phariyadi's blog

mencari dan memberi yang terbaik

 

Perlu Strategi Nasional bagi Keamanan Pangan Minyak Sawit

 

Perlu Strategi Nasional bagi Keamanan Pangan Minyak Sawit


Sumber: https://www.infosawit.com/news/9226/perlu-startegi-nasional-bagi-keamanan-pangan-minyak-sawit

Perlu Startegi Nasional bagi Keamanan Pangan Minyak Sawit

Prof Hariyadi dari IPB menjelaskan adanya aturan baru CODEX bagi minyak makanan global.

InfoSAWIT, BOGOR – Prof. Purwiyatno Hariyadi dari Institut Pertanian Bogor (IPB), menjelaskan konsen konsumen dunia saatini terhadap konsumsi minyak makanan termasuk minyak sawit pada acara The 1st Internasional Conference on Sustainable Plantation (ICSP) dengan tema “Better Environtment with better prosperity, harmonization of Humankind and Nature”.

Prof Hariyadi dalam presentasinya menjelaskan berbagai standar baru Codex yang wajib dilakukan para produsen minyak makanan. Kendati kewajiban ini bagi anggota, namun keanggotaan Codex sendiri bersifat sukarela. Namun, Prof Hariyadi mengingatkan pentingnya memenuhi standar Codex, dimana standar ini akan digunakan bila ada persoalan perdagangan internasional, seperti sidang WTO.

Menurut Prof Hariyadi, persoalan transportasi dan packaging, masih menjadi persoalan besar bagi minyak makanan berbahan baku minyak sawit mentah (CPO). Sebab itu, industri minyak makanan (refineri) harus berbenah untuk memenuhi keinginan konsumen global.

“Jika industri refineri tidak bisa memenuhi standar Codex, maka permintaan minyak sawit (CPO) dan produk turunannya bisa menurun,” ungkap Prof Hariyadi menegaskan kepada InfoSAWIT, Selasa (20/8/2019) di Bogor.

Menurutnya, sebagai produsen terbesar CPO dunia, dimana lebih dari 41% dihasilkan petani kelapa sawit. Sebab itu, penting bagi Indonesia, untuk berbenah segera mungkin, sehingga dapat memenuhi standar Codex yang berlaku universal. (T1)

https://www.infosawit.com/news/9226/perlu-startegi-nasional-bagi-keamanan-pangan-minyak-sawit

 

Keamanan Pangan Langkah Pertama Menuju Pola Makan Sehat

 

Keamanan Pangan Langkah Pertama Menuju Pola Makan Sehat

M. Reza Sulaiman
Senin, 05 Agustus 2019 | 22:42 WIB

Keamanan Pangan Langkah Pertama Menuju Pola Makan Sehat

Keamanan pangan sering diabaikan. (Shutterstock)

Keamanan pangan merupakan aspek penting dalam pola makan sehat yang sering diabaikan.

https://www.suara.com/health/2019/08/05/224220/keamanan-pangan-langkah-pertama-menuju-pola-makan-sehat
Suara.com – Keamanan Pangan Langkah Pertama Menuju Pola Makan SehatPola makan sehat tidak bisa dicapai melalui bahan makanan yang sehat saja. Pakar mengatakan keamanan pangan (food safety) yang sering diabaikan, justru menjadi faktor paling penting.

Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc, ahli pangan dan Ketua Pusat Pangan SEAFAST IPB mengatakan keamanan pangan wajib diperhatikan jika ingin memulai pola makan sehat.

Ia menyebut makanan apapun dengan nilai gizi tidak akan bermanfaat untuk tubuh jika sudah tercemar atau terkontaminasi.

“Pangan kan mengandung protein, karbohidrat, lemak, dan mineral yang dibutuhkan tubuh. Tapi kalau tercemar, terkontaminasi, atau ada bakterinya, maka protein, mineral, dan lain-lain itu tidak bisa dimanfaatkan oleh tubuh, malah bisa menyebabkan penyakit,” tutur Prof Purwiyatno, di sela-sela acara Asian Congress of Nutrition 2019 di Nusa Dua, Bali, Senin (5/8/20190).

Bahkan menurut Prof Purwiyatno, sebuah bahan pangan tidak bisa disebut sebagai makanan jika mengabaikan aspek keamanan. Oleh karena itu, pengawasan keamanan pangan harus dimulai bukan sejak pangan diolah, namun sejak diproduksi.

“Misalnya penggunaan pestisida, kalau ini pangan yang nanti digunakan untuk dimakan manusia, maka level kontaminan dari sisa-sisa pestisidanya bisa membuat produk pangan tidak aman. Jadi kalau bicara pangan yang pertama harus aman dulu,” urainya lagi.

Di kesempatan yang sama, Dr. Ir. Roy Sparringa M.App.Sc menekankan pentingnya pengawasan komunitas dalam keamanan pangan. Sebab, pemerintah dalam hal ini pemerintah daerah maupun Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tidak bisa bekerja sendirian.

Ia mengambil contoh pengawasan keamanan pangan di pasar. Pasar merupakan tempat utama transaksi jual-beli bahan pangan masyarakat untuk rumah tangga ataupun usaha.

Ikan yang dijual di Pasar Ikan Muara Angke, Jakarta. (Suara.com/Walda Marison)
Pasar Ikan Muara Angke, Jakarta. (Suara.com/Walda Marison)

“Pasar kan tempat orang beli bahan pangan. Kalau dari pasar saja makanan sudah tidak aman, food safety tidak terjaga, begitu akhirnya dimasak di rumah atau dijual lagi dalam bentuk makanan sudah tidak sehat,” ungkapnya.

Karena itu komunitas yang ada di pasar, baik pedagang, distributor makanan, hingga pembeli, wajib memerhatikan keamanan pangan. Kolaborasi dengan pemerintah daerah menjadi penting agar kasus keamanan pangan tidak menimbulkan masalah kesehatan di kemudian hari.

BPOM dan pemerintah daerah melalui dinas terkait bisa memberikan pembekalan soal bagaimana menjaga keamanan pangan hingga apa saja ciri makanan yang terkontaminasi. Dengan begitu keamanan pangan bisa terjaga, dan masalah kesehatan pun bisa dihindari.

“Tentu saja kita inginnya masyarakat mandiri, maka dilibatkan masyarakat di sana, pemerintah daerah, dinas terkait, tujuannya memandirikan masyarakat,” tutupnya.

https://www.suara.com/health/2019/08/05/224220/keamanan-pangan-langkah-pertama-menuju-pola-makan-sehat

 

Ingredient Insights

 

Book CoverIngredient Insights

Pada industri makanan, seperti halnya industri lainnya, faktor pendorong utama inovasi umumnya adalah kemajuan teknologi dan perubahan tuntutan (kebutuhan dan keinginan) konsumen. Kemajuan teknologi pangan telah memungkinkan industri menghasilkan produk pangan dengan lebih aman, bermutu dan bernilai gizi lebih baik, mempunyai umur simpan yang lebih lama, serta memberikan aspek kenikmatan yang lebih tinggi, misalnya. Namun, itu saja tidak cukup. Buktinya, banyak produk pangan baru yang secara teknologi mumpuni tetapi kenyataannya gagal ketika diluncurkan ke pasaran. Kegagalan ini terutama disebabkan keberadaan produk tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen.

Perubahan kebutuhan dan keinginan konsumen ini haruslah melatarbelakangi inovasi industri pangan. Hanya industri yang melakukan inovasi dengan tepat sajalah yang akan mampu memenangkan kompetisi yang sangat ketat. Kompetisi mengharuskan industri pangan secara terus-menerus melakukan pengembangan dan memformulasi ulang produk-produknya untuk memenuhi dan menyesuaikan dengan perubahan kebutuhan dan keinginan konsumen.

Saat ini, faktor penting yang sangat memengaruhi perubahan kebutuhan dan keinginan konsumen adalah dalam bidang keamanan dan kesehatan. Untuk dapat mengembangkan dan memformulasi ulang produk-produknya maka diperlukan adanya bahan-bahan atau ingridien yang tepat. Pertama dan utama, ingridien yang digunakan harus memenuhi persyaratan peraturan keamanan yang diberlakukan oleh lembaga berwenang; baik secara nasional dan internasional.

Selanjutnya; terdapat dua pendekatan untuk memformulasikan produk pangan yang lebih menyehatkan. Pertama, mengganti, mengurangi atau menghilangkan ingridien yang dianggap menjadi penyebab permasalahan kesehatan (ingredients of public health concern) – seperti gula, garam, dan lemak. Kedua, menambahkan ingridien yang memberikan manfaat gizi dan kesehatan. Tantangannya adalah, dalam melakukan hal itu, industri perlu memastikan bahwa produk pangan yang dihasilkan tetap harus menarik dan enak untuk dikonsumi.

Dalam hal ini, perlu ketepatan dalam hal memilih ingridien. Perlu ada informasi mendalam mengenai ingridien yang ada. Saat memilih, jelas sangat penting informasi tentang ingridien dan pengaruhnya terhadap keamanan, gizi, kesehatan, rasa, dan aspek penting lain dari produk pangan yang dihasilkan. Industri juga harus mempertimbangkan bagaimana perubahan yang terjadi pada ingridien tersebut selama proses pengolahan, penanganan, distribusi, dan tahap penyajian di rumah tangga, sampai akhirnya dikonsumsi oleh konsumen. Ingredient Insights.

Bahkan, belakangan ini konsumen juga menuntut supaya proses produksi, transportasi, distribusi ingridien tersebut tidak berkontribusi terhadap pemanasan global. Demikian juga, apakah ingridien tersebut melindungi keanekaragaman hayati dan ekosistem? Itulah tantangan industri pangan termasuk industri ingridien pangan.

Untuk itu, Foodreview Indonesia edisi kali ini akan membahas beberapa hal terkait dengan ingridien produk pangan. Semoga informasi yang kami sajikan bermanfaat dan menjadi referensi dalam meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.

Purwiyatno Hariyadi
Phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

https://www.industry.co.id/read/51458/sawit-sebagai-tanaman-unggul-penghasil-minyak-pangan

 

Sawit Sebagai Tanaman Unggul Penghasil Minyak Pangan

https://www.industry.co.id/read/51458/sawit-sebagai-tanaman-unggul-penghasil-minyak-pangan

Oleh : Prof. Purwiyatno Hariyadi | Sabtu, 18 Mei 2019 – 15:00 WIB

Prof. Purwiyatno Hariyadi (Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB)

Prof. Purwiyatno Hariyadi (Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB)

INDUSTRY.co.id – Indonesia dikaruniai kondisi tanah dan iklim yang sangat cocok untuk pertumbuhan tanaman sawit. Karena itu, tanaman sawit dapat tumbuh subur  di Indonesia dan menghasilkan minyak sawit yang mempunyai peran sangat penting pada kesehatan populasi dan perekonomian nasional.

Dalam perkembangannya, industri pengelolaan kelapa sawit merupakan salah satu industri berbasis pertanian yang menempati posisi strategis di Indonesia. Saat ini Indonesia merupakan Negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia.

Sebagai tanaman penghasil minyak, tanaman sawit mempunyai keunggulan lain berkaitan dengan produktivitas yang sangat tinggi, yaitu rata-rata 3 ton/ha/tahun. Tidak Hanya mempunyai produktivitas yang tinggi, biaya produksi minyak sawit juga lebih murah, yaitu sekitar US$160/ton.

Hal ini sangat nyata, jika dibandingkan dengan tanaman kedelai yang mempunyai produksi hanya sekitar 0,3ton/ha/tahun dengan biaya produksi kedelai yang mencapai sekitar US$300/ton.

Potensi Keunggulan Minyak Sawit

Kelapa sawit menghasilkan dua jenis minyak, minyak sawit dan minyak inti sawit yang memiliki karakter unik berbeda. Secara khusus, minyak sawit memiliki beberapa potensi keunggulan, antara lain sebagai berikut:

  1. Mempunyai bukti sejarah yang panjang bahwa minyak sawit aman dikonsumsi oleh manusia.
  2. Telah digunakan secara luas pada aneka produk pangan (minyak goring. Shortening, margarin dan produk lainnya.)
  3. Sebagai suber energy/gizi yang baik.
  4. Tidak mengandung asam lemak trans.
  5. Mempunyai komposisi asam lemak jenuh dan tidak jenuh yang seimbang.
  6. Mengandung asam lemak linoleat sebagai asam lemak esensial.
  7. Banyak penelitian menunjukkan bahwa konsumsi tepat minyak sawit mempunyai pengaruh positif pada kesehatan.
  8. Kaya tokoferol dan tokotrienol (memcapai 1000ppm).
  9. Kaya karotenoid (mencapai 500-700 ppm).

Prof. Purwiyatno Hariyadi (Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB)

 

 

Photo credit

(c)FAO/Bob Scott

Executive Committee completes strategic plan and faces key discussions on the role of science

 05/07/2019

As an expected 800 delegates gather in Geneva, Switzerland for the 42nd Codex Alimentarius Commission, 8-12 July 2019, recommendations from the Executive Committee (CCEXEC) include a final draft of the Codex Strategic Plan 2020-2025 and a pathway to discuss the role of science in standard setting.

Three days of debate in CCEXEC held at WHO headquarters in Geneva have culminated in agreement on recommendations for adoption of new and revised Codex texts including draft guidelines for rapid risk analysis following instances of detection of contaminants in food where there is no regulatory level; maximum levels for contaminants and residues of pesticides, and a series of food additive provisions. The committee, chaired by Guilherme da Costa of Brazil, assisted by three vice-chairpersons and with a committee of 13 experts, representative of the global Codex membership, also recommended that the Commission approve new work on allergen labelling; guidance on e-commerce; guidelines for compounds of low public health concern that could be made exempt from the need for maximum residue levels, and for STEC,  a group of E. coli that produce Shiga toxin which can cause stomach cramps and diarrhea.

CCEXEC77

Chairperson da Costa (font row left) guiding consultations with vice-chairpersons, WHO and the Codex Secretariat

Where the world comes together

Strategic planning for the period 2020-2025 has been at the centre of CCEXEC work over the past 12 months and following the widest ever consultation of its membership a final text will be presented for adoption at the Commission. With clearly focused objectives the plan also incorporates a new goal to promote the relevance and use of Codex standards, recognizing their fundamental role in trade facilitation. The streamlined plan addresses new opportunities and challenges for Codex Members in an ever more globalized food system and allows for all countries to participate in building regional workplans to reflect specific areas where public health concerns and fair practices in food trade need to be addressed.

Science is golden

CCEXEC is also where Codex debates the most challenging issues before bringing them to the Commission and at this session board members examined how best to start discussions on the Statements of Principle Concerning the Role of Science and more specifically how chairpersons of Codex committees should proceed in meetings when there is agreement on the science supporting a Codex standard but differing views about other considerations. At the heart of the debate are the seven occasions since 1991 when the Commission has voted on the use of growth promoting substances, namely Bovine somatotropin (bST) and Ractopamine. Voting in Codex, the Joint FAO/WHO Programme that lists consensus-building as a core value, is often seen as divisive hence the decision to embark on a full examination of how to guide committees when they reach an impasse.

All decisions and recommendations made by the Executive Committee are subject to approval by the Commission, which gets underway at the CICG Conference Centre in Geneva on 8 July 2019.

 

Read more

 

Photo credit

(c)FAO/Bob Scott

 

Fermented Foods: Strong Trend in Food Industry

 
FRI Vol XIV/7 2019
 03072019-Screen-Shot-2019-07-03-at-3.58.31-PM
Editorial

Fermented Foods: Strong Trend in Food Industry 

Pangan fermentasi muncul sebagai bintang pertumbuhan di industri pangan. Sebuah artikel yang dikeluarkan oleh Food Dive (https://www.fooddive. com/news/a-bubbling-market-for-fermented- ingredients-shows-no-sign-of-popping/516363/) mencoba menunjukkan bahwa pasar produk pangan fermentasi ini terus tumbuh dan akan mencapai nilai 28.4 milyar USD pada tahun 2020.

Hal serupa juga diberitakan oleh Businesswire (https://www.businesswire.com/news/ home/20180425006846/en/Global-Fermented-Food- Drinks-Market-Analysis-Forecasts), yang melaporkan
prediksi bahwa tren ini akan terus menguat, dimana untuk periode 2018- 2022 pertumbuhannya (CAGR) akan mencapai angka 5.84%. Bahkan, Portnews24 (https://portnews24.com/2018-2023-global-fermented-foods- drinks-market-trends-cagr-status-trends-analysis-and-forecast-360-market- updates/54370/) menyatakan bahwa pasar global makanan dan minuman fermentasi ini akan mampu mencapai CAGR 7.2% pada periode 2018-2023.

Angka-angka tersebut tentu menjadi potensi yang sangat besar untuk industri pangan.  Jika ditelusuri lebih dalam, motor utama dari prediksi pertumbuhan ini adalah meningkatnya kesadaran dan ketertarikan konsumen tentang kesehatan dan kebugaran.

Secara definisi, pangan fermentasi (fermented foods) adalah pangan (termasuk minuman) yang diproduksi, diolah dan/atau diawetkan dengan melibatkan dan memanfaatkan kerja mikroba.  Teknologi fermentasi merupakan salah satu teknologi yang sejak lama digunakan untuk tujuan mengawetkan dan menghasilkan produk baru.  Pangan fermentasi juga telah lama dikenal memiliki banyak keunggulan ditinjau dari aspek gizi dan kesehatan, dibandingkan dengan bahan baku yang digunakan.  Beberapa manfaat ini antara lain adalah meningkatnya kecernaan, memberikan gizi dan cita rasa khas yang lebih enak dan disukai, serta meningkatnya kandungan senyawa aktif tertentu.

Indonesia termasuk negara dengan potensi produk pangan fermentasi yang besar dan beragam. Banyak jenis pangan fermentasi dapat ditemui di Indonesia, seperti sawi asin, tempoyak, dadih, urutan (sosis Bali), tape singkong, tape ketan, brem, tuak, tempe, oncom, terasi, petis, kecap, tauco dan lain-lain.  Sungguh potensi yang luar biasa.  Sungguh peluang yang terbuka lebar bagi industri untuk mampu menangkap potensi ini.

Foodreview Indonesia edisi kali ini membahas beberapa hal terkait dengan produk pangan fermentasi. Semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat dan menjadi referensi dalam meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

Codex 2019: The year of food safety

 

b8ae7c3823  Codex 2019: The year of food safety

page 9:

Purwiyatno Hariyadi

Since the last Commission, I have been involved in many Codex meetings and activities. I had opportunities to attend the CCFICS24 in Brisbane, Australia; CCSCH4 in Kerala, India; CCFO26 in Kuala Lumpur, Malaysia; CCGP31 in Bordeaux, France and finally CCCF13 in Yogyakarta, Indonesia. The contaminants meeting was special for me, because it was co-hosted by Indonesia and my aim was to ensure that as many national Codex stakeholders as possible, especially government officials, could be present. By participating, they learn the Codex process, and hopefully this will help them gain a better understanding and eventually participate more effectively in Codex.

In attending Codex meetings, wherever they may be, my observations are always that Codex is truly a global organization involving many members and observers, all actively communicating, sharing and collaborating to develop standards addressing shared concerns on public health and fair practices in international food trade. As a vice-chair of the Commission, this observation is what motivates me the most. I believe that food safety is a shared responsibility. All actors along the farm-to-fork continuum, including producers, processors, distributors, retailers, and consumers, need to work together towards safer food. With the increasing importance of international trade, the ‘farm’ and ‘fork’ may grow ever further apart. This is why, mutual understanding and collaboration between food producing and consuming member countries is essential to strengthen the global supply of safe food for everyone, everywhere.

Photo PHA - Photos ©Bob Scott

 

Hari Keamanan Pangan Sedunia: Aspek Keamanan Pangan Harus Jadi Prioritas

 

Hari Keamanan Pangan Sedunia: Aspek Keamanan Pangan Harus Jadi Prioritas

https://ekonomi.bisnis.com/read/20190606/12/931367/hari-keamanan-pangan-sedunia-aspek-keamanan-pangan-harus-jadi-prioritas

Hari Keamanan Pangan se-Dunia diharapkan dapat mendorong pemangku kebijakan sektor pangan untuk meningkatkan kesadaran, menarik perhatian dan menginspirasi semua pemangku kepentingan untuk bertindak membantu mencegah, mendeteksi serta mengelola risiko keamanan pangan.
 David Eka Issetiabudi | 06 Juni 2019 23:10 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Hari Keamanan Pangan se-Dunia diharapkan dapat mendorong pemangku kebijakan sektor pangan untuk meningkatkan kesadaran, menarik perhatian, dan menginspirasi semua pemangku kepentingan untuk bertindak membantu mencegah, mendeteksi serta mengelola risiko keamanan pangan.

Perserikatan Bangsa–Bangsa (PBB) pada 20 Desember 2018, mendeklarasikan World Food Safety Day yang diperingati setiap 7 Juni. Untuk tahun pertama peringatan Hari Keamanan Pangan Sedunia (HKPS), diusung tema Food Safety, Everyone’s Bussiness.

Vice Chairperson Codex Alimentarius Commission FAO Purwiyatno Hariyadi mengatakan, peringatan HKPS diharapkan mendorong situasi kondisi pangan yang lebih aman,  sehingga berkontribusi positif bagi kesehatan manusia, kemakmuran ekonomi, pertanian, akses pasar, pariwisata atau pembangunan berkelanjutan.

Menurutnya, peringatan Hari Keamanan Pangan Sedunia ini mempunyai arti strategis. Dalam Pasal 1 ayat 5 Undang-Undang Pangan No 18 Tahun 2012, Keamanan Pangan didefinsikan sebagai kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi.

“Karena itu, Hari Keamanan Pangan Sedunia ini menuntut siapa saja yang bergerak di bidang pangan, hal pertama dan utama yang harus diperhatikan adalah tentang keamanan pangan,” tuturnya kepada Bisnis.com, Kamis (6/6/2019).

Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian  Institut Pertanian Bogor (IPB) ini pun mengatakan, setiap pemangku kepentingan pangan, mulai dari produsen, industri pengolahan, pedagang, peritel, dan konsumen, diminta untuk selalu memastikan bahwa setiap produk pangan harus aman dalam pengertian tidak membahayakan kesehatan manusia.

Tema HKPS tahun ini mengajak semua pemangku kepentingan pangan nasional perlu meningkatkan pengendalian untuk pencegahan terjadinya masalah keamanan pangan. Setiap orang yang terlibat dalam operasi makanan harus memastikan kepatuhan dengan program-program.

Sebut saja program HACCP yakni, sebuah sistem yang mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengendalikan bahaya yang signifikan bagi keamanan pangan, dari proses produksi (pertanian, perikanan, peternakan dan perkebunan) sampai ke meja makan dan konsumsi oleh konsumen.

Selain itu, penanganan, pengolahan, penyimpanan, dan pengelolaan masa simpan pangan yang baik akan membantu mempertahankan keamanan, nilai gizi dan mutu pangan, serta mengurangi kerusakan dan kehilangan pascapanen.

Purwiyatno menambahkan ilmu dan teknologi pangan mempunyai peranan penting untuk menghasilkan suatu produk pangan yang aman dan bermutu.

“Secara sadar dan bertanggung jawab, aspek keamanan pangan harus sudah menjadi pertimbangan utama sejak kegiatan perancangan,” tambahnya.

 

 

Dairy Story

 

29052019-Screen-Shot-2019-05-29-at-10.11.28-AM   FRI Vol XIV/6 2019  [http://pustakapangan.com/store/?category=Foodreview]

Dairy Story

Susu di Indonesia mempunyai banyak cerita. Cerita dari sisi gizi, secara umum masyarakat Indonesia mempunyai pengetahuan dan kesadaran yang baik tentang manfaat susu. Bahkan, Indonesia pernah mempunyai slogan gizi, empat sehat lima sempurna, yang menempatkan susu sebagai penyempurna menu sehari-hari. Susu dan produk-produk turunannya dikenal sebagai produk pangan yang dianggap mampu berperan dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat Indonesia. Berbagai masalah gizi yang sekarang ini dihadapi Indonesia, seperti obesitas, stunting, dan de siensi zat gizi mikro, juga dapat diperbaiki dengan peningkatan konsumsi produk susu secara tepat.

Namun demikian, cerita dari sisi konsumsi masih memprihatinkan. Kenapa? Karena konsumsi susu masyarakat Indonesia masih relatif rendah; hanya mencapai 16.5 liter per kapita per tahun (BPS, 2017). Angka konsumsi ini merupakan yang terendah di Asia Tenggara, dimana, pada tahun yang sama, konsumsi masyarakat Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, dan Vietnam telah mencapai, berturut-turut, 50.9, 46.1, 33.7, 22.1, dan 20.1 liter susu per kapita per tahun.

Cerita lain adalah tentang produksi. Walaupun konsumsinya masih rendah, ternyata Indonesia baru mampu memenuhi sekitar 20% dari kebutuhan nasionalnya. Akibatnya, sekitar 80% kebutuhan susu ini harus dipenuhi dengan impor. Jelas hal ini merupakan tantangan serius, sekaligus sebagai peluang yang sangat besar. Tantangan serius ini, perlu mendapatkan perhatian serius pula dari semua pemangku kepentingan susu nasional, terutama pemerintah. Untuk itu, diperlukan suatu peta jalan nasional untuk mendongkrak produksi, terutama dengan melibatkan peternak, koperasi, dan lain-lain.

Pelibatan peternak dan koperasi menjadi sangat penting, khususnya dalam pengembangan sistem bisnisnya. Para peternak dan koperasi saat ini juga mulai mengembangkan bisnis dengan mengolah susu menjadi berbagai produk olahan. Muncul pula usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), gerai, street food vendor, dan juga kedai minuman yang membuat produk olahan susu dan minuman berbasis susu. Untuk itu, sekali lagi terlihat bahwa upaya mendongkrak produksi menjadi sangat strategis, sehingga tidak akan semakin tergantung pada impor.

Foodreview Indonesia edisi kali ini akan membahas beberapa “cerita” terkait dengan produk susu, dairy story. Semoga dapat menjadi referensi, inspirasi, informasi yang bermanfaat untuk meningkatkan daya saing produk susu dan industri susu Indonesia.

Terakhir, Foodreview Indonesia juga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H. Mohon maaf lahir dan batin.

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

BSN Perkuat Industri Pengalengan Ikan untuk kesiapan sertifikasi SNI

 

BSN Perkuat Industri Pengalengan Ikan untuk kesiapan sertifikasi SNI

  • Senin, 13 Mei 2019
  • dedi dedi

(Sumber: http://www.bsn.go.id/main/berita/detail/10137/bsn-perkuat-industri-pengalengan-ikan-untuk-kesiapan-sertifikasi-sni#.XODZVFIzbZ4)

Laporan Pengukuran Kecukupan Panas (F0) pada proses sterilisasi komersial merupakan salah satu bukti yang harus ditunjukkan oleh industri kepada auditor pada rangkaian sertifikasi SNI produk tuna, sarden dan makerel dalam kaleng sebagaimana tertuang didalam Peraturan Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Nomor 16/PER-DJPDSPKP/2018 tentang Petunjuk Teknis Pemberlakuan SNI Tuna dalam Kemasan Kaleng dan SNI Sarden dan Mekerel dalam Kemasan Kaleng Secara Wajib. Beberapa lembaga sertifikasi menilai kesiapan industri dalam hal tersebut belum optimal, sehingga masih ditemui ketidakmampuan industri dalam melakukan hal tersebut.

Dalam rangka mendorong efektifitas Pemberlakuan wajib SNI tersebut pada bulan Juni mendatang, BSN melalui Direktorat Penguatan Penerapan Standar dan Penilaian Kesesuaian bekerjasama dengan Asosiasi Pengalengan Ikan Indonesia (APIKI) mengadakan pelatihan operator atau Authorized Personyang ditunjuk oleh industri guna meningkatkan pemahaman mereka terhadap penentuan serta pengendalian F0 pada proses sterilisasi komersial di masing-masing industrinya. Tanggung jawab BSN dalam mengawal proses penilaian kesesuaian yang tepat mampu menguntungkan segala pihak baik industri maupun konsumen yang menikmati produk yang berkualitas serta aman dikonsumsi, ujar Heru Suseno selaku Direktur Penguatan Penerapan Standar dan Penilaian Kesesuaian, BSN.

Industri Pengalengan Ikan dibawah naungan APIKI baik yang berlokasi di sekitaran Banyuwangi, Jawa Timur, hingga wilayah Indonesia Timur lainnya seperti Bitung dan Sorong antusias mengirimkan personelnya untuk mengikuti kegiatan pelatihan tersebut yang digelar selama 3 (tiga) hari di Banyuwangi. Prof. Purwiyatno Hariyadi yang menjadi narasumber utama pada kegiatan tersebut, dalam paparannya menyampaikan 3 syarat pengalengan pangan sukses yaitu Perlakuan Pemanasan yang cukup melalui tercapainya sterilitas komersial, wadah/kaleng yang tertutup secara hermetis, dan penanganan kaleng dengan baik sebelum, selama dan setelah proses pemanasan. Proses sterilisasi yang benar mampu mencegah berkembangnya mikroorganisme khususnya Spora Clostridium Botulinum hal ini yang ditekankan narasumber sejak awal.




Kegiatan pelatihan diakhiri dengan kunjungan ke salah satu Industri Pengalengan Ikan, CV. Pacific Harvest (PH) yang terletak di daerah Muncar, Banyuwangi. Perusahaan ini 60% produknya di ekspor ke negara Eropa dan Timur Tengah, serta beberapa negara lainnya. Namun demikian sebagian bahan baku ikan masih diimpor dari negara lain dikarenakan ikan di dalam negeri belum mampu mencukupi kebutuhan produksi (AN/Dit. PPSPK).Ady Surya selaku ketua APIKI juga menyampaikan bahwa Industri Pengalengan Ikan sudah mampu mengembalikan kondisi perusahaan dan pasar pasca kasus ditemukannya cacing di dalam produk ikan kaleng yang beredar. Pelatihan ini diharapkan menguatkan posisi industri pengalengan ikan untuk siap sertifikasi SNI sehingga mampu bersaing di pasar domestik maupun luar negeri serta semakin meningkatkan kepercayaan konsumen dalam mengkonsumsi ikan kaleng.

http://www.bsn.go.id/main/berita/detail/10137/bsn-perkuat-industri-pengalengan-ikan-untuk-kesiapan-sertifikasi-sni#.XODZVFIzbZ4