phariyadi's blog

mencari dan memberi yang terbaik

 

SNACKIFICATION

 

SNACKIFICATION

30112017-Screen-Shot-2017-11-30-at-4.21.15-PM

Kebiasaan dan pola pangan masyarakat selalu berubah, bersamaan dengan perubahan status ekonomi, sosial dan gaya hidup. Beberapa penelitian melaporkan bahwa frekuensi mengonsumsi cemilan (makanan kecil, makanan jajan, snack) menjadi meningkat. Jenis cemilan pun semakin beragam. Laporan the Hartman Group yang berjudul the Future of Snacking 2016 menunjukkan bahwa 91% konsumen mengonsumsi cemilan lebih dari dua kali dalam sehari. Mengonsumsi cemilan merupakan separo (50%) dari kegiatan konsumsi makanan. Artinya? Kegiatan “nyemil” merupakan kegiatan yang sangat penting; khususnya akan mewarnai kualitas asupan gizi harian konsumen.

Kondisi ini juga terjadi di Indonesia. Apalagi dengan meningkatnya kemacetan di mana konsumen “terpaksa” tidak punya cukup waktu untuk melakukan ritual makan pagi, siang dan malam di meja makan. Sehingga konsumsi pangan dilakukan selama perjalanan (on-the-go).  Dan pangan yang dikonsumsi itu adalah snack atau produk pangan utama yang sekarang diproduksi, dijajakan dan dikonsmsi sebagai snack. Snackification.

Snackification muncul sebagai jawaban dari tuntutan konsumen atas kepraktisan. Awalnya adalah kebutuhan untuk mengatasi rasa lapar karena tidak sempat atau harus menunda makan utama (pagi, siang atau malam). Namun akhirnya berkembang menjadi gaya hidup karena meningkatnya kesibukan dan keterbatasan. Tren snackication ini terlihat dengan jelas di berbagai stasiun kereta api di beragam convenience store. Bermunculanlah aneka pangan tradisional praktis seperti lemper, “nasi kucing” dan masih banyak lagi.  Bahkan disediakan juga minuman panas dan oven gelombang mikro untuk memanaskan aneka pangan.

Snackification jelas merupakan peluang sekaligus tantangan. Indonesia kaya dengan aneka makanan jajanan atau jajanan pasar yang berpotensi dikembangkan. Ada kue lapis, kue cucur, kue cenil, kue apem, buras, dan aneka jajanan kering yang luar biasa ragamnya. Sungguh kekayaan yang harusnya dapat dikembangkan oleh industri pangan nasional kita. Namun demikian, snackification yang sukses tidak hanya memikirkan mengenai kepraktisan belaka. Unsur keamanan, gizi, fungsional dan sensori produk cemilan harus selalu menjadi bagian tidak terpisahkan dari pengembangan produk yang sukses.

Mengakhiri tahun 2017 ini, FOODREVIEW INDONESIA menyajikan aneka upaya pengembangan produk snack sesuai dengan perubahan gaya hidup, pemilihan bahan untuk mendapatkan karakteristik yang diinginkan. Beberapa ingridien yang mendukung pengembangan produk cemilan, seperti perisa, cokelat dan lemak juga diulas pada kali ini.

Semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

No Responses to “SNACKIFICATION”

 

Leave a Reply