phariyadi's blog

mencari dan memberi yang terbaik

 

Experts meet to discuss fats and oils in Malaysia

 

Experts meet to discuss fats and oils in Malaysia

(http://www.fao.org/fao-who-codexalimentarius/news-and-events/news-details/en/c/1181737/)

 25/02/2019

Members and Observers of the Codex Alimentarius Commission are meeting in Kuala Lumpur, Malyasia from 25 February to 1 March 2019 at the 26th session of the Codex Fats and Oils Committee. Discussions taking place include the addition of palm oil to the Codex Standard for Named Vegetable Oils; a proposed revision of the Standard for Olive Oils and Olive Pomace Oils; discussions on walnut oil, almond oil, hazelnut oil, pistachio oil, flaxseed oil and avocado oil, as well as alignment of food additives in standards for some fats and oils.

According to FAOSTAT the world export value of fats and oils in 2016 was approximately USD 90 billion and over the last ten years this value has almost doubled.

Minister of Health, Malaysia

Dr. Dzulkefly Bin Ahmad, Minister of Health, Malaysia

Welcoming delegates and opening the meeting, Dr. Dzulkefly Bin Ahmad, Minister of Health, Malaysia noted the challenges facing the committee in establishing new standards. “With increased health awareness of consumers worldwide, there has been increased demand for healthier oils”, he said. The committee brings together diverse expertise and talent from around the world, representing the various needs of different countries, “without compromising the common goal of protecting consumer health and ensuring fair practices in food trade”, he said.

The Minister also announced that the Malaysian government will elevate the Food Safety and Quality Division in the Ministry of Health to become the Food Safety Authority Malaysia.

We can not imagine enjoying food without fats and oils

Oils of animal, vegetable and marine origin are important foods and food ingredients traded worldwide. “The aspects of safety, quality and authenticity of fats and oils are of immense importance to all parties along the fats and oils supply chain, from farm to table around the world”, said Purwiyatno Hariyadi, Vice Chairperson of the Codex Alimentarius Commission. Revisions on Codex standards are expected to help consumers, suppliers, retailers and regulators, to assure the quality and safety of these important products.

VC-Pur H

Purwiyatno Hariyadi, Vice Chairperson of the Codex Alimentarius Commission

Codex contributes directly to the Sustainable Development Goals regarding zero hunger (SDG2), good health and well-being (SDG3), responsible consumption and production (SDG12) and is a leading example of partnerships for the goals (SDG17). “Protecting consumer health and ensuring fair practices in the food trade are an important contribution to achieving these goals”, said Hariyadi.

A drop of oil, a tonne of value

Publication launch

Patrick Sekitoleko, Codex Secretariat, Dr. Chen Chaw Min, Secretary General, Ministry of Health Malaysia, Dr. Dzulkefly Bin Ahmad, Minister of Health, Malaysia, Ms. Noraini binti Dato’ Mohd. Othman, Chairperson to the Codex Committee on Fats and Oils and Purwiyatno Hariyadi, Vice Chairperson of the Codex Alimentarius Commission

The opening of the meeting also saw the launch of a publication exploring the work of the committee. This publication, “A drop of oil, a tonne of value” examines how the committee operates and the role Malaysia has played since taking over leadership from the UK in 2009. With contributions from producing nations, traders, members and observers, the publication offers an insight into fats and oils and what takes place inside an international standard setting body to ensure safe food and a level playing field for trade.

 

Read more

Download A drop of oil, a tonne of value

Follow the current session of CCFO

Official portal – Ministry of Health, Malaysia

 

Inovasi Bakeri

 
FRI Vol XIV/2 2019

02022019-Screen-Shot-2019-02-02-at-1.21.34-PM

Inovasi Bakeri

Produk bakeri telah lama menjadi produk pangan yang disukai konsumen. Aneka produk panggang berbasis tepung ini telah menjadi produk sehari-hari yang dikonsumsi masyarakat. Tuntutan akan kemudahan (kepraktisan), kesehatan dan kenikmatan, telah memun- culkan aneka pilihan produk bakeri yang inovatif. Dalam memenuhi aneka tuntutan konsumen ini, produsen perlu selalu mengeksplorasi aneka pilihan ingridien yang tersedia.

Indonesia kaya dengan potensi ingridien untuk produk bakeri. Aneka jenis tepung dapat dikembangkan menjadi bahan baku utama produk bakeri, yang akan menghasilkan produk dengan berbagai karakteristik fisika, kimia dan fungsional yang khas. Sebut saja, tepung sukun, tepung singkong, tepung aneka ubi, adalah jenis-jenis tepung berpotensi digunakan sebagai bahan baku produk bakeri yang khas. Di samping itu, aneka buah-buahan, biji-bijian, dan kacang-kacangan dapat digunakan sebagai bahan pembantu yang juga memberikan mutu gizi, tekstur, kenampakan yang khas pula. Kombinasi pasangan aneka tepung dan aneka buah, biji, dan kacang tentu akan menghasilkan berbagai kemungkinan inovasi produk.

Di samping itu, Indonesia juga kaya dengan aneka produk pangan tradis- ional yang termasuk dalam produk bakeri. Dengan menggabungkan potensi lokal dan kebiasaan lokal yang ada, potensi inovasi produk bakeri ini sungguh tidak terkira. Kata kuncinya adalah asimilasi; penyesuaian dengan sifat, kondisi, dan potensi lokal, termasuk potensi tepung, isi (filling) atau pun topping yang berkarakter lokal. Roti isi pisang adalah salah satu contoh produk asimilasi ini. Kombinasi singkong dan keju; sebagai ingridien inovasi produk bakeri sungguh perlu ditangani secara serius. Penggunaan ingridien tradisional seperti abon, sambal, petai, dan teri –misalnya– untuk pengembangan produk bakeri mod- ern perlu ditangani secara serius. Itulah asimilasi, strategi inovasi pada produk bakeri untuk memenuhi tuntutan konsumen yang semakin kompleks.

Inovasi untuk memenuhi tuntutan konsumen yang semakin sadar kesehatan, perlu juga selalu dilakukan. Di bidang pangan, demikian juga bakeri, industri perlu berkreasi inovatif memenuhi tuntutan konsumen dalam hal (i) keamanan (dan terutama kehalalan), (ii) kesehatan, (iii) kemudahan, dan (iv) kenikmatan. Dengan terbitnya UU pangan (UU No. 18, 2012) dan UU Jaminan Produk Halal (UU No. 33, 2014) maka keamanan merupakan prasyarat dasar produk pangan. Dalam hal kesehatan, inovasi bakeri umumnya dilakukan dengan penggunaan tepung utuh (whole grains), penambahan serat pangan, prebiotik, dan probiotik, antioksidan, dan lain-lain.

Selain itu, pengembangan produk bakeri alternatif “gluten- and allergen- free” juga banyak dikembangkan. Demikian pula berkembang produk bakeri dengan formula khusus untuk penderita diabetes, untuk penderita darah tinggi, atau untuk kelompok vegetarian. Antara lain, hal ini terlihat dengan munculnya aneka produk bakeri rendah kandungan gula, garam, dan lemak di pasaran.

Pada edisi kali ini, Foodreview Indonesia menyajikan dan membahas mengenai beberapa hal terkait dengan inovasi, khususnya di industri bakeri. Semoga sajian Foodreview Indonesia kali ini mampu memberikan inspirasi untuk berinovasi. Semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat untuk meningkatkan daya saing produk dan industri bakeri Indonesia.

 

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

Halal: Food Challenges (Opportunities) 2019

 

http://pustakapangan.com/store/?category=Foodreview

01012019-Cover_FRI-edisi-1-vol-XIVHalal: Food Challenges (Opportunities) 2019

Industri pangan selalu penuh dengan tantangan. Banyaknya tantangan inilah yang membuat industri pangan menjadi bergairah, karena tantangan pada umumnya akan melahirkan peluang.

Secara nasional, industri dan masyarakat pangan Indonesia, memasuki tahun 2019 ini akan dihadapkan pada dua tantangan besar; yaitu berkaitan dengan (i) UU No. 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (UU JPH) dan (ii) Permenkes (Peraturan Menteri Kesehatan) RI No. 63 (2015) tentang Perubahan atas Permenkes No. 30 (2013) tentang Pencantuman Informasi Kandungan Gula, Garam, dan Lemak serta Pesan Kesehatan untuk Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji.

Mengenai UU JPH (UU No. 33, 2014), dipersyaratkan bahwa produk yang masuk, beredar, dan diperdagangkan di wilayah Indonesia wajib bersertifikat halal (Pasal 4). Kewajiban bersertifikat halal bagi produk yang beredar dan diperdagangkan di wilayah Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 mulai berlaku 5 (lima) tahun terhitung sejak diundangkan; yang berarti berlaku mulai pada bulan Oktober tahun ini, 2019. Sedangkan mengenai Permenkes, juga memberlakukan Pencantuman Informasi Kandungan Gula, Garam, dan Lemak serta Pesan Kesehatan untuk Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji mulai 2019, juga tahun ini.

Tahun 2019 juga merupakan tahun politik bagi Indonesia. Secara politis, konsumen dan masyarakat Indonesia juga mempunyai perhatian besar terhadap aspek “kemandirian” dan “kedaulatan” pangan. Dari mana datangnya bahan baku dan ingridien lain yang digunakan oleh industri untuk menghasilkan produk pangan menjadi lebih sering dipertanyakan.

Hal-hal tersebut tentu merupakan tantangan (yang berarti juga peluang) khas bagi industri pangan di Indonesia dalam menghadapi tahun 2019 ini. Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang kaya akan sumber daya pangan. Industri perlu merasa tertantang untuk memunculkan peluang baru eksplorasi dan pemanfaatan aneka bahan lokal; untuk memenuhi tuntutan tentang “kemandirian” dan “kedaulatan” pangan. Karena itu, sudah selayaknya bahwa eksplorasi dan pengembangan bahan baku lokal potensial untuk pangan perlu mendapat dukungan.

Indonesia jelas mempunyai penduduk dengan mayoritas beragama Islam, dengan tradisi agama yang sangat kuat. Hal ini tentunya mempunyai keunggulan dalam pemastian mengenai kehalalannya. Karena alasan itu, FOODREVIEW Indonesia kali ini lebih memfokuskan ulasannya pada kesiapan Indonesia dalam mengembangkan industri pangan halal; terutama untuk membantu mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang besar ini.

Semua aspek ini jelas perlu dimanfaatkan dan dikelola dengan baik, sehingga menjadi peluang tumbuh dan memenangkan kompetisi. Dengan meramu segala aspek ini, termasuk aspek sosial, budaya dan ekonomi, industri pangan Indonesia berpeluang besar untuk meningkatkan daya saingnya secara global. Serta dengan memanfaatkan prakarsa Kementerian Perindustrian yang mendorong industri pangan sebagai sektor prioritas bagi Indonesia untuk masuk ke industri 4.0, maka peluang itu tentu akan semakin besar.

Untuk itu, diperlukan komitmen dan prakarsa sinergis berbagai pihak, yaitu pihak pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat.

Selamat tahun baru 2019.

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

Packaging Solutions

 

01112018-frinov18

Packaging Solutions

Salah satu tantangan besar yang dihadapi dunia saat ini adalah dalam hal penyediaan pangan aman dan bermutu bagi populasi yang semakin meningkat.  Laporan PBB yang berjudul The State of Food Security and Nutrition in the World 2018: Building climate resilience for food security and nutrition, menyatakan bahwa dalam tiga tahun berturut-turut, telah terjadi peningkatan kelaparan dunia. Untuk tahun 2017, jumlah penderita kurang gizi (kekurangan pangan secara kronis) meningkat menjadi hampir 821 juta orang, 17 juta orang lebih banyak dibandingkan dengan angka pada tahun 2016 (yaitu sekitar 804 juta orang). Untuk mengatasi hal tersebut, khususnya untuk mencapai tujuan-tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals; SDGs), PBB telah menyusun UN Decade of Action on Nutrition, 2016-2025, yang salah satu agendanya adalah promosi mengenai pentingnya konsumsi dan produksi pangan secara bertanggung jawab, untuk mengurangi kehilangan/ kerusakan dan kemubaziran pangan (food loss and food waste). Dalam konteks menjawab tantangan inilah maka pengemasan pangan mempunyai peran strategis yang perlu dimainkan. Pengemas pangan harus dikembangkan untuk tidak menjadi bagian dari masalah keberlanjutan (dengan produksi berlebihan sampah anorganik, misalnya), tetapi harus menjadi jawaban atas permasalahan, khususnya untuk mengurangi food loss and food waste. Itulah packaging solutions.

Bagaimana teknologi pengemasan dapat memperpanjang masa simpan produk segar hasil pertanian dan perikanan? Bagaimana pengemasan dapat memberikan dan memastikan perlindungan produk pangan selama distribusi sehingga tidak mudah rusak dan terbuang? Bagaimana pengemasan dapat memberikan pemastian mutu dan keamanan pangan selama penyimpanan di tingkat rumah tangga? Pertanyaan-pertanyaan itulah –antara lain- yang harus dijawab untuk memberikan packaging solutions. Bagaimana packaging solutions ini diterapkan pada UMKM pangan?  Jelas bahwa untuk tujuan tersebut perlu inovasi. Namun demikian, aspek dasar kemasan pangan yang mencakup keamanan dan kehalalan pangan tetap menjadi hal utama yang perlu diperhatikan.

Itulah beberapa hal yang menjadi ulasan pokok FOODREVIEW INDONESIA kali ini. Semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat dalam meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.

Selamat membaca.
Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

Pertemuan Codex Committee on Food Import and Export Inspection and Certification System ke-24

 

Pertemuan Codex Committee on Food Import and Export Inspection and Certification System (CCFICS) ke-24

__pertemuan-codex-committee-on-food-import-and-export-inspection-and-certification-system-ke-24-5-1540793873 (1) __pertemuan-codex-committee-on-food-import-and-export-inspection-and-certification-system-ke-24-3-1540793806 (1) __pertemuan-codex-committee-on-food-import-and-export-inspection-and-certification-system-ke-24-2-1540793790 __pertemuan-codex-committee-on-food-import-and-export-inspection-and-certification-system-ke-24-1-1540793622

http://www.kemendag.go.id/id/photo/2018/10/29/pertemuan-codex-committee-on-food-import-and-export-inspection-and-certification-system-ke-24

 

01 Nov 2018 8:33 AM

Pertemuan Codex Committee on Food Import and Export Inspection and Certification System (CCFICS) ke-24 berlangsung di Sofitel Brisbane, Australia pada 22 – 26 Oktober 2018. Komite CCFICS adalah komite yang bertugas mengembangkan standar terkait principles danguidelines sistem sertifikasi dan inspeksi ekspor dan impor untuk produk pangan. Komite ini dibentuk dalam rangka harmonisasi metode dan prosedur terkait hal tersebut .

 

Pertemuan CCFICS ke 24 ini membahas 3 draft pedoman yaitu Guidance on the Use of System Equivalence, Guidance on Paperless Use of Electronic Certificates, serta Guidance on Regulatory Approaches to Third Party Assurance Schemes in Food Safety and Fair Practices in the Food Trade.

 

Delegasi Indonesia dipimpin oleh Direktur Standardisasi dan Pengendalian Mutu, Frida Adiati selaku koordinator Mirror Committee(MC) CCFICS yang juga dihadiri oleh Guru Besar SEAFAST Center Institut Pertanian Bogor, Prof. Purwiyatno Hariyadi selaku Vice Chairperson of the Codex Alimentarius Commission, perwakilan dari Badan POM serta Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Pertemuan diawali dengan pertemuan Codex Committee Asia (CCASIA) yang ditujukan untuk melakukan konsolidasi dengan sesama anggota Asia. Dimana terdapat usulan penyusunan standar dalam bentuk discussion paper terkait Food Integrity and Food Authenticity,discussion paper on consideration of emerging issues and future directions for the work of CCFICS, maupun prosedur Intersessional dalam Project Working Grup di CCFICS.

 

Di sela-sela Sidang, Delri juga melakukan pertemuan bilateral. Bilateral dengan Australia dilakukan dengan Slava Zeman, Direktur pada Exports Division, Department of Agriculture and Water Resources, Australia. Dalam Pertemuan dimaksud dibahas mengenai kendala perdagangan yang dihadapi Australia, terutama terkait dengan proses audit dan registrasi produk bahan baku pakan ternak serta proses pembayaran.

Sumber: http://codexindonesia.bsn.go.id/main/berita/berita_det/1245

 

 

HARI PANGAN SEDUNIA: Peluncuran Prosiding WNPG bidang Peningkatan Penjaminan Keamanan Pangan

 

PELUNCURAN PROSIDING WNPG XI BIDANG 3, Prioritaskan Keamanan dan Akses Pangan untuk Generasi Penerus Berkualitas

16 Oktober 2018 | 17:08 WIB (Humas & DSP)

 

 

 

 

 

 

 

 

Jakarta –Stunting merupakan manifestasi dari malnutrisi atau gizi buruk sebagai akibat dari kebutuhan pangan yang tidak tercukupi pada anak-anak. Stunting ditandai dengan gangguan pertumbuhan anak sehingga memiliki tinggi badan lebih rendah dari standar usianya. Kondisi ini dapat berdampak pada pertumbuhan fisik yang tidak optimal dan juga berisiko menimbulkan gangguan kesehatan dan perkembangan kecerdasan anak-anak yang akan menjadi generasi penerus bangsa. Karena itu, saat ini keamanan pangan dan akses pangan yang bernutrisi dan berkualitas menjadi prioritas dari World Health Organization (WHO) dan menjadi fokus tema dari Hari Pangan Sedunia Tahun 2018, yaitu Our Actions are Our Future, a Zero Hunger World by 2030 is possible.

Bertepatan dengan Hari Pangan Sedunia yang jatuh pada tanggal 16 Oktober 2018, BPOM menyelenggarakan acara peringatan Hari Pangan Sedunia 2018 dengan tema Penjaminan Keamanan dan Mutu Pangan untuk Pencegahan Stunting di Jakarta. Acara yang dibuka secara langsung oleh Kepala BPOM, Penny K. Lukito, dihadiri juga oleh Sekretaris Utama BPOM RI, Elin Herlina; Plt. Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan, Tetty H. Sihombing; serta pimpinan unit kerja di lingkungan BPOM pusat.

Dalam sambutannya, Kepala BPOM memberikan apresiasi atas kehadiran para tamu undangan di acara tersebut sebagai bentuk komitmen dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan. “Setiap orang berhak untuk hidup yang memadai atas kesehatan dan kesejahteraan dirinya, termasuk hak atas pangan. Ini adalah target pembangunan global kita,” tegas Penny K. Lukito.

“WHO menargetkan penurunan prevalensi stunting sebesar 40% pada tahun 2025. Termasuk untuk kita di Indonesia. Tentunya untuk mencapai angka tersebut perlu strategi penanganan yang holistik dan intervensi yang tepat. Kuncinya adalah melalui strategi pemberdayaan dan edukasi kepada masyarakat serta peran multisektor melalui fungsinya masing-masing, termasuk peran perguruan tinggi, pelaku usaha, dan media. BPOM harus berada di depan terlibat dalam mengantisipasi masalah ini.” tambah Penny K. Lukito lagi.

Hari ini juga dilakukan peluncuran Buku Prosiding Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) XI Bidang 3 “Peningkatan Penjaminan Keamanan dan Mutu Pangan untuk Pencegahan Stunting dan Peningkatan Mutu SDM Bangsa dalam Rangka Mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan’. Prosiding tersebut berisi rumusan rekomendasi WNPG Bidang 3 yang sebelumnya telah dirumuskan bersama oleh Tim Perumus pada beberapa kali pertemuan.

Peluncuran Buku Prosiding dilakukan secara simbolis dengan penekanan bel oleh Kepala BPOM, didampingi oleh Plt. Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan; Vice President Codex sekaligus Tim Perumus WNPG XI Bidang 3, Purwiyatno Hariyadi; Asisten Deputi Ketahanan Gizi, Kesehatan Ibu dan Anak dan Kesehatan Lingkungan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Meida Octarina; perwakilan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Standardisasi Nasional (BSN), dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Selanjutnya dilakukan penyerahan Buku Prosiding oleh Kepala BPOM kepada perwakilan Kementerian/Lembaga, antara lain BSN, LIPI, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dan Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI).

Acara kemudian dilanjutkan dengan Talkshow bertema “Penjaminan Keamanan dan Mutu Pangan untuk Pencegahan Stunting dalam Rangka Memperingati Hari Pangan Sedunia“ dengan narasumber Purwiyatno Hariyadi dan Meida Octarina dan dipandu oleh Tetty H. Sihombing.

“Kita sepakat bahwa stunting bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga terkait akses pangan, layanan kesehatan dasar, akses air bersih, sanitasi serta pola pengasuhan yang baik. Melalui kegiatan hari ini diharapkan menjadi momentum komitmen kita untuk mempertajam rencana tindak lanjut yang nyata atas rekomendasi WNPG XI Bidang 3”, ujar Penny K. Lukito menutup sambutannya.

 

HM-Herma

Biro Hubungan Masyarakat dan Dukungan Strategis Pimpinan

(http://www.pom.go.id/mobile/index.php/view/berita/14971/PELUNCURAN-PROSIDING-WNPG-XI-BIDANG-3–Prioritaskan-Keamanan-dan-Akses-Pangan-untuk-Generasi-Penerus-Berkualitas.html)

 

Tambahan oleh phariyadi.staff.ipb.ac.id:

PHA - presentation PHA - presentation - 2

File presentasi dapat diunduh di  SINI

atau di

http://standarpangan.pom.go.id/berita/peluncuran-prosiding-wnpg-xi-bidang-3

Prosiding dapat diunduh di

http://standarpangan.pom.go.id/dokumen/lain-lain/WNPG/e-Book_Prosiding_2018.pdf

 

 

SNI Valuasi, Vol 12, No 2, 2018

 

PHA at SNI Valuasi

SNI Valuasi, Vol 12, No 2, 2018

STANDAR PANGAN: Untuk Keamanan dan Perdagangan -SNI Valuasi Vol 12 No 2, 2018, hal 14-29

 

 

 

 

FIA – Innovative Ingredients for a Better Health – Jakarta 4 Oct 18

 
 
 Time: 1:15pm – 4:00pm
Venue: Jakarta International Expo, Room D2-GF-04, Arena Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran, Jakarta 10620
Indonesia, much like other countries in the Southeast Asian region experience has seen an increase in the prevalence of overweight/obesity alongside its economic growth over the last three decades. Despite its flourishing economy, it is also one of the few countries with a high prevalence in stunting in children, which is a precursor to the increased risk of developing non-communicable diseases when they are older.

With the country becoming increasingly urbanised, Indonesians are leading sedentary lifestyles while also consuming that are particularly high in carbohydrates and fats as a result of increased food availability and changing diets. As such, a quarter of its population is classed as overweight and about six per cent are obese.

With the growing policy pressures to address the overconsumption of sugar, rising epidemic of obesity and non-communicable diseases (NCDs), the F&B industry has been investing in R&D to reduce sugar in its products. However, sugar reduction is far more challenging than ‘just taking the sugar out’ as they contribute to other functional roles apart from influencing taste. As such, Low/Non-Calorie Sweeteners (LNCS) has been identified as a growing alternative to sugar.

But, its collective reputation has become the subject of intense public debate. Each speaker brought along their unique expertise that gave the session a diverse insight on addressing the negative narrative on LNCS, as well as the barriers and opportunities in accelerating product in promoting healthier eating behaviours among Indonesian consumers.

Presentation Decks:

Photos taken during the event can be viewed here.

 

 

Aspek Keamanan dan Mutu dalam Tren Produk Kopi

 

Aspek Keamanan dan Mutu dalam Tren Produk Kopi

Tren kopi kini semakin meningkat seiring dengam beberapa faktor yang memengaruhi konsumen. Faktor utama seperti gaya hidup menjadi faktor terkuat dalam mengangkat citra kopi. Namun, tren kopi yang semakin beragam tentu tidak dapat terlepas dari beberapa aspek tertentu terkait dengan komoditas pangan seperti aspek keamanan dan mutu.”Untuk dapat berdaya saing, maka kopi harus aman dan juga terjaga mutunya. Aspek keamanan, seperti pada Undang-Undang Pangan No. 18 Tahun 2012 maka harus aman secara jasmani dan juga rohani,” jelas Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor, Prof. Purwiyatno Hariyadi dalam National Food Tecnology Seminar yang diselenggarakan dalam rangkaian acara LCTIP 2018 oleh HIMITEPA ITP IPB pada 7 Oktober 2018 di Kampus Dramaga Bogor.

Dalam kesempatan tersebut, Purwiyatno juga menyampaikan beberapa hal terkait dengan manfaat dari biji kopi yang berkaitan dengan antioksidan yang berasal dari kandungan asam klorogenat yang terdapat pada biji kopi. Bahkan, antioksidan dalam biji kopi memiliki persentase yang lebih tinggi dibandingkan dengan komoditas yang lain seperti cokelat. Fri-35

Sumber:

http://foodreview.co.id/blog-5669575-Aspek-Keamanan-dan-Mutu-dalam-Tren-Produk-Kopi.html

 

SAFETY OF FOOD INGREDIENTS

 

SAFETY OF FOOD INGREDIENTS

01102018-okt18

Keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi. 
(UU No 18, 2012, BAB 1, Pasal 1, Ayat 5)

Food ingredients are chemical substances which are used as food additives, food enzymes, flavourings, smoke flavourings and sources of vitamins and minerals added to food. (EFSA, https://www.efsa.europa.eu/en/applications/ foodingredients)

Industri ingridien pangan telah berkembang sedemikian pesat dan memberikan pilihan serta peluang bagi pengembangan produk pangan untuk berkreasi dan berinovasi menghasilkan produk pangan baru. Industri ingridien pangan telah menghadirkan aneka pilihan bahan, baik berupa bahan baku, bahan tambahan, bahan penolong, zat gizi, atau pun bahan lain yang bisa memberikan nilai tambah pada produk pangan. Pada dasarnya, ingridien adalah unsur atau bahan yang digunakan untuk membuat produk pangan sedemikian rupa, sehingga akan menghasilkan produk seperti yang diinginkan.

Aspek utama dari ingridien pangan adalah mengenai keamanan pangan. Secara khusus, FOODREVIEW INDONESIA edisi ini mengaitkan keamanan ingridien pangan dengan dua momen penting yaitu (i) pelaksanaan Permenkes No. 63 Tahun 2015 (tentang Pencatuman Informasi Kandungan Gula, Garam, dan Lemak serta Pesan Kesehatan untuk Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji) dan (ii) Undang-Undang No. 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal. Kedua momentum ini semuanya akan terjadi pada tahun 2019 mendatang, dan semuanya berkaitan dengan keamanan pangan (UU No 18, 2018 tentang Pangan). Hal ini juga berlaku bagi ingridien pangan, karena untuk mendapatkan produk pangan aman (dan halal) tentu memerlukan ingridien yang aman (dan halal) pula.

Industri pangan tentu harus siap dengan berbagai konsekuensi untuk mengimplementasikan kedua regulasi tersebut, termasuk dalam hal pemilihan dan penggunaan ingridien pangan. Tidak saja bertujuan untuk memberikan nilai lebih dalam hal (i) gizi, (ii) sifat fungsional, (iii) sifat sensori produk, dan (iv) keawetan, pemilihan dan penggunaan ingridien juga bertujuan untuk memberikan jaminan keamanan (dan di dalamnya tentu kehalalan) pangan. Hal ini tentu merupakan tantangan (dan sekaligus peluang besar) bagi industri ingridien pangan.

Dengan berbagai sumber daya yang ada, Indonesia mempunyai potensi dan peluang besar sebagai pemasok ingridien pangan untuk masa depan industri pangan. Semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat dalam meningkatkan daya saing produk dan industri (ingridien) pangan Indonesia. Selamat membaca.

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id