phariyadi's blog

mencari dan memberi yang terbaik

 

Localizing Bakery Products

 

Localizing Bakery Products

29122017-Screen-Shot-2017-12-29-at-4.11.52-PM

Localization strategy is geared toward understanding local consumer preferences and other locale-speci c requirements and then adapting the marketing mix and other business strategies to best satisfy consumer needs and wants. (http://www.brandquarterly.com/localized-global-marketing-strategy)

Laporan EU-Indonesia Bussiness Network untuk Sektor Ingridien Bakeri (EIBN Sector Reports, Bakery Ingredients, 2016)1 menyatakan bahwa industri bakeri di Indonesia mempunyai prospek yang sangat cerah. Laporan ini juga menunjukkan bahwa produk bakeri yang populer di Indonesia adalah roti (60%); kue-kue tradisional (25%); kukis, wafer, dan biskuit (10%); serta kue (cakes, 5%). Dinyatakan oleh Asosiasi Pengusaha Bakery Indonesia (APEBI) bahwa rata-rata pertumbuhan sektor bakeri ini mencapai di atas 10% per tahun. Diramalkan oleh suatu studi yang dilakukan oleh Inter our Group, dalam 5 tahun mendatang akan terjadi kebutuhan tepung terigu yang meningkat tajam, mencapai angka kenaikan sampai 40% dari kondisi sekarang.

Pertumbuhan industri bakeri tidak lepas dari perubahan gaya hidup orang Indonesia yang umumnya menjadi lebih sibuk dan menuntut produk pangan yang praktis. Aneka produk bakeri dianggap mampu menyediakan alternatif produk yang praktis dan sederhana (mudah dibawa, mudah dikonsumsi) yang sesuai dengan gaya hidup mereka. Di sisi lain, produk bakeri juga menawarkan berbagai “kelebihan” dalam hal keamanan, nilai gizi dan juga cita rasa yang sesuai. Produk bakeri –khususnya roti- mudah sekali dikembangkan dengan aneka bahan lokal yang memperkaya zat gizi dan sekaligus mengadopsi preferensi konsumennya. Roti dengan isi pisang, mangga, nangka, durian, nanas, jagung muda, serta aneka bahan lokal lainnya adalah contohnya.

Secara umum, laporan EIBN di atas juga menyatakan bahwa industri bakeri Indonesia masih mempunyai ketergantungan terhadap impor yang tinggi, yaitu 70%. Ini jelas merupakan tantangan. Hanya 30% komponen ingridien industri bakeri dapat disediakan secara lokal. Tantangan ini jelas pula sekaligus sebagai tantangan. Bagaimana menyediakan aneka tepung lokal, seperti tepung singkong, tepung pisang, tepung aneka umbi, dan lain-lain? Bagaimana menyediakan ingridien lain, seperti aneka buah (segar dan kering) untuk isi bakeri, kacang, coklat, dan lain-lain? Jadi ada tantangan dan peluang besar untuk melakukan subsitusi dengan mengembangkan dan menggunakan bahan lokal. Localizing Bakery Products. “Localizing” adalah upaya strategis untuk menyesuaikan preferensi konsumen lokal dan persyaratan spesifik lokal lainnya, termasuk sumber daya lokal. Tentu saja, perlu komitmen semua pihak untuk melakukan hal ini dengan sukses.

Selain itu, tantangan untuk selalu berinovasi, menawarkan mutu yang berbeda dan lebih baik juga sangat penting untuk dijawab. FOODREVIEW Indonesia edisi Localizing Bakery Products ini juga membahas teknologi untuk mendukung upaya inovasi menawarkan produk bakeri lebih bermutu. Pemilihan tepung untuk produk bakeri, tren bakeri di Eropa, aplikasi tepung modi kasi, dan penggunaan enzim juga diulas pada edisi kali ini.

Selamat tahun baru 2018. Dengan semangat baru, semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

No Responses to “Localizing Bakery Products”

 

Leave a Reply