phariyadi's blog

mencari dan memberi yang terbaik

 

 

Photo credit

(c)FAO/Bob Scott

Executive Committee completes strategic plan and faces key discussions on the role of science

 05/07/2019

As an expected 800 delegates gather in Geneva, Switzerland for the 42nd Codex Alimentarius Commission, 8-12 July 2019, recommendations from the Executive Committee (CCEXEC) include a final draft of the Codex Strategic Plan 2020-2025 and a pathway to discuss the role of science in standard setting.

Three days of debate in CCEXEC held at WHO headquarters in Geneva have culminated in agreement on recommendations for adoption of new and revised Codex texts including draft guidelines for rapid risk analysis following instances of detection of contaminants in food where there is no regulatory level; maximum levels for contaminants and residues of pesticides, and a series of food additive provisions. The committee, chaired by Guilherme da Costa of Brazil, assisted by three vice-chairpersons and with a committee of 13 experts, representative of the global Codex membership, also recommended that the Commission approve new work on allergen labelling; guidance on e-commerce; guidelines for compounds of low public health concern that could be made exempt from the need for maximum residue levels, and for STEC,  a group of E. coli that produce Shiga toxin which can cause stomach cramps and diarrhea.

CCEXEC77

Chairperson da Costa (font row left) guiding consultations with vice-chairpersons, WHO and the Codex Secretariat

Where the world comes together

Strategic planning for the period 2020-2025 has been at the centre of CCEXEC work over the past 12 months and following the widest ever consultation of its membership a final text will be presented for adoption at the Commission. With clearly focused objectives the plan also incorporates a new goal to promote the relevance and use of Codex standards, recognizing their fundamental role in trade facilitation. The streamlined plan addresses new opportunities and challenges for Codex Members in an ever more globalized food system and allows for all countries to participate in building regional workplans to reflect specific areas where public health concerns and fair practices in food trade need to be addressed.

Science is golden

CCEXEC is also where Codex debates the most challenging issues before bringing them to the Commission and at this session board members examined how best to start discussions on the Statements of Principle Concerning the Role of Science and more specifically how chairpersons of Codex committees should proceed in meetings when there is agreement on the science supporting a Codex standard but differing views about other considerations. At the heart of the debate are the seven occasions since 1991 when the Commission has voted on the use of growth promoting substances, namely Bovine somatotropin (bST) and Ractopamine. Voting in Codex, the Joint FAO/WHO Programme that lists consensus-building as a core value, is often seen as divisive hence the decision to embark on a full examination of how to guide committees when they reach an impasse.

All decisions and recommendations made by the Executive Committee are subject to approval by the Commission, which gets underway at the CICG Conference Centre in Geneva on 8 July 2019.

 

Read more

 

Photo credit

(c)FAO/Bob Scott

 

Fermented Foods: Strong Trend in Food Industry

 
FRI Vol XIV/7 2019
 03072019-Screen-Shot-2019-07-03-at-3.58.31-PM
Editorial

Fermented Foods: Strong Trend in Food Industry 

Pangan fermentasi muncul sebagai bintang pertumbuhan di industri pangan. Sebuah artikel yang dikeluarkan oleh Food Dive (https://www.fooddive. com/news/a-bubbling-market-for-fermented- ingredients-shows-no-sign-of-popping/516363/) mencoba menunjukkan bahwa pasar produk pangan fermentasi ini terus tumbuh dan akan mencapai nilai 28.4 milyar USD pada tahun 2020.

Hal serupa juga diberitakan oleh Businesswire (https://www.businesswire.com/news/ home/20180425006846/en/Global-Fermented-Food- Drinks-Market-Analysis-Forecasts), yang melaporkan
prediksi bahwa tren ini akan terus menguat, dimana untuk periode 2018- 2022 pertumbuhannya (CAGR) akan mencapai angka 5.84%. Bahkan, Portnews24 (https://portnews24.com/2018-2023-global-fermented-foods- drinks-market-trends-cagr-status-trends-analysis-and-forecast-360-market- updates/54370/) menyatakan bahwa pasar global makanan dan minuman fermentasi ini akan mampu mencapai CAGR 7.2% pada periode 2018-2023.

Angka-angka tersebut tentu menjadi potensi yang sangat besar untuk industri pangan.  Jika ditelusuri lebih dalam, motor utama dari prediksi pertumbuhan ini adalah meningkatnya kesadaran dan ketertarikan konsumen tentang kesehatan dan kebugaran.

Secara definisi, pangan fermentasi (fermented foods) adalah pangan (termasuk minuman) yang diproduksi, diolah dan/atau diawetkan dengan melibatkan dan memanfaatkan kerja mikroba.  Teknologi fermentasi merupakan salah satu teknologi yang sejak lama digunakan untuk tujuan mengawetkan dan menghasilkan produk baru.  Pangan fermentasi juga telah lama dikenal memiliki banyak keunggulan ditinjau dari aspek gizi dan kesehatan, dibandingkan dengan bahan baku yang digunakan.  Beberapa manfaat ini antara lain adalah meningkatnya kecernaan, memberikan gizi dan cita rasa khas yang lebih enak dan disukai, serta meningkatnya kandungan senyawa aktif tertentu.

Indonesia termasuk negara dengan potensi produk pangan fermentasi yang besar dan beragam. Banyak jenis pangan fermentasi dapat ditemui di Indonesia, seperti sawi asin, tempoyak, dadih, urutan (sosis Bali), tape singkong, tape ketan, brem, tuak, tempe, oncom, terasi, petis, kecap, tauco dan lain-lain.  Sungguh potensi yang luar biasa.  Sungguh peluang yang terbuka lebar bagi industri untuk mampu menangkap potensi ini.

Foodreview Indonesia edisi kali ini membahas beberapa hal terkait dengan produk pangan fermentasi. Semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat dan menjadi referensi dalam meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

Codex 2019: The year of food safety

 

b8ae7c3823  Codex 2019: The year of food safety

page 9:

Purwiyatno Hariyadi

Since the last Commission, I have been involved in many Codex meetings and activities. I had opportunities to attend the CCFICS24 in Brisbane, Australia; CCSCH4 in Kerala, India; CCFO26 in Kuala Lumpur, Malaysia; CCGP31 in Bordeaux, France and finally CCCF13 in Yogyakarta, Indonesia. The contaminants meeting was special for me, because it was co-hosted by Indonesia and my aim was to ensure that as many national Codex stakeholders as possible, especially government officials, could be present. By participating, they learn the Codex process, and hopefully this will help them gain a better understanding and eventually participate more effectively in Codex.

In attending Codex meetings, wherever they may be, my observations are always that Codex is truly a global organization involving many members and observers, all actively communicating, sharing and collaborating to develop standards addressing shared concerns on public health and fair practices in international food trade. As a vice-chair of the Commission, this observation is what motivates me the most. I believe that food safety is a shared responsibility. All actors along the farm-to-fork continuum, including producers, processors, distributors, retailers, and consumers, need to work together towards safer food. With the increasing importance of international trade, the ‘farm’ and ‘fork’ may grow ever further apart. This is why, mutual understanding and collaboration between food producing and consuming member countries is essential to strengthen the global supply of safe food for everyone, everywhere.

Photo PHA - Photos ©Bob Scott

 

Hari Keamanan Pangan Sedunia: Aspek Keamanan Pangan Harus Jadi Prioritas

 

Hari Keamanan Pangan Sedunia: Aspek Keamanan Pangan Harus Jadi Prioritas

https://ekonomi.bisnis.com/read/20190606/12/931367/hari-keamanan-pangan-sedunia-aspek-keamanan-pangan-harus-jadi-prioritas

Hari Keamanan Pangan se-Dunia diharapkan dapat mendorong pemangku kebijakan sektor pangan untuk meningkatkan kesadaran, menarik perhatian dan menginspirasi semua pemangku kepentingan untuk bertindak membantu mencegah, mendeteksi serta mengelola risiko keamanan pangan.
 David Eka Issetiabudi | 06 Juni 2019 23:10 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Hari Keamanan Pangan se-Dunia diharapkan dapat mendorong pemangku kebijakan sektor pangan untuk meningkatkan kesadaran, menarik perhatian, dan menginspirasi semua pemangku kepentingan untuk bertindak membantu mencegah, mendeteksi serta mengelola risiko keamanan pangan.

Perserikatan Bangsa–Bangsa (PBB) pada 20 Desember 2018, mendeklarasikan World Food Safety Day yang diperingati setiap 7 Juni. Untuk tahun pertama peringatan Hari Keamanan Pangan Sedunia (HKPS), diusung tema Food Safety, Everyone’s Bussiness.

Vice Chairperson Codex Alimentarius Commission FAO Purwiyatno Hariyadi mengatakan, peringatan HKPS diharapkan mendorong situasi kondisi pangan yang lebih aman,  sehingga berkontribusi positif bagi kesehatan manusia, kemakmuran ekonomi, pertanian, akses pasar, pariwisata atau pembangunan berkelanjutan.

Menurutnya, peringatan Hari Keamanan Pangan Sedunia ini mempunyai arti strategis. Dalam Pasal 1 ayat 5 Undang-Undang Pangan No 18 Tahun 2012, Keamanan Pangan didefinsikan sebagai kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi.

“Karena itu, Hari Keamanan Pangan Sedunia ini menuntut siapa saja yang bergerak di bidang pangan, hal pertama dan utama yang harus diperhatikan adalah tentang keamanan pangan,” tuturnya kepada Bisnis.com, Kamis (6/6/2019).

Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian  Institut Pertanian Bogor (IPB) ini pun mengatakan, setiap pemangku kepentingan pangan, mulai dari produsen, industri pengolahan, pedagang, peritel, dan konsumen, diminta untuk selalu memastikan bahwa setiap produk pangan harus aman dalam pengertian tidak membahayakan kesehatan manusia.

Tema HKPS tahun ini mengajak semua pemangku kepentingan pangan nasional perlu meningkatkan pengendalian untuk pencegahan terjadinya masalah keamanan pangan. Setiap orang yang terlibat dalam operasi makanan harus memastikan kepatuhan dengan program-program.

Sebut saja program HACCP yakni, sebuah sistem yang mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengendalikan bahaya yang signifikan bagi keamanan pangan, dari proses produksi (pertanian, perikanan, peternakan dan perkebunan) sampai ke meja makan dan konsumsi oleh konsumen.

Selain itu, penanganan, pengolahan, penyimpanan, dan pengelolaan masa simpan pangan yang baik akan membantu mempertahankan keamanan, nilai gizi dan mutu pangan, serta mengurangi kerusakan dan kehilangan pascapanen.

Purwiyatno menambahkan ilmu dan teknologi pangan mempunyai peranan penting untuk menghasilkan suatu produk pangan yang aman dan bermutu.

“Secara sadar dan bertanggung jawab, aspek keamanan pangan harus sudah menjadi pertimbangan utama sejak kegiatan perancangan,” tambahnya.

 

 

Dairy Story

 

29052019-Screen-Shot-2019-05-29-at-10.11.28-AM   FRI Vol XIV/6 2019  [http://pustakapangan.com/store/?category=Foodreview]

Dairy Story

Susu di Indonesia mempunyai banyak cerita. Cerita dari sisi gizi, secara umum masyarakat Indonesia mempunyai pengetahuan dan kesadaran yang baik tentang manfaat susu. Bahkan, Indonesia pernah mempunyai slogan gizi, empat sehat lima sempurna, yang menempatkan susu sebagai penyempurna menu sehari-hari. Susu dan produk-produk turunannya dikenal sebagai produk pangan yang dianggap mampu berperan dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat Indonesia. Berbagai masalah gizi yang sekarang ini dihadapi Indonesia, seperti obesitas, stunting, dan de siensi zat gizi mikro, juga dapat diperbaiki dengan peningkatan konsumsi produk susu secara tepat.

Namun demikian, cerita dari sisi konsumsi masih memprihatinkan. Kenapa? Karena konsumsi susu masyarakat Indonesia masih relatif rendah; hanya mencapai 16.5 liter per kapita per tahun (BPS, 2017). Angka konsumsi ini merupakan yang terendah di Asia Tenggara, dimana, pada tahun yang sama, konsumsi masyarakat Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, dan Vietnam telah mencapai, berturut-turut, 50.9, 46.1, 33.7, 22.1, dan 20.1 liter susu per kapita per tahun.

Cerita lain adalah tentang produksi. Walaupun konsumsinya masih rendah, ternyata Indonesia baru mampu memenuhi sekitar 20% dari kebutuhan nasionalnya. Akibatnya, sekitar 80% kebutuhan susu ini harus dipenuhi dengan impor. Jelas hal ini merupakan tantangan serius, sekaligus sebagai peluang yang sangat besar. Tantangan serius ini, perlu mendapatkan perhatian serius pula dari semua pemangku kepentingan susu nasional, terutama pemerintah. Untuk itu, diperlukan suatu peta jalan nasional untuk mendongkrak produksi, terutama dengan melibatkan peternak, koperasi, dan lain-lain.

Pelibatan peternak dan koperasi menjadi sangat penting, khususnya dalam pengembangan sistem bisnisnya. Para peternak dan koperasi saat ini juga mulai mengembangkan bisnis dengan mengolah susu menjadi berbagai produk olahan. Muncul pula usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), gerai, street food vendor, dan juga kedai minuman yang membuat produk olahan susu dan minuman berbasis susu. Untuk itu, sekali lagi terlihat bahwa upaya mendongkrak produksi menjadi sangat strategis, sehingga tidak akan semakin tergantung pada impor.

Foodreview Indonesia edisi kali ini akan membahas beberapa “cerita” terkait dengan produk susu, dairy story. Semoga dapat menjadi referensi, inspirasi, informasi yang bermanfaat untuk meningkatkan daya saing produk susu dan industri susu Indonesia.

Terakhir, Foodreview Indonesia juga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H. Mohon maaf lahir dan batin.

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

BSN Perkuat Industri Pengalengan Ikan untuk kesiapan sertifikasi SNI

 

BSN Perkuat Industri Pengalengan Ikan untuk kesiapan sertifikasi SNI

  • Senin, 13 Mei 2019
  • dedi dedi

(Sumber: http://www.bsn.go.id/main/berita/detail/10137/bsn-perkuat-industri-pengalengan-ikan-untuk-kesiapan-sertifikasi-sni#.XODZVFIzbZ4)

Laporan Pengukuran Kecukupan Panas (F0) pada proses sterilisasi komersial merupakan salah satu bukti yang harus ditunjukkan oleh industri kepada auditor pada rangkaian sertifikasi SNI produk tuna, sarden dan makerel dalam kaleng sebagaimana tertuang didalam Peraturan Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Nomor 16/PER-DJPDSPKP/2018 tentang Petunjuk Teknis Pemberlakuan SNI Tuna dalam Kemasan Kaleng dan SNI Sarden dan Mekerel dalam Kemasan Kaleng Secara Wajib. Beberapa lembaga sertifikasi menilai kesiapan industri dalam hal tersebut belum optimal, sehingga masih ditemui ketidakmampuan industri dalam melakukan hal tersebut.

Dalam rangka mendorong efektifitas Pemberlakuan wajib SNI tersebut pada bulan Juni mendatang, BSN melalui Direktorat Penguatan Penerapan Standar dan Penilaian Kesesuaian bekerjasama dengan Asosiasi Pengalengan Ikan Indonesia (APIKI) mengadakan pelatihan operator atau Authorized Personyang ditunjuk oleh industri guna meningkatkan pemahaman mereka terhadap penentuan serta pengendalian F0 pada proses sterilisasi komersial di masing-masing industrinya. Tanggung jawab BSN dalam mengawal proses penilaian kesesuaian yang tepat mampu menguntungkan segala pihak baik industri maupun konsumen yang menikmati produk yang berkualitas serta aman dikonsumsi, ujar Heru Suseno selaku Direktur Penguatan Penerapan Standar dan Penilaian Kesesuaian, BSN.

Industri Pengalengan Ikan dibawah naungan APIKI baik yang berlokasi di sekitaran Banyuwangi, Jawa Timur, hingga wilayah Indonesia Timur lainnya seperti Bitung dan Sorong antusias mengirimkan personelnya untuk mengikuti kegiatan pelatihan tersebut yang digelar selama 3 (tiga) hari di Banyuwangi. Prof. Purwiyatno Hariyadi yang menjadi narasumber utama pada kegiatan tersebut, dalam paparannya menyampaikan 3 syarat pengalengan pangan sukses yaitu Perlakuan Pemanasan yang cukup melalui tercapainya sterilitas komersial, wadah/kaleng yang tertutup secara hermetis, dan penanganan kaleng dengan baik sebelum, selama dan setelah proses pemanasan. Proses sterilisasi yang benar mampu mencegah berkembangnya mikroorganisme khususnya Spora Clostridium Botulinum hal ini yang ditekankan narasumber sejak awal.




Kegiatan pelatihan diakhiri dengan kunjungan ke salah satu Industri Pengalengan Ikan, CV. Pacific Harvest (PH) yang terletak di daerah Muncar, Banyuwangi. Perusahaan ini 60% produknya di ekspor ke negara Eropa dan Timur Tengah, serta beberapa negara lainnya. Namun demikian sebagian bahan baku ikan masih diimpor dari negara lain dikarenakan ikan di dalam negeri belum mampu mencukupi kebutuhan produksi (AN/Dit. PPSPK).Ady Surya selaku ketua APIKI juga menyampaikan bahwa Industri Pengalengan Ikan sudah mampu mengembalikan kondisi perusahaan dan pasar pasca kasus ditemukannya cacing di dalam produk ikan kaleng yang beredar. Pelatihan ini diharapkan menguatkan posisi industri pengalengan ikan untuk siap sertifikasi SNI sehingga mampu bersaing di pasar domestik maupun luar negeri serta semakin meningkatkan kepercayaan konsumen dalam mengkonsumsi ikan kaleng.

http://www.bsn.go.id/main/berita/detail/10137/bsn-perkuat-industri-pengalengan-ikan-untuk-kesiapan-sertifikasi-sni#.XODZVFIzbZ4

 

Beverages: More Than Just Thirst-Quencher

 

03052019-Cover-edisi-5_2019

Beverages: More Than Just Thirst-Quencher

Secara tradisional, kita (konsumen) mengonsumsi minuman (air) karena alasan haus.  Sedemikian rupa sehingga produk minuman (termasuk air) sering dikembangkan dan diposisikan sebagai produk untuk pemuas dahaga atau penawar haus.  Dengan perkembangan ilmu pangan, gizi, dan kesehatan, pemahaman tentang fungsi air telah mengalami perubahan signifikan.  Perubahan ini juga menyebabkan konsep produk minuman menjadi berubah. Minuman tidak lagi berfungsi sebagai penawar haus belaka.  Beverages:More than just thirst-quencher.

Konsep ini berubah dan berkembang dengan kesadaran bahwa air (sebagai ingridien utama produk minuman) sebenarnya merupakan salah satu zat gizi penting, dengan berbagai fungsi metabolisme penting dalam tubuh. Selanjutnya, konsep produk minuman fungsional terus berkembang, khususnya karena produk minuman juga mengandung ingridien lain yang dapat memberikan berbagai manfaat kesehatan.

Meningkatnya kesadaran dan pemahaman konsumen tentang hubungan antara air, berbagai ingridien pangan serta kesehatan telah menjadi faktor utama yang mendukung inovasi produk minuman.  Inovasi di bidang ingridien merupakan salah satu daya pendorong dari berbagai inovasi dalam produk minuman.  Dengan berbagai inovasi yang terjadi, saat ini banyak ditawarkan berbagai jenis dan variasi produk minuman di pasaran.  Antara lain, produk minuman berbasis sayuran; dengan bahan baku seperti kacang-kacangan, kelapa, dan berbagai jenis sereal lainnya. Inovasi ingridien berbasis sayuran ini merupakan salah satu respons terhadap permintaan konsumen tentang kesehatan; khususnya terkait dengan kardiovaskular, pencegahan kanker, intoleransi laktosa, dan kesehatan tulang, dan lain-lain.

Edisi FOODREVIEW INODNESIA ini membahas sejumlah hal terkait inovasi pada produk minuman; termasuk pembahasan berbagai aspek regulasi, keamanan, sensori dan tren lain pada produk pangan.  Semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat dan menjadi referensi dalam meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

Masa Simpan dan Batas Kedaluwarsa Produk Pangan: Pendugaan, Pengelolaan, dan Penandaannya

 

Masa Simpan dan Batas Kedaluwarsa produkPangan: Pendugaan, Pengelolaan dan Penandaannya.  Oleh Purwiyatno Hariyadi

(https://ebooks.gramedia.com/books/masa-simpan-dan-batas-kedaluwarsa-produk-pangan-pendugaan-pengelolaan-dan-penandaannya)

Masa Simpan dan Batas Kedaluwarsa Produk Pangan: Pendugaan, Pengelolaan, dan Penandaannya by Purwiyatno Hariyadi Digital Book

 

undefined

undefined

undefined

undefined

undefined

Release Date: 09 April 2019.

Penetapan masa simpan dan tanda kedaluwarsa yang benar sungguh penting dilakukan karena informasi ini bersifat esensial bagi konsumen, khususnya untuk memberikan kepastian mengenai keamanan dan mutu pangan. Bahkan

di Indonesia, informasi mengenai batas kedaluwarsa diatur pada tingkat undang-undang (Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan). Penetapan masa simpan yang tidak benar sangat merugikan. Jika dugaan masa simpannya lebih pendek daripada yang seharusnya, produk akan dianggap kedaluwarsa, tidak boleh diedarkan, padahal sebetulnya masih baik dan dapat dikonsumsi. Kesalahan demikian jelas akan merugikan industri. Jika dugaan

masa simpannya lebih panjang daripada yang seharusnya, akan ada risiko konsumen menerima produk dengan keamanan dan mutu yang tidak sesuai. Dalam hal ini, kesalahan ini akan merugikan konsumen.

Penandaan batas kedaluwarsa juga merupakan hal penting yang perlu dilakukan dengan benar. Makna batas kedaluwarsa ini perlu diperjelas karena beberapa produk pangan sebenarnya dinyatakan telah melewati tanda batas kedaluwarsanya karena alasan mutu, termasuk mutu sensorinya. Ketidakjelasan mengenai arti batas kedaluwarsa ini telah menyebabkan terbuangnya produk pangan yang sesungguhnya masih layak konsumsi. Hal ini menyebabkan tingginya angka kemubaziran pangan (food waste).

Buku Masa Simpan dan Batas Kedaluwarsa Produk Pangan: Pendugaan, Pengelolaan, dan Penandaannya ini memberikan landasan bagaimana melakukan pendugaan dan pengelolaan masa simpan dengan benar sekaligus penandaannya. Dilengkapi dengan contoh dan beberapa informasi praktis, buku ini dianggap mencukupi bagi industri ataupun mahasiswa dan ahli teknologi pangan untuk melakukan evaluasi masa simpan produk pangan dengan baik.

 

 

Landasan Teknik Pangan_display-IPB RESS

https://ipbpress.com/product/353-landasan-teknik-pangan

 

https://www.gatra.com/detail/news/412852/economy/standard-ikan-kelapa-sawit-dan-cokelat-dibahas-60-negara-di-yogyakarta

 
Standard Ikan, Kelapa Sawit, dan Cokelat Dibahas 60 Negara di Yogyakarta
Gatra.com | 29 Apr 2019 17:10
(https://www.gatra.com/detail/news/412852/economy/standard-ikan-kelapa-sawit-dan-cokelat-dibahas-60-negara-di-yogyakarta)

Pertemuan CCCF ke-13 di Hotel Royal Ambarukmo, Yogyakarta pada Senin (29/4). (GATRA/Ridho Hidayat/FT
Sleman, Gatra.com – Beberapa komoditas Indonesia seperti ikan, kelapa sawit, hingga cokelat menjadi isu yang akan dibahas dalam pertemuan tahunan “The 13th Session Codex Committee on Contaminants in Foods (CCCF)” di Yogyakarta selama 3-4 hari mendatang.

Forum ini membahas standard keamanan pangan dan upaya pencegahan kontaminasi senyawa berbahaya, baik produk mentah, produk antara, maupun produk olahan yang akan dikonsumsi.

Pertemuan CCCF ke-13 yang dihadiri oleh lebih kurang 250 orang peserta dari sekitar 60 negara anggota Codex ini untuk memastikan perlindungan kesehatan konsumen, yang berhubungan dengan keamanan pangan. Pembahasan juga mengenai perdagangan internasional bidang pangan bisa berjalan secara adil.

“Pertemuan kali ini akan membahas secara khusus mengenai kontaminan. Batas maksimum kontaminan yang diperbolehkan berapa sehingga bisa melindungi kesehatan populasi dan juga tidak menghambat perdagangan internasional,” kata Purwiyatno Hariyadi, Vice-Chair Codex Alimentarius Commission (CAC), di sela pembukaan forum itu di Hotel Royal Ambarukmo, di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (29/4).

Menurutnya, standard yang berhubungan dengan ikan, kelapa sawit, dan cokelat merupakan isu yang penting dibahas dalam forum ini. Hasil pembahasan diharapkan tidak bersifat negatif bagi posisi Indonesia. “Itu misi utama. Jadi selama tiga-empat hari ke depan sangat penting untuk bernegosiasi,” katanya.

Sidang CCCF ke-13 merupakan kali kedua Badan POM menjadi co-host penyelenggaraan sidang Codex. Sebelumnya pada 2014, Badan POM sukses menjadi co-host Sidang Codex Committee on Nutrition and Foods for Special Dietary Uses (CCNFDSU) ke-36 di Bali.

Kepala Badan POM, Penny K. Lukito mengatakan, beberapa produk ekspor Indonesia pernah mendapat penolakan dari negara tujuan ekspor. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan batas kandungan senyawa tersebut. “Tentu menjadi tugas kita bersama agar forum ini menjadi sukses,” katanya.

Selain aspek kesehatan masyarakat, forum ini juga penting bagi perdagangan internasional semua negara termasuk Indonesia.

“Negara kita juga eksportir. Banyak sekali produk pangan yang besar. Di sini kami (Badan POM) juga akan mengawal berbagai regulasi terkait aspek keamanan, mutu, manfaat, dan khasiat,” ucapnya.

CAC merupakan organisasi internasional di bidang standardisasi pangan yang dibentuk Food and Agriculture Organization (FAO) dan World Health Organization (WHO) pada 1963 dengan 189 negara anggota.

Indonesia telah bergabung menjadi anggota CAC sejak 1971 dan berperan aktif dalam pembahasan rancangan standard internasional yang diterbitkan oleh Codex.

CAC menetapkan standard keamanan pangan melalui ketentuan higienis, bahan tambahan pangan, residu pestisida, dan obat hewan. Selain itu menentukan standard cemaran, pelabelan, metode analisis dan pengambilan sampel, serta prosedur inspeksi dan sertifikasi ekspor impor.

Reporter: Ridho Hidayat