phariyadi's blog

mencari dan memberi yang terbaik

 

KONTAMINAN PADA BEBERAPA KOMODITI PENTING INDONESIA DIBAHAS PADA SIDANG CODEX COMMITTEE ON CONTAMINANTS IN FOODS KE-11

 

Kontaminan Pada Beberapa Komoditi Penting Indonesia Dibahas Pada Sidang Codex Committee on Contaminants in Foods ke-11

11 Apr 2017 9:16 AM

 

Permasalahan tentang kontaminan pada bahan pangan tidak hanya menjadi isu keamanan pangan bagi kesehatan konsumen tetapi juga terkait perdagangan komoditi pangan internasional.  Codex Alimentarius Commission sebagai organisasi standar pangan internasional yang menjadi acuan Negara dalam menetapkan regulasi pangan telah membahas permasalahan kontaminan ini dalam Codex Committee on Food Additives and Contaminants.  Dengan mempertimbangkan banyaknya agenda yang dibahas, Komite ini dipecah menjadi dua yaitu Codex Committee on Food Additives dan Codex Committee on Contaminants in Foods (CCCF).

 

Sidang ke-11 CCCF dilaksanakan pada tanggal 3-7 April 2017 di Windsor Marapendi Hotel, Rio de Janieiro, Brazil.  Negara tuan rumah (host country) CCCF sebenarnya adalah Belanda sedangkan penyelenggaraan sidang kali ini di Brazil dilakukan melalui mekanisme co-hosting.  Sidang dihadiri oleh 49 Negara Anggota, 1 Organisasi Anggota dan observer dari 11 Organisasi Internasional.  Delegasi Indonesia diketuai oleh Prof. Purwiyatno Hariyadi (Institut Pertanian Bogor/Komite Nasional Codex), dengan anggota Siti Elyani (Badan Pengawas Obat dan Makanan), Yeni Restiani (Badan Pengawas Obat dan Makanan), Singgih Harjanto (Badan Standardisasi Nasional) dan Febrizki Bagja Mukti (KBRI Brazil).

 

Sidang CCCF membahas 17 Agenda item yang terkait dengan kontaminan pada bahan pangan segar maupun pangan olahan. Sebelum pelaksanaan sidang, delegasi Indonesia mengadakan pertemuan informal dengan negara-negara Asia pada tanggal 2 April 2017 untuk sharing informasi posisi masing-masing negara terhadap seluruh agenda sidang. Beberapa agenda yang terkait dengan keamanan dan perdagangan internasional produk/komoditi pangan Indonesia adalah sebagai berikut: pembahasan revisi batas maksimum timbal (Pb) pada produk buah dan sayuran (segar dan olahan) dan beberapa kategori pangan lainnya, pembahasan batas maksimum cadmium (Cd) pada produk cokelat dan cokelat olahan, pembahasan Code of Practice pencegahan dan pengurangan kontaminasi arsen pada beras, pembahasan usulan batas maksimum aflatoksin pada ready-to-eat peanuts dan pembahasan Code of Practice tentang pencegahan dan pengurangan mikotoksin pada rempah-rempah.

 

Delegasi Indonesia telah menyampaikan posisi Indonesia sesuai dengan kertas posisi yang telah disiapkan, dibawah koordinasi Badan Pengawas Obat dan Makanan selaku Koordiator Mirror Committee untuk CCCF di Indonesia, dengan beberapa penyesuaian dengan perkembangan selama sidang berlangsung.

 

Beberapa hasil sidang memerlukan perhatian dan langkah tindak lanjut dari kementerian/lembaga terkait (antara lain: Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Badan POM dan BSN) di Indonesia khususnya komoditi yang terkait dengan kepentingan Indonesia diantaranya adalah:

  1. Sebagai negara produsen dan konsumen beras, Indonesia perlu mempelajari lebih lanjut aturan yang ada dalam Proposed draft Code of practice for the prevention and reduction of arsenic contamination in rice yang diajukan untuk diadopsi pada step 5/8 oleh Codex, karena tiga tahun setelah aplikasinya, maximum level (ML) arsen pada beras akan direview oleh CCCF.
  2. Sebagai negara produsen dan konsumen produk coklat dan turunannya, Indonesia perlu terlibat dalam pembahasan electronic working group (eWG) serta menyiapkan data terkait kontaminan cadmium untuk didiskusikan dalam eWG sebelum dibahas pada sidang CCCF mendatang (baik untuk penetapan maximum level (ML) maupun untuk kemungkinan penyusunan code of practice). Menurut laporan JECFA asupan cadmium sebagai akibat konsumsi coklat dan produk-produk coklat tidak menyebabkan permasalahan kesehatan (not a health concern), sehingga penetapan ML untuk cadmium seharusnya digunakan sebagai upaya untuk meningkatkan daya saing produk dan industri coklat dan produk-produk coklat Indonesia.
  3. Komite menyetujui “Proposed Draft Code of Practice for the Prevention and Reduction of Mycotoxin Contamination in Spices” untuk adopsi pada Step 5/8 oleh Codex.  Indonesia perlu mempelajari lebih lanjut dan mensosialisasikan code of practicetersebut, karena mycotoksin merupakan salah satu masalah bagi daya saing rempah-rempah Indonesia. Masih dalam kaitannya dengan rempah-rempah (spices), komite juga setuju untuk memulai new work untuk pembahasan ML untuk aflatoksin total  dan ochratoksin A pada beberapa spices, yaitu nutmeg, chili and paprika, ginger, pepper and turmeric.  Untuk memfasilitasi pembahasannya, akan dibentuk eWG setelah ada persetujuan new work oleh CAC.  Data yang akan digunakan dalam penentuan ML adalah yang tersedia pada GEMS/Food database sehingga apabila ada informasi tambahan yang perlu dikumpulkan, WG dapat berkonsultasi dengan Sekretariat GEMS untuk pengumpulan datanya. Nutmeg (pala) merupakan komiditi rempah-rempah unggulan dari Indonesia, maka  penyiapan data (khususnya mengenai cemaran Aflatoksin dan Ochratoksin A) perlu secara serius dilakukan; sehingga penetapan ML bisa dilakukan dengan baik; dan tidak menyebabkan terjadinya penolakan ekspor produk pala Indonesia di perdagangan internasional.
  4. Komite menyetujui New work Code of Practice for the Reduction of 3-monochloropropane-1,2-diol esters and glycidyl esters in refined oils and products made with refined oils, especially infant formulaNew work ini sangat terkait dengan kepentingan Indonesia sebagai penghasil minyak sawit; produk ekspor unggulan Indonesia.  Menurut hasil kajian Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA) kontaminan ini terdapat pada berbagai minyak (refined oils), tetapi konsentrasi kontaminans pada minyak sawit lebih besar dibandingkan dengan minyak lainnya.  Indonesia perlu melakukan langkah-langkah koordinasi untuk merumuskan dan melakukan penelitian dan upaya mitigasi untuk penurunan kadar kontaminan ini (3-monochloropropane-1,2-diol esters and glycidyl esters) pada produk minyak sawit.  Data-data (hasil penelitian dan percobaan mitigasi) ini sangat penting bagi Indonesia untuk dapat berkontribusi secara aktif dan efektif pada penyusunan draft Code of Practice di electronic working group, sebelum dibahas pada sidang CCCF mendatang.

http://codexindonesia.bsn.go.id/main/berita/berita_det/1080

(Kontaminan Pada Beberapa Komoditi Penting Indonesia Dibahas Pada Sidang Codex Committee on Contaminants in Foods ke-11)

 

No Responses to “KONTAMINAN PADA BEBERAPA KOMODITI PENTING INDONESIA DIBAHAS PADA SIDANG CODEX COMMITTEE ON CONTAMINANTS IN FOODS KE-11”

 

Leave a Reply