phariyadi's blog

mencari dan memberi yang terbaik

 

http://www.foodreview.co.id/COVID-19%20DAN%20KEAMANAN%20PANGAN.pdf

 

Hariyadi, P dan Dewanti-Hariyadi, R. 2020. COVID-19 dan Keamanan Pangan – Sepuluh Pelajaran untuk Industri Pangan.  FOODREVIEW Indonesia.  VOL. XV, NO. 5, Mei 2020.  Hal  21 – 27

 

WEBINAR FOOD SECURITY POLICY MEASURES DURING COVID-19 PANDEMIC

 

WEBINAR FOOD SECURITY POLICY MEASURES DURING COVID-19 PANDEMIC

Pada Hari Sabtu Tanggal 16 Mei 2020, telah dilaksanakan Webinar ICSDH dengan tema “Food Security Policy Measures During Covid-19 Pandemic”.

Pembicara dalam webinar tersebut, Prof. Visith Chavasit (Institute of Nutrition, Mahidol University), Prof. Purwiyatno Hariyadi (Vice-Chair of Codex Alimentarius Commission, IPB University), Dr. Drajat Martianto (IPB University) dan moderator Mouhamad Bigwanto, S.K.M., MPHM (Lecturer, FIKES UHAMKA Head of PUSKAKES UHAMKA).

Materi yang disampaikan oleh masing-masing pembicara, Prof. Visith Chavasit (Institute of Nutrition, Mahidol University) “Covid-19 Pandemic Impact on Food Security”, Prof. Purwiyatno Hariyadi (Vice-Chair of Codex Alimentarius Commission, IPB University) “Food Security Policy Measures Globally During Covid-19”, Dr. Drajat Martianto (IPB University) “Covid-19 Impact on Food Security in Indonesia”.

Peserta yang hadir sekitar 250 peserta via Zoom dan 240 peserta via YouTube.  Selain itu juga, peserta yang hadir juga tidak hanya dari institusi di Jakarta saja. Tetapi ada yang berasal dari Thailand, Universitas Negeri Medan, Universitas Nahdhatul Ulama NTB, Politeknik Sambas Kalbar, Puskesmas Kukutio (Sulawesi Tenggara), Universitas Hasanuddin (Makasar), Universitas Halu Leo (Sulawesi Selatan), Politeknik Kesehatan Kemenkes Jayapura (Poltekkes Kemenkes Jayapura)

Webinar ini bertujuan untuk mengetahui langkah-langkah kebijakan tentang ketahanan pangan selama pandemic covid-19. Semoga dengan webinar ini dapat memberikan manfaat kepada masyarakat luas untuk dapat melakukan rencana-rencana ketahanan pangan terutama dalam keluarga selama pandemic covid-19.

Sebenarnya, banyak peserta yang ketika berlansung inging gabung via zoom, namun karena terbatas hanya bisa via youtube. Meskipun acara ini sudah selesai, bagi yang ingin menyimak ulang bisa disimak di alamat Youtube berikut.

Webinar : “Food Security Policy Measures During COVID-19 Pandemic”

Siapapun harus siap menghadapi kemungkinan terburuk dari covid-19 ini. Dan food security adalah salah satu solusi yang harus dipertimbangkan saat kemungkinan terburuk itu terjadi.

 

Webinar Codex Indonesia: Jaminan Standar Mutu dan Keamanan Pangan selama Pandemi Covid-19

 

Webinar Codex Indonesia: Jaminan Standar Mutu dan Keamanan Pangan selama Pandemi Covid-19

  • Kamis, 30 April 2020
  • Humas BSN
  • https://bsn.go.id/main/berita/detail/11061/webinar-codex-indonesia-jaminan-standar-mutu-dan-keamanan-pangan-selama-pandemi-covid-19

Isu-isu mengenai kesehatan sebagai akibat dari pandemi Covid-19 telah menjadi perhatian banyak pihak untuk melakukan berbagai usaha dalam meminimalkan hingga menghilangkan dampak negatif yang timbul. Di sisi lain pangan juga menjadi persoalan utama sehingga banyak negara berlomba mengamankan ketahanan pangan agar mampu menghadapi masa krisis yang diperkirakan masih akan terjadi dalam jangka panjang.

Untuk mencegah semakin meluasnya penyebaran Covid-19, sejumlah negara menerapkan karantina beberapa wilayah bahkan lockdown. Opsi tersebut mengharuskan ketersediaan pangan dalam jumlah besar di setiap negara, yang ujungnya dapat mengganggu pasokan pangan global. Selain ketersedian pasokan pangan yang cukup, proses produksi pangan yang baik atau Good Manufacturing Practice(GMP) perlu diperhatikan sebagai jaminan standar mutu dan keamanan pangan. Dalam rangka mengelaborasikan segala informasi berkaitan dengan pangan selama pandemic Covid-19, Badan Standardisasi Nasional (BSN) mengadakan Web Seminar (Webinar) Codex Indonesia pada Kamis (30/4/2020) yang menghadirkan Vice-Chairperson of the Codex Alimentarius Commission, Purwiyatno Hariyadi dan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman sebagai narasumber.

Purwiyatno Hariyadi menyampaikan bahwa Covid-19 yang diindikasikan sebagai sesuatu yang baru berkaitan dengan virus yang menyerang sistem pernapasan manusia menjadikannya sebagai suatu hazard yang berpengaruh terhadap keamanan pangan. Untuk itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia menyusun pedoman produksi dan distribusi pangan olahan pada masa status darurat kesehatan corona virus disease 2019 (Covid-19) di Indonesia. Sambung Purwiyatno Hariyadi.

Selain kesehatan pangan, kecukupan pasokan bahan pangan selama pandemi Covid-19 perlu menjadi perhatian yang mengacu pada lembaga pangan otoritatif. “Perlu langkah-langkah tambahan atau additional measure untuk menjaga pasokan bahan pangan yang mengacu pada lembaga pangan otoritatif yang menghimbau para pelaku usaha bidang pangan agar tidak hanya fokus pada bahan pangan saja tetapi juga fokus kepada orang yang memproduksi atau mengolah bahan pangan yang mana mempengaruhi keamanan juga untuk menjaga pasokan pangan,” jelas Purwiyatno.

Purwiyatno menambahkan bahwa Covid-19 bukanlah penyakit bawaaan makanan, karena pangan bukan materi perantaranya, sehingga dari sisi science tidak ada perubahan standar keamanan pangan terkait kejadian pandemi Covid-19, atau saat ini beresiko kecil bahwa pangan sebagai perantara virus Covid-19.

Walau tidak berhubungan langsung dengan keamanan pangan, tetapi kita harus berfokus pada standar praktik-nya atau code of practice. Ini disebabkan karena orang yang memproduksi makanan tersebut harus aman dan selamat. Covid-19 berpotensi mengganggu berkurangya jumlah pekerja yang mengakibatkan terhambatnya mobilitas orang dan barang atau logistik.

Dapat diambil kesimpulan, standar tidak berubah namun standar keamanan pangan benar-benar harus diaplikasikan, terutama pangan yang masuk kategori Code of Practice General Principles of Food Hygiene dan Good Manufacturing Practice. “Jangan sampai virus masuk ke fasilitas produksi pangan sehingga protokol kesehatan perlu dilaksanakan secara konsisten,” tutup Purwiyatno Hariyadi.

Sementara itu, dari kaca mata bisnis, pandemi Covid-19 memberikan pengaruh pada pola bisnis dan upaya produsen untuk mendukung ketersediaan pangan yang bermutu dan aman. Ketua Umum GAPMMI, Adhi S. Lukman menyampaikan bahwa selama pandemi yang berlangsung sejauh ini pemerintah pusat telah mengeluarkan kebijakan untuk menjaga daya beli masyarakat, industri pangan kesehatan, obat, dan lain-lain tetap beroperasi untuk menjaga ketersediaan, pengawasan dan penerapan physical distancing secara ketat oleh industri. Di lingkup pemerintah daerah memiliki kebijakan untuk pembatasan aktivitas, industri diminta berhenti di beberapa daerah, wajib rapid testkepada seluruh karyawan bagi industri yang beroperasi. Adapun, beberapa peraturan yang ditetapkan pemerintah diantaranya adalah Keppres 12/2020 : Penetapan bencana non-alam penyebaran corona virus disease 2019 (COVID -19) sebagai bencana nasional (13 April 2O2O); SE Menperin 7/2020 : Pedoman Pengajuan Permohonan Perizinan Pelaksanaan Kegiatan Industri dalam masa Kedaruratan Kesehatan Masyarakat COVID-19 (9 April 2020); SE Menperin 4/2020 : Pelaksanaan Operasional Pabrik dalam Masa Kedaruratan Kesehatan Masyarakat COVID-19 (7 April 2020); Surat Mendag 317/M-DAG/SD/04/2020 : Menjaga Ketersediaan dan Kelancaran Pasokan Barang Bagi Masyarakat (3 April 2020); dan lain-lain.

Menurut data yang disajikan dalam presentasi hasil survei menunjukkan bahwa sebesar 71,4% responden dari industri makanan dan minuman menyatakan adanya penurunan penjualan dengan perkiraan 20% sampai 40% sepanjang wabah terjadi. Sehingga sebanyak 64% responden berencana mengurangi kapasitas produksi makanan dan minuman . Adapun produk air minum dalam kemasan atau AMDK yang memiliki imbas penurunan penjualan paling besar yang terdiri dari air gallon mengalami penurunan penjualan sebanyak 20%, air minum dalam kemasan ukuran 600 ml mengalami penurunan sebanyak 37,70%, air minum dalam kemasan ukuran 220 ml mengalami penurunan sebanyak 42,20%, dan lain sebagainya. Diprediksi sektor yang akan cepat pulih adalah yang terkait kebutuhan pangan pokok, kebutuhan gizi anak seperti susu dan sereal, juga pangan untuk kelas menengah ke atas

Untuk itu perubahan pola hidup setelah Covid-19 akibat ketakutan pandemi yang diprediksi akan berlangsung lama adalah banyak orang akan memasak di rumah dengan mengonsumsi bahan pangan yang sehat. Hal ini dapat menimbulkan perhatian terhadap food safety atau keamanan pangan baik di kalangan produsen maupun konsumen. Sehingga diharapkan BSN dapat mengeluarkan kebijakan pangan yang utuh dari hulu ke hilir, “Pangan harus aman agar dapat dijual dengan baik,” tegas Adhi S. Lukman.

Webinar yang dibuka oleh Direktur Pengembangan Standar Agro, Kimia, Kesehatan, dan Halal BSN, Wahyu Purbowasito dan dimoderatori oleh Kepala Subdirektorat Pengembangan Standar Pertanian dan Halal BSN, Singgih Harjanto ini berjalan secara interaktif dan diakhiri dengan tanya-jawab oleh peserta dan narasumber. Tercatat 500 peserta mengikuti secara langsung melalui Zoom Webinar dan siaran langsungnya melalui Facebook dilihat sebanyak 331 kali sedang melalui YouTube telah dilihat sebanyak 987 kali pada saat berita ini ditulis.

(PjA – Humas)

 

CONFECTIONERY STORY

 

http://www.foodreview.co.id/

CONFECTIONERY STORY

All you need is love. But a little chocolate now and then doesn’t hurt. Charles M. Schulz (Cartoonist, 1922-2000).

Dessert is probably the most important stage of the meal, since it will be the last thing your guests remember before they pass out all over the table. William Powell (Actoes, 1892-1984)

Indonesia memang kaya aneka ragam jenis pangan. Jenis pangan dan kebiasaan makan suatu masyarakat memang dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain dipengaruhi oleh faktor ekonomi, sosial dan budaya, pendidikan, kesehatan, pengalaman dan lain-lain. Karena itu, pangan mempunyai banyak arti dan nilai. Pangan bisa berarti budaya, bisa juga berarti identitas. Di suatu masyarakat tertentu, selalu ada tradisi dan budaya yang bercerita tentang produk pangan, kebiasaan makan, khasiat dan tentu saja komposisi nilai gizinya.

Demikian pula dengan produk konfeksioneri. Contoh produk konfeksioneri ini adalah produk-produk permen (kembang gula) dan cokelat. Kekayaan Indonesia juga luar biasa. Sebut saja ampyang (kembang gula khas Jawa, terbuat dari kacang tanah dan gula jawa), gulali, dan dodol. Dodol, misalnya, mempunyai nama yang berbeda di daerah yang berbeda, seperti wajit, jenang, lempok, dan gelinak, yang menunjukkan adanya tradisi, khususnya tradisi pengolahan pangan berdasarkan bahan baku yang sesuai dengan sumber daya khas daerahnya.

Produk konfeksioneri ini biasanya dikonsumsi sebagai hadiah, sebagai hiburan, sebagai “sesuatu yang istimewa” karena produk ini memberikan kenikmatan yang tinggi. Juga sebagai oleh-oleh yang berharga. Nikmat? Ya, karena produk konfeksioneri adalah kelompok produk pangan yang umumnya memiliki kandungan gula dan/atau lemak yang tinggi. Terlepas dari nasihat dan saran gizi dari berbagai lembaga berwenang, untuk mengurangi konsumsi gula dan lemak, produk konfeksioneri tetap mempunyai tempat yang spesial dalam budaya makan berbagai bangsa. Termasuk di Indonesia.

Pangan memang tidak pernah hanya dinilai dari sisi gizi saja. Walaupun produk konfeksioneri sering dilabel dengan istilah “junk food”, misalnya, produk yang memang menonjolkan aspek kenikmatan dan kesenangan (enjoyment and indulgence) ini tetap mempunyai tempat di masyarakat. Tantangannya adalah, bagaimana industri bisa berinovasi, sehingga mampu menawarkan produk konfeksioneri yang tetap nikmat dan menyenangkan, tetapi juga memberikan fungsi baik untuk kesehatan, sesuai tradisi, serta tetap menarik untuk menjadi objek cerita. Confectionery Story.

FOODREVIEW INDONESIA edisi kali ini akan membahas beberapa produk konfeksioneri. Tidak lupa, pada masa pandemi COVID-19 ini, industri pangan harus mampu beradaptasi dan mengambil pelajaran, di mana orang-orang yang bekerja memproduksi pangan aman dan bermutu perlu dijaga agar tetap sehat dan selamat. Seperti halnya udara yang kita hirup, dan air yang kita minum, pangan merupakan hal esensial untuk kehidupan, pangan adalah kebutuhan dasar manusia. Karena itu, produksi pangan perlu terus dijaga keberlangsungannya.

Semoga informasi yang kami sajikan bermanfaat dalam meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

http://pustakapangan.com/store/?category=Foodreview

 

COVID-19 / Codex discusses working online

 

Source:

http://www.fao.org/fao-who-codexalimentarius/news-and-events/news-details/en/c/1271514/

COVID-19 / Codex discusses working online

 

 17/04/2020

Members of the Codex Executive Committee met up via online video conferencing technology for an informal meeting on 2 April 2020. Discussions revolved around the subsidiary body meetings that have either been cancelled or postponed and how to maintain the momentum of standards development work that is already underway.

The Chairperson of the Codex Alimentarius Commission Guilherme da Costa, Brazil, said: “This is a completely unexpected situation for us when we take a look at our field of work. Producers, transporters, industries, traders, wholesalers, retailers, sanitary authorities and consumers are facing a completely new situation in their routine and work due to the pandemic”.

Purwiyatno Hariyadi, Indonesia, Vice-Chairperson said that during the difficult COVID-19 pandemic situation, Codex should feel fortunate to have access to modern technology, which allows us to continue to connect. “This meeting mode can be explored as an alternative way of working for Codex to ensure that the important work of developing standards to protect consumer health and ensuring fair practices in international food trade will not stop”.

Jean-Baptiste Lemoyne – rethinking Codex working methods.

Before the COVID-19 pandemic, the feasibility of Codex Committees working by correspondence, using information technology, had already emerged and been debated in the Codex system and procedural guidance is currently being discussed in the Codex Committee on General Principles hosted by France. Jean-Baptiste Lemoyne, State Secretary to the Minister for Europe and Foreign Affairs, in charge of foreign trade said: “Codex, by initiating several months ago the development of procedures adapted to committees working by correspondence, is in a position to continue its work remotely which is particularly important in this troubled period, as the work of Codex contributes to the safety of the food consumed around the world and to promoting fair practices in food trade. Within the framework of its host country responsibilities, France will continue to support the work led by the Codex Committee on General Principles so that pragmatic options for working electronically, in accordance with the principles of multilateralism, allow the whole of the international community to participate in its work”.

“The COVID-19 pandemic we are experiencing today certainly reinforces the need to have such procedural guidance,” said Hariyadi. Not only for emergency situations but also as a method of future work, something that is not only more effective, but also more efficient and sustainable.

Ways forward for a digital Codex 

“The core element of the Codex vision is to collaborate together in assuring safe food to protect everyone everywhere”, said Mariam Eid, Lebanon, Vice Chairperson. “The success we have had in organizing the informal meeting leads me to believe that we can do it”. In the 21st century, distance is no longer an issue and “nothing can stop the Codex community coming together and advancing our work”.

Steve Wearne, UK, Vice Chairperson said: “My reflection is that video conferencing software is extremely powerful and allows you to do the things you would in a normal meeting – ask for the floor, have sidebar conversations, even to show when you’re taking a break. Unfortunately, it doesn’t help in operating across multiple time zones”.

The broad and active participation of the different regions of the world across many time zones and contents was a valuable experiment for Codex as holding physical sessions is currently not an option. “This is a very challenging situation and the COVID-19 pandemic pushes us to use and explore digital technology to keep Codex on track and working”, said Chairperson Da Costa.

 

Read more

FAO response to COVID-19

WHO and COVID-19

COVID-19 / Maintaining the momentum of Codex work

Protecting the food supply chain from COVID-19

 

Industri Pangan Indonesia Perlu Pedoman Hadapi Wabah COVID-19

 

Industri Pangan Indonesia Perlu Pedoman Hadapi Wabah COVID-19

Dunia sedang dilanda wabah COVID-19. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya dan kondisinya cepat sekali berubah. Situasi ini memengaruhi hampir semua aspek kehidupan manusia dan semua sektor industri, tidak terkecuali sektor industri pangan.
Industri pangan mempunyai tugas penting dalam melawan COVID-19 ini, khususnya untuk menjaga pasokan pangan aman,bergizi dan bermutu untuk penduduk Indonesia, sehingga penduduk mempunyai daya tahan tubuh yang baik untukmelawan COVID-19.  Karena itu, pemerintah dan semua pihak yang berkepentingan harus memastikan kelangsungan ketahanan pangan masyarakat, dengan memastikan sistim pangan nasional tetap berjalan. Secara umum, kebijakan ini diperlukan untuk menjaga rantai pasok pangan nasional (yang juga banyak berkaitan dengan rantai pasok pangan global) tetap berjalan efektif. Artinya, perlu ada pemastian bahwa logistik pangan nasional di masa krisis wabah COVID 119 ini tetap berjalan, tetap melayanai permintaan kebutuhan pangan masyarakat.

Untuk itu, sektor industri pertanian dan pangan memerlukan pedoman dari pemerintah untuk bisa tetap beropreasi, mendukung upaya penanganan wabah COVID-19 ini.  More ,,,  Industri Pangan Perlu Pedoman dari Pemerintah untuk menghadapi Wabah COVID-19-FOODREVIEW INDONESIA, VOL. XV, NO. 4 April 2020

 

 

FOOD ANALYSIS: Ask The Right Question ​

 

FOOD ANALYSIS: Ask The Right Question 

 

If you do not know how to ask the right question, you discover nothing. 
W. Edwards Deming

 

Teknik analisis pangan diperlukan untuk mendapatkan data-data yang diperlukan untuk menjamin keamanan, mutu, dan keaslian pangan, sebagaimana yang dipersyaratkan oleh peraturan dan tuntutan konsumen. Jadi, analisis pangan mempunyai peranan yang sangat penting dalam industri pangan. Pertama, penting dalam upaya memastikan keamanan pangan. Kedua, penting untuk mengetahui mengenai komposisi pangan; sehingga memberikan informasi bagi konsumen untuk memilih produk yang tepat sesuai dengan kebutuhannya. Selain untuk pengendalian rutin industri pangan, analisis pangan juga sangat penting untuk mengevaluasi dan menentukan keadaan bahan baku, pengemas, dan aneka ingridien lainnya, mengontrol parameter proses pada setiap tahap pengolahan, mengendalikan kondisi penyimpanan dan distribusi, bahkan sampai kondisi ritel, serta menentukan masa simpannya.

Untuk efektif memainkan peran penting tersebut, teknik analisis pangan terus mengalami perkembangan yang luar biasa; sehingga menjadi lebih efisien, sensitif, hemat biaya dan mudah. Perkembangan ini ditunjang berkembangnya teknik instrumentasi yang sangat maju di laboratorium pangan. Teknik analisis dengan aneka instrumen canggih ini telah menyebabkan akurasi dan presisi yang lebih baik, batas deteksi yang semakin kecil, dan kemampuan menganalisis dengan jumlah contoh (sampel throughput) yang besar.

Analisis pangan menjadi lebih mudah? Sekali lagi, dengan perkembangan teknik instrumentasi yang canggih, dilengkapi dengan teknik otomasi dan perangkat lunak (software) yang canggih pula, maka analisis pangan dapat “mudah” dikerjakan hanya dengan “menekan tombol”. Justru karena kemudahan inilah maka istilah “the man behind the gun” menjadi sangat relevan. Sumber daya manusia (SDM) analis mempunyai peran yang sangat penting. SDM diperlukan tidak hanya “menekan tombol” tetapi untuk mengaplikasikan good labolatory practices dengan benar dan disiplin. SDM demikian mampu mengidentifikasi dan memahami kebutuhan dan tujuan analisis dengan baik, mampu memahami apa yang sesungguhnya perlu dianalisis, mampu “ask the right question”, mampu merencanakan, melakukan, memonitor, mencatat, mengarsipkan, dan melaporkan hasil analisis dengan baik. Di samping itu, justru karena aspek kemudahan ini pula, maka diperlukan suatu sistem manajemen yang baik, untuk memastikan tidak terjadi fenomena “garbage in, garbage out”.

FOODREVIEW INDONESIA edisi kali sengaja membahas topik Analisis Pangan –FOOD ANALYSIS: Ask the Right Question– mengingat peranannya yang sangat penting untuk industri pangan, khususnya untuk pemastian keamanan dan mutu pangan, serta pada akhirnya akan bermuara pada daya saing. Semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat dalam meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.

Akhirnya, dalam kondisi wabah COVID-19 yang sulit ini, masyarakat industri pangan perlu tetap tenang, disiplin menerapkan good hygienic practices, tetap sehat, tetap semangat dan bermanfaat feeding the nation.  Semoga!

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

PANGAN FUNGSIONAL: Pangan Dengan Klaim Kesehatan

 

PANGAN FUNGSIONAL: Pangan dengan Klaim Kesehatan

Klaim Kesehatan adalah segala bentuk uraian yang menyatakan, menyarankan, atau menyiratkan bahwa terdapat hubungan antara pangan atau bahan penyusun pangan dengan kesehatan.
– Peraturan Kepala BPOM, RI, No 13, 2016 tentang Pengawasan Klaim Pada Label dan Iklan Pangan Olahan

 

“Healthy citizens are the greatest asset any country can have.” –
Winston Churchill (1874-1965)

Konsumen dan masyarakat ilmiah sekarang lebih memahami dan menyadari hubungan erat antara kesehatan dan pola atau kebiasaan konsumsi pangan. Peningkatan kesadaran ini menyebabkan peningkatan minat konsumen untuk memperoleh informasi apakah konsumsi beberapa jenis pangan tertentu memang dapat membantu meningkatkan dan menjaga kesehatan, atau khususnya dapat membantu mengurangi risiko beberapa penyakit kronis tertentu.

Selain itu, berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa berbagai jenis pangan memang berpotensi memberikan fungsi-fungsi khusus terhadap kesehatan; di luar dua fungsi utama dan konvensional pangan. Dua fungsi utama pangan secara konvensional adalah (i) menyediakan beragam zat gizi (baik gizi makro maupun gizi mikro) yang diperlukan tubuh dan (ii) memberikan kepuasan sensori; misalnya untuk memberikan kenikmatan, kelezatan, dan tekstur pada konsumen. Fungsi pangan ketiga yang diidentifikasi belakangan ini adalah fungsi yang berkaitan dengan mengatur proses fisiologis tubuh, dan –beberapa penelitian– bahkan meningkatkan kondisi kesehatan.

Fungsi ketiga (tersier) yang secara lebih erat menghubungkan antara pangan dan kesehatan, umumnya tidak disebabkan karena adanya kandungan zat gizi pada pangan, melainkan disebabkan karena adanya senyawa atau komponen lain –selain komponen gizi– dalam makanan. Artinya, pangan diakui tidak lagi hanya menyediakan gizi (dan kepuasan sensori) tetapi juga sebagai penyedia berbagai macam komponen (sering disebut sebagai komponen bioaktif, atau komponen/ ingridien fungsional) yang berpotensi mampu meningkatkan kesehatan. Pangan yang mempunyai fungsi ketiga tersebut, dalam literatur ilmiah sering disebut sebagai pangan fungsional. Dalam sistem regulasi Indonesia, pangan demikian diatur sebagai pangan dengan klaim kesehatan.

Selain konsumen, berbagai pemerintah di dunia juga tertarik dengan perkembangan pangan fungsional ini. Ketertarikan ini dipicu dengan meningkatnya biaya kesehatan yang menjadi beban negara. Jika negara mampu memberikan insentif kepada (i) industri pangan untuk memproduksi, dan (ii) masyarakat konsumen untuk mengonsumsi pangan fungsional, maka diharapkan dapat meningkatkan status kesehatan masyarakat (merupakan aset terbesar bangsa) dan sekaligus menekan biaya kesehatan (merupakan unsur penting dalam daya saing bangsa).

Jadi, pangan fungsional (atau pangan dengan klaim kesehatan) mempunyai potensi besar untuk berperan dalam daya saing bangsa. Karena alasan itu maka FOODREVIEW INDONESIA membahas tema ini, khususnya beberapa ingridien fungsional lokal yang dapat dikembangkan.

Semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat dalam meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

Beverages: Beyond Thirst-Quenchers

 
FRI Vol XV/02 2020

Beverages: Beyond Thirst-Quenchers

Aneka tuntutan dan kebutuhan konsumen terhadap produk minuman terus bekembang. Tidak lagi sekadar mencari minuman untuk memuaskan dahaga saja, tetapi juga baik bagi kesehatan, mempunyai kandungan energi yang sesuai, sekaligus memberikan kesegaran dan kenikmatan ketika dikosumsi. Tuntutan konsumen ini disambut oleh industri dengan berinovasi mengembangkan aneka produk minuman yang menjanjikan untuk memberikan manfaat khas di luar fungsi tradisionalnya sebagai penghilang haus. Beyond Thirst-Quenchers.

Dalam kondisi saat ini, dengan kesadaran konsumen yang tinggi mengenai hubungan antara keamanan, mutu dengan kesehatan, maka industri perlu selalu berinovasi. Inovasi yang dilakukan dapat berkaitan dengan formulasi baru (ingridien dan rasa baru, fungsi baru), tampilan (bentuk, jenis) kemasan yang berbeda, hingga mengaitkan minuman dengan gaya hidup.

Salah satu tantangan mengenai hal ini adalah tentang kandungan gula pada produk minuman. Konsumen dan publik pada umumnya semakin mempunyai pemahaman yang lebih baik mengenai pengaruh konsumsi gula berlebih terhadap aneka penyakit tidak menular. Asupan gula berlebih berpotensi menyebabkan sistem insulin menjadi tidak mampu memetabolisme gula menjadi energi dengan baik, sehingga akan meningkatkan gula darah yang dapat bermuara pada meningkatnya risiko terjadinya kegemukan (obesitas) dan diabetes.

Diabetes yang tidak terkendali akan meningkatkan risiko terganggunya organ lain pada tubuh, misalnya jantung, ginjal dan lain-lain. Kesadaran ini mendorong konsumen mengubah pola konsumsi minumnya, dari konsumsi minuman bergula menjadi minuman tanpa gula, atau bergula rendah. Jelas ini memunculkan tantangan bagi industri untuk melakukan reformulasi, berinovasi bagaimana memenuhi tuntutan konsumen tanpa kompromi dengan kualitas sensori, terutama rasa dan kenikmatan.

FOODREVIEW Indonesia edisi kali ini membahas beberapa hal terkait dengan tantangan dan peluang inovasi pada produk minuman. Ulasan terkait dengan kondisi umum industri minuman juga akan disajikan, terutama yang berkaitan dengan peta konsumen dan pasar industri minuman, khususnya pada era persaingan global yang cukup sengit.

Semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat dalam meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

phariyadi’s blog phariyadi’s blog – mencari dan memberi yang …

 

 

Tantangan Keberlanjutan Industri Bakeri 2020

 

Tantangan Keberlanjutan Industri Bakeri 2020

06012020-Screen-Shot-2020-01-06-at-3.56.12-PM

Pangan selalu berhubungan dengan keberlanjutan; khususnya keberlanjutan kehidupan. Tidak akan ada kehidupan jika tidak ada pangan. Manusia pun semakin mempunyai kesadaran tentang hubungan penting antara pangan – dan makan (sebagai tindakan individu) – dengan banyak aspek kehidupan manusia lainnya. Kegiatan makan tidak hanya terkait dan dipengaruhi oleh aspek kesehatan, tetapi juga oleh, antara lain, kenikmatan, kesenangan, lingkungan sosial-budaya, iman (agama), gaya hidup, kinerja yang diharapkan tertentu dan aspek keberlanjutan. Aspek yang terakhir ini, aspek keberlanjutan, merupakan aspek yang sangat penting dan menjadi perhatian global. Oleh karena itu, tantangannya adalah bahwa industri pangan harus memperhatikan multi-faktor ini dalam hal memberikan pilihan produk pangan bagi konsumennya; baik untuk konsumen yang sekarang maupun untuk konsumen yang akan datang.

Memastikan pasokan pangan secara berkelanjutan untuk populasi dunia yang tumbuh cepat jelas bukan tantangan yang ringan. Diperkirakan bahwa pada tahun 2050 populasi Indonesia akan menembus angka 300 juta orang; dari angka sekitar 266 juta orang pada tahun 2019. Produksi pangan jelas perlu ditingkatkan. Tantangan ini menjadi lebih berat lagi mengingat bahwa ketersediaan lahan yang menyempit, serta air dan energi yang juga semakin terbatas. Belum lagi tantangan yang berkaitan dengan persyaratan gizi untuk mendukung kesehatan yang baik.
Semua tantangan ini perlu disadari oleh semua insan pangan Indonesia; sehingga dalam setiap langkah inovasinya dapat mengupayakan solusi keberlanjutan. Salah satu tantangan itu juga tergambarkan dengan perkembangan produk dan industri bakeri. Produk bakeri telah lama menjadi produk pangan yang dikenal konsumen. Namun, seiring dengan isu keberlanjutan, maka pengembangan produk bakeri tentu perlu mengikuti tren gizi dan kesehatan, ketersediaan bahan baku, yang terajut dengan jaringan sosial budaya dan ekonomi masyarakat.

Foodreview Indonesia edisi kali ini membahas inspirasi dalam berinovasi, khususnya yang berkaitan dengan aspek keberlanjutan industri pangan; khususnya lagi untuk produk dan industri bakeri.
Semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat dalam meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.
Selamat Tahun Baru 2020.

Purwiyatno Hariyadi
Phariyadi.staff.ipb.ac.id