phariyadi's blog

mencari dan memberi yang terbaik

 

Prinsip ke-10 Desain Saniter Peralatan dan Mesin untuk Industri Pangan

 

Prinsip ke-10 Desain Saniter Peralatan dan Mesin untuk Industri Pangan


Prinsip ke-10 ini merupakan rangkuman dari prinsip-prinsip 1 sampai 9 yang sebelumnya telah dibahas.  Jika prinsip-prinsip tersebut diikuti dan dilakukan dengan baik, maka prinsip ke-10 ini akan dapat dipenuhi dengan baik.Secara umum, prinsip ke-10 ini mempersyaratkan bahwa setiap mesin/peralatan untuk industri pangan harus dilengkapi dengan protokol atau prosedur pembersihan dan sanitasi yang valid. Dalam hal ini, perancangandan konstruksi mesin/peralatan harus dilakukan dengan mempertimbangkan protokol atau prosedur pembersihan dan sanitasi. Validasi protokol perlu dilakukan untuk memastikan bahwa pembersihan dan sanitasi yang dilakukan sesuai dengan protokol terbukti efektif dan efisien untuk mesin/peralatan tersebut. Pada protokol, perlu pula secara jelas dinyatakan spesifikasi bahan kimia pembersih dan sanitaiser yang digunakan atau yang direkomendasikan.

Lebih lengkapnya silahkan baca di FOODREVIEW INDONESIA edisi “Food Safety By Design”, November 2017

http://foodreview.co.id/blog-5669279-Prinsip-ke-10-Desain-Saniter-Peralatan-dan-Mesin-untuk-Industri-Pangan.html

 

Komite Nasional Codex Indonesia Mendukung Pelaksanaan WNPG XI

 

Komite Nasional Codex Indonesia Mendukung Pelaksanaan WNPG XI

Dalam rangka menyusun dan membahas kebijakan penanganan Codex Indonesia, Komite Nasional Codex Indonesia menyelenggarakan rapat ke-3 tahun 2017, yang bertempat di Ruang Rapat Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan, Jumat 3 November 2017.

Rapat dibuka oleh Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan, dr. Anung Sugihantono, M.Kes.  Anung menyampaikan bahwa posisi Indonesia dalam forum Codex menjadi sangat penting, terutama setelah Prof. Purwiyatno Hariyadi terpilih sebagai Vice-Chair Codex Alimentarius Commission(CAC).  Peran aktif Indonesia pada kegiatan internasional, diharapkan tidak terbatas pada kehadiran saja, tetapi juga harus turut mewarnai penyusunan dan perumusan kebijakan internasional.  Anung juga menyampaikan bahwa melalui forum Komnas Codex Indonesia ini dapat dirumuskan kebijkaan strategis di bidang pangan.

Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN) selaku Ketua Komite Nasional Codex Indonesia, Prof. Bambang Prasetya selaku pimpinan rapat meyambut baik apa yang disampaikan oleh Anung. Bambang menambahkan bahwa Komite Nasional Codex Indonesia merupakan komite yang solid dan memiliki komitmen yang tinggi untuk terus berkontribusi dalam kebijkanan pangan di tingkat nasional maupun internasional. Terpilihnya Prof. Purwiyatno Hariyadi sebagai Vice-Chair CAC yang merupakan hasil rumusan dan komitmen bersama dari anggota Komnas Codex Indonesia dan merupakan salah satu pencapaian strategis sesuai dengan Rencana Strategis Codex Indonesia tahun 2013-2018.

Selanjutnya rapat yang dipimpin oleh Prof. Bambang Prasetya membahas dan menyepakati beberapa agenda penting terkait dengan penanganan Codex Indonesia dan yang terkait dengan isu pangan nasional.  Bambang menambahkan bahwa Komnas Codex Indonesia mendapatkan kesempatan untuk turut terlibat dalam Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) XI, yang puncaknya direncanakan akan diadakan tanggal 3-4 Juli 2017. Komnas Codex sangat relevan untuk terlibat khususnya dalam bidang mutu dan keamanan pangan. Bambang memandang bahwa kegiatan WNPG sangat penting untuk merumuskan rekomendasi dalam upaya penyelesaian masalah dan isu terkait pangan dan gizi nasional.  Anggota Komnas Codex mendukung penuh pelaksanaan WNPG dan menyatakan komitmennya untuk berperan aktif dalam kegiatan tersebut.  Untuk itu diperlukan pembahasan khusus terkait dengan arahan dari Komnas Codex untuk pelaksanaan WNPG ini.

Dalam kesempatan ini Prof. Purwiyatno juga memaparkan kegiatan yang telah dilaksanakan dengan Chair, tiga orang Vice-Chair dan Sekretariat Codex.  Purwiyatno menyampaikan keterlibatannya sebagai Vice Chair dalam perumusan rencana strategis Codex 2020-2025 serta isu-isu penting lain di forum internasional.  Chair dan Vice Chair diharapkan berbagi peran untuk berpartisipasi dalam sidang-sidang Komite Codex.  Oleh karena itu dibutuhkan dukungan dari pemerintah Indonesia dalam memfasilitasi kehadiran Vice Chair dalam sidang Codex yang strategis bagi kepentingan nasional.

Sumber:

http://www.bsn.go.id/main/berita/berita_det/8845/Komite-Nasional-Codex-Indonesia-Mendukung-Pelaksanaan-WNPG-XI#.WgJUUo-Czow

 

Food Safety By Design

 
01112017-Screen-Shot-2017-11-01-at-9.29.34-AM
FRI VOL XII/11 2017
Food Safety By Design
Keamanan Pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi. UU No. 18, 2012, Bab I, Pasal 1, Ayat 5
Keamanan pangan adalah prasyarat untuk pangan bermutu. Tidak akan bermakna bicara mengenai mutu, jika produk pangan tersebut tidak memenuhi persyaratan keamanan pangan. Jadi, bagi siapa pun yang bergerak di bidang pangan, hal pertama dan utama yang harus diperhatikan adalah tentang keamanan pangan. Karena itu, keamanan pangan harus mulai dipertimbangkan pada saat tahap rancangan awal pengembangan bisnis pangan.
Secara sadar dan bertanggung jawab, aspek keamanan pangan harus masuk dalam kegiatan perancangan. Sejak perancangan lokasi, bangunan, mesin dan peralatan, produk, kemasan, penyimpanan dan penggudangan, distribusi, sampai pada displai di tingkat ritel, serta penanganan rumah tangga dan konsumsi, unsur keamanan pangan ini harus selalu menjadi pertimbangan utama. Adalah kewajiban bagi setiap insan pangan untuk tidak “mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia”. Adalah kewajiban bagi setiap warga bangsa insan pangan untuk tidak mengembangkan suatu produk pangan yang “bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat “. Itulah food safety by design.
Peningkatan kesadaran bersama atas pentingnya keamanan pangan ini perlu selalu diupayakan. FOODREVIEW INDONESIA ingin berkontribusi pada upaya ini. Secara khusus, pada edisi November 2017 ini, FOODREVIEW INDONESIA membahas beberapa informasi terkini tentang keamanan pangan, seperti pembentukan bio lm di area pengolahan, tingkat cemaran mikotoksin di beberapa produk pangan Indonesia, dan regulasi tentang pangan steril komersial serta program manajemen risiko.
Semoga informasi ini mampu meningkatkan kapasitas insan pangan Indonesia untuk menempatkan keamanan pangan secara lebih tepat; serta melakukan langkah-langkah penjaminan keamanan pangan secara terencana dengan baik. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi daya saing produk dan industri pangan Indonesia.
Selamat membaca,
Prof. Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id
 

Wakil Indonesia Pecahkan Persoalan Pangan Dunia

 

Sumber: http://www.thequality.co.id/index.php/home/post/702/wakil-indonesia-pecahkan-persoalan-pangan-dunia

Wakil Indonesia Pecahkan Persoalan Pangan Dunia

  • 25 Oct 2017 | 10:40 WIB
  • By Ibnu

img

Purwiyatno Hariyadi

Codex yang secara internasional diakui sebagai standar mutu untuk pangan memiliki dua mandat utama, pertama untuk keamanan konsumen, kedua untuk menjamin perdagangan pangan yang adil. Berdasarkan dua mandat tersebut keaktifan Indonesia dalam Codex Alimentarius Commission (CAC) menjadi sebuah urgensi tersendiri. Urgensi tersebut pun dijawab oleh salah satu Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Purwiyatno Hariyadi dengan terpilih sebagai Wakil Ketua CAC periode 2017-2018 pada pemilihan yang berlangsung selama Pertemuan CAC ke-40 di Jenewa pada tanggal 19 Juli 2017.

Keberhasilan tersebut juga bukan hanya akan meningkatkan citra dan kredibilitas Indonesia pada forum-forum internasional lainnya, juga dapat dimanfaatkan untuk terlibat aktif dalam mempengaruhi penetapan standar internasional yang berdampak pada peningkatan akses pasar makanan Indonesia.

Saat ditemui redaksi majalah The Quality di kantornya (7/08), Purwiyatno mengungkapkan bahwa terpilihnya ia sebagai Wakil Ketua CAC bukan berarti lantas dia hadir untuk melindungi kepentingan Indonesia, tetapi dengan kapasitas nya ia berkewajiban untuk mewakili Indonesia dalam rangka menyelesaikan persoalan-persoalan pangan global. Dalam hal ini ada beberapa hal yang menjadi concern pria kelahiran Pati, 9 Maret 1962  atau yang akrab dipanggil Prof Pur ini.

Benahi aturan main global

Purwiyatno mengatakan bahwa lebih dari 50% produk pangan yang diproduksi saat ini diperdagangkan secara internasional. Sementara itu perdagangan internasional untuk pangan memiliki resiko kerusakan dan mengakibatkan permasalahan tentang keamanan pangan. Maka dari itu dibutuhkan standar-standar untuk keamanan pangan sebagai jaminan perlindungan kepada konsumen.

Namun yang menjadi perhatian Purwiyatno adalah ketika sebuah negara dengan alasan untuk perlindungan  konsumen menetapkan standar yang tidak mampu diikuti negara lain dengan cara menekan kandungan kontaminan sampai sekecil mungkin. “Semakin kecil kandungan kontaminan, maka akan semakin bagus mutu makanan..itu saya setuju,” ujar Purwiyatno. “Tapi sekecil apa? yang kita takutkan kecil sedemikian rupa..kecil sekali yang tidak perlu,” tambahnya.

Oleh karena negara tersebut mampu mendeteksi dengan peralatan yang dimiliki dan produk-produk yang dimiliki juga memenuhi standar tersebut, sehingga negara-negara lain belum tentu dapat mengikuti. “Hal tersebut yang membuat kita perlu untuk lebih aktif lagi secara internasional, disamping wajib bagi semua negara untuk senantiasa meningkatkan kapasitas seperti halnya di Komite Nasional Codex secara internal terus melakukan capacity building,” ujar Purwiyatno.

Dorong awareness terhadap mutu

Secara professional Purwiyatno menggeluti bidang pangan sebagai dosen sekaligus peneliti. Mengajar memang menjadi profesi yang ia sangat sukai. “Saya sangat menyukai dan menikmatinya,” ungkapnya. Namun ia merasa ingin lebih berkontribusi secara riil dan ketika berada di Codex benar-benar Purwiyatno ingin berpartisipasi secara efektif atau lebih meningkatkan keterlibatan. “Jadi tidak hanya berpartisipasi sebatas hadir saja tetapi juga terlibat aktif untuk mencapai target-target yang ditetapkan,” terangnya.

Dengan keterlibatannya, Purwiyatno berharap nantinya dapat dijadikan tools bagi pemerintah sehingga juga pemerintah lebih memberikan perhatian khususnya terhadap standar keamanan pangan. “Karena yang berlangsung saat ini terkait pangan ialah yang penting ada dulu…sehingga faktor mutu dan keamanan baru dipikirkan kemudian,” ungkap Purwiyatno. “Seharusnya tidak bisa begitu, kalau ada tetapi tidak aman apalagi hal ini menyangkut makanan itu pemikiran yang tidak benar,” tambahnya.

Perjalanan karier

Purwiyatno mengawali karier di Mustika Ratu pada tahun 1983. Purwiyatno menceritakan pada waktu itu Mustika Ratu sedang mengembangkan produk beras kencur dan gula asam. “Waktu itu disebut herbal drink,” terang Purwiyatno. Ia ditawari bekerja disitu oleh gurunya, Winarno  dan Managing Director Mustika Ratu, Soedibyo. Purwiyatno ditawari untuk pergi ke Amsterdam mempelajari mesin yang akan diboyong Mustika Ratu untuk sterilisasi produk herbal drinktersebut.

Purwiyatno pun menyatakan kesediaannya walaupun ia masih berstatus mahasiswa di Insititut Pertanian Bogor. Setelah lulus secara resmi Purwiyatno bekerja untuk Mustika Ratu. Pada tahun 1987 berencana untuk berhenti dari Mustika Ratu karena ingin melanjutkan jenjang studinya. Waktu itu Purwiyatno merasa tugasnya sudah selesai di Mustika Ratu karena ia sadar kapasitasnya hanya sebatas bagaimana produk Mustika Ratu secara konten sudah siap/ dan layak untuk dipasarkan. “Padahal Mustika Ratu waktu itu baru membangun infrastruktur fisiknya,” terang Purwiyatno.

Sekali lagi karena kesukaan atau passion Purwiyatno di bidang pengajaran, niatan untuk bersekolah lagi pun ia bulatkan walaupun juga sempat ditawari disekolahkan bidang manajemen oleh Moeryati Sudibyo, pemilik Mustika Ratu hingga saat ini. Purwiyatno menolak tawaran tersebut karena ia ingin melanjutkan dan lebih menekuni teknologi pangan. Akhirnya Purwiyatno keluar dari Mustika Ratu walaupun masih membantu untuk mencari pengganti orangnya dll.

Akhirnya ia kembali ke kampus namun sembari menjadi dosen. Tahun 1988 Purwiyatno melanjutkan studi S2 di Amerika, kemudian tahun 1990 studi S3 di tempat yang sama sampai tahun 1994. Kemudian kembali ke Indonesia mengajar di IPB sampai sekarang.

Menjadi Wakil Ketua Codex Internasional

Dengan dukungan bersama Kementerian Luar Negeri, Badan Standarisasi Nasional (BSN) dan PTRI Jenewa, Purwiyatno, berhasil meraih suara tertinggi sebanyak 103 suara dari total 122 suara, mengalahkan kandidat Inggris dan Lebanon yang masing-masing meraih 102 suara, dan kandidat Papua Nugini sebanyak 59 suara.

Tiga kandidat peraih suara terbanyak menduduki tiga posisi Wakil Ketua Codex. Para Wakil Ketua Codex ini selanjutnya akan bekerja sama dengan kandidat Brasil yang terpilih sebagai Ketua Codex periode 2017-2018 pada pemilihan hari sebelumnya.

Watapri Jenewa, Duta Besar Hasan Kleib, yang turut menyaksikan proses pemilihan yang berlangsung ketat, menilai bahwa terpilihnya kandidat Indonesia merupakan pengakuan 188 negara anggota Codex atas kompetensi Prof. Purwiyatno dan komitmen Indonesia untuk berkontribusi dalam CAC.

Sumber: http://www.thequality.co.id/index.php/home/post/702/wakil-indonesia-pecahkan-persoalan-pangan-dunia

 

REMBUK NASIONAL DI UNSYIAH BAHAS KEDAULATAN PANGAN

 

REMBUK NASIONAL DI UNSYIAH BAHAS KEDAULATAN PANGAN


Bertepatan dengan Hari Pangan Sedunia panitia Rembuk Nasional 2017 bekerja sama dengan Universitas Syiah Kuala, menggelar Rembuk Daerah dengan tema Menuju Kedaulatan Pangan dan Mengelola Keamanan Pangan di Gedung AAC Dayan Dawood, Darussalam. (Senin, 16/10).

Isu kedaulatan dan keamanan pangan diangkat menjadi tema acara karena pemenuhan hak atas pangan merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dijamin di dalam Undang-Undang Dasar, sebagai komponen dasar untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Terlebih sejak tahun 2012, Indonesia sudah memiliki regulasi yang secara khusus mengatur urusan pangan melalui Undang-Undang No.18 tahun 2012.

Wakil Rektor I Unsyiah Dr. Hizir mengatakan, Rembuk Nasional ini merupakan langkah yang positif untuk menjawab berbagai permasalahan kedaulatan pangan di akar rumput. Maka Hizir berharap, keterlibatan para akademisi Unsyiah pada kegiatan ini bisa memberikan saran ataupun masukkan yang kemudian menjadi bahan evaluasi pemerintah ke depan.

“Melalui Rembuk Nasional ini, kita ingin bersama-sama mencari penyelesaian keamanan pangan, sehingga menjadi perbaikkan untuk sistem kemanan pangan Indonesia di masa mendatang,” ujar Hizir.

Ketua Umum Rembuk Nasional 2017  Dr.Ir.Firdaus Ali, M.Sc menjelaskan, Rembuk Nasional bertujuan untuk mendalami sekaligus mengkritisi capaian tiga tahun pemerintahan Jokowi-JK, dalam 12 bidang pembangunan dan masalah nasional yang perlu mendapat perhatian khusus.

“Dan kedaulatan pangan adalah salah satu isu penting yang menjadi perhatian pemerintah, yang diwujudkan dalam program Nawacita ,” ujar Firdaus.

Firdaus juga menjelaskan, Rembuk nasional di Unsyiah ini adalah Rembuk ke 14 dari rangkaian ke 16 Rembuk Daerah yang telah dilaksanakan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Hasilnya akan dikompilasi dengan hasil rembuk dari 16 Perguruan Tinggi lainnya untuk disampaikan kepada Presiden pada acara puncak Rembuk Nasional pada 23 Oktober 2017 di Jakarta International Expo, Kemayoran.

Hadir sebagai pemateri pada kegiatan ini Dr.Ir. Penny K Lukito, MCP Kepala Badan Pengawan Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia. Ketua Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Unsyiah Dr. Ikhsan Sulaiman, M.Sc dan Guru Besar IPB Purwiyatno Hariyadi.

Sebelumnya, Panitia Rembuk Nasional 2017 telah menyelenggaran kegiatan yang sama di 16 Perguruan Tinggi di Indonesia yaitu Universitas Cendrawasih- Jayapura (Papua), Universitas Pattimura (Ambon), Universitas Hassanudin (Makassar), Universitas Samratulangi (Manado), Universitas Mulawarman (Samarinda), Universitas Udayana (Bali), Universitas Airlangga (Surabaya), Universitas Gajah Mada (Yogyakarta), Universitas Diponegoro (Semarang), ITB (Bandung), UI (Depok), IPB (Bogor), Universitas Sriwijaya (Palembang), Universitas Andalas (Padang), Universitas Sumatera Utara (Medan), dan IPB (Bogor).

 

 

 

FUNCTIONAL PACKAGING: More Than Just a Wrap

 

FUNCTIONAL PACKAGING:  More Than Just a Wrap

02102017-foodreview10

Kemasan pangan memang mempunyai banyak fungsi, multi fungsi.  Dengan semakin meningkatnya tuntutan konsumen atas tersedianya produk pangan yang lebih sehat, lebih aman, lebih sustainable, maka peranan kemasan pangan di masa yang akan datang akan semakin penting. Dalam hal ini, kemasan pangan juga berfungsi (i) mengurangi kehilangan selama distribusi dan penyimpanan, (ii) menjaga keaslian dan mencegah pemalsuan (tampering) produk selama distribusi dan penyimpanan, (iii) memberikan ketelusuran (traceability) produk dari sumbernya (produsen) ke konsumen; termasuk memonitor kondisinya selama transportasi, distribusi dan penyimpanan, (iv) memberikan informasi kepada konsumen mengenai nilai produk pangan, (v) mempromosikan dan meningkatkan produk dan perusahaan (brand awareness), dan (vi) meminimisasi dampak lingkungan, kerusakan (food wastage) dan biaya.  It’s More Than Just a Wrap.

Peranan kemasan pangan jelas akan semakin penting dan menantang.  Kemasan pangan akan semakin sulit dipisahkan dari proses produksi pangan. Kemasan pangan akan menjadi satu kesatuan dengan indentitas produk pangan, bagian integral dari upaya branding dan marketing produk dan bisnis pangan.

Namun demikian, pertimbangan pertama dan utama dalam pemilihan kemasan pangan adalah kemampuannya untuk berfungsi mempertahankan keamanan dan mutu pangan. Fungsi lain adalah fungsi tambahan.  Fungsi tambahan kemasan ini juga selalu berkembang, seiring dengan perkembangan teknologi.  Ada pengemas yang mampu mengendalikan (memanipulasi) kondisi lingkungan yang melingkupi produk pangan untuk tujuan menmpertahankan mutu dan keamanannya. Itulah pengemas aktif.  Ada pula pengemas yang mampu mengolah informasi mengenai produk pangan yang dikemasnya, dan menerjemahkan informasi tersebut menjadi status tentang keamanan atau mutu produk pangan , dan sekaligus menyampaikan hal itu melalui tanda-tanda yang mudah kepada konsumen. Itulah pengemas pintar. Itulah functional packaging.

Jadi, jika kemasan tidak memiliki fungsi yang berarti, sekedar hanya memiliki tampilan yang menarik, maka seharusnya tidak perlu dilakukan; karena hanya akan menambah biaya ekonomi dan ekologis saja.

Berbagai isu tentang kemasan pangan disajikan pada FOODREVIEW INDONESIA edisi kali ini. Harapannya, semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat bagi perkembangan saya saing pangan dan industri pangan, serta –tentunya- kemasan dan industri kemasan di Indonesia.

Selamat membaca.

Prof. Purwiyatno Hariyadi

phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

Retortable Packaging untuk Produk Steril Komersial

 

Retortable Packaging untuk Produk Steril Komersial – Foodreview

 

Menurut Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 24 Tahun 2016 tentang Persyaratan Pangan Steril Komersial, pangan steril komersial adalah pangan berasam rendah yang dikemas secara hermetis, disterilisasi komersial dan disimpan pada suhu ruang.Pangan steril komersial sangat rentan kaitannya dengan cemaran mikroorganisme, sehingga diperlukan beberapa proses perlakuan yang bertujuan agar pangan tersebut tetap aman sampai dikonsumsi oleh konsumen. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan menerapkan teknologi pengemasan yang sesuai, misalnya retortable packaging.

Menurut Peneliti Senior Southeast Asian Food and Agricultural Science and Technology (SEAFAST) Center Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Purwiyatno Hariyadi dalam A Two Day Intensive Workshop: Packaging Requirements of Ready To Eat (RTE) Product pada 14 September 2017 di Bogor, ada tiga syarat yang harus dipenuhi agar proses retort sukses, yaitu kemasan yang digunakan harus tertutup secara hermatis, perlakukan pemanasan yang diberikan harus cukup, dan penanganan kemasan harus dengan baik dan hermatis.

Fri-34 (http://foodreview.co.id/blog-5669230-Retortable-Packaging-untuk-Produk-Steril-Komersial.html)

 

 

Untirta Gelar Workshop Revitalisasi Industri Pasca Panen dan Pengolahan Pangan

 

Untirta Gelar Workshop Revitalisasi Industri Pasca Panen dan Pengolahan Pangan

 

Untirta menyelenggarakan kegiatan Workshop dengan tema Revitalisasi Industri Pasca Panen dan Pengolahan Pangan Untuk Produk Pangan Berkualitas Dalam Rangka Ketahanan Pangan Provinsi Banten bertempat di gedung Center Of Exellent (CoE) Untirta Kampus Fakultas Teknik Cilegon. (13/09/2017).

Workshop dibuka oleh Rektor yang diwakili Prof. Dr. Kartina AM, MP yang menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerjasama, Humas dan Sistem Informasi Untirta. Pada acara sambutan beliau menyampaikan kegiatan ini merupakan yang kedua kalinya dalam rangkaian acara riset konsorsia yang memfokuskan melakukan penelitian dengan bekerjasama dengan dinas/instansi terkait yang ada di provinsi Banten, beliau berharap workshop ini dapat bermanfaat bagi semua dan dapat ditindak lanjuti dalam kehidupan yang nyata.

Hal senada disampaikan juga oleh Ketua Pelaksana, Workshop ini bertujuan untuk menyamakan persepsi bagi revitalisasi industri pasca panen dan pengolahan pangan untuk menghasilkan produk pangan berkualitas berbasis pangan lokal, memperkuat jejaring pemerintah, peneliti, akademisi, praktisi dalam hal ini industri dan ukm sehingga dapat terjalin kerjasama riset yang kompetitif di industri pasca panen dan pengolahan pangan dalam rangka untuk mendukung pembangunan ketahanan pangan yang berkelanjutan, memantapkan dukungan seluruh stakeholder di Provinsi Banten untuk mendukung Untirta menjadi CoE bidang food security

Adapun Pembicara yang dihadirkan yaitu Prof. Dr. Purwiyatno Hariyadi (senior Scientist, Seafast Center, LPPM, IPB, Bogor), Ir. Wiwik Puntorini, S.Pd (Umkm binaan Institut Pertanian Bogor) serta dimoderatori oleh Dr. Hj. Meutia, SE., MP, sedangkan Peserta kegiatannya yaitu Para pejabat Struktural, Peneliti dan Dosen Untirta, Dinas Umkm baik di Kota maupun Kabupaten yang ada di lingkungan provinsi Banten, pelaku usaha Umkm, mahasiswa/i Untirta. Para narasumber pada pemaparan materi menyampaikan beberapa hal penting diantaranya tentang industri pangan, sinergi UKM dan industri yang mendukung ketahanan pangan, nilai pangan, ketahanan pangan mandiri dan berdaulat beserta pilar dan indikatornya, industri pangan yang terfokus pada Umkm pangan, gambaran daya saing produk pangan Indonesia, klasifikasi usaha kecil dan industri, inovasi regulasi dan standarisasi industri pangan dapat mendorong produk lokal serta mendukung ketahanan pangan.

 

 

 

Magister Ilmu Pangan Gelar Kuliah Umum Ulas Industri Pangan

 

Magister Ilmu Pangan Gelar Kuliah Umum Ulas Industri Pangan

[unsoed.ac.id, Rab 13/09/17] Program Megister  Ilmu Pangan Fakulatas Pertanian (Faperta)  Unsoed menyelenggarakan kuliah umum dengan tema “Tren, Peluang & Tantangan Industri Pangan di Era Global”, Senin (11/9). Acara ini diikuti oleh 240 mahasiswa Jurusan Teknologi Pertanian, 6 mahasiswa baru Program Studi Megister Ilmu Pangan. Hadir Wakil Dekan Bidang Akademik, Ketua Jurusan Teknologi Pertanian, Ketua Program Studi Megister Ilmu Pangan dan Beberapa Dosen di Ruang D107 Komplek Gedung D Faperta.

Hadir sebagai narasumber kuliah umum ini yaitu Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc., Vice Chair Codex Alimentarius Commission 2017 -2019 Word Healt Organization ( WHO ) and Food and Agriculture Organization (FAO). Dengan moderator  Dr  Ervina Mela Dewi, ST, MSi., Staf Pengajar Megister Ilmu Pangan Faperta Unsoed

Dalam paparan materinya Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc. menjelaskan diantaranya  tentang teknologi pangan berperan penting dalam memproduksi pangan yang mempunyai value yang lebih baik. Diuraikan bahwa value terhadap produk pangan ditentukan antara lain dengan terciptanya pangan yang akan membuat konsumen sehat, aktif dan produktif, dan ketersediaan pangan berkesinambungan dan mengembangkan produk pangan lokal yang bisa diterima secara global.

Harapan kedepan dengan adanya kegiatan ini dapat menambah pemahaman dan kepedulian para akademis, terhadap pentingnya penyediaan pangan yang cukup dan bergizi, baik bagi masyarakat Indonesia maupun dunia.

Maju Terus Pantang Mundur, Tak Kenal Menyerah!

 

Beasiswa untuk Riset Pangan Lokal

 

Kompas · 7 Sep 2017 · (ELN)

Source: https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20170907/281741269571073

 

Beasiswa untuk Riset Pangan Lokal

 

BOGOR, KOMPAS — Kearifan pangan lokal yang dimiliki Indonesia berpotensi dikembangkan. Untuk itu, dibutuhkan riset pangan yang bermutu agar dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi, keragaman pangan lokal yang dimiliki bangsa ini dapat mendukung ketahanan pangan nasional. Pengembangan riset pangan lokal salah satunya didukung PT Indofood Sukses Makmur Tbk lewat program Indofood Riset Nugraha (IRN) yang memberikan beasiswa riset mahasiswa S-1 dari 25 perguruan tinggi. Pada Rabu (6/9), dilakukan penandatanganan kerja sama penelitian antara 58 mahasiswa penerima beasiswa riset IRN, manajemen Indofood, dan tim panelis. Penerima riset mendapatkan bimbingan dan pembinaan untuk menyelesaikan penelitiannya di bidang pangan, sebagai salah satu syarat kelulusan kuliah. ”Kebudayaan bangsa ini bukan hanya tergerus di aspek tingkah laku yang makin tidak nasionalis. Ketahanan pangan kita juga terancam karena terdesak makanan dari luar yang justru tidak sehat. Padahal, kita punya kekayaan pangan lokal dan makanan tradisional yang berpotensi dikembangkan,” kata Ketua Tim Panelis IRN FG Winarno.

Solusi
Winarno berharap program IRN akan dapat menghasilkan solusi-solusi pangan pada masa depan melalui hasil penelitian yang mengembangkan kekayaan pangan Indonesia. Seperti Indofood, mengembangkan potensi pangan lokal, misalnya tempe dan singkong, untuk jadi camilan. Anggota tim panelis, Purwiyatno Hariyadi, mengatakan, dukungan riset untuk mahasiswa ini membuka peluang untuk mengeksplorasi bahan pangan lokal. Di kawasan Indonesia timur, misalnya, potensi sagu, buah merah, harus terus diriset. Ketua Program IRN Suaimi Suriady mengatakan, jumlah proposal penelitian yang diterima tahun ini meningkat menjadi 215 proposal daripada tahun sebelumnya yang berjumlah 148 proposal. ”Melalui Program IRN, kami secara konsisten mendorong minat mahasiswa untuk terus melakukan penelitian, khususnya di bidang pangan,” katanya. Suaimi menambahkan, tahun ini Indofood melakukan coaching clinic (pelatihan singkat) bagi mahasiswa di Indonesia bagian timur. Hasilnya, dari 58 proposal yang lolos seleksi tim panelis, 12 proposal di antaranya berasal dari tujuh universitas di wilayah Indonesia bagian timur.

Source: https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20170907/281741269571073