phariyadi's blog

mencari dan memberi yang terbaik

 

Machinery for More Competitive Food Industry

 
FRI VOL X1/02 2016
2-01022016-Screen-Shot-2016-02-01-at-9.13.07-AM
Machinery for More Competitive Food Industry

Persaingan industri pangan akan semakin ketat dengan datangnya MEA. Tidak bisa dipungkiri bahwa pengembangan mesin dan peralatan pengolahan pangan untuk industri sangat diperlukan untuk peningkatan daya saing industri pangan nasional kita. Mesin/peralatan pengolahan pangan tidak hanya akan berkontribusi pada peningkatan produktivitas; tetapi juga dalam upaya pemastian mutu dan keamanan produk pangan yang dihasilkan.

Mesin/peralatan pengolahan pangan akan sangat membantu industri untuk memproduksi pangan dengan lebih “seragam” dalam jumlah yang besar dalam waktu yang lebih singkat. Mesin/peralatan pengolahan pangan biasanya didesain untuk melakukan fungsi pengolahan tertentu, berulang-ulang, secara lebih persis dan konsisten. Karena itulah maka, perhatian utama dalam desainnya, umumnya lebih menitikberatkan pada bagaimana mesin/peralatan bisa melakukan fungsi tersebut dengan efektif dan efisien. Sebagai akibatnya, sering mesin/peralatan yang dihasilkan menjadi lebih sulit untuk dibersihkan. Atau bahkan, tidak jarang mesin/peralatan tersebut mempunyai bagian-bagian yang tidak mungkin dibersihkan. Dengan semakin ketatnya peraturan dan persyaratan keamanan dan mutu pangan, maka semakin tinggi pula tuntutan teknologi –termasuk mesin/peralatan pengolahan pangan- yang memungkinkan industri pangan menghasilkan produk yang aman, bergizi, bermutu secara lebih efesien.

Kondisi industri mesin/peralatan pengolahan pangan di Indonesia masih belum berkembang. Industri mesin/peralatan pengolahan pangan perlu mendapatkan perhatian dan dorongan serius semua pihak; supaya bisa lebih berkembang. Posisi Indonesia sebagai pasar besar; hendaknya tidak menjadikan Indonesia lupa pada potensinya. Mesin/peralatan pengolahan pangan yang saat ini masih didominasi oleh produk impor, hendaknya menjadi pemicu semua pihak untuk bergeliat “bangkit”.

FOODREVIEW INDONESIA berharap, industri mesin/peralatan pengolahan pangan di Indonesia bisa lebih berkembang; mendukung perkembangan industri pangan untuk memproduksi pangan yang aman, bergizi, bermutu secara lebih berdaya saing. Machinery for more competitive food industry.

Selamat membaca,
Prof. Purwiyatno Hariyadi

 

2016: Fresh Exotic Flavors of Indonesia

 
FRI VOL X1/01 2016
1-16-31122015-Screen-Shot-2015-12-31-at-10.05.10-AM2016: Fresh Exotic Flavors of Indonesia

Pergantian tahun, kembalinya bulan Januari adalah kembalinya kesempatan, untuk menata segala sesuatu menjadi lebih baik.

Untuk industri dan insan pangan Indonesia, 2016 adalah tanda dimulainya secara resmi ASEAN sebagai satu kesatuan ekonomi , Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Tantangan akan menjadi menjadi semakin berat, persaingan akan semakin ketat, sehingga persiapan pun perlu dilakukan dengan semakin tepat. Namun demikian, MEA juga menghadirkan kesempatan. Kesempatan industri pangan untuk memenuhi kebutuhan dan menjawab tuntutan konsumen, konsumen ASEAN.

Kebutuhan pokok konsumen yang paling utama adalah kebutuhan pangan. Untuk itu, industri pangan perlu memahami dengan baik kebutuhan konsumennya, yang umumnya menjadi lebih “demanding”. Konsumen tidak hanya menuntut jumlah yang cukup, harga yang lebih murah, tetapi juga harus aman, bergizi, dan bermutu, seperti mempunyai cita rasa enak dan nikmat. Pemahaman dan penilaian mengenai mutu ini jelas beragam antar konsumen tiap negara ASEAN. Karena, industri perlu menerjemahkan secara tepat pemahaman dan penilaian dalam rangkaian kegiatan industri pangan; mulai dari pengembangan sampai ke pemasaran produknya.

Jelas hal ini bukan tantangan ringan. Salah satu faktor penting dalam hal ini flavor pangan. Peranan ahli dan industri flavor sangat penting untuk mendukung formulasi dan pengembangan produk pangan sesuai dengan karakeristik konsumennya.

Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam, memiliki potensi flavor nusantara. FOODREVIEW INDONESIA berkeyakinan bahwa flavor khas Indonesia bisa menjadi nilai unggul dan unik yang perlu digali dan dikembangkan untuk konsumen Indonesia; atau bahkan konsumen MEA. Industri pangan dan industri flavor Indonesia perlu bersinergi; menggunakan momentum tahun baru, era baru MEA, untuk mengembangkan pangan dan flavor khas Indonesia.

Selamat tahun baru. Tantangan baru dan kesempatan baru. 2016: Fresh Exotic Flavors of Indonesia.

Selamat membaca,
Prof. Purwiyatno Hariyadi

 

SEAFAST CENTER LPPM IPB Gelar Workhop Bioteknologi Pertanian

 
SEAFAST CENTER LPPM IPB Gelar Workhop Bioteknologi Pertanian
Rabu, 11 Juni 2014

image of news

Southeast Asian Food andAgricultural Science and Technology (SEAFAST Center), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB) bersama Foreign Agricultural Services (FAS)-United States Departemen of Agriculture (USDA), Michigan State University (MSU), dan The International Service for the Acquisition of Agri-biotech Applications (ISAAA) menyelenggarakan kegiatan yang bertajuk  “Agricultural Biotechnology Workshop”(9/6). Workshop ini digelar secara komprehensif selama lima hari di Anggrek Meeting Room Hotel Neo+ Green Savana, Sentul City.

Pengembangan dan aplikasi bioteknologi pertanian merupakan salah satu alternatif metode untuk mengatasi permasalahan bangsa dimana jumlah dan laju pertumbuhan penduduk semakin meningkat, namun hal ini belum bisa diimbangi peningkatan produksi pangan karena berbagai masalah seperti penyempitan lahan pertanian, kekeringan berkepanjangan, serangan hama, dan penyakit tanaman sehingga mempengaruhi produksi pangan. Pengembangan bioteknologi pertanian di Indonesia masih menimbulkan pro dan kontra, sehingga bisa dikatakan aplikasinya di bidang pertanian belum berkembang sepenuhnya.Direktur SEAFAST Center, Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc menyatakan, “Tujuan utama penyelenggaraan kegiatan ini adalah untuk memberikan informasi yang komprehesif dan tepat mengenai potensi dari bioteknologi pertanian dan pangan secara umum. Disamping ada potensi, ada juga resikonya. Dalam workshop ini akan lebih banyak mengemukakan contoh kasus di berbagai negara mengenai aplikasi bioteknologi pertanian”. Hal ini menjadi penting ka
rena banyak informasi yang sifatnya keliru, tidak tepat atau bahkan menyesatkan beredar di masyarakat tentang bioteknologi pertanian.
Hal tersebut diamini oleh Ali Abdi. Konselor Pertanian FAS USDA ini menyatakan bahwa workshop ini merupakan sarana untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam pengembangan aplikasi bioteknologi pertanian dan dilakukan dua arah antara para pembicara yang berasal dari berbagai negara seperti India, Vietnam, Filipina, dan Amerika dengan para partisipan.  Dalam workshop ini akan disampaikan bahwa bioteknologi pertanian adalah salah satu alat atau teknik yang aplikasinya sangat luas, tetapi akan difokuskan pada bioteknologi pertanian dan kami ingin informasi tersebut didiskusikan secara akurat sehingga tidak menyesatkan. “Dalam kegiatan ini juga dibahas bagaimana peranan masing-masing stakeholdersdalam aplikasi tersebut seperti akademisi, pemerintah, industri, dan konsumen yang perlu ditingkatkan sehingga menjadi lebih baik”, tambah Ali Abdi. Workshop ini mengundang 16 ahli bidang bioteknologi pertanian dan bidang lain yang terkait. Diantara 16 pembicara internasional tersebut, terdapat pembicara yang akan berbagi mengenai eksperimen dari para petani yang menggunakan bioteknologi di China, India, dan Filipina. Workshop ini juga mengundang para peserta yang terkait dengan bioteknologi pertanian seperti dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pertanian, Dinas dari berbagai wilayah, akademisi, para praktisi industri pertanian, dan stakeholders lainnya.
Ali Abdi menyatakan bahwa yang juga sangat penting kegiatan ini bisa mendorong terjadi keterkaitan antar institusi yang ada disini. Ini merupakan salah satu misi FAS-USDA yakni menjembatani institusi agar terjadi hubungan antara institusi di Indonesia dan Amerika sehingga terjadi pertukaran. “Dengan diadakannya kegiatan ini diharapkan mampu memberikan pemahaman bioteknologi pertanian secara meyeluruh, termasuk aspek keamanannya. Selain itu, kegiatan ini diharapkan meningkatkan kerjasama antara IPB, FAS – USDA, MSU, dan ISAAA dalam penelitian dan pengembangan terkait bioteknologi pertanian” tutup Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc.
(RF)
http://news.ipb.ac.id/news/id/79c8e2387722c4c567f2a3301a2e0ff7/seafast-center-lppm-ipb-gelar-workhop-bioteknologi-pertanian.html
 

Current trends from Food Ingredients Asia 2013

 

Current trends from Food Ingredients Asia 2013

Food exhibition may be viewed as a window of the coming future for the industry. This is also true for Food Ingredients Asia 2013 (Fi Asia 2013) which has been successfully organized in Bangkok International Trade & Exhibition Centre (BITEC), Bangkok, Thailand, 11 – 13 September 2013. The theme of the Fi Asia 2013 was “Meeting the global challenges on development of functional food ingredients”.

The enthusiasm of the stakeholders indicated that Asia, especially South East Asia is the real future area of growth for the food and food ingredients industry.

……………more………………FRI International edisi 2_Current Trends from Food Ingredients Asia 2013

Food Ingredient Asia 2014
As mentioned at the beginning of this analysis, well designed and well prepared food exhibition can be used as a window to see the future of the food industry. Food Ingredient Asia 2013 was successful in realizing its theme of “Meeting the global challenges on development of functional food ingredients.” To surpass its Bangkok’s success of 2013, UBM – supported by Indonesian Association of Food technologists and SEAFAST center, Bogor Agricultural University, Bogor, in the year of 2014 will organized better and bigger Food Ingredients Asia 2014 in Jakarta, Indonesia. Food Ingredients Asia Indonesia offers one of the best and the most comprehensive platforms for the food industry to get together and explore the possible areas of developments in future.

This event, Food Ingredients (FI) Asia (Indonesia) 2014, will take place in Jakarta International Expo (JIE), Jakarta, Indonesia, 24-26 September 2014. 

Free Magazine http://www.foodreview-intl.com

 

Nasi Tidak Penuhi Gizi

 

Post on 24/10/2013

 

Apakah Anda salah satu orang yang dibesarkan oleh pendapat bahwa makan apa pun harus dengan nasi sehingga menu makan siang adalah nasi, bihun goreng, bakwan jagung, dan kerupuk? Akibat “dogma” yang berkembang dan mengakar di Indonesia itu, orang lupa fungsi utama makan adalah untuk memenuhi gizi.
“Gizi tidak identik dengan nasi. Makanan harus mengandung gizi lengkap seperti protein, karbohidrat, lemak, air, dan komponen minor lainnya. Tidak ada satu jenis makanan apa pun yang bisa memenuhi zat gizi manusia kecuali ASI selama 6 bulan,” tutur Purwiyatno Hariyadi dari Fakultas Teknologi Pertanian IPB yang diungkapkan pada acara bertajuk “Ragam Pangan dan Makanan Olahan indonesia, Untuk Siapa?” Yang diselenggarakan Kehati pada November lalu. Purwiyatno memberikan strategi, bahwa agar gizi keseharian bisa dipenuhi dengan baik, maka menu makanan haruslah beragam. Jadi, apa menu makan siang anda hari ini?
(text: Ayu Putri Dewanti; editor: Randita Indrayarto; image: Dok. Esquire)
 

Tabel Perbandingan antara beberapa produk Susu (beserta proses pengolahannya).

 

Akhir-akhir ini; banyak pertanyaan mengenai perbedaan (kelebihan dan kekurangan) berbagai jenis produk susu yang beredar di pasaran (susu cair vs susu bubuk, susu steril vs susu pasteurisasi, dll) .  Untuk menjawab tersebut; saya buatkan Tabel berikut.

Tabel. Perbandingan antara beberapa produk Susu (beserta proses pengolahannya)

Mudah2an membantu.

 

Susu UHT, Jangan Biarkan Terbuka Terlalu Lama

 

Susu UHT, Jangan Biarkan Terbuka Terlalu Lama

Penulis : Unoviana Kartika | Rabu, 18 September 2013 | 12:37 WIB
KOMPAS.com — Salah satu cara untuk mendapatkan nutrisi optimal dari susu adalah dengan mengonsumsi susu yang diproses melalui teknik ultra high temperature (UHT). Selain nutrisinya optimal, susu UHT juga praktis karena umumnya tersedia dalam kemasan kotak.
Hanya saja, kita perlu memahami aturan mengonsumsi susu UHT dalam kemasan kotak. Menurut Communications Manager Tetra Pak Indonesia Elvira P Wongsosudiro, salah satu hal yang penting untuk diperhatikan adalah tempat penyimpanan susu UHT setelah membuka kemasannya.Menurutnya, kemasan susu UHT yang sudah dibuka sudah tercampur dengan mikrobakteri. Karena itu, begitu membuka kemasan susu UHT sebaiknya habiskan dengan segera. Susu UHT dengan kemasan terbuka hanya bertahan beberapa jam di suhu ruang.

“Kalaupun mau disimpan, susu UHT harus disimpan di lemari pendingin yang bersuhu empat derajat celsius, dan itu juga hanya bisa maksimal tiga sampai empat hari,” terangnya dalam sebuah diskusi kesehatan di Jakarta, Selasa (17/9/2013).

Namun, sebelum membuka kemasan, imbuhnya, penyimpanan susu UHT di suhu ruang terbilang aman dan tahan berbulan-bulan. Untuk itu, Elvira menyarankan agar selalu memilih ukuran kemasan sesuai kebutuhan.

Misalnya, jika hanya tinggal sendiri, sebaiknya pilih kemasan susu UHT yang ukurannya 200-250 ml karena cukup untuk sekali minum. Sementara, jika dibutuhkan untuk satu keluarga, sebaiknya pilih kemasan yang ukurannya satu liter agar lebih hemat dan cepat dihabiskan.

Pakar teknologi pangan dari Instutut Pertanian Bogor (IPB) Profesor Purwiyatno Hariyadi mengatakan, susu UHT telah melewati serangkaian proses untuk menghasilkan kualitas susu dengan nutrisi maksimal dan mikroba minimal. Selain itu, kemasan susu UHT juga turut mendukung pertahanan kualitas susu.

Jika kemasan dibuka di lingkungan yang tidak steril, jelas dia, mikroba rentan masuk ke dalam susu. Mikroba kemudian berkembang biak dengan cepat karena susu merupakan penyedia nutrisi yang baik.

Oleh karenanya, pastikan kemasan susu UHT dalam keadaan baik sebelum membelinya. Kemasan yang rusak, robek, atau penyok bisa saja merusak kualitas susu di dalamnya.

Sumber: 

Susu UHT, Jangan Biarkan Terbuka Terlalu Lama – Kompas.com

 

EFFECT OF STERILITY (F0) VALUE AT DIFFERENT CANNING TEMPERATURES ON THE PHYSICAL PROPERTIES OF CANNED GUDEG

 

EFFECT OF STERILITY (F0) VALUE AT DIFFERENT CANNING TEMPERATURES ON THE PHYSICAL PROPERTIES OF CANNED GUDEG

Anna Amania Khusnayaini , Purwiyatno Hariyadi, and Eko Hari Purnomo

ABSTRACT
Gudeg is a traditional food from Yogyakarta and Central Jawa, Indonesia. The meal is made of young jackfruits (Artocarpus heterophyllus) cooked in a mixture of spices, palm sugar and coconut milk. Traditionally, gudeg is cooked for a long time and we have studied canning process for gudeg to shorten the cooking time, extent its shelflife and improve the overall convenience.  This study specifically aims to evaluate the effect of sterility value (Fo) with different time-temperature combination on the physical properties (hardness and color) and the preference score of the canned gudeg. Gudeg was prepared according to the traditional recipe with modification. Prepared young jackfruit cuts were canned and retorted at predetermined sterility (F0) values of 4, 12, 20, and 28 minutes at different retort temperatures of 111, 116, and 121°C. The hardness of the resulting canned gudeg was measured with a texture analyzer, whereas its color with a Minolta Chromameter. A sensory analysis was also conducted on the canned gudeg. Our study shows that increasing the F0-values during procesing causes softening of the gudeg as indicated by increased penetration depth from the penetrometer test.   Increase in F0-values is also associated with increase in the redness and decrease in the yellowness as well as the brighthess of the canned gudeg. Processing at different retort temperatures of 111, 116 and 121oC with the same F0-values, however, did not show any significant difference in color and texture. An F0-value ………………………………………………………………………………

More? click: https://custom.cvent.com/677F330F0F8C478FB585D2C9A561F54F/files/event/F5284A831CAB4AB89EAFA4C80823CD0D/514fd3f0d70048699221965be858bb8e.pdf

 

 

SNI, Diskriminasikan Minyak Goreng Sawit

 

 

Latar belakang fortifikasi digunakan memperbaiki gizi yang membutuhkan usaha signifikan dari pemerintah dan industri. Mesti disadari, masalah ini harus ditangani secara serius supaya bebannya tidak semakin berat. Memang, kebutuhan vitamin A perlu ditingkatkan guna membantu masyarakat miskin. Itu sebabnya,fortifikasi mempunyai peranan penting sekali. Selengkapnya…

 

 

Fortifikasi Vitamin A : Kebutuhan Atau Pemborosan?

 

Fortifikasi Vitamin A:  Kebutuhan atau Pemborosan – Sawit Indonesia

Mandatori penambahan vitamin A dalam minyak goreng sudah di depan mata. Kebijakan ini dinilai  membantu peningkatan suplai vitamin A kepada masyarakat, kendati efektivitasnya tetap diragukan.
Ditemui di kantornya yang terletak di Bogor, Purwiyatno Hariyadi, Direktur Southeast Asian Food and Agricultural Science and Technology (SEAFAST), merasa heran definisi minyak goreng sawit yang tercantum dalam Standar Nasional Indonesia (SNI)7709-2012. Dalam SNI  7709-2012 disebutkan minyak goreng sawit adalah  bahan pangan dengan komposisi utama trigliserida berasal dari minyak sawit, dengan atau tanpa perubahan kimiawi termasuk hidrogenasi, pendinginan dan telah melalui proses pemurnian dengan penambahan vitamin A.
Menurut Purwiyatno, kalimat “penambahan vitamin A” akan menambah beban produsen  minyak goreng karena pasca fortifikasi diwajibkan, setiap tahun mereka harus impor vitamin A.  Secara alami, minyak sawit mentah memilik kandungan betakaroten tinggi sekitar 500-600 ppm (seperjuta) per gram. Tetapi, kata Purwiyatno, senyawa karotenoid ini menjadi rusak dan hilang setelah melewati proses pemurnian (pemurnian) ketika diolah menjadi minyak goreng.  Artinya, proses pemurnian ini telah diarahkan oleh pemerintah untuk menghasilkan minyak goreng yang berwarna kekuningan. Tanpa pemurnian, minyak goreng akan berwarna kemerahan.
Herannya, setelah melewati proses pemurnian  produsen minyak goreng diminta untuk menambahkan kembali vitamin A sesuai  standar SNI berjumlah  45 IU (satuan vitamin). Sebenarnya, tanpa embel-embel penambahan vitamin A, menurut Purwiyatno, kalau proses pengolahan minyak goreng diperbaiki akan diperoleh jumlah vitamin A yang memadai.
Sebagai sebuah standar,  SNI 7709-2012 memiliki empat tujuan yaitu melindungi konsumen, menjamin perdagangan yang jujur dan bertanggungjawab, mendukung perkembangan dan diversifikasi produk minyak goreng sawit, serta meningkatkan gizi masyarakat melalui fortifikasi vitamin.
Menurut Purwiyatno Hariyadi, tujuan SNI minyak goreng sawit untuk memperbaiki gizi masyarakat khususnya vitamin A patut didukung. Terutama, mencukupi kebutuhan vitamin A untuk kalangan masyarakat miskin. Kalau tidak ditangani serius, kekurangan vitamin A akan berdampak serius kepada bangsa ini. “Dalam hal ini, upaya melakukan fortifikasi sangatlah penting. Tetapi , fortifikasi hanyalah salah satu instrumen  dari beragam instrumen lain seperti pemberian suplemen,” ujar Purwiyatno.
Purwiyatno menyatakan sebetulnya, minyak goreng berbasis sawit yang tanpa penambahan vitamin A  sudah dapat dikatakan minyak goreng.  Nah, supaya dapat mencapai standar SNI,  pabrik tinggal modifikasi teknologi proses minyak goreng untuk mendapatkan vitamin A alami dari betakaroten. Langkah lainnya, minyak goreng dapat dicampur dengan minyak sawit merah (red palm oil) yang kaya betakaroten. Kalau opsi tadi dilakukan, apakah minyak goreng tersebut  layak  disebut minyak goreng berstandar SNI 7709-2012?
“Justru inilah yang membuatnya tidak adil. Paling krusial,  antara definisi dengan tujuan SNI tidak selaras sebagaimana yang menjadi tujuannya yaitu  menjamin perdagangan yang jujur dan bertanggungjawab,” ujar Purwiyatno kepada SAWIT INDONESIA.
Pasokan vitamin A memang sangat dibutuhkan masyarakat khususnya bagi anak kecil, ibu hamil dan orang dewasa. Vitamin A ini adalah unsur zat gizi mikro yang gejalanya tersembunyi. Sekarang ini, Kekurangan Vitamin  A (KVA) yang berakibat xerophaltamia dan rabun senja jarang dijumpai di masyarakat. Namun perlu diwaspadai KVA sub klinis yang masih tinggi di masyarakat sehingga membahayakan kesehatan karena akan mengurangi tingkat kekebalan (imunitas) tubuh.
Tarik ulur regulasi yang mewajibkan fortifikasi vitamin A untuk minyak goreng telah menjadi perdebatan hangat selama 4-5 tahun belakangan.  Sebagian akademisi menilai fortifikasi  tindakan mubazir dan kurang bermanfaat karena jumlah vitamin A yang ada di dalam minyak goreng  masih lebih rendah dari kebutuhan harian. Seperti ditulis  Mangku Sitepoe dalam buku Minyak Goreng Dengan Fortifikasi Vitamin A Tidak Bermanfaat Mengatasi Kekurangan Vitamin A Di Indonesia¸ menjelaskan fortifikasi vitamin A  minyak goreng  menargetkan kepada penderita  kekurangan vitamin A di dalam  asupan makanan harian. Terutama 9 juta bayi dibawah umur 5 tahun dan satu juta wanita muda. Untuk, anak usia 2-5 tahun memerlukan 4200 IU dan kebutuhan harian vitamin A orang dewasa sebanyak 10.000 IU per hari.