phariyadi's blog

mencari dan memberi yang terbaik

 

Seminar on Food Safety Risk Analysis Indonesia Risk Assessment Center (INARAC)

 

Seminar On Food Safety Risk Analysis – Indonesia Risk Assessment Center-INARAC

Pada tanggal 1 November 2017 telah diselenggarakan kegiatan bersama antara BPOM dengan Ministry for Primary Industries (MPI) New Zealand dalam Forum INARAC di Hotel Grand Mercure Jakarta Kemayoran. Kegiatan ini adalah realisasi dari Arrangement between National Agency for Drug and Food Control Republic of Indonesia and The Ministry for Primary Industries of New Zealand regarding Food Safety Cooperation yang ditandatangani pada tanggal 11 November 2014 serta tindak lanjut kunjungan kerja Kepala BPOM ke New Zealand, khususnya pertemuan delegasi Kepala BPOM dengan Direktur Jenderal MPI, pada tanggal 31 Juli-1 Agustus 2017. Tujuan utama kegiatan selama tiga hari adalah meningkatkan awareness BPOM dan lintas sektor akan pentingnya analisis risiko keamanan pangan, serta terutama untuk memperkuat kapasitas kajian risiko keamanan pangan.
Seminar on Food Safety Risk Analysis ini dihadiri 135 peserta yang merupakan perwakilan Kementerian/ Lembaga (K/L), unit kerja di BPOM, perguruan tinggi, lembaga penelitian, organisasi profesi/ profesional, dan asosiasi. lintas sektor di bidang keamanan pangan serta lintas unit di BPOM. Lintas sektor yang hadir antara lain: Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ BAPPENAS, Kementerian Badan Usaha Milik Negara, Kementerian Koordinator Bidang Perkonomian, Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, BATAN, Institut Teknologi Bandung, Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, Universitas Indonesia, IPB, Poltekkes Jakarta, Swiss German University, Universitas Bina Nusantara, SEAMEO, Poltek STMI Kemenperin, Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia, Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia, Perhimpunan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia, Pergizi Pangan Indonesia, serta klintas unit di BPOM.

Dr. Bill Jolly, Chief Assurance Strategy Officer, MPI New Zealand menyampaikan remark pada opening ceremony, selanjutnya pembacaan opening remark Deputi Bidang Pengawasan Kamanan Pangan dan Bahan Berbahaya, Badan POM dan  sekaligus pembukaan seminar oleh Direktur Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan, Badan POM, Ibu Mauizzati Purba.

Seminar food safety risk analysis ini merupakan acara hari pertama dari rangkaian tiga hari kegiatan INARAC. Pada sesi pagi, diskusi panel berlangsung terkait perkembangan prinsip dan penerapan analisis risiko sebagai pendekatan yang direkomendasikan oleh FAO/WHO dalam sistem keamanan pangan serta kajian risiko dalam ranah regional, yaitu pada sesi materi narasumber mengenai: Food Safety Risk Analysis at the Global Level: Implementation by Codex Alimentarius Commission, yang disampaikan Prof. Dr. Purwiyatno Hariyadi, Vice-chair of Codex Alimentarius Commission, yang kemudian dilanjutkan dengan sharing mengenai Risk Analysis in Food Regulation: The New Zealand  Experience, yang dibawakan oleh Dr. Bill Jolly.

Pada paparan mengenai Food Safety Risk Analysis at the Global Level: Implementation by Codex Alimentarius Commission, Prof. Dr. Purwiyatno Hariyadi menyampaikan sudut pandang analisis risiko berdasarkan Codex Alimentarius Commission. Analisis risiko berdasarkan Codex mengacu pada prinsip-prinsip: 1) ilmiah, konsisten, terbuka dan transparan, 2) didokumentasikan secara lengkap dan sistematis secara transparan, 3)  ada pemisahan secara fungsional antara penilaian risiko dan manajemen risiko, 4) situasi negara-negara berkembang harus diidentifikasi dan diperhitungkan secara khusus. Sedangkan kajian risiko berfungsi: 1) Menyediakan dasar ilmiah untuk mendukung tindakan manajemen risiko; 2) Instrumen untuk membantu manajer risiko dengan saran ilmiah yang bersifat independen yang berkaitan dengan keamanan pangan dan pakan dalam ranah kesehatan masyarakat; 3) Menyediakan landasan ilmiah yang transparan untuk mendukung pengembangan standar dan peraturan; 4) Memungkinkan penilaian komparatif untuk pilihan yang berbeda sebelum implementasi. Pada paparannya, Prof. Purwiyatno menggarisbawahi pada prinsipnya seharusnya ada pemisahan antara risk management dan risk assessment, untuk menjamin proses yang berlangsung sesuai pada frame-nya.

Selain itu terdapat sesi diseminasi hasil kajian risiko (oral presentation)  yang dilaksanakan oleh beberapa K/L, diikuti dengan poster session antara lain:

  • Kajian risiko akrilamida, Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro;
  • Kajian risiko di bidang gizi, Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia;
  • Kajian risiko produk perikanan, Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan;
  • Kajian risiko produk peternakan, Balai Besar Penelitian Veteriner, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.
  • Kajian risiko aflatoksin B1 pada kacang tanah, Panel Pakar Mikotoksin INARAC.
  • Kajian risiko Salmonella spp pada ayam goreng, Panel Pakar Salmonella  spp. INARAC.

Selanjutnya sesi diskusi sore diisi dengan diskusi mengenai  Chemical Risk Assessment for Food Safety in ASEAN, yang disampaikan oleh Dr. Emran Kartasasmita, ITB dan dilanjutkan dengan Microbiological Risk Assessment for Food Safety in New Zealand: Case Study of Campylobacter yang disampaikan oleh Peter van der Logt.

Kegiatan Seminar on Food Safety Risk Analysis ini berjalan dengan baik dan lancar. Diskusi berlangsung dengan interaktif dipandu moderator yang komunikatif. Secara garis besar, rangkuman benang merah materi dari keseluruhan paparan yang disampaikan, sebagai berikut: Kajian risiko merupakan salah satu persyaratan dalam World Trade Organization (WTO) dalam Sanitary Phyto Sanitary (SPS) Agreement. Dalam pasal 5 text of The WTO Agreement on the Application of Sanitary and Phytosanitary Measures (SPS Agreement) disebutkan bahwa negara anggota perlu menjamin kebijakan terkait sanitary atauphytosanitary berdasarkan suatu kajian risiko terkait kesehatan atau kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan, dengan memperhatikan metode kajian risiko yang dikembangkan oleh organisasi internasional yang relevan (WTO 1994). Dengan demikian, kajian risiko menjadi faktor yang penting dalam perdagangan internasional, dan secara tidak langsung berpengaruh terhadap perekonomian negara, khususnya terkait dengan ekspor dan impor.

Kajian risiko (risk assessment) merupakan bagian dari analisis risiko (risk analysis), yaitu suatu pendekatan dengan kegiatan evaluasi ilmiah mengenai akibat paparan bahaya pangan pada manusia. Hasil kajian risiko dapat dimanfaatkan bila telah dilakukan dengan metodologi yang benar. Dalam prosesnya, tahapan yang harus dilakukan adalah sebagai berikut ini: (1) identifikasi bahaya, (2) karakterisasi bahaya, (3) kajian paparan, dan (4) karakterisasi risiko (WHO 1995). Kajian risiko keamanan pangan di Indonesia diimplementasikan oleh instansi yang terkait dengan keamanan pangan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. INARAC merupakan wadah untuk melaksanakan kajian risiko keamanan pangan di Indonesia. Melalui seminar ini, sesuai dengan visinya, INARAC diharapkan dapat menjadi lembaga yang kompeten untuk menyediakan data dan informasi ilmiah bagi manajemen risiko dalam penentuan kebijakan keamanan pangan nasional dan diakui secara regional serta internasional.

 

No Responses to “Seminar on Food Safety Risk Analysis Indonesia Risk Assessment Center (INARAC)”

 

Leave a Reply