and machine.

W. Edwards Deming

Seperti halnya dengan sektor industri pangan lainnya, industri bakeri juga selalu menghadapi persaingan yang semakin tajam. Untuk memenangkan persaingan ini, upaya-upaya cerdas untuk memastikan keamanan, meningkatkan mutu, produktivitas, dan efisiensi selalu menjadi perhatian penting. Salah satu faktor esensial untuk memenangkan persaingan tersebut adalah faktor mesin.

Keseluruhan proses dalam industri bakeri mulai dari mixing hingga packaging melibatkan mesin di dalamnya. Semakin berkembangnya produk bakeri dan turunannya termasuk biskuit, wafer dan lain sebagainya juga memberikan keragaman pada mesin-mesin yang digunakan. Suatu tantangan dan sekaligus peluang bagi industri mesin dan industri bakeri di Indonesia. Diperlukan kerjasama tim lintas disiplin (baik disiplin teknis, rekayasa maupun sistem) secara konsisten dan terus-menerus menciptakan mesin tepat dan sekaligus kompetitif untuk industri bakeri. Tanpa pemahaman yang baik, pemilihan dan penggunaan mesin yang tidak tepat justru bisa menganggu produktivitas dan e siensi; bahkan “just give you new problems of operation and maintenance”.

Hal ini terbukti bisa dilakukan oleh industri mesin dan industri bakeri Indonesia. Performa ini diulas pada FOODREVIEW INDONESIA; khususnya untuk mesin kontinu pada industri wafer stik dan wafer at. Ulasan mesin lain seperti dividing machine dan oven, serta peralatan yang sangat dibutuhkan pada pada industri seperti kompresor dan detektor logam juga disajikan pada edisi kali ini. Tidak terlewat tentunya ulasan mengenai pembahasan isu keamanan pangan, pertahanan pangan serta berbagai perkembangan teknologi industri pangan penting lainnya.

Semoga sajian pada edisi ini dapat melengkapi referensi untuk meningkatkan daya saing industri dan produk pangan Indonesia.

Selamat membaca,
Prof. Purwiyatno Hariyadi
Phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

Selamat Idul Fitri, 1 Syawal 1438 H.

 

Ied 1438 H

Selamat Idul Fitri, 1 Syawal 1438 H.

Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Taqabbal Ya Karim. 

Mohon maaf lahir dan bathin.

Purwiyatno Hariyadi & kelg.

phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

 

Managing Shelf Life of Dairy Products

 
FRI VOL XII/06 2017
01062017-edisijuni17
Managing Shelf Life of Dairy Products

Berdasarkan data dari Euromonitor tahun 2016 (http://www.euromonitor.com/dairy-in-indonesia/ report) Indonesia mengonsumsi susu dan produk- produk susu (dairy products); seperti susu cair (susu pasteurisasi, susu steril), susu bubuk, yogurt, keju, dan lain-lain, dengan jumlah yang semakin meningkat. Hal ini dapat dikaitkan dengan berbagai faktor; antara lain meningkatnya jumlah dan tingkat pemahaman konsumen menengah-atas tentang hubungan konsumsi susu, status gizi dan kesehatan.

Kondisi ini ditangkap oleh industri sebagai peluang; dengan pengembangan bermacam produk susu sebagaimana terpampang dijajakan pada rak-rak berbagai toko dan super market. Disamping produk susu siap konsumsi; susu juga banyak diolah menjadi ingridien untuk aneka produk olahan lainnya; atau bahkan sebagai topping dalam berbagai pangan jajanan; seperti martabak, pisang goreng, singkong goreng, roti dan lain-lain.

Baik sebagai produk pangan siap konsumsi maupun sebagai ingridien pangan; pengelolaan masa simpan produk susu -managing shelf life of dairy products- merupakan salah satu tantangan bagi industri. Tantangannya antara lain adalah bagaimana menjamin bahwa setiap konsumen produk susu akan mendapatkan produk yang aman dan bermutu sesuai dengan janji atau klaim pada label. Jaminan ini harus dapat diberikan kepada konsumen, kapan pun konsumen tersebut membeli atau mengkonsumsinya, sebelum produk mencapai titik kadaluarsa.

Pada FOODREVIEW INDONESIA kali ini; disajikan berbagai artikel yang mengulas mengenai masa simpan produk susu. Berbagai metoda untuk pengelolaan (misalnya memperpanjang) umur simpan produk susu disajikan sebagai ulasan pada edisi ini. Semoga artikel-artikel tersebut bermanfaat bagi industri persusuan di Indonesia; yang pada bulan Juni ini memeperingati Hari Susu Nusantara.

Semoga edisi ini dapat melengkapi referensi pembaca dalam menangani produk dairy.

Selamat membaca,
Prof. Purwiyatno Hariyadi

http://pustakapangan.com/store/?category=Foodreview

 

“Let food be thy medicine…”

 

29042017-Screen-Shot-2017-04-29-at-1.31.49-PM“Let food be thy medicine…”

 

“When diet is wrong medicine is of no use. When diet is correct medicine is of no need”
Ayurvedic proverb.

An apple a day keeps the doctor away
English proverb.

 

Pangan, gizi dan kesehatan memang sangat erat berkaitan. Telah sejak 2000 tahun yang lalu; Hippocrates (460 BC – 370 BC), menekankan pentingnya hubungan ini; “let food be thy medicine and medicine be thy food.” Demikian juga dengan budaya pangan dan kesehatan diberbagai belahan dunia; seperti kutipan pepatah (proverb) diatas tulisan ini.
Dunia modern dengan kamajuan ilmu dan teknologi pangan, gizi dan kesehatan telah memberikan bukti bukti mengenai betapa pentingnya peranan pangan terhadap kesehatan manusia. Hal ini memberikan arah pengembangan industri pangan; munculnya kategori baru –kategori pangan fungsional. Secara umum, pangan fungsional bisa didifinisikan sebagai pangan yang terbukti mengandung satu atau lebih komponen tertentu yang jika dikonsumsi dalam jumlah cukup akan bermanfaat bagi kesehatan. Fungsi manfaat bagi kesehatan ini adalah fungsi di luar dari fungsi dasar pangan sebagai sumber energy dan gizi bagi tubuh.
Hal ini juga terjadi di Indonesia. Di berbagai rak supermarket dan toko Indonesia banyak dijajakan berbagai jenis pangan fungsional ini. Sebenarnya; Indonesia juga mempunyai tradisi kuat mengenai pangan fungsional ini. Di berbagai kelompok masyarakat etnis Indonesia dikenal tradisi jamu; umumnya bersumber dari bahan tanaman yang diseduh dan diminum sebagai upaya meningkatkan daya tahan tubuh atau pun menurunkan risiko terkena serangan penyakit. Aneka tradisi ini perlu digali dan dikembangkan untuk bisa ditumbuh-kembangkan sebagai pangan (atau pun ingridien pangan) fungsional khas Indonesia.
FOODREVIEW INDONESIA kali ini menyajikan beberapa contohnya saja; seperti alpukat, umbi lokal, dan serta beras analog yang juga mengandung senyawa fungsional. Harapannya; ulasan ini bisa memicu munculnya prakarsa pengembangan aneka potensi pangan (dan ingridien pangan) Nusantara; yang kaya ragam.
Selamat membaca,

Prof. Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

KONTAMINAN PADA BEBERAPA KOMODITI PENTING INDONESIA DIBAHAS PADA SIDANG CODEX COMMITTEE ON CONTAMINANTS IN FOODS KE-11

 

Kontaminan Pada Beberapa Komoditi Penting Indonesia Dibahas Pada Sidang Codex Committee on Contaminants in Foods ke-11

11 Apr 2017 9:16 AM

 

Permasalahan tentang kontaminan pada bahan pangan tidak hanya menjadi isu keamanan pangan bagi kesehatan konsumen tetapi juga terkait perdagangan komoditi pangan internasional.  Codex Alimentarius Commission sebagai organisasi standar pangan internasional yang menjadi acuan Negara dalam menetapkan regulasi pangan telah membahas permasalahan kontaminan ini dalam Codex Committee on Food Additives and Contaminants.  Dengan mempertimbangkan banyaknya agenda yang dibahas, Komite ini dipecah menjadi dua yaitu Codex Committee on Food Additives dan Codex Committee on Contaminants in Foods (CCCF).

 

Sidang ke-11 CCCF dilaksanakan pada tanggal 3-7 April 2017 di Windsor Marapendi Hotel, Rio de Janieiro, Brazil.  Negara tuan rumah (host country) CCCF sebenarnya adalah Belanda sedangkan penyelenggaraan sidang kali ini di Brazil dilakukan melalui mekanisme co-hosting.  Sidang dihadiri oleh 49 Negara Anggota, 1 Organisasi Anggota dan observer dari 11 Organisasi Internasional.  Delegasi Indonesia diketuai oleh Prof. Purwiyatno Hariyadi (Institut Pertanian Bogor/Komite Nasional Codex), dengan anggota Siti Elyani (Badan Pengawas Obat dan Makanan), Yeni Restiani (Badan Pengawas Obat dan Makanan), Singgih Harjanto (Badan Standardisasi Nasional) dan Febrizki Bagja Mukti (KBRI Brazil).

 

Sidang CCCF membahas 17 Agenda item yang terkait dengan kontaminan pada bahan pangan segar maupun pangan olahan. Sebelum pelaksanaan sidang, delegasi Indonesia mengadakan pertemuan informal dengan negara-negara Asia pada tanggal 2 April 2017 untuk sharing informasi posisi masing-masing negara terhadap seluruh agenda sidang. Beberapa agenda yang terkait dengan keamanan dan perdagangan internasional produk/komoditi pangan Indonesia adalah sebagai berikut: pembahasan revisi batas maksimum timbal (Pb) pada produk buah dan sayuran (segar dan olahan) dan beberapa kategori pangan lainnya, pembahasan batas maksimum cadmium (Cd) pada produk cokelat dan cokelat olahan, pembahasan Code of Practice pencegahan dan pengurangan kontaminasi arsen pada beras, pembahasan usulan batas maksimum aflatoksin pada ready-to-eat peanuts dan pembahasan Code of Practice tentang pencegahan dan pengurangan mikotoksin pada rempah-rempah.

 

Delegasi Indonesia telah menyampaikan posisi Indonesia sesuai dengan kertas posisi yang telah disiapkan, dibawah koordinasi Badan Pengawas Obat dan Makanan selaku Koordiator Mirror Committee untuk CCCF di Indonesia, dengan beberapa penyesuaian dengan perkembangan selama sidang berlangsung.

 

Beberapa hasil sidang memerlukan perhatian dan langkah tindak lanjut dari kementerian/lembaga terkait (antara lain: Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Badan POM dan BSN) di Indonesia khususnya komoditi yang terkait dengan kepentingan Indonesia diantaranya adalah:

  1. Sebagai negara produsen dan konsumen beras, Indonesia perlu mempelajari lebih lanjut aturan yang ada dalam Proposed draft Code of practice for the prevention and reduction of arsenic contamination in rice yang diajukan untuk diadopsi pada step 5/8 oleh Codex, karena tiga tahun setelah aplikasinya, maximum level (ML) arsen pada beras akan direview oleh CCCF.
  2. Sebagai negara produsen dan konsumen produk coklat dan turunannya, Indonesia perlu terlibat dalam pembahasan electronic working group (eWG) serta menyiapkan data terkait kontaminan cadmium untuk didiskusikan dalam eWG sebelum dibahas pada sidang CCCF mendatang (baik untuk penetapan maximum level (ML) maupun untuk kemungkinan penyusunan code of practice). Menurut laporan JECFA asupan cadmium sebagai akibat konsumsi coklat dan produk-produk coklat tidak menyebabkan permasalahan kesehatan (not a health concern), sehingga penetapan ML untuk cadmium seharusnya digunakan sebagai upaya untuk meningkatkan daya saing produk dan industri coklat dan produk-produk coklat Indonesia.
  3. Komite menyetujui “Proposed Draft Code of Practice for the Prevention and Reduction of Mycotoxin Contamination in Spices” untuk adopsi pada Step 5/8 oleh Codex.  Indonesia perlu mempelajari lebih lanjut dan mensosialisasikan code of practicetersebut, karena mycotoksin merupakan salah satu masalah bagi daya saing rempah-rempah Indonesia. Masih dalam kaitannya dengan rempah-rempah (spices), komite juga setuju untuk memulai new work untuk pembahasan ML untuk aflatoksin total  dan ochratoksin A pada beberapa spices, yaitu nutmeg, chili and paprika, ginger, pepper and turmeric.  Untuk memfasilitasi pembahasannya, akan dibentuk eWG setelah ada persetujuan new work oleh CAC.  Data yang akan digunakan dalam penentuan ML adalah yang tersedia pada GEMS/Food database sehingga apabila ada informasi tambahan yang perlu dikumpulkan, WG dapat berkonsultasi dengan Sekretariat GEMS untuk pengumpulan datanya. Nutmeg (pala) merupakan komiditi rempah-rempah unggulan dari Indonesia, maka  penyiapan data (khususnya mengenai cemaran Aflatoksin dan Ochratoksin A) perlu secara serius dilakukan; sehingga penetapan ML bisa dilakukan dengan baik; dan tidak menyebabkan terjadinya penolakan ekspor produk pala Indonesia di perdagangan internasional.
  4. Komite menyetujui New work Code of Practice for the Reduction of 3-monochloropropane-1,2-diol esters and glycidyl esters in refined oils and products made with refined oils, especially infant formulaNew work ini sangat terkait dengan kepentingan Indonesia sebagai penghasil minyak sawit; produk ekspor unggulan Indonesia.  Menurut hasil kajian Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA) kontaminan ini terdapat pada berbagai minyak (refined oils), tetapi konsentrasi kontaminans pada minyak sawit lebih besar dibandingkan dengan minyak lainnya.  Indonesia perlu melakukan langkah-langkah koordinasi untuk merumuskan dan melakukan penelitian dan upaya mitigasi untuk penurunan kadar kontaminan ini (3-monochloropropane-1,2-diol esters and glycidyl esters) pada produk minyak sawit.  Data-data (hasil penelitian dan percobaan mitigasi) ini sangat penting bagi Indonesia untuk dapat berkontribusi secara aktif dan efektif pada penyusunan draft Code of Practice di electronic working group, sebelum dibahas pada sidang CCCF mendatang.

http://codexindonesia.bsn.go.id/main/berita/berita_det/1080

(Kontaminan Pada Beberapa Komoditi Penting Indonesia Dibahas Pada Sidang Codex Committee on Contaminants in Foods ke-11)

 

INDONESIAN FLAVORS: Spicing Up the World

 
FRI VOL XII/04 2017
01042017-Screen-Shot-2017-04-01-at-9.24.06-AM
INDONESIAN FLAVORS: Spicing Up the World
 
If you combine good flavors, food turns into an orchestra. Joey Fatone (American – Musician)

Sejarah Indonesia banyak diwarnai dengan sejarah tentang rempah-rempah. Buah pala (Myristica fragrans) adalah contoh yang sangat melegenda tentang rempah-rempah Indonesia. Keistimewaan dan manfaat pala telah menjadi incaran pedagang Eropa sejak abad ke-15, sebagai produk yang sangat berharga. Tidak hanya pala; Indonesia kaya dengan aneka rempah-rempah lainnya; seperti pala, cengkeh, lada, kayu manis, dan lain sebagainya.Salah satu peran penting rempah-rempah adalah sebagai bahan baku avor atau perisa. Aneka rempah-rempah ini telah lama digunakan sebagai komponen bumbu aneka pangan pangan yang menghasilkan avor khas, bahkan dapat berperan sebagai penciri produk tersebut. Rendang adalah contohnya, produk olahan daging dari Sumatera Barat ini mempunyai karakter bumbu yang khas, sehingga menghasilkan avor yang khas pula. Beberapa avor khas Indonesia itu bahkan telah mendunia; dikenal dan disukai oleh konsumen global. Contohnya avor rendang dan avor nasi goreng.

Tidak hanya rempah-rempah; sumber bahan baku avor khas Indonesia lainnya adalah dari jenis buah dan tanaman eksotis tropika, seperti aneka jenis mangga, jeruk, pandan, dengan karakteristik avor uniknya masing-masing.

Namun sangat disayangkan jika avor tersebut hanya dapat dinikmati oleh lingkup yang terbatas saja. Kekayaan ini perlu dipertahankan, dilindungi dan dikembangkan menjadi bentuk yang dapat diterima secara global. Tidak hanya itu, eksplorasi keunggulan avor khas Indonesia juga perlu terus dilakukan; karena kebanyakan rempah-rempah dan produk tanaman tropika ini kaya dengan senyawa aktif yang yang dapat memberikan nilai tambah tersendiri. Jelas bahwa hal ini adalah kesempatan yang menantang bagi avor Indonesia untuk membumbui pangan dunia. Indonesian avors; spicing up the world.

Semoga berbagai artikel dan ulasan pada edisi FOODREVIEW INDONESIA kali ini dapat berkontribusi pada perkembangan ingridien, produk dan industri pangan di Indonesia.

Selamat membaca,
Prof. Purwiyatno Hariyadi

 

HAPPY INDULGENCE

 

02032017-Screen-Shot-2017-03-02-at-9.53.36-AM

HAPPY INDULGENCE

Sometimes, it’s just easier to say yes to that extra snack or dessert, because frankly, it is exhausting to keep saying no. Michelle Obama

Peranan pangan memang tidak terbatas untuk pemenuhan kebutuhan gizi dan menjaga kesehatan; tetapi juga mempunyai peran sosial dan budaya. Dalam konteks inilah maka; konsumsi pangan harus juga memberikan kenikmatan dan memanjakan sensori (indulgence) saat dikonsumsi. Dalam peranannya sebagai pemberi kenikmatan inilah muncul kategori produk makanan ringan.

Kebiasaan mencari kenikmatan menyenangkan dengan mengonsumsi makanan ringan ini telah menjadi tradisi dan kebiasaan sebagian konsumen. Happy Indulgence. Kebiasaan ngemil (snacking) inilah yang telah menjadi faktor pendorong tumbuh dan berkembangnya industri makanan di Indonesia, termasuk industri ingridien -seperti- industri krim isian untuk biskuit dan enzyme modified cheese (EMC) pada produk bakeri, dan sebagainya.

Namun demikian, konsumen juga semakin demanding, memiliki tuntutan yang tinggi. Konsumen tidak hanya menuntut bahwa produk harus memberikan kenikmatan (indulgence), tetapi juga harus menyehatkan (healthfull), praktis dan mudah (convenience) untuk dikonsumsi kapan saja. Kategori produk yang memiliki peluang besar memenuhi ketiga tuntutan tersebut adalah produk makanan ringan (snack).

Oleh karena itu, inovasi untuk menciptakan produk yang memberikan kenikmatan, praktis, dan juga menyehatkan perlu menjadi perhatian karena membuka peluang tersendiri bagi industri. Misalnya; inovasi penggunaan bahan baku lokal (misalnya talas, ubi, dan singkong) dan atau pengembangan fl avor sesuai dengan kebiasaan bagi penikmatnya; perlu selalu diusahakan untuk memenuhi tuntutan kenikmatan, kepraktisan, dan sekaligus kesehatan.

Akhirnya, semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat untuk berkontribusi peningkatan daya saing produk dan industri pangan.

Selamat membaca,
Prof. Purwiyatno Hariyadi

 

Seminar Nasional Excess – Universitas Lampung, 4 Maret 2017

 

Seminar Nasional Excess – Universitas Lampung, 4 Maret 2017
“PERAN KETEKNIKAN DALAM KETAHANAN PANGAN DAN ENERGI”
▪ Hari, Tanggal: Sabtu, 4 Maret 2017
▪ Pukul: 08.00 WIB
▪ Tempat: Aula Dekanat Fakultas Teknik Universitas Lampung

Pamflet-Seminar-Nasional-EXCESS-2017-2

Sumber:

http://www.teknikkimiaindonesia.org/index.php/2017/02/11/himatemia-unila-seminar-excess-2017/