phariyadi's blog

mencari dan memberi yang terbaik

 

QUALITY BAKERY

 

QUALITY BAKERY

01022017-Screen-Shot-2017-02-01-at-4.11.37-PM

 

Bread gains populartity in rice state
The Jakarta Post (June 8, 2016)

Produk bakeri, aneka roti, kue, biskuit dan lain-lain, semakin populer dan memiliki tingkat penerimaan yang tinggi oleh konsumen di berbagai wilayah Indonesia. Karena alasan itu, tepat sekali analisis Koran the Jakarta Post, 8 Juni 2016 lalu yang menyoroti laporan dari Rabobank yang melihat meningkatnya popularitas produk roti di negara yang secara tradisi mengonsumsi nasi. Laporan Rabobank tersebut juga menyatakan bahwa industri bakeri di Indonesia tumbuh pesat; dengan laju pertumbuhan volume produk bakeri mencapai 5,5% setara dengan peningkatan nilai 11,7%.

Pertumbuhan industri bakeri termasuk tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan kategori pangan lainnya. Hal ini juga terlihat dengan tumbuh dan berkembangnya industri bakeri baik dalam skala besar maupun kecil, termasuk munculnya aneka outlet dan ritel, berupa aneka toko roti dan warung kopi. Antara lain, pertumbuhan ini dipengaruhi oleh konsumen kelas menengah di Indonesia beserta perubahan gaya hidupnya. Konsumen selalu menuntut industri bakeri untuk bisa memberikan aneka pilihan produk serta memberikan jaminan keamanan dan mutu produk; termasuk pula produk bakeri.

Quality Bakery. Aspek mutu produk bakeri, baik mutu fisik, kimia/ gizi, dan mikrobiologis merupakan salah satu aspek yang harus serius diperhatikan oleh industri untuk memuaskan tuntutan konsumennya. Pembahasan aspek mutu inilah yang disajikan pada FOODREVIEW INDONESIA kali ini. Pembahasan quality bakery ini juga diharapkan dapat menjadi pemicu munculnya ide-ide baru, antara lain pengembangan aneka tepung lokal (non-terigu; tepung talas, tepung singkong, tepung garut, dan lain-lain) serta aneka ingridien lokal lainnya, misalnya aneka buah kering untuk lebih menumbuhkembangkan produk bakeri, khususnya bakeri berkualitas dan berciri lokal.

Selain itu, kami juga menyajikan aneka peraturan mutu dan keamanan pangan yang dikeluarkan oleh Badan POM RI yang tentunya erat terkait dengan mutu dan keamanan produk bakeri. Semoga ulasan yang kami sajikan dapat memberikan kontribusi untuk daya saing produk dan industri bakeri Indonesia.

 Purwiyatno Hariyadi

 

 

Innovation Challenges 2017

 
FRI VOL XII/01 2017
1-17-03012017-Screen-Shot-2017-01-03-at-8.38.11-AM

Innovation Challenges 2017

“In a world of plenty, no one, not a single person, should go hungry. But almost 1 billion still do not have enough to eat. I want to see an end to hunger everywhere within my lifetime.”
-Ban Ki-moon, United Nations Secretary-General

“Today we are seeing best practices in action. We know that, if scaled up with speed, these approaches could increase food production and improve livelihoods without damaging the environment. We need to create conditions for innovation and then invest so that innovation moves from the lab to the farmer’s fields.”
-Rachel Kyte, Vice President of the World Bank

“We need to strengthen research for efficiently produced, healthy food, while ensuring the availability of food at affordable prices. This includes improving logistics, infrastructure, and transportation systems to ensure those who need food are supplied with it.”
-Paul Bulcke, CEO of Nestle

Tantangan pangan untuk tahun 2017 dan tahun-tahun berikut akan semakin berat, terutama dikaitkan dengan tiga hal, yaitu (i) semakin meingkatnya jumlah penduduk, (ii) semakin menurunnya luas lahan untuk produksi pangan, dan (iii) semakin menurunnya kualitas lingkungan.
Dalam konteks global, untuk dapat menyediakan pangan bagi 9 miliar penduduk dunia pada tahun 2050, dunia harus mampu berinovasi untuk mendobel jumlah produksi panganya. Kutipan di atas, dari Ban Ki-moon, Rachel Kyte, dan Paul Bulcke kiranya dapat memberikan gambaran mengenai tantangan pangan masa depan yang perlu dijawab dengan mengembangkan kemampuan inovasi. Tantangan yang tidak mudah.
Sebagaimana pepatah “a journey of a thousand miles begins with a single step”, tantangan 2050 tersebut harus mulai dijawab sejak sekarang 2017, dengan semangat innovasi sebagai langkah pertama; Innovation Challenges 2017.
Dalam konetsks Indonesia, mandat UU Pangan No. 18, tahun 2012 kepada pemerintah untuk menuju ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan pangan juga hanya bisa dijawab dengan inovasi. Mengingat anatomi industri Indonesia yang didominasi oleh usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), maka perlu ada dorongan dan insentif khusus buat kelompok UMKM pangan ini untuk menyuburkan inovasi. Antara lain adalah dengan dikembangkannya skema nurturing, insentif, dan perlindungan-khususnya perlindungan kekayaan tradisi pangan lokal yang tersebar luas di Indonesia.
Akhirnya, semoga informasi yang kami berikan dapat bermanfaat untuk industri pangan. Selamat Tahun Baru 2017.

Selamat membaca,

Prof. Purwiyatno Hariyadi

 

Inovasi Produk Susu untuk Pembangunan Gizi

 
FRI VOL X1/06 2016
 6-01062016-Screen-Shot-2016-06-01-at-9.45.13-AM
Inovasi Produk Susu untuk Pembangunan Gizi

Susu berpotensi untuk berperan penting dalam struktur diet untuk menunjang kesehatan dan kebugaran. Banyak program perbaikan gizi yang menggunakan susu sebagai salah satu komponennya.

Tanggapan industri susu untuk menangkap peluang ini sungguh beragam. Salah satunya, secara inovatif melakukan pengembangan produk berbasis susu. Secara umum, bisa inovasi ini melahirkan 3 kelompok produk; yaitu (i) produk susu dasar (PSD; basic dairy products), (ii) produk susu dengan nilai tambah (PSNT; added-value dairy products), dan (iii) produk susu fungsional (PSF; functional dairy products).

PSD biasanya berupa susu & minuman susu, keju, es krim, frozen desserts & novelties, yogurt & produk susu fermentasi lainnya. PSNT pada dasarnya adalah PSD dengan perubahan komposisi sehingga memberikan nilai tambah bagi konsumennya. Contoh PSNT adalah produk susu rendah/bebas laktosa, produk susu hypoallergenic (dengan protein terhidrolisis), produk susu kaya kalsium, kaya vitamin, dan lain-lain. Sedangkan PSF adalah pengembangan produk PSD dan/ atau PSNT dengan menambahkan ingridien khusus dengan manfaat fungsional yang telah teruji. Contoh PSF adalah produk susu diperkaya dengan probiotik dan/atau prebiotik, kaya serat pangan, dan lain-lain.

Berbagai inovasi ini menambah variasi produk yang sekaligus meningkatkan peranan susu dan produk susu membentuk struktur diet untuk menunjang kesehatan dan kebugaran populasi.

Konsumen dihadapkan pada aneka pilihan produk susu; yang sering disertai dengan aneka klaim atas manfaat yang bisa diperoleh jika mengonsumsi produk tersebut. Disinilah peranan dan tanggung jawab industri diperlukan. Klaim harus sesuai dengan regulasi yang berlaku dan itu haruslah berdasarkan pada kaidah ilmiah yang baik. Dengan klaim yang tepat, disertai dengan edukasi dan promosi yang tepat pula, maka bukan tidak mungkin jika konsumsi susu yang semakin bervariasi, akan meningkatkan peranan susu dan produk susu membentuk struktur diet untuk menunjang kesehatan dan kebugaran populasi.

Semoga, bulan Juni, bulan susu, dimana kita memperingati Hari Susu Nusantara, bisa dijadikan sebagai momentum untuk menjalin kerja sama berbagai pihak dalam meningkatkan peranan susu dan produk susu nasional untuk pembangunan gizi nasional.

Semoga informasi yang diberikan dapat bermanfaat bagi para Pembaca sekalian.

Selamat menikmati,
Prof. Purwiyatno Hariyadi

 

Masa Depan Cerah Pangan Fungsional

 
FRI VOL X1/05 2016
edisi 5.indd

Masa Depan Cerah Pangan Fungsional

Untuk menjadi sehat, seseorang perlu asupan pangan; khususnya pangan yang aman dan bergizi. Hubungan antara pangan dan kesehatan telah lama disadari oleh banyak pihak. Hippocrates (460 BC – 370 BC), misalnya, lebih dari 2000 tahun yang lalu, dengan tajam mengidentifikasi hubungan antara pangan dan kesehatan dengan pernyataan yang sangat populer; “let food be thy medicine and medicine be thy food.” Dari waktu ke waktu, semakin banyak bukti-bukti ditemukan betapa pentingnya pangan terhadap kesehatan manusia. Penemuan vitamin -suatu zat penting bagi kesehatan walaupun jumlahnya sangat kecil- semakin menekankan pentingnya hubungan antara pangan dan kesehatan ini.

Konsep ini terus berkembang, dengan ditemukannya berbagai senyawa aktif bersifat non gizi pada bahan pangan, yang ternyata diketahui mempunyai peran penting bagi kesehatan manusia. Sebagai contoh Negara Jepang yang merupakan pioneer dalam mengembangkan peranan pangan untuk membangun status kesehatan populasinya; dengan meluncurkan kategori pangan khusus, yaitu FOSHU (Foods for Specified Health Uses) pada tahun 1991.

Sejak itulah maka secara global berkembang industri pangan fungsional. Sampai saat ini industri pangan fungsional masih terus berkembang, sejalan dengan meningkatnya kesadaran konsumen atas peranan pangan (fungsional) dan kesehatan.

Pertanyaannya adalah bagaimana masa depan pangan fungsional ini? Jawabannya, industri pangan fungsional mempunyai masa depan yang cerah.

Sebagai ilustrasi, Future Market Insights (http://www.reuters.com/ article/future-market-insights-idUSnBw175946a+100+BSW20150217) melaporkan bahwa nilai pasar pangan fungsional di negara Teluk Arab (Gulf Cooperation Council, GCC) saja, pada tahun 2014 mencapai 4.8 milyar USD, dan diharapkan tumbuh mencapai 9.07 milyar USD pada tahun 2020. Pertumbuhan ini jelas memerlukan ingridien fungsional. Menurut Marketsandmarkets (http://www.marketsandmarkets.com/ Market-Reports/functional-food-ingredients-market-9242020.html), pasar global ingridien pangan fungsional diproyeksikan mencapai sekitar 2,5 milyar USD pada tahun 2020, tumbuh sekitar 6 persen dari 2015-2020.

FOODREVIEW INDONESIA edisi ini mengulas beberapa informasi dan tren perkembangan pangan fungsional ini.

Selamat menikmati,
Prof. Purwiyatno Hariyadi

 

Menjawab Tantangan Keamanan Pangan

 
4-01042016-Screen-Shot-2016-04-01-at-10.22.14-AM
Menjawab Tantangan Keamanan Pangan
Keamanan pangan adalah prasyarat dasar produk pangan. Karena itu, isu keamanan pangan selalu menjadi faktor penting pada perdagangan pangan, apalagi pada skala global.Persyaratan keamanan di berbagai Negara menjadi semakin ketat, sehingga sering menjadi hambatan bagi perdagangan internasional. Bagi Negara maju, dengan kemampuan teknologi lebih tinggi, tentu menerapkan standar yang tinggi –seperti pada penetapan batas cemaran yang semakin kecil, semakin mendekati angka nol, chasing zero- bukanlah masalah yang terlalu pelik. Namun sebaliknya bagi Negara berkembang yang menjadi mitra dagangnya, fenomena chasing zero ini dapat menjadi tantangan yang berat. Selain terkendala oleh good practices, ketersediaan metode analisis juga menjadi masalah tersendiri yang perlu dijawab. Jika tidak bisa memenuhinya, maka bisa dipastikan penolakan akan terjadi, yang ujungujungnya dapat menurunkan nilai ekspor dan mempengaruhi ekonomi suatu Negara.

Di lain pihak, dengan semakin terbuka dan terintegrasikannya pasar global; berbagai perjanjian perdagangan bebas mendorong produk pangan semakin mudah keluar masuk suatu batas Negara. Kondisi ini tentu mendorong setiap Negara (dan setiap industri pangan yang melakukan perdagangan antar Negara) untuk tidak saja melakukan review; tetapi juga melakukan upaya harmonisasi atau saling pengakuan terhadap berbagai standar keamanan pangan yang bisa berbeda untuk berbagai negara. Tantangan lain lagi bagi industri adalah adanya kenyataan bahwa tingkat kepedulian konsumen terhadap keamanan pangan juga semakin meningkat dari waktu ke waktu, dan berbeda dari Negara satu ke Negara lain.

Tantangan ini juga berlaku bagi industri pangan Indonesia. Tantangan ini menjadi semakin nyata dengan mulai berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Untuk memenangkan persaingan, termasuk persaingan dalam pasar domestik, industri pangan Indonesia dan stakeholdernya harus mampu menjawab tantangan keamanan ini. Jawabannya bisa berupa perbaikan sarana dan prasarana keamanan pangan, perbaikan fasilitas produksi pangan, perbaikan sistem manajemen keamanan (bahkan pertahanan) pangan, pengembangan sumber daya manusia dan lain-lain yang perlu dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan. Jelas semua stakeholder perlu menyadari tantangan ini dengan baik, sehingga bisa memberikan jawaban yang tepat pula. Hanya dengan ini maka prasyarat untuk peningkatkan daya saing industri pangan nasional, termasuk usaha kecil dan menengah, bisa dipenuhi.

Semoga informasi pada FOODREVIWEW INDONESIA edisi ini bisa memberikan manfaat bagi peningkatan daya saing industri pangan Indonesia.

Selamat membaca,
Prof. Purwiyatno Hariyadi

 

Machinery for More Competitive Food Industry

 
FRI VOL X1/02 2016
2-01022016-Screen-Shot-2016-02-01-at-9.13.07-AM
Machinery for More Competitive Food Industry

Persaingan industri pangan akan semakin ketat dengan datangnya MEA. Tidak bisa dipungkiri bahwa pengembangan mesin dan peralatan pengolahan pangan untuk industri sangat diperlukan untuk peningkatan daya saing industri pangan nasional kita. Mesin/peralatan pengolahan pangan tidak hanya akan berkontribusi pada peningkatan produktivitas; tetapi juga dalam upaya pemastian mutu dan keamanan produk pangan yang dihasilkan.

Mesin/peralatan pengolahan pangan akan sangat membantu industri untuk memproduksi pangan dengan lebih “seragam” dalam jumlah yang besar dalam waktu yang lebih singkat. Mesin/peralatan pengolahan pangan biasanya didesain untuk melakukan fungsi pengolahan tertentu, berulang-ulang, secara lebih persis dan konsisten. Karena itulah maka, perhatian utama dalam desainnya, umumnya lebih menitikberatkan pada bagaimana mesin/peralatan bisa melakukan fungsi tersebut dengan efektif dan efisien. Sebagai akibatnya, sering mesin/peralatan yang dihasilkan menjadi lebih sulit untuk dibersihkan. Atau bahkan, tidak jarang mesin/peralatan tersebut mempunyai bagian-bagian yang tidak mungkin dibersihkan. Dengan semakin ketatnya peraturan dan persyaratan keamanan dan mutu pangan, maka semakin tinggi pula tuntutan teknologi –termasuk mesin/peralatan pengolahan pangan- yang memungkinkan industri pangan menghasilkan produk yang aman, bergizi, bermutu secara lebih efesien.

Kondisi industri mesin/peralatan pengolahan pangan di Indonesia masih belum berkembang. Industri mesin/peralatan pengolahan pangan perlu mendapatkan perhatian dan dorongan serius semua pihak; supaya bisa lebih berkembang. Posisi Indonesia sebagai pasar besar; hendaknya tidak menjadikan Indonesia lupa pada potensinya. Mesin/peralatan pengolahan pangan yang saat ini masih didominasi oleh produk impor, hendaknya menjadi pemicu semua pihak untuk bergeliat “bangkit”.

FOODREVIEW INDONESIA berharap, industri mesin/peralatan pengolahan pangan di Indonesia bisa lebih berkembang; mendukung perkembangan industri pangan untuk memproduksi pangan yang aman, bergizi, bermutu secara lebih berdaya saing. Machinery for more competitive food industry.

Selamat membaca,
Prof. Purwiyatno Hariyadi

 

2016: Fresh Exotic Flavors of Indonesia

 
FRI VOL X1/01 2016
1-16-31122015-Screen-Shot-2015-12-31-at-10.05.10-AM2016: Fresh Exotic Flavors of Indonesia

Pergantian tahun, kembalinya bulan Januari adalah kembalinya kesempatan, untuk menata segala sesuatu menjadi lebih baik.

Untuk industri dan insan pangan Indonesia, 2016 adalah tanda dimulainya secara resmi ASEAN sebagai satu kesatuan ekonomi , Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Tantangan akan menjadi menjadi semakin berat, persaingan akan semakin ketat, sehingga persiapan pun perlu dilakukan dengan semakin tepat. Namun demikian, MEA juga menghadirkan kesempatan. Kesempatan industri pangan untuk memenuhi kebutuhan dan menjawab tuntutan konsumen, konsumen ASEAN.

Kebutuhan pokok konsumen yang paling utama adalah kebutuhan pangan. Untuk itu, industri pangan perlu memahami dengan baik kebutuhan konsumennya, yang umumnya menjadi lebih “demanding”. Konsumen tidak hanya menuntut jumlah yang cukup, harga yang lebih murah, tetapi juga harus aman, bergizi, dan bermutu, seperti mempunyai cita rasa enak dan nikmat. Pemahaman dan penilaian mengenai mutu ini jelas beragam antar konsumen tiap negara ASEAN. Karena, industri perlu menerjemahkan secara tepat pemahaman dan penilaian dalam rangkaian kegiatan industri pangan; mulai dari pengembangan sampai ke pemasaran produknya.

Jelas hal ini bukan tantangan ringan. Salah satu faktor penting dalam hal ini flavor pangan. Peranan ahli dan industri flavor sangat penting untuk mendukung formulasi dan pengembangan produk pangan sesuai dengan karakeristik konsumennya.

Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam, memiliki potensi flavor nusantara. FOODREVIEW INDONESIA berkeyakinan bahwa flavor khas Indonesia bisa menjadi nilai unggul dan unik yang perlu digali dan dikembangkan untuk konsumen Indonesia; atau bahkan konsumen MEA. Industri pangan dan industri flavor Indonesia perlu bersinergi; menggunakan momentum tahun baru, era baru MEA, untuk mengembangkan pangan dan flavor khas Indonesia.

Selamat tahun baru. Tantangan baru dan kesempatan baru. 2016: Fresh Exotic Flavors of Indonesia.

Selamat membaca,
Prof. Purwiyatno Hariyadi

 

SEAFAST CENTER LPPM IPB Gelar Workhop Bioteknologi Pertanian

 
SEAFAST CENTER LPPM IPB Gelar Workhop Bioteknologi Pertanian
Rabu, 11 Juni 2014

image of news

Southeast Asian Food andAgricultural Science and Technology (SEAFAST Center), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB) bersama Foreign Agricultural Services (FAS)-United States Departemen of Agriculture (USDA), Michigan State University (MSU), dan The International Service for the Acquisition of Agri-biotech Applications (ISAAA) menyelenggarakan kegiatan yang bertajuk  “Agricultural Biotechnology Workshop”(9/6). Workshop ini digelar secara komprehensif selama lima hari di Anggrek Meeting Room Hotel Neo+ Green Savana, Sentul City.

Pengembangan dan aplikasi bioteknologi pertanian merupakan salah satu alternatif metode untuk mengatasi permasalahan bangsa dimana jumlah dan laju pertumbuhan penduduk semakin meningkat, namun hal ini belum bisa diimbangi peningkatan produksi pangan karena berbagai masalah seperti penyempitan lahan pertanian, kekeringan berkepanjangan, serangan hama, dan penyakit tanaman sehingga mempengaruhi produksi pangan. Pengembangan bioteknologi pertanian di Indonesia masih menimbulkan pro dan kontra, sehingga bisa dikatakan aplikasinya di bidang pertanian belum berkembang sepenuhnya.Direktur SEAFAST Center, Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc menyatakan, “Tujuan utama penyelenggaraan kegiatan ini adalah untuk memberikan informasi yang komprehesif dan tepat mengenai potensi dari bioteknologi pertanian dan pangan secara umum. Disamping ada potensi, ada juga resikonya. Dalam workshop ini akan lebih banyak mengemukakan contoh kasus di berbagai negara mengenai aplikasi bioteknologi pertanian”. Hal ini menjadi penting ka
rena banyak informasi yang sifatnya keliru, tidak tepat atau bahkan menyesatkan beredar di masyarakat tentang bioteknologi pertanian.
Hal tersebut diamini oleh Ali Abdi. Konselor Pertanian FAS USDA ini menyatakan bahwa workshop ini merupakan sarana untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam pengembangan aplikasi bioteknologi pertanian dan dilakukan dua arah antara para pembicara yang berasal dari berbagai negara seperti India, Vietnam, Filipina, dan Amerika dengan para partisipan.  Dalam workshop ini akan disampaikan bahwa bioteknologi pertanian adalah salah satu alat atau teknik yang aplikasinya sangat luas, tetapi akan difokuskan pada bioteknologi pertanian dan kami ingin informasi tersebut didiskusikan secara akurat sehingga tidak menyesatkan. “Dalam kegiatan ini juga dibahas bagaimana peranan masing-masing stakeholdersdalam aplikasi tersebut seperti akademisi, pemerintah, industri, dan konsumen yang perlu ditingkatkan sehingga menjadi lebih baik”, tambah Ali Abdi. Workshop ini mengundang 16 ahli bidang bioteknologi pertanian dan bidang lain yang terkait. Diantara 16 pembicara internasional tersebut, terdapat pembicara yang akan berbagi mengenai eksperimen dari para petani yang menggunakan bioteknologi di China, India, dan Filipina. Workshop ini juga mengundang para peserta yang terkait dengan bioteknologi pertanian seperti dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pertanian, Dinas dari berbagai wilayah, akademisi, para praktisi industri pertanian, dan stakeholders lainnya.
Ali Abdi menyatakan bahwa yang juga sangat penting kegiatan ini bisa mendorong terjadi keterkaitan antar institusi yang ada disini. Ini merupakan salah satu misi FAS-USDA yakni menjembatani institusi agar terjadi hubungan antara institusi di Indonesia dan Amerika sehingga terjadi pertukaran. “Dengan diadakannya kegiatan ini diharapkan mampu memberikan pemahaman bioteknologi pertanian secara meyeluruh, termasuk aspek keamanannya. Selain itu, kegiatan ini diharapkan meningkatkan kerjasama antara IPB, FAS – USDA, MSU, dan ISAAA dalam penelitian dan pengembangan terkait bioteknologi pertanian” tutup Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc.
(RF)
http://news.ipb.ac.id/news/id/79c8e2387722c4c567f2a3301a2e0ff7/seafast-center-lppm-ipb-gelar-workhop-bioteknologi-pertanian.html
 

Current trends from Food Ingredients Asia 2013

 

Current trends from Food Ingredients Asia 2013

Food exhibition may be viewed as a window of the coming future for the industry. This is also true for Food Ingredients Asia 2013 (Fi Asia 2013) which has been successfully organized in Bangkok International Trade & Exhibition Centre (BITEC), Bangkok, Thailand, 11 – 13 September 2013. The theme of the Fi Asia 2013 was “Meeting the global challenges on development of functional food ingredients”.

The enthusiasm of the stakeholders indicated that Asia, especially South East Asia is the real future area of growth for the food and food ingredients industry.

……………more………………FRI International edisi 2_Current Trends from Food Ingredients Asia 2013

Food Ingredient Asia 2014
As mentioned at the beginning of this analysis, well designed and well prepared food exhibition can be used as a window to see the future of the food industry. Food Ingredient Asia 2013 was successful in realizing its theme of “Meeting the global challenges on development of functional food ingredients.” To surpass its Bangkok’s success of 2013, UBM – supported by Indonesian Association of Food technologists and SEAFAST center, Bogor Agricultural University, Bogor, in the year of 2014 will organized better and bigger Food Ingredients Asia 2014 in Jakarta, Indonesia. Food Ingredients Asia Indonesia offers one of the best and the most comprehensive platforms for the food industry to get together and explore the possible areas of developments in future.

This event, Food Ingredients (FI) Asia (Indonesia) 2014, will take place in Jakarta International Expo (JIE), Jakarta, Indonesia, 24-26 September 2014. 

Free Magazine http://www.foodreview-intl.com

 

Nasi Tidak Penuhi Gizi

 

Post on 24/10/2013

 

Apakah Anda salah satu orang yang dibesarkan oleh pendapat bahwa makan apa pun harus dengan nasi sehingga menu makan siang adalah nasi, bihun goreng, bakwan jagung, dan kerupuk? Akibat “dogma” yang berkembang dan mengakar di Indonesia itu, orang lupa fungsi utama makan adalah untuk memenuhi gizi.
“Gizi tidak identik dengan nasi. Makanan harus mengandung gizi lengkap seperti protein, karbohidrat, lemak, air, dan komponen minor lainnya. Tidak ada satu jenis makanan apa pun yang bisa memenuhi zat gizi manusia kecuali ASI selama 6 bulan,” tutur Purwiyatno Hariyadi dari Fakultas Teknologi Pertanian IPB yang diungkapkan pada acara bertajuk “Ragam Pangan dan Makanan Olahan indonesia, Untuk Siapa?” Yang diselenggarakan Kehati pada November lalu. Purwiyatno memberikan strategi, bahwa agar gizi keseharian bisa dipenuhi dengan baik, maka menu makanan haruslah beragam. Jadi, apa menu makan siang anda hari ini?
(text: Ayu Putri Dewanti; editor: Randita Indrayarto; image: Dok. Esquire)