phariyadi's blog

mencari dan memberi yang terbaik

 

Beverages: Nutrition Matters

 

Foodreview Indonesia

02022018-Cover-FRI-edisi-8Beverages: Nutrition Matters

Industri minuman (beverages) telah berkembang dengan pesat, menawarkan aneka produk dengan aneka gizi, kenikmatan, kemudahan, dan nilai fungsionalitas. Dari berbagai jenis dan kategori minuman yang ditawarkan di pasaran, pada formulasinya sering menggunakan gula untuk memberikan sensasi kenikmatan yang diinginkan. Kandungan gula inilah yang saat ini menjadi isu utama produk minuman, baik di pasar global maupun di Indonesia. Selain gula, kandungan beberapa zat gizi lain juga perlu mendapatkan perhatian serius bagi industri minuman; yaitu garam dan lemak. Konsumsi gula, garam, lemak yang berlebihan erat kaitannya dengan peningkatan resiko terkena penyakit tidak menular yang merupakan faktor penyebab kematian utama di Indonesia.

Sehingga, faktor gizi (khususnya gula, garam dan lemak) perlu secara serius dipertimbangkan dalam formulasi produk minuman. Mengingat, bahwa potensi konsumsi minuman cukup tinggi (pedoman umum menyarankan minum 6 hingga 8 gelas cairan sehari). Maka, kandungan gizi pada minuman mempunyai peranan penting bagi asupan gizi konsumennya. Beverages: nutrition matters.

Inilah tantangan nyata bagi industri minuman. Bagaimana mengembangkan formula produk minuman, termasuk minuman instan, untuk tetap memberikan aspek keamanan, kenikmatan, fungsionalitas dan kemudahan, tetapi dengan pengurangan kandungan gula, garam dan lemak. Pada kenyataannya, berbagai industri di Indonesia sudah mengambil prakarsa untuk hal ini. Varian produk rendah gula, rendah garam, dan rendah lemak telah mulai ditawarkan di pasaran.

Prakarsa lainnya, banyak industri juga melakukan inovasi untuk mengembangkan daya saing produk minuman dengan memberikan mutu premium yang diinginkan oleh konsumen. FOODREVIEW INDONESIA edisi ini secara khusus membahas beberapa topik tentang beberapa prakarsa yang dapat dilakukan oleh industri minuman di Indonesia; antara lain tentang kopi cold brew dan eksplorasi bahan lokal potensial untuk ingridien minuman. Semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat untuk kontribusi dalam peningkatan daya saing produk dan industri minuman Indonesia.

Selamat membaca Foodreview Indonesia,
Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

Memahami Terjadinya “Age Gelation” pada Produk Susu UHT

 

Memahami Terjadinya Age Gelation pada Produk Susu


Age gelation merupakan suatu fenomena meningkatnya viskositas susu secara tajam, yang akhirnya akan membentuk struktur gel pada susu UHT selama proses penyimpanan. Susu mengandung protein yang salah satunya adalah protein whey. Salah satu jenis protein whey, beta-laktoglobulin mulai terdenaturasi pada suhu 50 C. “Pembentukan gel pada saat penyimpanan dimulai dari denaturasi protein beta-laktoglobulin yang berinteraksi dengan kappa kasein dari misel kasein,” tutur Guru Besar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB, Prof. Purwiyatno Hariyadi dalam In-depth Seminar FOODREVIEW INDONESIA: Ingredients & Dairy Technology yang diselenggarakan di Bogor pada 12 Juli 2018.  Awalnya komplek beta-laktoglobulin dan kappa kasein bersifat larut dan tidak mengendap. Namun, bisa mengalami pemutusan ikatan karena pemanasan atau aktivitas protease. Rusaknya ikatan tersebut akan menghasilkan pecahan-pecahan yang akan saling berikatan lagi dan membentuk gumpalan yang sifatnya tergantung pada jumlah dan persentasenya. Adapun tingkat kemudahan dan kecepatan pembentukan gel dipengaruhi beberapa faktor, misalnya peran protease, kualitas susu dan suhu selama penyimpanan.
Fri-29 (Lebih lengkapnya bisa dibaca di FOODREVIEW INDONESIA edisi Agustus 2018)
Sumber:
http://www.foodreview.co.id/blog-5669476-Memahami-Terjadinya-Age-Gelation-pada-Produk-Susu-UHT.html
File Presentasi dapat pula diunduh di sini –> Hariyadi, P. 2018.  Problem Solving – Gelation
 

Dari Hasil Sidang CAC ke-41: Pentingnya Keterlibatan Indonesia dalam Forum Standar Pangan Internasional

 

 

Sidang Codex Alimentarius Commission (CAC) ke-41 telah dilaksanakan di FAO Headquarters, Roma pada tanggal 2-6 Juli 2018. CAC merupakan forum tertinggi dalam pengambilan keputusan untuk menetapkan Standar Codex.  Sebagai Joint FAO/WHO Food Standard Programme, standar yang ditetapkan CAC telah menjadi referensi bagi negara-negara di dunia dalam melakukan harmonisasi standar atau regulasi di bidang pangan serta memfasilitasi perdagangan internasional.

 

Pertemuan ini dihadiri oleh 121 negara anggota, 1 organisasi anggota, perwakilan FAO, WHO dan observer dari 84 organisasi internasional antar pemerintah maupun non pemerintah.  Delegasi Indonesia dipimpin oleh Kepala BPOM yang didampingi Deputi Bidang Penerapan Standar dan Akreditasi BSN, dengan anggota terdiri dari perwakilan BSN, BPOM, Kementerian Pertanian dan KBRI Roma.

Chair CAC Guilherme Antonio da Costa (Brazil), yang dibantu tiga Vice-Chair yaitu Purwiyatno Hariyadi (Indonesia), Mariam Eid (Lebanon) dan Steve Wearne (Inggris) memimpin pertemuan dengan didampingi Sekretariat Codex.  Tiga orang Vice-Chair juga mendapat kesempatan memimpin sidang untuk beberapa agenda yang ditugaskan oleh Chair CAC.

 

Agenda sidang CAC ke-41 diantaranya adalah penetapan standar, pedoman, code of practice,rekomendasi, termasuk amandemen, penghentian pembahasan standar dan pencabutan standar yang sudah tidak relevan lagi, serta usulan pembahasan standar baru. Selain itu juga dibahas pemilihan Chairdan Vice Chair, kebijakan Codex secara umum serta informasi tentang kegiatan FAO dan WHO yang perlu mendapat perhatian anggota Codex.

Sebelum dan selama pembahasan sidang, delegasi Indonesia mengadakan pertemuan informal dengan negara-negara yang tergabung dalam regional Asia (CCASIA), pertemuan antara CCASIA dengan Uni Eropa serta antara CCASIA dengan Amerika Serikat.  Pertemuan ini dimaksudkan untuk bertukar informasi tentang agenda yang menjadi perhatian dan kepentingan setiap Negara.

Sekretariat Codex Contact Point (CCP) BSN menyampaikan komentar Indonesia secara tertulis melalui, yang kemudian didistribusikan oleh Sekretariat Codex dalam Conference Room Document (CRD) 21.

Selama sidang berlangsung, delegasi melakukan beberapa kali intervensi untuk menyuarakan kepentingan Indonesia diantaranya yang terkait dengan pembahasan Proposed Draft MRLs for Zilpaterol Hydrochloride, Draft Standard for Aubergines, Proposed Draft Code of Practice for the reduction of 3-MCPDE and GE in refined oils and products made with refined oils, Committees working by Correspondence serta Draft Strategic Plan Codex 2020-2025.

 

Dalam sidang ini, CAC kembali menetapkan Guilherme Antonio da Costa (Brazil) sebagai Chair serta Purwiyatno Hariyadi (Indonesia), Mariam Eid (Lebanon) dan Steve Wearne (Inggris) sebagai Vice-Chair.  Keberadaan wakil Indonesia dalam kepemimpinan Codex ini diharapkan dapat semakin menegaskan partisipasi aktif Indonesia di forum intenasional sehingga dapat dimanfaatkan dalam memperjuangkan kepentingan dan meningkatkan kapasitas Indonesia dalam penanganan Codex di tingkat nasional maupun internasional. (sgh/psps)

Sumber: http://bsn.go.id/main/berita/detail/9418/dari-hasil-sidang-cac-ke-41-pentingnya-keterlibatan-indonesia-dalam-forum-standar-pangan-internasional#.W0awU9UzbIU

 

FOOD QUALITY AND SAFETY BY DESIGN

 

FOOD QUALITY AND SAFETY BY DESIGN

02072018-Cover-FRI-edisi-7

Keamanan Pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi. (UU No 18, 2012, BAB I, Pasal 1, Ayat 5).

Mutu Pangan adalah nilai yang ditentukan atas dasar kriteria keamanan dan kandungan gizi pangan. (UU No 18, 2012, BAB I, Pasal 1, Ayat 36).

 

Industri pangan mempunyai tantangan krusial; yaitu harus memberikan pilihan produk pangan yang bernilai lebih, dengan jaminan terhadap keamanan dan mutu pangan. Karena itu, industri pangan perlu mempunyai kemampuan untuk menganalisis, mensintesis, merancang, dan mengoperasikan sistem yang kompleks untuk mengolah bahan baku, bahan tambahan, bahan penolong, menggunakan proses secara e sien sesuai dengan tuntutan konsumen; sehingga mampu menghasilkan pangan “yang bernilai lebih” bagi konsumen, dengan keamanan dan mutu yang terjamin.

Dalam hal ini, industri pangan harus selalu berupaya mengkreasikan nilai tambah yang relevan bagi konsumen. Dengan kata lain, industri pangan perlu menggali relevansi yang kuat dalam melahirkan kreasi dan inovasinya; sehingga bisa melahirkan inovasi “yang bernilai lebih” atau bernilai tambah. Dalam berkreasi dan berinovasi, industri bertanggung jawab untuk menjamin keamanan dan mutu pangan yang dihasilkan.

Tanggung jawab menjamin keamanan dan mutu pangan ini perlu dilakukan sejak awal. Tanggung jawab menjamin keamanan dan mutu pangan ini perlu dimanifestasikan mulai dari pemahaman mengenai persyaratan keamanan dan mutu pangan sejak saat tahap perancangan produk dan proses. Itulah “food safety and quality by design”.

Dengan menggunakan prinsip “food safety and quality by design” ini maka industri pangan dapat secara imajinatif dan efektif untuk berkreasi memberikan nilai tambah sejak awal. Apakah itu berupa upaya untuk meningkatkan sistem produksi dan pabrikasi berkelanjutan (sustainable manufacturing)? Apakah itu untuk mempertahankan dan/atau menambah satu gizi tertentu, mempertahankan atau meningkatkan daya tarik estetika (rasa, tekstur, dan tampilan), mempertahankan atau meningkatkan integritas pangan sehingga memungkinkan dilakukan transportasi jarak jauh (yang mengarah ke ketersediaan di daerah yang lebih luas dan di luar musim), memperpanjang umur simpan, memberikan dan lain-lain inovasi “yang bernilai lebih”. Semuanya perlu dimulai dari sejak awal.

Pada edisi FOODREVIEW Indonesia ini akan dikemukakan beberapa contoh relevan mengenai bagaimana industri pangan dapat menjamin keamanan dan mutu pangan dan sekaligus meningkatkan nilai tambah, sesuai dengan tuntutan konsumen yang selalu berubah.

Selamat membaca.

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

Codex holds great responsibility for the global society of food safety

 

Codex holds great responsibility for the global society of food safety

Source: http://www.fao.org/fao-who-codexalimentarius/home/it/

26/06/2018

Executive Committee begins two days of deliberations in Rome

The Executive Committee of the Codex Alimentarius Commission (CCEXEC) brings together strategists and technical experts from the global Codex community who are meeting this week at FAO HQ in Rome.

Embracing positive change

Dr Renata Clarke, Head of the FAO Food Safety and Quality Unit in the Agriculture and Consumer Protection Department, in welcoming delegates, stated that her unit had been preparing to make better use of the food chain intelligence in FAO. “There are many things happening in the world, and food systems are in the midst of this change. If we do not change, we risk becoming irrelevant. But over the past years, we have shown preparedness for change”. She warned that change should be based on an analysis of what is happening, with the buy-in of all stakeholders. “This CCEXEC75 is about continuing to embrace change that will take us to our preferred future.” She also advised against embracing ‘used futures’, simply repeating the past. “If we want to embrace positive change as we explore and learn from challenges, we need tools and culture to deal with differences constructively” she said.

The future of Codex depends on our work

Dr Kazuaki Miyagishima, Director of the Department of Food Safety and Zoonoses in WHO, affirmed: “The multilateral system is threatened. What affects the multilateral system will also affect Codex.” He recalled how Codex has not changed its structure and operations since it began in 1963 and that the procedure for standards development has also remained unchanged. He described the one major earthquake in Codex being the introduction of Codex standards as benchmarks in WTO agreements 30 years into its existence. “The future of Codex depends on our work this week. Answers to the questions [relating to current global challenges] are in the agenda we will address this week. I invite you all to embrace this challenge,” he concluded.

A special opportunity for Codex

Guilherme da Costa, chairing the CCEXEC for the second time, recalled the relevance of Codex in the journey towards the UN Sustainable Development Goals and highlighted some of the work before the committee including the Codex strategic plan 2020-2025, matters regarding committees working by correspondence and the critical review of standards. He recalled that as Codex Alimentarius celebrates its 55th birthday it is expected that a World Food Safety Day be established. “The World Food Safety Day is a special opportunity for Codex to advocate for its work and become better known globally,” he said.

All information regarding Codex meetings is public and feely available on the Codex website.

Links

CCEXEC75 meeting page

For further information on CCEXEC consult the Codex Procedural Manual

 

Dairy Opportunity

 

02062018-Screen-Shot-2018-06-02-at-10.40.35

Dairy Opportunity.

Permintaan susu dan olahan susu di pasar Indonesia terus meningkat. Aneka inovasi produk susu, termasuk juga produk pangan lain dengan menggunakan ingridien berbasis susu, terus bermunculan berebut pangsa pasar. Hal ini tidak dapat dipungkiri berkaitan dengan (i) meningkatnya kesadaran masyakarat konsumen tentang pentingnya asupan gizi untuk kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan tubuh, dan (ii) telah dikenalnya susu sebagai produk bergizi.

Sayangnya kondisi ini tidak diimbangi dengan kemampuan sistem produksi susu secara nasional. Pada 2016 misalnya, produksi susu nasional hanya bisa memenuhi sekitar 23% dari permintaan industri susu olahan. Karena itu, industri susu yang bertumbuh ini harus tergantung pada susu impor.  Untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor, pemerintah telah pula memberikan berbagai fasilitas kemudahan dalam berinvestasi di bidang peternakan.  Pemerintah menargetkan produksi susu nasional pada 2021 nanti dapat memenuhi sekitar 41% permintaan pasar lokal.  Jadi, kondisi ini melahirkan peluang berkembang yang menarik bagi industri susu Indonesia: Dairy Opportunity.

Peluang berkembang tersebut bisa beragam. Pertama, peluang peningkatan kemampuan produksi. Peluang ini perlu digaungkan sehingga dapat ditangkap oleh para industriawan Indonesia untuk mengembangkan industri peternakan susu.  Kedua, peluang pengembangan aneka produk olahan susu dengan mengeksplorasi kandungan gizi susu untuk melahirkan produk unggul dan unik.

FOODREVIEW Indonesia edisi ini menyajikan aneka ide dan konsep pengembangan aneka produk olahan susu. Harapannya, semoga aneka ide dan konsep pengembangan tersebut dapat mendorong pengembangan produk olahan susu berbasiskan kondisi, budaya dan keunggulan lokal.   Misalnya, berupa pengembangan dari produk tradisional seperti dadih (dari Sumatra) dan dangke (dari Sulawesi), atau pun produk inovasi lokal seperti tahu susu, kerupuk susu dan dodol susu yang diperkenalkan dan dikembangkan di daerah Bandung dan Boyolali.

Pada kesempatan ini, FOODREVIEW Indonesia mengucapkan SELAMAT IDUL FITRI 1439 H. Mohon maaf lahir batin. Semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat dalam meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.

Purwiyatno Hariyadi 

phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

BSN Siap Kawal Industri Makanan-Minuman Raih Pasar Global

 

BSN Siap Kawal Industri Makanan-Minuman Raih Pasar Global

  • Rabu, 30 Mei 2018

Codex Alimentarius Commission (CAC) merupakan satu-satunya lembaga yang mempunyai mandat sebagai standard setting. Saat ini, anggota CAC berjumlah 189 dengan anggota terbaru adalah negara Timor Leste. Tujuan CAC adalah untuk menjamin perlindungan terhadap kesehatan publik dan menjamin perdagangan yang fair di dunia internasional. “Outputnya adalah Codex Text berupa standardguidelines, dan code of practice,” jelas Vice Chair Codex, Purwiyatno Hariyadi saat memaparkan perkembangan CAC dalam Rapat Komite Nasional Codex Indonesia di Mayora Group Building, Jakarta pada Rabu (30/5/18).

Purwiyatno menjelaskan bahwa codex text dalam perjanjian WTO sangat powerful. “Jika terjadi disputedalam hal perdagangan internasional antara 2 negara yang berbeda, maka yang dijadikan acuan adalah codex text, atau secara umum disebut dengan istilah standard,” jelasnya.

 

Saat ini ada 32 komite aktif dalam CAC. “Karena Indonesia memiliki perwakilan dalam Vice Chair Codex, maka Indonesia dapat berperan aktif untuk melakukan critical review atas semua standar yang diajukan oleh komite tentang pengaruhnya terhadap negara berkembang,” ujar Purwiyatno.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (GAPMMI), Adhi S Lukman menyatakan bahwa Codex sangat erat dengan perdagangan. “Kami berharap bahwa Codex ini bukan hanya sekedar regulasi, bukan hanya standar, tapi bagaimana industri dan perdagangan bisa engage untuk bisa memenangkan pasar global,” harapnya. Adhi pun menyatakan bahwa Mayora merupakan contoh industri makanan dan minuman yang bisa berkiprah di dunia internasional dengan dukungan dari semua stakeholder, dimana saat ini 50% penjualan Mayora merupakan ekspor ke luar negeri.

Kepala Badan Standardisasi Nasional selaku Ketua Komite Nasional Codex Indonesia, Bambang Prasetya menyatakan bahwa sudah saatnya pemerintah dan pelaku industri merapatkan barisan. “Pemerintah itu mengawal bagaimana industri, pelaku usaha baik besar maupun kecil dibantu, didampingi untuk bisa sukses,” ujarnya. Bambang berharap sinergi tersebut dapat terwujud melalui Komite Nasional Codex (Komnas Codex). “Komnas Codex adalah suatu komite yang mempertemukan antar pemerintah, para pakar, dan kalangan industri. Kalau kita bicara tentang hilirisasi, maka Komnas Codex juga merupakan wadahnya,” jelas Bambang. (ald)

 Sumber:
http://bsn.go.id/main/berita/detail/9329/bsn-siap-kawal-industri-makanan-minuman-raih-pasar-global#.WxHIp-6FPIU
 

Langkah Terintegrasi Codex Indonesia

 

Langkah Terintegrasi Codex Indonesia

Codex Alimentarius Commission (CAC/Codex) merupakan suatu lembaga yang dibentuk untuk dapat memberikan perlindungan terhadap kesehatan publik serta menjamin praktik yang jujur dalam perdagangan pangan internasional. Dalam perjalanannya, Codex juga erat kaitannya dengan organisasi dunia seperti Organisasi Pangan dunia (Food Agriculture Organization, FAO) dan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization, WHO).

“Urusan pangan ini memang menjadi urusan yang erat kaitannya dengan kesehatan publik, mengingat pangan adalah sesuatu yang dikonsumsi oleh manusia,” kata Vice Chair Codex Alimentarius Commisions, Purwiyatno Hariyadi dalam Rapat Komite Nasional Codex Indonesia yang diselenggarakan di Jakarta pada 30 Mei 2018.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi Lukman mengatakan bahwa isu-isu di Codex sangat relavan bagi Industri pangan Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan perdagangan internasional dan jaringan produksi global (global value chain, GVC). Untuk itu, Adhi berharap, ada relasi antara Codex dengan industri pangan yang lebih baik.

“Hubungan antara industri dalam pembahasan standar Codex harus lebih ditingkatkan,” tutur Adhi. Hal tersebut serupa dengan yang disampaikan oleh Prof Purwiyatno, bahwa diperlukan proses yang lebih terbuka bagi seluruh pihak yang terkait dalam penggunaan Codex. “Untuk menjadikan standar Codex lebih relevan, maka diperlukan proses yang terbuka dan melibatkan semua stakeholder”

Tidak jauh berbeda, Kepala Badan Standarisasi Nasional Indonesia Bambang Prasetya juga mengungkapkan turut mengapresiasi langkah codex dalam mengawal tidak hanya produk Indonesia agar dapat mengglobal tetapi juga dapat berintegrasi sejalan dengan pemerintah.

“Informasi yang saling mendukung tentu akan menjadikan komponen dalam komite ini kuat sehingga dapat menghasilkan inovasi-inovasi di sektor hilir,” tuturnya.

Fri-35 (http://foodreview.co.id/blog-5669449-Langkah-Terintegrasi-Codex-Indonesia.html)

 

Strategi Pengembangan Pangan Fungsional

 

Strategi Pengembangan Pangan Fungsional

Oleh:
Purwiyatno Hariyadi,
Guru Besar bidang Teknologi Proses Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB
03 Mei 2018 | 02:00 WIB

 

Defisit BPJS Kesehatan menjadi sorotan. Demikian diberitakan harian Bisnis Indonesia edisi 1 Februari 2018. Disampaikan oleh menteri keuangan bahwa biaya kesehatan Indonesia terus meningkat, sehingga pada tahun ini BPJS Kesehatan harus mengalami defisit sebesar Rp9 triliun.

Pemerintah menyiapkan tujuh strategi untuk mengatasi hal tersebut tetapi lebih berifat strategis mitigasi saja. Secara jangka panjang, pemerintah perlu menyiapkan strategi pencegahan (preventif), meningkatkan kesehatan serta mengurangi peluang munculnya penyakit.

Permasalahan biaya kesehatan memang merupakan persoalan yang pelik dan dihadapi oleh banyak negara. Solusi untuk mengatasinya problema tersebut salah satunya adalah dengan strategi pengembangan pangan fungsional. Dalam hal ini, menarik untuk belajar dari negara lain, terutama bagaimana mereka mengatasai permasalahan meningkatnya biaya kesehatan ini, terutama dari Jepang dan Kanada yaitu dengan menata sistem pangan nasionalnya.

Pada awal tahun 1980-an, Pemerintah Jepang dihadapkan dengan permasalahan meningkatnya biaya perawatan kesehatan. Biaya kesehatan tinggi, bahkan semakin tinggi dengan meningkatnya umur harapan. Kondisi demikian mendesak pemerintah dan konsumen mencari alternatif pemecahannya. Pemerintah Jepang berkeyakinan bahwa ada hubungan erat antara kesehatan dan konsumsi pangan. Untuk mengkaji secara ilmiah, Pemerintah Jepang meluncurkan dan membiayai tiga (3) proyek skala besar untuk meneliti systematic analyses and development of functional foods, analyses of physiological regulation of the functional food dan analyses of functional foods and molecular design.

Hasil penelitian ini mendorong Pemerintah Jepang untuk mengembangkan sistem peraturan guna mendorong dan memberikan insentif bagi industri pangan agar memproduksi pangan yang dirancang untuk memecahkan masalah kesehatan yang dihadapi negaranya.

Industri pangan Jepang, dengan skema dan tujuan jelas, kemudian meluncurkan kategori pangan khusus yaitu Foshu (Food for Specified Health Uses) pada 1991. Prakarsa Jepang ini mengguncang dunia dan diulas secara khusus oleh majalah Nature, dengan artikel yang berjudul Japan Explores the Boundary Between Food and Medicine (1993).

Sejak itulah istilah pangan fungsional lahir dan menjadi terkenal. Alhasil Jepang menjadi negara pertama dan konsisten sampai saat ini dalam mengatur dan mengembangkan pangan fungsional yang bertujuan meningkatkan kesehatan penduduknya.

Jepang mendefinisikan pangan fungsional sebagai jenis pangan tertentu dengan manfaat kesehatan yang telah terdokumentasi dan dibuktikan secara ilmiah.

Belakangan, Kanada juga meyakini bahwa konsumsi pangan fungsional akan mampu menekan biaya kesehatan nasional. Agriculture and Agri-Food Canada pada tahun 2002 menyatakan bahwa biaya kesehatan di negara tersebut berkurang paling tidak sebesar US$20 miliar per tahun melalui peningkatan konsumsi pangan fungsional yang didisain khusus untuk mencegah penyakit tidak menular, seperti diabetes dan jantung. Laporan mengenai pengembangan pangan fungsional tersebut diberi judul Potential Benefits of Functional Food and Nutraceuticals to Reduce the Risks and Costs of Disease in Canada.

Studi di Manitoba, yang merupakan salah satu provinsi di Kanada, juga menunjukkan bahwa konsumsi pangan fungsional mampu menekan biaya kesehatan sebesar 10%, yang berarti penghematan sebesar US$360 juta sampai US$400 juta setiap tahunnya (Valiente, 2014, Economic Impact to Manitoba of Increased Adoption of Healthy Food and Food Ingredients for Chronic Disease Management and Mitigation. Manitoba Agri-Health Research Network Inc).

Belum Dikembangkan

Bagaimana pengembangan di Indonesia? Indonesia pernah mempunyai Peraturan Kepala (Perka) BPOM (2005) tentang Ketentuan Pokok Pengawasan Pangan Fungsional. Sesuai judulnya, fokus peraturan tersebut adalah pada pengawasannya, bukan kepada pengembangannya.

Perka ini dicabut dan kemudian diperbaharui sebagai Perka BPOM RI No HK.03.1.23.11.11.09909 Tahun 2011 tentang Pengawasan Klaim dalam Label dan Iklan Pangan Olahan. Pada Perka BPOM ini pangan definisi fungsional mengalami perbaikan dibandingkan dengan definisi pada 2005, yaitu “pangan olahan yang mengandung satu atau lebih komponen pangan yang berdasarkan kajian ilmiah mempunyai fungsi fisiologis tertentu di luar fungsi dasarnya, terbukti tidak membahayakan dan bermanfaat bagi kesehatan”.

Sekali lagi, fokus Perka adalah pada pengawasannya, bukan kepada pengembangannya. Peraturan dan kebijakan untuk mendorong dan memberikan insentif terjadinya pengembangan pangan funsgional di Indonesia belum pernah ada.

Sudah saatnya Indonesia menata sistem pangan nasionalnya untuk mengendalikan biaya kesehatan yang terus meningkat. Melalui Undang-Undang Pangan No. 18/2012, Indonesia perlu menata sistem pangan yang kondusif bagi terciptanya populasi yang sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Mengambil pelajaran dari Jepang dan Kanada serta mengingat bahwa secara tradisi Indonesia kaya akan potensi pangan fungsional maka Indonesia perlu serius menyusun skema pengembangan dan pengawasan untuk memberikan dorongan dan insentif bagi industri pangan nasional.

Hal ini sangat penting sebagai upaya untuk memproduksi pangan yang dirancang khusus dapat memecahkan masalah kesehatan yang dihadapi bangsa ini. Kebijakan pengembangan pangan fungsional secara jangka panjang berarti menekankan pentingnya budaya pencegahan penyakit (preventif), sehingga pada gilirannya akan berkontribusi menekan biaya kesehatan dan beban BPJS Kesehatan.

Editor: Inria Zulfikar

Sumber: http://surabaya.bisnis.com/read/20180503/251/790824/kebijakan-pangan-strategi-pengembangan-pangan-fungsional

 

Confectionery: Bitter Sweet Appeal of Chocolate

 

Confectionery: Bitter Sweet Appeal of Chocolate

Screen Shot 2018-05-02 at 10.04.35

Confectionery diartikan sebagai kelompok produk pangan yang umumnya bercita rasa manis. Jenis produk pangan ini sangat beragam, meliputi (i) bakers confections, yaitu patiseri, keik, dan sejenisnya; (ii) sugar confections meliputi aneka produk permen dengan bahan utama gula; (iii) chocolate confections, aneka produk permen atau pun keik dengan bahan dasar cokelat; dan (iv) aneka kombinasinya.

Sesuai dengan perkembangan gaya hidup, ilmu pengetahuan dan teknologi; industri confectionery terus melakukan inovasinya. Inovasi ini diperlukan karena konsumen tetap saja mempunyai tuntutan tinggi terhadap produk yang memberikan kenikmatan; tetap sekaligus juga memberikan efek positip bagi kesehatan. Salah satunya adalah chocolate confection. Sebagai negara penghasil utama biji cokelat (kakao), Indonesia perlu lebih agresif dan inovatif mengembangan industri dan produk berbasis cokelat.

Pelaku industri cokelat perlu melakukan inovasi untuk mengembangkan produk berbasis cokelat, termasuk produk bakeri (bakers confections) dengan avor bitter sweet yang khas, serta memberikan manfaat kesehatan. Tantangan khususnya adalah bagaimana memanfaatkan potensi kesehatan dan sifat fungsionalitas produk berbasis cokelat ini pada pengembangan produk-produk cokelat. Jelas memerlukan komitmen dan kerja sama berbagai pihak, baik pemerintah, industri maupun akademisi dan masyarakat. Jika industri kecil berbasis kopi dapat berkembang sebagai bagian dari gaya hidup modern, maka cokelat tentunya dapat pula melakukan hal yang sama, atau bahkan lebih baik lagi.

FOODREVIEW INDONESIA edisi ini secara khusus membahas beberapa hal tentang confectionery, khususnya produk bakeri dan cokelat. Dari segi teknologi, FOODREVIEW INDONESIA menyajikan artikel tentang teknologi pengolahan cokelat. Salah satunya adalah teknologi pigging, teknologi yang mampu membantu mengambil semua cairan dalam pipa saat dipindah dari satu tahap pengolahan ke tahap selanjutnya. Hal tersebut akan meningkatkan e siensi produksi, terutama dalam mendukung industri yang berkelanjutan. Selain itu, kami juga menyajikan pembahasan mengenai alternatif penggunaan asam lemak trans dan regulasi registrasi bakeri di Indonesia. Penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) pewarna juga dibahas dalam edisi ini karena banyak produk confectionery yang menggunaan pewarna dalam produksinya.

Semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat dalam meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia, khususnya industri berbasis cokelat.

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id