phariyadi's blog

mencari dan memberi yang terbaik

 

SNACKIFICATION

 

SNACKIFICATION

30112017-Screen-Shot-2017-11-30-at-4.21.15-PM

Kebiasaan dan pola pangan masyarakat selalu berubah, bersamaan dengan perubahan status ekonomi, sosial dan gaya hidup. Beberapa penelitian melaporkan bahwa frekuensi mengonsumsi cemilan (makanan kecil, makanan jajan, snack) menjadi meningkat. Jenis cemilan pun semakin beragam. Laporan the Hartman Group yang berjudul the Future of Snacking 2016 menunjukkan bahwa 91% konsumen mengonsumsi cemilan lebih dari dua kali dalam sehari. Mengonsumsi cemilan merupakan separo (50%) dari kegiatan konsumsi makanan. Artinya? Kegiatan “nyemil” merupakan kegiatan yang sangat penting; khususnya akan mewarnai kualitas asupan gizi harian konsumen.

Kondisi ini juga terjadi di Indonesia. Apalagi dengan meningkatnya kemacetan di mana konsumen “terpaksa” tidak punya cukup waktu untuk melakukan ritual makan pagi, siang dan malam di meja makan. Sehingga konsumsi pangan dilakukan selama perjalanan (on-the-go).  Dan pangan yang dikonsumsi itu adalah snack atau produk pangan utama yang sekarang diproduksi, dijajakan dan dikonsmsi sebagai snack. Snackification.

Snackification muncul sebagai jawaban dari tuntutan konsumen atas kepraktisan. Awalnya adalah kebutuhan untuk mengatasi rasa lapar karena tidak sempat atau harus menunda makan utama (pagi, siang atau malam). Namun akhirnya berkembang menjadi gaya hidup karena meningkatnya kesibukan dan keterbatasan. Tren snackication ini terlihat dengan jelas di berbagai stasiun kereta api di beragam convenience store. Bermunculanlah aneka pangan tradisional praktis seperti lemper, “nasi kucing” dan masih banyak lagi.  Bahkan disediakan juga minuman panas dan oven gelombang mikro untuk memanaskan aneka pangan.

Snackification jelas merupakan peluang sekaligus tantangan. Indonesia kaya dengan aneka makanan jajanan atau jajanan pasar yang berpotensi dikembangkan. Ada kue lapis, kue cucur, kue cenil, kue apem, buras, dan aneka jajanan kering yang luar biasa ragamnya. Sungguh kekayaan yang harusnya dapat dikembangkan oleh industri pangan nasional kita. Namun demikian, snackification yang sukses tidak hanya memikirkan mengenai kepraktisan belaka. Unsur keamanan, gizi, fungsional dan sensori produk cemilan harus selalu menjadi bagian tidak terpisahkan dari pengembangan produk yang sukses.

Mengakhiri tahun 2017 ini, FOODREVIEW INDONESIA menyajikan aneka upaya pengembangan produk snack sesuai dengan perubahan gaya hidup, pemilihan bahan untuk mendapatkan karakteristik yang diinginkan. Beberapa ingridien yang mendukung pengembangan produk cemilan, seperti perisa, cokelat dan lemak juga diulas pada kali ini.

Semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

Seminar on Food Safety Risk Analysis Indonesia Risk Assessment Center (INARAC)

 

Seminar On Food Safety Risk Analysis – Indonesia Risk Assessment Center-INARAC

Pada tanggal 1 November 2017 telah diselenggarakan kegiatan bersama antara BPOM dengan Ministry for Primary Industries (MPI) New Zealand dalam Forum INARAC di Hotel Grand Mercure Jakarta Kemayoran. Kegiatan ini adalah realisasi dari Arrangement between National Agency for Drug and Food Control Republic of Indonesia and The Ministry for Primary Industries of New Zealand regarding Food Safety Cooperation yang ditandatangani pada tanggal 11 November 2014 serta tindak lanjut kunjungan kerja Kepala BPOM ke New Zealand, khususnya pertemuan delegasi Kepala BPOM dengan Direktur Jenderal MPI, pada tanggal 31 Juli-1 Agustus 2017. Tujuan utama kegiatan selama tiga hari adalah meningkatkan awareness BPOM dan lintas sektor akan pentingnya analisis risiko keamanan pangan, serta terutama untuk memperkuat kapasitas kajian risiko keamanan pangan.
Seminar on Food Safety Risk Analysis ini dihadiri 135 peserta yang merupakan perwakilan Kementerian/ Lembaga (K/L), unit kerja di BPOM, perguruan tinggi, lembaga penelitian, organisasi profesi/ profesional, dan asosiasi. lintas sektor di bidang keamanan pangan serta lintas unit di BPOM. Lintas sektor yang hadir antara lain: Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ BAPPENAS, Kementerian Badan Usaha Milik Negara, Kementerian Koordinator Bidang Perkonomian, Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, BATAN, Institut Teknologi Bandung, Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, Universitas Indonesia, IPB, Poltekkes Jakarta, Swiss German University, Universitas Bina Nusantara, SEAMEO, Poltek STMI Kemenperin, Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia, Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia, Perhimpunan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia, Pergizi Pangan Indonesia, serta klintas unit di BPOM.

Dr. Bill Jolly, Chief Assurance Strategy Officer, MPI New Zealand menyampaikan remark pada opening ceremony, selanjutnya pembacaan opening remark Deputi Bidang Pengawasan Kamanan Pangan dan Bahan Berbahaya, Badan POM dan  sekaligus pembukaan seminar oleh Direktur Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan, Badan POM, Ibu Mauizzati Purba.

Seminar food safety risk analysis ini merupakan acara hari pertama dari rangkaian tiga hari kegiatan INARAC. Pada sesi pagi, diskusi panel berlangsung terkait perkembangan prinsip dan penerapan analisis risiko sebagai pendekatan yang direkomendasikan oleh FAO/WHO dalam sistem keamanan pangan serta kajian risiko dalam ranah regional, yaitu pada sesi materi narasumber mengenai: Food Safety Risk Analysis at the Global Level: Implementation by Codex Alimentarius Commission, yang disampaikan Prof. Dr. Purwiyatno Hariyadi, Vice-chair of Codex Alimentarius Commission, yang kemudian dilanjutkan dengan sharing mengenai Risk Analysis in Food Regulation: The New Zealand  Experience, yang dibawakan oleh Dr. Bill Jolly.

Pada paparan mengenai Food Safety Risk Analysis at the Global Level: Implementation by Codex Alimentarius Commission, Prof. Dr. Purwiyatno Hariyadi menyampaikan sudut pandang analisis risiko berdasarkan Codex Alimentarius Commission. Analisis risiko berdasarkan Codex mengacu pada prinsip-prinsip: 1) ilmiah, konsisten, terbuka dan transparan, 2) didokumentasikan secara lengkap dan sistematis secara transparan, 3)  ada pemisahan secara fungsional antara penilaian risiko dan manajemen risiko, 4) situasi negara-negara berkembang harus diidentifikasi dan diperhitungkan secara khusus. Sedangkan kajian risiko berfungsi: 1) Menyediakan dasar ilmiah untuk mendukung tindakan manajemen risiko; 2) Instrumen untuk membantu manajer risiko dengan saran ilmiah yang bersifat independen yang berkaitan dengan keamanan pangan dan pakan dalam ranah kesehatan masyarakat; 3) Menyediakan landasan ilmiah yang transparan untuk mendukung pengembangan standar dan peraturan; 4) Memungkinkan penilaian komparatif untuk pilihan yang berbeda sebelum implementasi. Pada paparannya, Prof. Purwiyatno menggarisbawahi pada prinsipnya seharusnya ada pemisahan antara risk management dan risk assessment, untuk menjamin proses yang berlangsung sesuai pada frame-nya.

Selain itu terdapat sesi diseminasi hasil kajian risiko (oral presentation)  yang dilaksanakan oleh beberapa K/L, diikuti dengan poster session antara lain:

  • Kajian risiko akrilamida, Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro;
  • Kajian risiko di bidang gizi, Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia;
  • Kajian risiko produk perikanan, Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan;
  • Kajian risiko produk peternakan, Balai Besar Penelitian Veteriner, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.
  • Kajian risiko aflatoksin B1 pada kacang tanah, Panel Pakar Mikotoksin INARAC.
  • Kajian risiko Salmonella spp pada ayam goreng, Panel Pakar Salmonella  spp. INARAC.

Selanjutnya sesi diskusi sore diisi dengan diskusi mengenai  Chemical Risk Assessment for Food Safety in ASEAN, yang disampaikan oleh Dr. Emran Kartasasmita, ITB dan dilanjutkan dengan Microbiological Risk Assessment for Food Safety in New Zealand: Case Study of Campylobacter yang disampaikan oleh Peter van der Logt.

Kegiatan Seminar on Food Safety Risk Analysis ini berjalan dengan baik dan lancar. Diskusi berlangsung dengan interaktif dipandu moderator yang komunikatif. Secara garis besar, rangkuman benang merah materi dari keseluruhan paparan yang disampaikan, sebagai berikut: Kajian risiko merupakan salah satu persyaratan dalam World Trade Organization (WTO) dalam Sanitary Phyto Sanitary (SPS) Agreement. Dalam pasal 5 text of The WTO Agreement on the Application of Sanitary and Phytosanitary Measures (SPS Agreement) disebutkan bahwa negara anggota perlu menjamin kebijakan terkait sanitary atauphytosanitary berdasarkan suatu kajian risiko terkait kesehatan atau kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan, dengan memperhatikan metode kajian risiko yang dikembangkan oleh organisasi internasional yang relevan (WTO 1994). Dengan demikian, kajian risiko menjadi faktor yang penting dalam perdagangan internasional, dan secara tidak langsung berpengaruh terhadap perekonomian negara, khususnya terkait dengan ekspor dan impor.

Kajian risiko (risk assessment) merupakan bagian dari analisis risiko (risk analysis), yaitu suatu pendekatan dengan kegiatan evaluasi ilmiah mengenai akibat paparan bahaya pangan pada manusia. Hasil kajian risiko dapat dimanfaatkan bila telah dilakukan dengan metodologi yang benar. Dalam prosesnya, tahapan yang harus dilakukan adalah sebagai berikut ini: (1) identifikasi bahaya, (2) karakterisasi bahaya, (3) kajian paparan, dan (4) karakterisasi risiko (WHO 1995). Kajian risiko keamanan pangan di Indonesia diimplementasikan oleh instansi yang terkait dengan keamanan pangan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. INARAC merupakan wadah untuk melaksanakan kajian risiko keamanan pangan di Indonesia. Melalui seminar ini, sesuai dengan visinya, INARAC diharapkan dapat menjadi lembaga yang kompeten untuk menyediakan data dan informasi ilmiah bagi manajemen risiko dalam penentuan kebijakan keamanan pangan nasional dan diakui secara regional serta internasional.

 

Perkembangan Keamanan Pangan dan Aplikasinya pada Proses Produksi

 

Perkembangan Keamanan Pangan dan Aplikasinya pada Proses Produksi


Keamanan pangan terus menjadi fokus utama dalam menghasilkan pangan yang aman dan berkualitas. Inovasi dalam keamanan pangan pun semakin berkembang dan dikembangkan, dalam menjamin keamanan pangan tersebut, banyak faktor yang terus ditingkatkan dan dijaga keamanannya seperti kontaminan pada proses produksi.Seperti yang dipaparkan oleh Vice-Chairman Codex Alimentarius Commission (CAC), Prof. Dr. Purwiyatno Hariyadi,  dalam  the 1st Seafast International Seminar 2017 “Current and Emerging Issues of Food Safety: Innovation Challenges” yang diselenggarakan pada 21-22 November 2017 di Bogor bahwa keamanan pangan tidak hanya fokus pada tiga proses produksi utama seperti formulasi, proses produksi, dan penanganan pasca proses tetapi, ditambahkan dengan optimasi setelah proses, kegiatan saat di lahan dan penanganan pasca panen. Sehingga, penambahan dan optimasi tersebut dapat menekan foodborne disease dan meningkatkan keamanan pangan.
Hal serupa disampaikan oleh Siew Moi Wee, dari International Life Science Institute (ILSI) South East Asia Region,  dalam paparannya terkait aflatoxin dalam keamanana pangan, pengendalian pada aflatoxin ditekankan pada lima proses pra dan pasca panen seperti proses pertanian yang baik, penanganan dan penyimpanan pasca panen, kontrol tingkat kelembapan, HACCP dan langkah mitigasi seperti pada saat penyortiran.

Selain lima hal di atas, Wee juga menekankan pentingnya komunikasi dan informasi kepada seluruh pihak terkait mengenai aflatoxin agar tercipta sistem yang sinergi untuk menangani keamanan pangan yang banyak disebabkan oleh Aspergillus parasiticus ini.”Komunikasi dan kemampuan mengatur merupakan langkah yang sangat penting untuk menangani keamanan pangan,” tuturnya.

Fri-35

http://foodreview.co.id/blog-5669285-Perkembangan-Keamanan-Pangan-dan-Aplikasinya-pada-Proses-Produksi.html

File presentasi Prof. Purwiyatno Hariyadi (Updates on Food Processing Contaminants) dapat diunduh di sini.

 

CAPACITY BUILDING WORKSHOP ON CODEX ALIMENTARIUS FOR EFFECTIVE PARTICIPATION IN CODEX ACTIVITIES

 

Capacity Building Workshop on Codex Alimentarius for Effective Participation in Codex Activities

15 Nov 2017 14:07 PM

Kegiatan Capacity Building Workshop on Codex Alimentarius dilaksanakan oleh Lembaga Training EU-BTSF (Better Training For Safer Food’ Initiative) OPERA di Bangkok, Thailand tanggal 9-11 Oktober 2017 dihadiri  38 peserta yang merupakan wakil dari Negara Afganistan, Bangladesh, Bhutan, Cambodia, China, India, Indonesia, Japan, Lao PDR, Malaysia, Maldives, Mongolia, Myanmar, Nepal, Philippines, Republic of Korea, Singapore, Sri langka, Thailand, Vietnam, dan Codex Secretariat. Wakil Indonesia yang hadir pada workshop tersebut adalah Prof. Purwiyatno Hariyadi (Vice-Chair Codex Alimentarius Commission) dan Latifa Dinar (BSN). Workshop tersebut bertujuan untuk memperkuat kapasitas teknis dari Delegasi setiap Negara untuk berkontribusi dalam pengembangan standar Codex berdasarkan data ilmiah dan meningkatkan persiapan dan partisipasi efektif delegasi dalam sidang Codex.

Capacity Building Workshop on Codex Alimentarius dibuka oleh Patrick Deboyser Minister-Counsellor (Health and Food safety) Delegation of the European Union to Thailand dan Dr. Ponprome Chairidchai dari Director of Thai National Bureau of Agricultural Commodity and Food, Thai Ministry of Agriculture and Cooperatives sebagai wakil host government serta Thierry Chalus, Head of BTSF sector – Health and Food Safety Directorate General D1 selaku donor dan pelaksana kegiatan.

 

Pada dasarnya kegiatan workshop tersebut mempelajari International agreements governing food trade (TBT WTO, SPS), informasi lengkap mengenai Codex Alimentarius Commission, risk analysis dalam Codex dan pengembangan standarnya serta dilakukan kegiatan simulasi sidang (mock session) pada sesi hari terakhir.  

 

Beberapa materi yang disampaikan pada workshop tersebut adalah Global dimension of food safety and its international regulation; History of Codex, objectives, Application of risk analysis in Codex work and standards elaboration; Overview of the Codex Alimentarius Commission’s Strategic Plan 2014-2019; Elaboration of Codex standards; Proposing new work in Codex, Developing national positions and written comments; Role of Regional Committees; sharing experience of EU membership and work in Codex; Horizontal Codex Committees and Horizontal Codex Committees; Testing Codex on-line information tools (include general information of Codex Online Commmeting Systems).

Dalam kesempatan tersebut, Prof Purwiyatno Hariyadi selaku Vice-Chair Codex Alimentarius Commission menyampaikan bahasan mengenai Codex Strategic Plan: Overview of the Codex Alimentarius Commission’s Strategic Plan 2014-2019 dan terlibat dalam kegiatan mock session sebagai Chair didampingi oleh Annamaria Bruno selaku Codex Secretariat.

Beliau menyampaikan bahwa Draft Codex Strategic Plan 2020-25 telah dibahas pada sidang terakhir yaitu The Executive Committee of The Codex Alimentarius Commission (CCEXEC) ke-73 Tahun 2017 yang mencakup tujuan dan sasaran yang didasarkan pada Rencana Strategis saat ini (2014-2019) dan mempertimbangkan kualitas indikator; temuan dari tinjauan reguler Codex; tujuan strategis FAO dan WHO; dan Sustainable Development Goal (SDGs).

Pada hari terakhir dilakukan mock session yaitu kegiatan simulasi sidang Codex Alimentarius Commission untuk Sidang Codex Committee on Codex Committee on Cocoa Products and Chocolate (CCCPC) dengan  agenda proposed Draft Standard for Chocolate and Chocolate Products.Seluruh partisipan dilibatkan dan dikelompokkan menjadi Negara selaku ketua eWG, Negara Produsen/eksportir maju dan Negara berkembang, Negara Pengimpor, Asosiasi konsumen dan Industri. Seluruh partisipan dilibatkan bagaimana cara melakukan negosiasi sebelum sidang, persiapan penyusunan posisi serta penyampaian dan bagaimana mekanisme selama sidang berlangsung sampai penyusunan report sidang.

 

Kegiatan workshop juga melakukan online pre dan post self assessment test oleh panitia BTSF Opera kepada seluruh partisipan terhadap pengetahuan awal partisipan dan peningkatan pemahamannya terhadap materi yang disampaikan. Hasil assessment menujukkan pemahaman dan pengetahuan partisipan terhadap materi yang disampaikan mengalami peningkatan.

http://codexindonesia.bsn.go.id/main/berita/berita_det/1094

 

Prinsip ke-10 Desain Saniter Peralatan dan Mesin untuk Industri Pangan

 

Prinsip ke-10 Desain Saniter Peralatan dan Mesin untuk Industri Pangan


Prinsip ke-10 ini merupakan rangkuman dari prinsip-prinsip 1 sampai 9 yang sebelumnya telah dibahas.  Jika prinsip-prinsip tersebut diikuti dan dilakukan dengan baik, maka prinsip ke-10 ini akan dapat dipenuhi dengan baik.Secara umum, prinsip ke-10 ini mempersyaratkan bahwa setiap mesin/peralatan untuk industri pangan harus dilengkapi dengan protokol atau prosedur pembersihan dan sanitasi yang valid. Dalam hal ini, perancangandan konstruksi mesin/peralatan harus dilakukan dengan mempertimbangkan protokol atau prosedur pembersihan dan sanitasi. Validasi protokol perlu dilakukan untuk memastikan bahwa pembersihan dan sanitasi yang dilakukan sesuai dengan protokol terbukti efektif dan efisien untuk mesin/peralatan tersebut. Pada protokol, perlu pula secara jelas dinyatakan spesifikasi bahan kimia pembersih dan sanitaiser yang digunakan atau yang direkomendasikan.

Lebih lengkapnya silahkan baca di FOODREVIEW INDONESIA edisi “Food Safety By Design”, November 2017

http://foodreview.co.id/blog-5669279-Prinsip-ke-10-Desain-Saniter-Peralatan-dan-Mesin-untuk-Industri-Pangan.html

 

Komite Nasional Codex Indonesia Mendukung Pelaksanaan WNPG XI

 

Komite Nasional Codex Indonesia Mendukung Pelaksanaan WNPG XI

Dalam rangka menyusun dan membahas kebijakan penanganan Codex Indonesia, Komite Nasional Codex Indonesia menyelenggarakan rapat ke-3 tahun 2017, yang bertempat di Ruang Rapat Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan, Jumat 3 November 2017.

Rapat dibuka oleh Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan, dr. Anung Sugihantono, M.Kes.  Anung menyampaikan bahwa posisi Indonesia dalam forum Codex menjadi sangat penting, terutama setelah Prof. Purwiyatno Hariyadi terpilih sebagai Vice-Chair Codex Alimentarius Commission(CAC).  Peran aktif Indonesia pada kegiatan internasional, diharapkan tidak terbatas pada kehadiran saja, tetapi juga harus turut mewarnai penyusunan dan perumusan kebijakan internasional.  Anung juga menyampaikan bahwa melalui forum Komnas Codex Indonesia ini dapat dirumuskan kebijkaan strategis di bidang pangan.

Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN) selaku Ketua Komite Nasional Codex Indonesia, Prof. Bambang Prasetya selaku pimpinan rapat meyambut baik apa yang disampaikan oleh Anung. Bambang menambahkan bahwa Komite Nasional Codex Indonesia merupakan komite yang solid dan memiliki komitmen yang tinggi untuk terus berkontribusi dalam kebijkanan pangan di tingkat nasional maupun internasional. Terpilihnya Prof. Purwiyatno Hariyadi sebagai Vice-Chair CAC yang merupakan hasil rumusan dan komitmen bersama dari anggota Komnas Codex Indonesia dan merupakan salah satu pencapaian strategis sesuai dengan Rencana Strategis Codex Indonesia tahun 2013-2018.

Selanjutnya rapat yang dipimpin oleh Prof. Bambang Prasetya membahas dan menyepakati beberapa agenda penting terkait dengan penanganan Codex Indonesia dan yang terkait dengan isu pangan nasional.  Bambang menambahkan bahwa Komnas Codex Indonesia mendapatkan kesempatan untuk turut terlibat dalam Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) XI, yang puncaknya direncanakan akan diadakan tanggal 3-4 Juli 2017. Komnas Codex sangat relevan untuk terlibat khususnya dalam bidang mutu dan keamanan pangan. Bambang memandang bahwa kegiatan WNPG sangat penting untuk merumuskan rekomendasi dalam upaya penyelesaian masalah dan isu terkait pangan dan gizi nasional.  Anggota Komnas Codex mendukung penuh pelaksanaan WNPG dan menyatakan komitmennya untuk berperan aktif dalam kegiatan tersebut.  Untuk itu diperlukan pembahasan khusus terkait dengan arahan dari Komnas Codex untuk pelaksanaan WNPG ini.

Dalam kesempatan ini Prof. Purwiyatno juga memaparkan kegiatan yang telah dilaksanakan dengan Chair, tiga orang Vice-Chair dan Sekretariat Codex.  Purwiyatno menyampaikan keterlibatannya sebagai Vice Chair dalam perumusan rencana strategis Codex 2020-2025 serta isu-isu penting lain di forum internasional.  Chair dan Vice Chair diharapkan berbagi peran untuk berpartisipasi dalam sidang-sidang Komite Codex.  Oleh karena itu dibutuhkan dukungan dari pemerintah Indonesia dalam memfasilitasi kehadiran Vice Chair dalam sidang Codex yang strategis bagi kepentingan nasional.

Sumber:

http://www.bsn.go.id/main/berita/berita_det/8845/Komite-Nasional-Codex-Indonesia-Mendukung-Pelaksanaan-WNPG-XI#.WgJUUo-Czow

 

Food Safety By Design

 
01112017-Screen-Shot-2017-11-01-at-9.29.34-AM
FRI VOL XII/11 2017
Food Safety By Design
Keamanan Pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi. UU No. 18, 2012, Bab I, Pasal 1, Ayat 5
Keamanan pangan adalah prasyarat untuk pangan bermutu. Tidak akan bermakna bicara mengenai mutu, jika produk pangan tersebut tidak memenuhi persyaratan keamanan pangan. Jadi, bagi siapa pun yang bergerak di bidang pangan, hal pertama dan utama yang harus diperhatikan adalah tentang keamanan pangan. Karena itu, keamanan pangan harus mulai dipertimbangkan pada saat tahap rancangan awal pengembangan bisnis pangan.
Secara sadar dan bertanggung jawab, aspek keamanan pangan harus masuk dalam kegiatan perancangan. Sejak perancangan lokasi, bangunan, mesin dan peralatan, produk, kemasan, penyimpanan dan penggudangan, distribusi, sampai pada displai di tingkat ritel, serta penanganan rumah tangga dan konsumsi, unsur keamanan pangan ini harus selalu menjadi pertimbangan utama. Adalah kewajiban bagi setiap insan pangan untuk tidak “mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia”. Adalah kewajiban bagi setiap warga bangsa insan pangan untuk tidak mengembangkan suatu produk pangan yang “bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat “. Itulah food safety by design.
Peningkatan kesadaran bersama atas pentingnya keamanan pangan ini perlu selalu diupayakan. FOODREVIEW INDONESIA ingin berkontribusi pada upaya ini. Secara khusus, pada edisi November 2017 ini, FOODREVIEW INDONESIA membahas beberapa informasi terkini tentang keamanan pangan, seperti pembentukan bio lm di area pengolahan, tingkat cemaran mikotoksin di beberapa produk pangan Indonesia, dan regulasi tentang pangan steril komersial serta program manajemen risiko.
Semoga informasi ini mampu meningkatkan kapasitas insan pangan Indonesia untuk menempatkan keamanan pangan secara lebih tepat; serta melakukan langkah-langkah penjaminan keamanan pangan secara terencana dengan baik. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi daya saing produk dan industri pangan Indonesia.
Selamat membaca,
Prof. Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id
 

Wakil Indonesia Pecahkan Persoalan Pangan Dunia

 

Sumber: http://www.thequality.co.id/index.php/home/post/702/wakil-indonesia-pecahkan-persoalan-pangan-dunia

Wakil Indonesia Pecahkan Persoalan Pangan Dunia

  • 25 Oct 2017 | 10:40 WIB
  • By Ibnu

img

Purwiyatno Hariyadi

Codex yang secara internasional diakui sebagai standar mutu untuk pangan memiliki dua mandat utama, pertama untuk keamanan konsumen, kedua untuk menjamin perdagangan pangan yang adil. Berdasarkan dua mandat tersebut keaktifan Indonesia dalam Codex Alimentarius Commission (CAC) menjadi sebuah urgensi tersendiri. Urgensi tersebut pun dijawab oleh salah satu Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Purwiyatno Hariyadi dengan terpilih sebagai Wakil Ketua CAC periode 2017-2018 pada pemilihan yang berlangsung selama Pertemuan CAC ke-40 di Jenewa pada tanggal 19 Juli 2017.

Keberhasilan tersebut juga bukan hanya akan meningkatkan citra dan kredibilitas Indonesia pada forum-forum internasional lainnya, juga dapat dimanfaatkan untuk terlibat aktif dalam mempengaruhi penetapan standar internasional yang berdampak pada peningkatan akses pasar makanan Indonesia.

Saat ditemui redaksi majalah The Quality di kantornya (7/08), Purwiyatno mengungkapkan bahwa terpilihnya ia sebagai Wakil Ketua CAC bukan berarti lantas dia hadir untuk melindungi kepentingan Indonesia, tetapi dengan kapasitas nya ia berkewajiban untuk mewakili Indonesia dalam rangka menyelesaikan persoalan-persoalan pangan global. Dalam hal ini ada beberapa hal yang menjadi concern pria kelahiran Pati, 9 Maret 1962  atau yang akrab dipanggil Prof Pur ini.

Benahi aturan main global

Purwiyatno mengatakan bahwa lebih dari 50% produk pangan yang diproduksi saat ini diperdagangkan secara internasional. Sementara itu perdagangan internasional untuk pangan memiliki resiko kerusakan dan mengakibatkan permasalahan tentang keamanan pangan. Maka dari itu dibutuhkan standar-standar untuk keamanan pangan sebagai jaminan perlindungan kepada konsumen.

Namun yang menjadi perhatian Purwiyatno adalah ketika sebuah negara dengan alasan untuk perlindungan  konsumen menetapkan standar yang tidak mampu diikuti negara lain dengan cara menekan kandungan kontaminan sampai sekecil mungkin. “Semakin kecil kandungan kontaminan, maka akan semakin bagus mutu makanan..itu saya setuju,” ujar Purwiyatno. “Tapi sekecil apa? yang kita takutkan kecil sedemikian rupa..kecil sekali yang tidak perlu,” tambahnya.

Oleh karena negara tersebut mampu mendeteksi dengan peralatan yang dimiliki dan produk-produk yang dimiliki juga memenuhi standar tersebut, sehingga negara-negara lain belum tentu dapat mengikuti. “Hal tersebut yang membuat kita perlu untuk lebih aktif lagi secara internasional, disamping wajib bagi semua negara untuk senantiasa meningkatkan kapasitas seperti halnya di Komite Nasional Codex secara internal terus melakukan capacity building,” ujar Purwiyatno.

Dorong awareness terhadap mutu

Secara professional Purwiyatno menggeluti bidang pangan sebagai dosen sekaligus peneliti. Mengajar memang menjadi profesi yang ia sangat sukai. “Saya sangat menyukai dan menikmatinya,” ungkapnya. Namun ia merasa ingin lebih berkontribusi secara riil dan ketika berada di Codex benar-benar Purwiyatno ingin berpartisipasi secara efektif atau lebih meningkatkan keterlibatan. “Jadi tidak hanya berpartisipasi sebatas hadir saja tetapi juga terlibat aktif untuk mencapai target-target yang ditetapkan,” terangnya.

Dengan keterlibatannya, Purwiyatno berharap nantinya dapat dijadikan tools bagi pemerintah sehingga juga pemerintah lebih memberikan perhatian khususnya terhadap standar keamanan pangan. “Karena yang berlangsung saat ini terkait pangan ialah yang penting ada dulu…sehingga faktor mutu dan keamanan baru dipikirkan kemudian,” ungkap Purwiyatno. “Seharusnya tidak bisa begitu, kalau ada tetapi tidak aman apalagi hal ini menyangkut makanan itu pemikiran yang tidak benar,” tambahnya.

Perjalanan karier

Purwiyatno mengawali karier di Mustika Ratu pada tahun 1983. Purwiyatno menceritakan pada waktu itu Mustika Ratu sedang mengembangkan produk beras kencur dan gula asam. “Waktu itu disebut herbal drink,” terang Purwiyatno. Ia ditawari bekerja disitu oleh gurunya, Winarno  dan Managing Director Mustika Ratu, Soedibyo. Purwiyatno ditawari untuk pergi ke Amsterdam mempelajari mesin yang akan diboyong Mustika Ratu untuk sterilisasi produk herbal drinktersebut.

Purwiyatno pun menyatakan kesediaannya walaupun ia masih berstatus mahasiswa di Insititut Pertanian Bogor. Setelah lulus secara resmi Purwiyatno bekerja untuk Mustika Ratu. Pada tahun 1987 berencana untuk berhenti dari Mustika Ratu karena ingin melanjutkan jenjang studinya. Waktu itu Purwiyatno merasa tugasnya sudah selesai di Mustika Ratu karena ia sadar kapasitasnya hanya sebatas bagaimana produk Mustika Ratu secara konten sudah siap/ dan layak untuk dipasarkan. “Padahal Mustika Ratu waktu itu baru membangun infrastruktur fisiknya,” terang Purwiyatno.

Sekali lagi karena kesukaan atau passion Purwiyatno di bidang pengajaran, niatan untuk bersekolah lagi pun ia bulatkan walaupun juga sempat ditawari disekolahkan bidang manajemen oleh Moeryati Sudibyo, pemilik Mustika Ratu hingga saat ini. Purwiyatno menolak tawaran tersebut karena ia ingin melanjutkan dan lebih menekuni teknologi pangan. Akhirnya Purwiyatno keluar dari Mustika Ratu walaupun masih membantu untuk mencari pengganti orangnya dll.

Akhirnya ia kembali ke kampus namun sembari menjadi dosen. Tahun 1988 Purwiyatno melanjutkan studi S2 di Amerika, kemudian tahun 1990 studi S3 di tempat yang sama sampai tahun 1994. Kemudian kembali ke Indonesia mengajar di IPB sampai sekarang.

Menjadi Wakil Ketua Codex Internasional

Dengan dukungan bersama Kementerian Luar Negeri, Badan Standarisasi Nasional (BSN) dan PTRI Jenewa, Purwiyatno, berhasil meraih suara tertinggi sebanyak 103 suara dari total 122 suara, mengalahkan kandidat Inggris dan Lebanon yang masing-masing meraih 102 suara, dan kandidat Papua Nugini sebanyak 59 suara.

Tiga kandidat peraih suara terbanyak menduduki tiga posisi Wakil Ketua Codex. Para Wakil Ketua Codex ini selanjutnya akan bekerja sama dengan kandidat Brasil yang terpilih sebagai Ketua Codex periode 2017-2018 pada pemilihan hari sebelumnya.

Watapri Jenewa, Duta Besar Hasan Kleib, yang turut menyaksikan proses pemilihan yang berlangsung ketat, menilai bahwa terpilihnya kandidat Indonesia merupakan pengakuan 188 negara anggota Codex atas kompetensi Prof. Purwiyatno dan komitmen Indonesia untuk berkontribusi dalam CAC.

Sumber: http://www.thequality.co.id/index.php/home/post/702/wakil-indonesia-pecahkan-persoalan-pangan-dunia

 

REMBUK NASIONAL DI UNSYIAH BAHAS KEDAULATAN PANGAN

 

REMBUK NASIONAL DI UNSYIAH BAHAS KEDAULATAN PANGAN


Bertepatan dengan Hari Pangan Sedunia panitia Rembuk Nasional 2017 bekerja sama dengan Universitas Syiah Kuala, menggelar Rembuk Daerah dengan tema Menuju Kedaulatan Pangan dan Mengelola Keamanan Pangan di Gedung AAC Dayan Dawood, Darussalam. (Senin, 16/10).

Isu kedaulatan dan keamanan pangan diangkat menjadi tema acara karena pemenuhan hak atas pangan merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dijamin di dalam Undang-Undang Dasar, sebagai komponen dasar untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Terlebih sejak tahun 2012, Indonesia sudah memiliki regulasi yang secara khusus mengatur urusan pangan melalui Undang-Undang No.18 tahun 2012.

Wakil Rektor I Unsyiah Dr. Hizir mengatakan, Rembuk Nasional ini merupakan langkah yang positif untuk menjawab berbagai permasalahan kedaulatan pangan di akar rumput. Maka Hizir berharap, keterlibatan para akademisi Unsyiah pada kegiatan ini bisa memberikan saran ataupun masukkan yang kemudian menjadi bahan evaluasi pemerintah ke depan.

“Melalui Rembuk Nasional ini, kita ingin bersama-sama mencari penyelesaian keamanan pangan, sehingga menjadi perbaikkan untuk sistem kemanan pangan Indonesia di masa mendatang,” ujar Hizir.

Ketua Umum Rembuk Nasional 2017  Dr.Ir.Firdaus Ali, M.Sc menjelaskan, Rembuk Nasional bertujuan untuk mendalami sekaligus mengkritisi capaian tiga tahun pemerintahan Jokowi-JK, dalam 12 bidang pembangunan dan masalah nasional yang perlu mendapat perhatian khusus.

“Dan kedaulatan pangan adalah salah satu isu penting yang menjadi perhatian pemerintah, yang diwujudkan dalam program Nawacita ,” ujar Firdaus.

Firdaus juga menjelaskan, Rembuk nasional di Unsyiah ini adalah Rembuk ke 14 dari rangkaian ke 16 Rembuk Daerah yang telah dilaksanakan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Hasilnya akan dikompilasi dengan hasil rembuk dari 16 Perguruan Tinggi lainnya untuk disampaikan kepada Presiden pada acara puncak Rembuk Nasional pada 23 Oktober 2017 di Jakarta International Expo, Kemayoran.

Hadir sebagai pemateri pada kegiatan ini Dr.Ir. Penny K Lukito, MCP Kepala Badan Pengawan Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia. Ketua Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Unsyiah Dr. Ikhsan Sulaiman, M.Sc dan Guru Besar IPB Purwiyatno Hariyadi.

Sebelumnya, Panitia Rembuk Nasional 2017 telah menyelenggaran kegiatan yang sama di 16 Perguruan Tinggi di Indonesia yaitu Universitas Cendrawasih- Jayapura (Papua), Universitas Pattimura (Ambon), Universitas Hassanudin (Makassar), Universitas Samratulangi (Manado), Universitas Mulawarman (Samarinda), Universitas Udayana (Bali), Universitas Airlangga (Surabaya), Universitas Gajah Mada (Yogyakarta), Universitas Diponegoro (Semarang), ITB (Bandung), UI (Depok), IPB (Bogor), Universitas Sriwijaya (Palembang), Universitas Andalas (Padang), Universitas Sumatera Utara (Medan), dan IPB (Bogor).

 

 

 

FUNCTIONAL PACKAGING: More Than Just a Wrap

 

FUNCTIONAL PACKAGING:  More Than Just a Wrap

02102017-foodreview10

Kemasan pangan memang mempunyai banyak fungsi, multi fungsi.  Dengan semakin meningkatnya tuntutan konsumen atas tersedianya produk pangan yang lebih sehat, lebih aman, lebih sustainable, maka peranan kemasan pangan di masa yang akan datang akan semakin penting. Dalam hal ini, kemasan pangan juga berfungsi (i) mengurangi kehilangan selama distribusi dan penyimpanan, (ii) menjaga keaslian dan mencegah pemalsuan (tampering) produk selama distribusi dan penyimpanan, (iii) memberikan ketelusuran (traceability) produk dari sumbernya (produsen) ke konsumen; termasuk memonitor kondisinya selama transportasi, distribusi dan penyimpanan, (iv) memberikan informasi kepada konsumen mengenai nilai produk pangan, (v) mempromosikan dan meningkatkan produk dan perusahaan (brand awareness), dan (vi) meminimisasi dampak lingkungan, kerusakan (food wastage) dan biaya.  It’s More Than Just a Wrap.

Peranan kemasan pangan jelas akan semakin penting dan menantang.  Kemasan pangan akan semakin sulit dipisahkan dari proses produksi pangan. Kemasan pangan akan menjadi satu kesatuan dengan indentitas produk pangan, bagian integral dari upaya branding dan marketing produk dan bisnis pangan.

Namun demikian, pertimbangan pertama dan utama dalam pemilihan kemasan pangan adalah kemampuannya untuk berfungsi mempertahankan keamanan dan mutu pangan. Fungsi lain adalah fungsi tambahan.  Fungsi tambahan kemasan ini juga selalu berkembang, seiring dengan perkembangan teknologi.  Ada pengemas yang mampu mengendalikan (memanipulasi) kondisi lingkungan yang melingkupi produk pangan untuk tujuan menmpertahankan mutu dan keamanannya. Itulah pengemas aktif.  Ada pula pengemas yang mampu mengolah informasi mengenai produk pangan yang dikemasnya, dan menerjemahkan informasi tersebut menjadi status tentang keamanan atau mutu produk pangan , dan sekaligus menyampaikan hal itu melalui tanda-tanda yang mudah kepada konsumen. Itulah pengemas pintar. Itulah functional packaging.

Jadi, jika kemasan tidak memiliki fungsi yang berarti, sekedar hanya memiliki tampilan yang menarik, maka seharusnya tidak perlu dilakukan; karena hanya akan menambah biaya ekonomi dan ekologis saja.

Berbagai isu tentang kemasan pangan disajikan pada FOODREVIEW INDONESIA edisi kali ini. Harapannya, semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat bagi perkembangan saya saing pangan dan industri pangan, serta –tentunya- kemasan dan industri kemasan di Indonesia.

Selamat membaca.

Prof. Purwiyatno Hariyadi

phariyadi.staff.ipb.ac.id