phariyadi's blog

mencari dan memberi yang terbaik

 

Memerjuangkan Makanan Indonesia

 

Memerjuangkan Makanan Indonesia

kehatiDiskusi Kehati

Indonesia memiliki sumber bahan pangan terbanyak ketiga di dunia. Namun, mengapa pangan lokal belum berjaya?Pertanyaan inilah yang ingin dijawab dalam diskusi Yayasan Kehati (Keanekaragaman Hayati) yang berlangsung Kamis (8/11) di Jakarta.

Data Kehati menunjukkan, lima puluh satu persen (51%) bahan pangan Asean ada di Indonesia. Konsumsi bahan pangan Indonesia naik 41% dalam 5 tahun terakhir. Indonesia dengan 17.504 pulau dan 240 juta penduduk adalah pasar dan konsumen pangan terbesar di Asia Tenggara.

Nilai ekspor makanan olahan Indonesia hingga kini naik 10,7% dengan nilai US$1,67 miliar, namun nilai impor makanan olahan juga mengalami peningkatan – melampaui nilai ekspor – sebesar US$1,73 miliar.

Hal yang sama terjadi dengan impor bahan pangan. Data Departemen Pertanian yang dikutip Kehati menyebutkan, nilai impor bahan pangan, terutama gandum, juga terus meningkat.

Perubahan pola konsumsi dari bahan pangan lokal ke bahan pangan impor, terjadi secara terstruktur. Data tahun 1990 menunjukkan, konsumsi jagung dan ubi kayu di perkotaan mencapai masing-masing 9,3% dan 32,1% serta 19% dan 49,6% di pedesaaan. Pada 1999 jumlahnya menurun menjadi 4,8% dan 28,6% di perkotaan serta 10,1% dan 39,8% di pedesaan.

Konsumsi gandum dan produk-produk olahannya seperti mi terus bertambah. Laju konsumsi gandum dan produk olahannya naik 56,4% dan 67% dari periode 1990-1999.

Kenyataan ini seakan mengabaikan keanekaragaman pangan pengganti gandum yang ada di Tanah Air seperti ganyong, garut, ubi jalar yang bisa diubah menjadi tepung dengan bantuan teknologi.

Prof. Dr. Purwiyatno Hariyadi, Direktur Southeast Asian Food and Agricultural Science and Technology Center (Seafast), mengusulkan Indonesia perlu mengampanyekan militansi dalam memilih bahan pangan dan produk olahan lokal. “Makanan adalah jati diri bangsa,” ujarnya. Setiap wilayah di Indonesia menurut Purwiyatno, memiliki makanan khasnya masing-masing seperti dodol Garut, jenang Kudus, gudeg Yogya, pempek Palembang dsb. “Harus ada sinergi antara petani, sektor swasta dan pemerintah untuk mengangkat potensi pangan lokal,” tuturnya.

Mantan wartawan dan pengamat kuliner nusantara, Bondan “Maknyuss” Winarno, menyebutkan, pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pendapatan masyarakat mengubah banyak hal termasuk perilaku dalam memilih pangan.

Namun, saat masyarakat semakin sejahtera, menurut Bondan, masyarakat tidak semakin pintar dalam memilih bahan pangan dan makanan olahan. Mereka terjebak dalam pola makan dan gaya hidup yang tidak sehat.

Dampaknya, menurut Bondan, Indonesia menduduki posisi keempat dari sisi jumlah penderita diabetes di dunia. “Karena itu edukasi publik tentang gizi sangat penting, paling tidak mereka bisa membaca apa yang tercantum dalam label makanan,” tuturnya.

Bahan pangan dan makanan olahan lokal bisa dikembangkan untuk memberikan pilihan dari makanan dari waralaba asing. “Know what you eat, kenali makananmu. Kalau perlu harus ada national road map dalam 5 tahunan dengan target penyediaan makanan sehat. Makanan yang tidak sehat harus disehatkan demi kebangkitan kuliner Indonesia,” tutur pengamat yang biasa dipanggil dengan nama pak Bondan ini.

Selain dampak ekonomi, aspek lain yang harus dipertimbangkan dalam memilih bahan pangan dan makanan olahan lokal adalah dampaknya terhadap kelestarian lingkungan dan perubahan iklim.

Banyak bahan pangan dan makanan olahan yang harus menempuh jarak ribuan kilometer sebelum sampai di tangan konsumen di Indonesia. “Salah satu keunggulan pangan lokal adalah aspek lingkungan, dari sisi jejak karbonnya. (Keunggulan) ini yang belum banyak dimasukkan dalam perhitungan,” ujar Purwiyatno.

Jejak karbon ini menurut Purwiyatno adalah finger print yang ada pada setiap produk. Ia mencontohkan, banyak negara maju di Eropa dan Amerika, yang memiliki kemampuan teknologi untuk mengirim apel, daging atau produk-produk lain dengan keamanan dan mutu yang baik dan dijual dengan harga yang murah. “Tapi kerugian (expenses) dibalik semua itu tidak pernah diungkap,” tuturnya.

Menurut Purwiyatno, petani dan peternak Indonesia yang beroperasi dalam skala kecil tidak bisa dipertandingkan dengan petani negara maju yang beroperasi dalam skala industri dan bahkan memeroleh subsidi dari pemerintah.

Sehingga prinsip “know what you eat” menurut Purwiyatno juga harus dijadikan sarana untuk mendukung petani/peternak kecil dan produsen pangan lokal. “Ini sesuatu yang harus dibangkitkan menjadi suatu gerakan di masyarakat. Masyarakat harus mulai memertanyakan, kandungan lokalnya berapa? Siapa pembuatnya? Dimana? Impornya berapa?” tuturnya.

Gerakan militansi pangan lokal menurut Purwiyatno juga harus didukung dengan upaya meningkatkan nilai makanan lokal dengan memertimbangkan manfaat (gizi), bentuk dan warna yang menarik, ukuran yang pas, fungsi, waktu (penyajian) dan harga.

Saat ini di beberapa wilayah Indonesia sudah muncul bahan pangan dan makanan olahan lokal yang memenuhi prinsip-prinsip di atas. “Yang belum berkembang adalah pengindustriannya,” ujar Purwiyatno.

Dan tidak perlu industri besar, justru dukungan ke industri-industri kecil penting untuk memastikan rumah tangga bisa memeroleh produk-produk ini dengan mudah. “Masyarakat sudah bergerak, tinggal dukungan pemerintah untuk mewujudkannya,” ujar Purwiyatno.

Sumber

 

No Responses to “Memerjuangkan Makanan Indonesia”

 

Leave a Reply