phariyadi's blog

mencari dan memberi yang terbaik

 

 
Flavor: The Essence of Good Food.
01022018-Cover-edisi-2_2018
Pangan mempunyai multi fungsi atau nilai. Nilai suatu produk pangan dapat diukur dari berbagai sisi. Nilai pangan bisa dihargai dari sisi nilai energi, nilai gizinya, nilai fungsionalitas, dan lain-lain. Salah satu nilai penting dari produk pangan adalah nilai cita rasa yang akan memberikan nilai kenikmatan pada produk pangan. Nilai kenikmatan ini dianggap penting karena nilai-nilai lain produk pangan (nilai energi, nilai gizi serta nilai fungsionalitas pangan) baru akan muncul ketika produk pangan tersebut dikonsumsi dan dicerna oleh tubuh.
Kata kuncinya adalah konsumsi. Bahkan tidak sekedar konsumsi, tetapi perlu dikonsumsi dalam jumlah yang cukup dan dalam periode konsumsi yang cukup. Hal ini akan mudah terjadi –bahkan menjadi enjoyment- jika produk pangan tersebut mempunyai nilai kenikmatan. Disinilah peran penting cita rasa, avor, yang sesungguhnya merupakan prasyarat penting pangan yang baik. Flavor: The Essence of Good Food.
Kekhasan suatu produk pangan yang terkenal sering dicirikan dengan kekhasan cita rasanya. Sering pula terjadi, hanya dengan avornya sudah dapat dibayangkan bagaimana kelezatan dan kenikmatan mengonsumsi suatu produk pangan. Kekhasan ini menjadi pembeda penting.
Hal ini juga telah menjadi pendorong prakarsa pengembangan avor dari sumber daya lokal khas suatu lokasi atau daerah. Indonesia dengan kekayaan sumber daya pangan berarti pula kaya dengan sumber daya cita rasa. Sekedar contoh, potensi sumber daya khas daun pandan. Daun pangan diketahui mengandung turunan senyawa karotenoid dengan karakter avor khas dan berpotensi dikembangkan dan diaplikasikan pada produk pangan. Di samping itu, tradisi teknologi pangan lokal Indonesia lain seperti fermentasi ikan (bekasang, terasi dan petis) dan kedelai (tempe, tauco dan kecap) juga diketahui sebagai sumber cita rasa umami khas lainnya.
Pengembangan avor khas dan aplikasinya pada produk pangan ini terus berkembang. Meat avor menjadi salah satu cita rasa avor yang banyak dipakai, misalnya avor ayam bawang, avor sapi panggang, avor rendang dan lain sebagainya yang banyak ditemui di produk snack, bakeri, mi instan, dan lain lain. Foodreview Indonesia edisi ini membahas berbagai aspek avor sebagai penciri produk pangan. Berbagai ulasan disajikan, mencakup pengembangan ekstraksi senyawa avor, eksplorasi sumber-sumber avor lokal, regulasi, serta hal lainnya seperti asam amino sebagai ingridien avor. Semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat dalam meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.
Purwiyatno Hariyadi
 

Localizing Bakery Products

 

Localizing Bakery Products

29122017-Screen-Shot-2017-12-29-at-4.11.52-PM

Localization strategy is geared toward understanding local consumer preferences and other locale-speci c requirements and then adapting the marketing mix and other business strategies to best satisfy consumer needs and wants. (http://www.brandquarterly.com/localized-global-marketing-strategy)

Laporan EU-Indonesia Bussiness Network untuk Sektor Ingridien Bakeri (EIBN Sector Reports, Bakery Ingredients, 2016)1 menyatakan bahwa industri bakeri di Indonesia mempunyai prospek yang sangat cerah. Laporan ini juga menunjukkan bahwa produk bakeri yang populer di Indonesia adalah roti (60%); kue-kue tradisional (25%); kukis, wafer, dan biskuit (10%); serta kue (cakes, 5%). Dinyatakan oleh Asosiasi Pengusaha Bakery Indonesia (APEBI) bahwa rata-rata pertumbuhan sektor bakeri ini mencapai di atas 10% per tahun. Diramalkan oleh suatu studi yang dilakukan oleh Inter our Group, dalam 5 tahun mendatang akan terjadi kebutuhan tepung terigu yang meningkat tajam, mencapai angka kenaikan sampai 40% dari kondisi sekarang.

Pertumbuhan industri bakeri tidak lepas dari perubahan gaya hidup orang Indonesia yang umumnya menjadi lebih sibuk dan menuntut produk pangan yang praktis. Aneka produk bakeri dianggap mampu menyediakan alternatif produk yang praktis dan sederhana (mudah dibawa, mudah dikonsumsi) yang sesuai dengan gaya hidup mereka. Di sisi lain, produk bakeri juga menawarkan berbagai “kelebihan” dalam hal keamanan, nilai gizi dan juga cita rasa yang sesuai. Produk bakeri –khususnya roti- mudah sekali dikembangkan dengan aneka bahan lokal yang memperkaya zat gizi dan sekaligus mengadopsi preferensi konsumennya. Roti dengan isi pisang, mangga, nangka, durian, nanas, jagung muda, serta aneka bahan lokal lainnya adalah contohnya.

Secara umum, laporan EIBN di atas juga menyatakan bahwa industri bakeri Indonesia masih mempunyai ketergantungan terhadap impor yang tinggi, yaitu 70%. Ini jelas merupakan tantangan. Hanya 30% komponen ingridien industri bakeri dapat disediakan secara lokal. Tantangan ini jelas pula sekaligus sebagai tantangan. Bagaimana menyediakan aneka tepung lokal, seperti tepung singkong, tepung pisang, tepung aneka umbi, dan lain-lain? Bagaimana menyediakan ingridien lain, seperti aneka buah (segar dan kering) untuk isi bakeri, kacang, coklat, dan lain-lain? Jadi ada tantangan dan peluang besar untuk melakukan subsitusi dengan mengembangkan dan menggunakan bahan lokal. Localizing Bakery Products. “Localizing” adalah upaya strategis untuk menyesuaikan preferensi konsumen lokal dan persyaratan spesifik lokal lainnya, termasuk sumber daya lokal. Tentu saja, perlu komitmen semua pihak untuk melakukan hal ini dengan sukses.

Selain itu, tantangan untuk selalu berinovasi, menawarkan mutu yang berbeda dan lebih baik juga sangat penting untuk dijawab. FOODREVIEW Indonesia edisi Localizing Bakery Products ini juga membahas teknologi untuk mendukung upaya inovasi menawarkan produk bakeri lebih bermutu. Pemilihan tepung untuk produk bakeri, tren bakeri di Eropa, aplikasi tepung modi kasi, dan penggunaan enzim juga diulas pada edisi kali ini.

Selamat tahun baru 2018. Dengan semangat baru, semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

Pemenang Lomba Website Unit Kerja IPB 2017

 

Pemenang Lomba Website Unit Kerja IPB 2017

Pemenang Lomba Website Unit Kerja IPB 2017 berdasarkan keputusan juri adalah sebagai berikut :

Kategori Fakultas :
1. Fakultas Pertanian dengan nilai 85.33

Kategori Departmen :
1. Departemen Ilmu Komputer dengan nilai 75.67

Kategori Organ IPB, Kandiro, dan LPPM :
1. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat dengan nilai 94.78

Kategori Pusat Studi :
1. Pusat Studi Biofarmaka dengan nilai 88.22

Kategori Lembaga Kemahasiswaan :
1. HIMALKOM Institut Pertanian Bogor dengan nilai 81.34

Kategori Blog Dosen :
1. Purwiyatno Hariyadi dengan nilai 81.10
2. Hadi Susilo Arifin dengan nilai 78.77
3. Kaswanto dengan nilai 64.65

Kategori Blog Tendik :
1. Anita Handayani dengan nilai 98.00
2. Rohmat Ismail dengan nilai 55.34
3. Asep Denda Is Purwanto dengan nilai 47.70

Juara Umum :
– Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat dengan nilai 94.78

Sumber:

http://ict.ipb.ac.id/pemenang-lomba-website-unit-kerja-ipb-2017/

 

Stunting Jadi ‘PR’ Pemerintah dalam Bidang Kesehatan di 2018

 
Ardi Mandiri | Firsta Nodia
Sabtu, 23 Desember 2017 | 17:48 WIB

Stunting adalah suatu kondisi yang merujuk pada tubuh pendek karena kekurangan gizi kronis dalam waktu cukup lama.

Suara.com – Stunting adalah suatu kondisi yang merujuk pada tubuh pendek karena kekurangan gizi kronis dalam waktu cukup lama. Penyebab bayi mengalami stunting sangat kompleks mulai dari pemberian ASI yang tidak cukup, pemberian MPASI yang tidak cukup, pengasuhan anak yang kurang tepat, faktor kondisi rumah, faktor infeksi, keamanan pangan dan air yang tak terjaga serta mutu dan gizi pangan yang buruk.

Disampaikan Guru Besar Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Purwiyatno Haryadi, MSc., stunting masih menjadi tantangan pemerintah di bidang kesehatan pada 2018 mendatang. Menurut dia, sektor yang paling harus diintervensi pemerintah adalah kaitannya dengan keamanan pangan.

“Dari sisi kesehatan bagaimana bisa mengatasi stunting  melalui bidang keamanan pangan seperti kurangnya infrastruktur air bersih. Saya lihat perlu ada investasi keamanan pangan, seperti pedagang bakso atau jajanan anak-anak,” ujar Prof Purwiyatno pada Suara.com belum lama ini.

Ia melihat produksi pangan yang tidak sesuai kaidah Cara Produksi Pangan yang Baik (CPBB) menjadi tantangan keamaman pangan di Indonesia. Masih banyak pedagang makanan yang abai dengan kaidah ini dan melakukan penggunan bahan tambahan pangan yang berlebihan.

“Pemerintah harus memastikan perlindungan kesehatan publik dengan pembenahan standar keamanan pangan nasional,” tambah dia.

Prof Purwiyatno mengatakan, ketika aspek keamanan pangan diperhatikan, maka risiko anak-anak akan jatuh sakit dan mengalami gizi buruk bisa dicegah.

Selain intervensi di bidang keamanan pangan, Ia juga melihat pentingnya dukungan multisektor untuk merevitalisasi posyandu. Seperti kita tahu posyandu merupakan pusat kegiatan penyuluhan di masyarakat yang turut mempengaruhi cakupan perbaikan gizi di suatu daerah.

“Stunting perlu melibatkan banyak kementerian. Justru saya kira perlu ada tim khusus untuk menangani secara khusus darurat stunting ini. Seperti misalnya merevitalisasi posyandu, dimonitor apakah penyuluhan untuk pemberian makanan pada bumil sudah tercapai. Bagaimana mengajarkan masyarakat pentingnya pemberian makanan bergizi pada anak,” tambah dia.

 

Indonesia Harus Siap Hadapi Tantangan Ganda Keamanan Pangan 2018

 

Indonesia Harus Siap Hadapi Tantangan Ganda Keamanan Pangan 2018 .

Siti Nurfaizah 
Jumat, 22 Desember 2017 10:37 WIB

AKURAT.CO, Indonesia akan menghadapi tantangan ganda keamanan pangan di tahun 2018. Pertama keamanan pangan domestik yang banyak menciptakan masalah stunting, dan kedua tantangan keamanan internasional.

Hal ini dikatakan Guru Besar Pangan IPB, Purwiyatno Haryadi, sehingga menurutnya harus dilakukan pembenahan sistem keamanan nasional.

“Seperti dapat dilihat, kita akan menghadapi tantangan ganda. Pertama lebih besar pada keamanan pangan domestik itu masalah stunting, dan kedua tantangan keamanan internasional,” jelasnya dalam diskusi bertajuk “Outlook 2018 mengenai Tantangan dan Peluang 2018 di Hotel Dharmawangsa, Kamis (21/12).

Tantangan keamanan pangan domestik seperti masih terjadinya stunting. Stunting merupakan kondisi tubuh pendek karena kekurangan gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama.

Purwiyatno juga menambahkan yang menjadi indikator Indonesia dianggap sebagai negara yang paham tentang pangan adalah jika setiap individu di Indonesia mempunyai akses terhadap pangan yang cukup, aman dan berkualitas. Sehingga, ketika dikonsumsi oleh individu tersebut memiliki potensi sebagai orang yang sehat dan produktif. Hal ini sesuai dengan UU Pangan No.18 tahun 2012.

“Ternyata di tingkat dunia kondisi kekurangan gizi meningkat. Di tahun 2015 mencapai 777 juta orang dan tahun 2016 menjadi 815 juta orang,” jelasnya.

Sedangkan kondisi kurang gizi di Indonesia menurut Purwiyatno, grafiknya mirip dengan dunia. Data dari tahun 2003, 2010 dan 2013 menunjukkan angka yang flat namun akhirnya meningkat dari 13 hingga 13,9 persen.

Selain itu, tantangan keamanan pangan domestik lainnya adalah rendahnya akses Industri Kecil Menengah (IKM) terhadap sumber daya modal, prasarana/fasilitas keamanan, sanitasi dan higieni, sumbed daya manusia, dan manusia.

 

 

Tantangan Peluang Politik 2018

 

Tantangan Peluang Politik 2018 | ANTARA Foto

Pendiri dan piminan Indonesia Water Institute FT UI Firdaus Ali (kiri), Direktur Eksekutif CORE Indonesia dan Managing Director ECONIT Hendri Saparini (kedua kanan) dan Guru Besar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian (ITP-Fateta) Institut Pertanian Bogor (IPB) Purwiyatno Hariyadi (kanan) mejadi pembicara dalam acara Rembuk Nasional “Outlook” 2018, di Jakarta, Kamis (21/12). Dalam diskusi tersebut selain membahas peluang politik juga memaparkan tantangan perekonomian, serta tantangan dan peluang di Indonesia pada Tahun Politik 2018. ANTARA FOTO/Reno Esnir/kye/17.
http://www.antarafoto.com/peristiwa/v1513858512/tantangan-peluang-politik-2018
 

Developing partnerships to strengthen the work of Codex

 

Developing partnerships to strengthen the work of Codex

 http://www.fao.org/fao-who-codexalimentarius/news-and-events/news-details/en/c/1072543/
08/12/2017

Codex Chairperson Guilherme Costa and Vice-Chairperson Purwiyatno Hariyadi praised the commitment and achievements of countries in the CCASIA region and called on the skill and experience of the private sector to continue to develop partnerships that can strengthen the work of Codex.

Speaking at the 12th CII Food Safety, Quality & Regulatory Summit held in New Delhi India 4-5 December 2017, organised by the Confederation of Indian Industry, Costa said that Codex standards are taken up by industry and governments if they are practical in nature and relevant to the needs of both sectors.

Costa went on to explain that “identifying and addressing the challenges and opportunities along the food value chain, from primary production to retail,” considering key issues such as food waste, traceability and food fraud was fully in line with Codex strategy. He also stressed the importance of Codex considering emerging issues and of examining food safety and trade issues across “the whole production chain perspective.”

Costa outlined his aim as Chair to stimulate the participation of “the whole production chain in Codex work”, highlighting the importance of stronger member participation, especially of developing and least developed countries. He stated that science was the basis of the discussions in Codex with working to build consensus a core value. He encouraged delegates to cooperate with one another to “guarantee protection for the health of consumers” whilst ensuring fair practices in trade, “that can generate foreign exchange and jobs.”

Links

http://face-cii.in/

http://www.fao.org/fao-who-codexalimentarius/news-and-events/news-details/en/c/1072543/

 

SNACKIFICATION

 

SNACKIFICATION

30112017-Screen-Shot-2017-11-30-at-4.21.15-PM

Kebiasaan dan pola pangan masyarakat selalu berubah, bersamaan dengan perubahan status ekonomi, sosial dan gaya hidup. Beberapa penelitian melaporkan bahwa frekuensi mengonsumsi cemilan (makanan kecil, makanan jajan, snack) menjadi meningkat. Jenis cemilan pun semakin beragam. Laporan the Hartman Group yang berjudul the Future of Snacking 2016 menunjukkan bahwa 91% konsumen mengonsumsi cemilan lebih dari dua kali dalam sehari. Mengonsumsi cemilan merupakan separo (50%) dari kegiatan konsumsi makanan. Artinya? Kegiatan “nyemil” merupakan kegiatan yang sangat penting; khususnya akan mewarnai kualitas asupan gizi harian konsumen.

Kondisi ini juga terjadi di Indonesia. Apalagi dengan meningkatnya kemacetan di mana konsumen “terpaksa” tidak punya cukup waktu untuk melakukan ritual makan pagi, siang dan malam di meja makan. Sehingga konsumsi pangan dilakukan selama perjalanan (on-the-go).  Dan pangan yang dikonsumsi itu adalah snack atau produk pangan utama yang sekarang diproduksi, dijajakan dan dikonsmsi sebagai snack. Snackification.

Snackification muncul sebagai jawaban dari tuntutan konsumen atas kepraktisan. Awalnya adalah kebutuhan untuk mengatasi rasa lapar karena tidak sempat atau harus menunda makan utama (pagi, siang atau malam). Namun akhirnya berkembang menjadi gaya hidup karena meningkatnya kesibukan dan keterbatasan. Tren snackication ini terlihat dengan jelas di berbagai stasiun kereta api di beragam convenience store. Bermunculanlah aneka pangan tradisional praktis seperti lemper, “nasi kucing” dan masih banyak lagi.  Bahkan disediakan juga minuman panas dan oven gelombang mikro untuk memanaskan aneka pangan.

Snackification jelas merupakan peluang sekaligus tantangan. Indonesia kaya dengan aneka makanan jajanan atau jajanan pasar yang berpotensi dikembangkan. Ada kue lapis, kue cucur, kue cenil, kue apem, buras, dan aneka jajanan kering yang luar biasa ragamnya. Sungguh kekayaan yang harusnya dapat dikembangkan oleh industri pangan nasional kita. Namun demikian, snackification yang sukses tidak hanya memikirkan mengenai kepraktisan belaka. Unsur keamanan, gizi, fungsional dan sensori produk cemilan harus selalu menjadi bagian tidak terpisahkan dari pengembangan produk yang sukses.

Mengakhiri tahun 2017 ini, FOODREVIEW INDONESIA menyajikan aneka upaya pengembangan produk snack sesuai dengan perubahan gaya hidup, pemilihan bahan untuk mendapatkan karakteristik yang diinginkan. Beberapa ingridien yang mendukung pengembangan produk cemilan, seperti perisa, cokelat dan lemak juga diulas pada kali ini.

Semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

Seminar on Food Safety Risk Analysis Indonesia Risk Assessment Center (INARAC)

 

Seminar On Food Safety Risk Analysis – Indonesia Risk Assessment Center-INARAC

Pada tanggal 1 November 2017 telah diselenggarakan kegiatan bersama antara BPOM dengan Ministry for Primary Industries (MPI) New Zealand dalam Forum INARAC di Hotel Grand Mercure Jakarta Kemayoran. Kegiatan ini adalah realisasi dari Arrangement between National Agency for Drug and Food Control Republic of Indonesia and The Ministry for Primary Industries of New Zealand regarding Food Safety Cooperation yang ditandatangani pada tanggal 11 November 2014 serta tindak lanjut kunjungan kerja Kepala BPOM ke New Zealand, khususnya pertemuan delegasi Kepala BPOM dengan Direktur Jenderal MPI, pada tanggal 31 Juli-1 Agustus 2017. Tujuan utama kegiatan selama tiga hari adalah meningkatkan awareness BPOM dan lintas sektor akan pentingnya analisis risiko keamanan pangan, serta terutama untuk memperkuat kapasitas kajian risiko keamanan pangan.
Seminar on Food Safety Risk Analysis ini dihadiri 135 peserta yang merupakan perwakilan Kementerian/ Lembaga (K/L), unit kerja di BPOM, perguruan tinggi, lembaga penelitian, organisasi profesi/ profesional, dan asosiasi. lintas sektor di bidang keamanan pangan serta lintas unit di BPOM. Lintas sektor yang hadir antara lain: Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ BAPPENAS, Kementerian Badan Usaha Milik Negara, Kementerian Koordinator Bidang Perkonomian, Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, BATAN, Institut Teknologi Bandung, Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, Universitas Indonesia, IPB, Poltekkes Jakarta, Swiss German University, Universitas Bina Nusantara, SEAMEO, Poltek STMI Kemenperin, Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia, Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia, Perhimpunan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia, Pergizi Pangan Indonesia, serta klintas unit di BPOM.

Dr. Bill Jolly, Chief Assurance Strategy Officer, MPI New Zealand menyampaikan remark pada opening ceremony, selanjutnya pembacaan opening remark Deputi Bidang Pengawasan Kamanan Pangan dan Bahan Berbahaya, Badan POM dan  sekaligus pembukaan seminar oleh Direktur Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan, Badan POM, Ibu Mauizzati Purba.

Seminar food safety risk analysis ini merupakan acara hari pertama dari rangkaian tiga hari kegiatan INARAC. Pada sesi pagi, diskusi panel berlangsung terkait perkembangan prinsip dan penerapan analisis risiko sebagai pendekatan yang direkomendasikan oleh FAO/WHO dalam sistem keamanan pangan serta kajian risiko dalam ranah regional, yaitu pada sesi materi narasumber mengenai: Food Safety Risk Analysis at the Global Level: Implementation by Codex Alimentarius Commission, yang disampaikan Prof. Dr. Purwiyatno Hariyadi, Vice-chair of Codex Alimentarius Commission, yang kemudian dilanjutkan dengan sharing mengenai Risk Analysis in Food Regulation: The New Zealand  Experience, yang dibawakan oleh Dr. Bill Jolly.

Pada paparan mengenai Food Safety Risk Analysis at the Global Level: Implementation by Codex Alimentarius Commission, Prof. Dr. Purwiyatno Hariyadi menyampaikan sudut pandang analisis risiko berdasarkan Codex Alimentarius Commission. Analisis risiko berdasarkan Codex mengacu pada prinsip-prinsip: 1) ilmiah, konsisten, terbuka dan transparan, 2) didokumentasikan secara lengkap dan sistematis secara transparan, 3)  ada pemisahan secara fungsional antara penilaian risiko dan manajemen risiko, 4) situasi negara-negara berkembang harus diidentifikasi dan diperhitungkan secara khusus. Sedangkan kajian risiko berfungsi: 1) Menyediakan dasar ilmiah untuk mendukung tindakan manajemen risiko; 2) Instrumen untuk membantu manajer risiko dengan saran ilmiah yang bersifat independen yang berkaitan dengan keamanan pangan dan pakan dalam ranah kesehatan masyarakat; 3) Menyediakan landasan ilmiah yang transparan untuk mendukung pengembangan standar dan peraturan; 4) Memungkinkan penilaian komparatif untuk pilihan yang berbeda sebelum implementasi. Pada paparannya, Prof. Purwiyatno menggarisbawahi pada prinsipnya seharusnya ada pemisahan antara risk management dan risk assessment, untuk menjamin proses yang berlangsung sesuai pada frame-nya.

Selain itu terdapat sesi diseminasi hasil kajian risiko (oral presentation)  yang dilaksanakan oleh beberapa K/L, diikuti dengan poster session antara lain:

  • Kajian risiko akrilamida, Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro;
  • Kajian risiko di bidang gizi, Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia;
  • Kajian risiko produk perikanan, Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan;
  • Kajian risiko produk peternakan, Balai Besar Penelitian Veteriner, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.
  • Kajian risiko aflatoksin B1 pada kacang tanah, Panel Pakar Mikotoksin INARAC.
  • Kajian risiko Salmonella spp pada ayam goreng, Panel Pakar Salmonella  spp. INARAC.

Selanjutnya sesi diskusi sore diisi dengan diskusi mengenai  Chemical Risk Assessment for Food Safety in ASEAN, yang disampaikan oleh Dr. Emran Kartasasmita, ITB dan dilanjutkan dengan Microbiological Risk Assessment for Food Safety in New Zealand: Case Study of Campylobacter yang disampaikan oleh Peter van der Logt.

Kegiatan Seminar on Food Safety Risk Analysis ini berjalan dengan baik dan lancar. Diskusi berlangsung dengan interaktif dipandu moderator yang komunikatif. Secara garis besar, rangkuman benang merah materi dari keseluruhan paparan yang disampaikan, sebagai berikut: Kajian risiko merupakan salah satu persyaratan dalam World Trade Organization (WTO) dalam Sanitary Phyto Sanitary (SPS) Agreement. Dalam pasal 5 text of The WTO Agreement on the Application of Sanitary and Phytosanitary Measures (SPS Agreement) disebutkan bahwa negara anggota perlu menjamin kebijakan terkait sanitary atauphytosanitary berdasarkan suatu kajian risiko terkait kesehatan atau kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan, dengan memperhatikan metode kajian risiko yang dikembangkan oleh organisasi internasional yang relevan (WTO 1994). Dengan demikian, kajian risiko menjadi faktor yang penting dalam perdagangan internasional, dan secara tidak langsung berpengaruh terhadap perekonomian negara, khususnya terkait dengan ekspor dan impor.

Kajian risiko (risk assessment) merupakan bagian dari analisis risiko (risk analysis), yaitu suatu pendekatan dengan kegiatan evaluasi ilmiah mengenai akibat paparan bahaya pangan pada manusia. Hasil kajian risiko dapat dimanfaatkan bila telah dilakukan dengan metodologi yang benar. Dalam prosesnya, tahapan yang harus dilakukan adalah sebagai berikut ini: (1) identifikasi bahaya, (2) karakterisasi bahaya, (3) kajian paparan, dan (4) karakterisasi risiko (WHO 1995). Kajian risiko keamanan pangan di Indonesia diimplementasikan oleh instansi yang terkait dengan keamanan pangan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. INARAC merupakan wadah untuk melaksanakan kajian risiko keamanan pangan di Indonesia. Melalui seminar ini, sesuai dengan visinya, INARAC diharapkan dapat menjadi lembaga yang kompeten untuk menyediakan data dan informasi ilmiah bagi manajemen risiko dalam penentuan kebijakan keamanan pangan nasional dan diakui secara regional serta internasional.

 

Perkembangan Keamanan Pangan dan Aplikasinya pada Proses Produksi

 

Perkembangan Keamanan Pangan dan Aplikasinya pada Proses Produksi


Keamanan pangan terus menjadi fokus utama dalam menghasilkan pangan yang aman dan berkualitas. Inovasi dalam keamanan pangan pun semakin berkembang dan dikembangkan, dalam menjamin keamanan pangan tersebut, banyak faktor yang terus ditingkatkan dan dijaga keamanannya seperti kontaminan pada proses produksi.Seperti yang dipaparkan oleh Vice-Chairman Codex Alimentarius Commission (CAC), Prof. Dr. Purwiyatno Hariyadi,  dalam  the 1st Seafast International Seminar 2017 “Current and Emerging Issues of Food Safety: Innovation Challenges” yang diselenggarakan pada 21-22 November 2017 di Bogor bahwa keamanan pangan tidak hanya fokus pada tiga proses produksi utama seperti formulasi, proses produksi, dan penanganan pasca proses tetapi, ditambahkan dengan optimasi setelah proses, kegiatan saat di lahan dan penanganan pasca panen. Sehingga, penambahan dan optimasi tersebut dapat menekan foodborne disease dan meningkatkan keamanan pangan.
Hal serupa disampaikan oleh Siew Moi Wee, dari International Life Science Institute (ILSI) South East Asia Region,  dalam paparannya terkait aflatoxin dalam keamanana pangan, pengendalian pada aflatoxin ditekankan pada lima proses pra dan pasca panen seperti proses pertanian yang baik, penanganan dan penyimpanan pasca panen, kontrol tingkat kelembapan, HACCP dan langkah mitigasi seperti pada saat penyortiran.

Selain lima hal di atas, Wee juga menekankan pentingnya komunikasi dan informasi kepada seluruh pihak terkait mengenai aflatoxin agar tercipta sistem yang sinergi untuk menangani keamanan pangan yang banyak disebabkan oleh Aspergillus parasiticus ini.”Komunikasi dan kemampuan mengatur merupakan langkah yang sangat penting untuk menangani keamanan pangan,” tuturnya.

Fri-35

http://foodreview.co.id/blog-5669285-Perkembangan-Keamanan-Pangan-dan-Aplikasinya-pada-Proses-Produksi.html

File presentasi Prof. Purwiyatno Hariyadi (Updates on Food Processing Contaminants) dapat diunduh di sini.