phariyadi's blog

mencari dan memberi yang terbaik

 

Selamat Idul Fitri, 1 Syawal 1438 H.

 

Ied 1438 H

Selamat Idul Fitri, 1 Syawal 1438 H.

Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Taqabbal Ya Karim. 

Mohon maaf lahir dan bathin.

Purwiyatno Hariyadi & kelg.

phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

 

Managing Shelf Life of Dairy Products

 
FRI VOL XII/06 2017
01062017-edisijuni17
Managing Shelf Life of Dairy Products

Berdasarkan data dari Euromonitor tahun 2016 (http://www.euromonitor.com/dairy-in-indonesia/ report) Indonesia mengonsumsi susu dan produk- produk susu (dairy products); seperti susu cair (susu pasteurisasi, susu steril), susu bubuk, yogurt, keju, dan lain-lain, dengan jumlah yang semakin meningkat. Hal ini dapat dikaitkan dengan berbagai faktor; antara lain meningkatnya jumlah dan tingkat pemahaman konsumen menengah-atas tentang hubungan konsumsi susu, status gizi dan kesehatan.

Kondisi ini ditangkap oleh industri sebagai peluang; dengan pengembangan bermacam produk susu sebagaimana terpampang dijajakan pada rak-rak berbagai toko dan super market. Disamping produk susu siap konsumsi; susu juga banyak diolah menjadi ingridien untuk aneka produk olahan lainnya; atau bahkan sebagai topping dalam berbagai pangan jajanan; seperti martabak, pisang goreng, singkong goreng, roti dan lain-lain.

Baik sebagai produk pangan siap konsumsi maupun sebagai ingridien pangan; pengelolaan masa simpan produk susu -managing shelf life of dairy products- merupakan salah satu tantangan bagi industri. Tantangannya antara lain adalah bagaimana menjamin bahwa setiap konsumen produk susu akan mendapatkan produk yang aman dan bermutu sesuai dengan janji atau klaim pada label. Jaminan ini harus dapat diberikan kepada konsumen, kapan pun konsumen tersebut membeli atau mengkonsumsinya, sebelum produk mencapai titik kadaluarsa.

Pada FOODREVIEW INDONESIA kali ini; disajikan berbagai artikel yang mengulas mengenai masa simpan produk susu. Berbagai metoda untuk pengelolaan (misalnya memperpanjang) umur simpan produk susu disajikan sebagai ulasan pada edisi ini. Semoga artikel-artikel tersebut bermanfaat bagi industri persusuan di Indonesia; yang pada bulan Juni ini memeperingati Hari Susu Nusantara.

Semoga edisi ini dapat melengkapi referensi pembaca dalam menangani produk dairy.

Selamat membaca,
Prof. Purwiyatno Hariyadi

http://pustakapangan.com/store/?category=Foodreview

 

“Let food be thy medicine…”

 

29042017-Screen-Shot-2017-04-29-at-1.31.49-PM“Let food be thy medicine…”

 

“When diet is wrong medicine is of no use. When diet is correct medicine is of no need”
Ayurvedic proverb.

An apple a day keeps the doctor away
English proverb.

 

Pangan, gizi dan kesehatan memang sangat erat berkaitan. Telah sejak 2000 tahun yang lalu; Hippocrates (460 BC – 370 BC), menekankan pentingnya hubungan ini; “let food be thy medicine and medicine be thy food.” Demikian juga dengan budaya pangan dan kesehatan diberbagai belahan dunia; seperti kutipan pepatah (proverb) diatas tulisan ini.
Dunia modern dengan kamajuan ilmu dan teknologi pangan, gizi dan kesehatan telah memberikan bukti bukti mengenai betapa pentingnya peranan pangan terhadap kesehatan manusia. Hal ini memberikan arah pengembangan industri pangan; munculnya kategori baru –kategori pangan fungsional. Secara umum, pangan fungsional bisa didifinisikan sebagai pangan yang terbukti mengandung satu atau lebih komponen tertentu yang jika dikonsumsi dalam jumlah cukup akan bermanfaat bagi kesehatan. Fungsi manfaat bagi kesehatan ini adalah fungsi di luar dari fungsi dasar pangan sebagai sumber energy dan gizi bagi tubuh.
Hal ini juga terjadi di Indonesia. Di berbagai rak supermarket dan toko Indonesia banyak dijajakan berbagai jenis pangan fungsional ini. Sebenarnya; Indonesia juga mempunyai tradisi kuat mengenai pangan fungsional ini. Di berbagai kelompok masyarakat etnis Indonesia dikenal tradisi jamu; umumnya bersumber dari bahan tanaman yang diseduh dan diminum sebagai upaya meningkatkan daya tahan tubuh atau pun menurunkan risiko terkena serangan penyakit. Aneka tradisi ini perlu digali dan dikembangkan untuk bisa ditumbuh-kembangkan sebagai pangan (atau pun ingridien pangan) fungsional khas Indonesia.
FOODREVIEW INDONESIA kali ini menyajikan beberapa contohnya saja; seperti alpukat, umbi lokal, dan serta beras analog yang juga mengandung senyawa fungsional. Harapannya; ulasan ini bisa memicu munculnya prakarsa pengembangan aneka potensi pangan (dan ingridien pangan) Nusantara; yang kaya ragam.
Selamat membaca,

Prof. Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

KONTAMINAN PADA BEBERAPA KOMODITI PENTING INDONESIA DIBAHAS PADA SIDANG CODEX COMMITTEE ON CONTAMINANTS IN FOODS KE-11

 

Kontaminan Pada Beberapa Komoditi Penting Indonesia Dibahas Pada Sidang Codex Committee on Contaminants in Foods ke-11

11 Apr 2017 9:16 AM

 

Permasalahan tentang kontaminan pada bahan pangan tidak hanya menjadi isu keamanan pangan bagi kesehatan konsumen tetapi juga terkait perdagangan komoditi pangan internasional.  Codex Alimentarius Commission sebagai organisasi standar pangan internasional yang menjadi acuan Negara dalam menetapkan regulasi pangan telah membahas permasalahan kontaminan ini dalam Codex Committee on Food Additives and Contaminants.  Dengan mempertimbangkan banyaknya agenda yang dibahas, Komite ini dipecah menjadi dua yaitu Codex Committee on Food Additives dan Codex Committee on Contaminants in Foods (CCCF).

 

Sidang ke-11 CCCF dilaksanakan pada tanggal 3-7 April 2017 di Windsor Marapendi Hotel, Rio de Janieiro, Brazil.  Negara tuan rumah (host country) CCCF sebenarnya adalah Belanda sedangkan penyelenggaraan sidang kali ini di Brazil dilakukan melalui mekanisme co-hosting.  Sidang dihadiri oleh 49 Negara Anggota, 1 Organisasi Anggota dan observer dari 11 Organisasi Internasional.  Delegasi Indonesia diketuai oleh Prof. Purwiyatno Hariyadi (Institut Pertanian Bogor/Komite Nasional Codex), dengan anggota Siti Elyani (Badan Pengawas Obat dan Makanan), Yeni Restiani (Badan Pengawas Obat dan Makanan), Singgih Harjanto (Badan Standardisasi Nasional) dan Febrizki Bagja Mukti (KBRI Brazil).

 

Sidang CCCF membahas 17 Agenda item yang terkait dengan kontaminan pada bahan pangan segar maupun pangan olahan. Sebelum pelaksanaan sidang, delegasi Indonesia mengadakan pertemuan informal dengan negara-negara Asia pada tanggal 2 April 2017 untuk sharing informasi posisi masing-masing negara terhadap seluruh agenda sidang. Beberapa agenda yang terkait dengan keamanan dan perdagangan internasional produk/komoditi pangan Indonesia adalah sebagai berikut: pembahasan revisi batas maksimum timbal (Pb) pada produk buah dan sayuran (segar dan olahan) dan beberapa kategori pangan lainnya, pembahasan batas maksimum cadmium (Cd) pada produk cokelat dan cokelat olahan, pembahasan Code of Practice pencegahan dan pengurangan kontaminasi arsen pada beras, pembahasan usulan batas maksimum aflatoksin pada ready-to-eat peanuts dan pembahasan Code of Practice tentang pencegahan dan pengurangan mikotoksin pada rempah-rempah.

 

Delegasi Indonesia telah menyampaikan posisi Indonesia sesuai dengan kertas posisi yang telah disiapkan, dibawah koordinasi Badan Pengawas Obat dan Makanan selaku Koordiator Mirror Committee untuk CCCF di Indonesia, dengan beberapa penyesuaian dengan perkembangan selama sidang berlangsung.

 

Beberapa hasil sidang memerlukan perhatian dan langkah tindak lanjut dari kementerian/lembaga terkait (antara lain: Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Badan POM dan BSN) di Indonesia khususnya komoditi yang terkait dengan kepentingan Indonesia diantaranya adalah:

  1. Sebagai negara produsen dan konsumen beras, Indonesia perlu mempelajari lebih lanjut aturan yang ada dalam Proposed draft Code of practice for the prevention and reduction of arsenic contamination in rice yang diajukan untuk diadopsi pada step 5/8 oleh Codex, karena tiga tahun setelah aplikasinya, maximum level (ML) arsen pada beras akan direview oleh CCCF.
  2. Sebagai negara produsen dan konsumen produk coklat dan turunannya, Indonesia perlu terlibat dalam pembahasan electronic working group (eWG) serta menyiapkan data terkait kontaminan cadmium untuk didiskusikan dalam eWG sebelum dibahas pada sidang CCCF mendatang (baik untuk penetapan maximum level (ML) maupun untuk kemungkinan penyusunan code of practice). Menurut laporan JECFA asupan cadmium sebagai akibat konsumsi coklat dan produk-produk coklat tidak menyebabkan permasalahan kesehatan (not a health concern), sehingga penetapan ML untuk cadmium seharusnya digunakan sebagai upaya untuk meningkatkan daya saing produk dan industri coklat dan produk-produk coklat Indonesia.
  3. Komite menyetujui “Proposed Draft Code of Practice for the Prevention and Reduction of Mycotoxin Contamination in Spices” untuk adopsi pada Step 5/8 oleh Codex.  Indonesia perlu mempelajari lebih lanjut dan mensosialisasikan code of practicetersebut, karena mycotoksin merupakan salah satu masalah bagi daya saing rempah-rempah Indonesia. Masih dalam kaitannya dengan rempah-rempah (spices), komite juga setuju untuk memulai new work untuk pembahasan ML untuk aflatoksin total  dan ochratoksin A pada beberapa spices, yaitu nutmeg, chili and paprika, ginger, pepper and turmeric.  Untuk memfasilitasi pembahasannya, akan dibentuk eWG setelah ada persetujuan new work oleh CAC.  Data yang akan digunakan dalam penentuan ML adalah yang tersedia pada GEMS/Food database sehingga apabila ada informasi tambahan yang perlu dikumpulkan, WG dapat berkonsultasi dengan Sekretariat GEMS untuk pengumpulan datanya. Nutmeg (pala) merupakan komiditi rempah-rempah unggulan dari Indonesia, maka  penyiapan data (khususnya mengenai cemaran Aflatoksin dan Ochratoksin A) perlu secara serius dilakukan; sehingga penetapan ML bisa dilakukan dengan baik; dan tidak menyebabkan terjadinya penolakan ekspor produk pala Indonesia di perdagangan internasional.
  4. Komite menyetujui New work Code of Practice for the Reduction of 3-monochloropropane-1,2-diol esters and glycidyl esters in refined oils and products made with refined oils, especially infant formulaNew work ini sangat terkait dengan kepentingan Indonesia sebagai penghasil minyak sawit; produk ekspor unggulan Indonesia.  Menurut hasil kajian Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA) kontaminan ini terdapat pada berbagai minyak (refined oils), tetapi konsentrasi kontaminans pada minyak sawit lebih besar dibandingkan dengan minyak lainnya.  Indonesia perlu melakukan langkah-langkah koordinasi untuk merumuskan dan melakukan penelitian dan upaya mitigasi untuk penurunan kadar kontaminan ini (3-monochloropropane-1,2-diol esters and glycidyl esters) pada produk minyak sawit.  Data-data (hasil penelitian dan percobaan mitigasi) ini sangat penting bagi Indonesia untuk dapat berkontribusi secara aktif dan efektif pada penyusunan draft Code of Practice di electronic working group, sebelum dibahas pada sidang CCCF mendatang.

http://codexindonesia.bsn.go.id/main/berita/berita_det/1080

(Kontaminan Pada Beberapa Komoditi Penting Indonesia Dibahas Pada Sidang Codex Committee on Contaminants in Foods ke-11)

 

INDONESIAN FLAVORS: Spicing Up the World

 
FRI VOL XII/04 2017
01042017-Screen-Shot-2017-04-01-at-9.24.06-AM
INDONESIAN FLAVORS: Spicing Up the World
 
If you combine good flavors, food turns into an orchestra. Joey Fatone (American – Musician)

Sejarah Indonesia banyak diwarnai dengan sejarah tentang rempah-rempah. Buah pala (Myristica fragrans) adalah contoh yang sangat melegenda tentang rempah-rempah Indonesia. Keistimewaan dan manfaat pala telah menjadi incaran pedagang Eropa sejak abad ke-15, sebagai produk yang sangat berharga. Tidak hanya pala; Indonesia kaya dengan aneka rempah-rempah lainnya; seperti pala, cengkeh, lada, kayu manis, dan lain sebagainya.Salah satu peran penting rempah-rempah adalah sebagai bahan baku avor atau perisa. Aneka rempah-rempah ini telah lama digunakan sebagai komponen bumbu aneka pangan pangan yang menghasilkan avor khas, bahkan dapat berperan sebagai penciri produk tersebut. Rendang adalah contohnya, produk olahan daging dari Sumatera Barat ini mempunyai karakter bumbu yang khas, sehingga menghasilkan avor yang khas pula. Beberapa avor khas Indonesia itu bahkan telah mendunia; dikenal dan disukai oleh konsumen global. Contohnya avor rendang dan avor nasi goreng.

Tidak hanya rempah-rempah; sumber bahan baku avor khas Indonesia lainnya adalah dari jenis buah dan tanaman eksotis tropika, seperti aneka jenis mangga, jeruk, pandan, dengan karakteristik avor uniknya masing-masing.

Namun sangat disayangkan jika avor tersebut hanya dapat dinikmati oleh lingkup yang terbatas saja. Kekayaan ini perlu dipertahankan, dilindungi dan dikembangkan menjadi bentuk yang dapat diterima secara global. Tidak hanya itu, eksplorasi keunggulan avor khas Indonesia juga perlu terus dilakukan; karena kebanyakan rempah-rempah dan produk tanaman tropika ini kaya dengan senyawa aktif yang yang dapat memberikan nilai tambah tersendiri. Jelas bahwa hal ini adalah kesempatan yang menantang bagi avor Indonesia untuk membumbui pangan dunia. Indonesian avors; spicing up the world.

Semoga berbagai artikel dan ulasan pada edisi FOODREVIEW INDONESIA kali ini dapat berkontribusi pada perkembangan ingridien, produk dan industri pangan di Indonesia.

Selamat membaca,
Prof. Purwiyatno Hariyadi

 

HAPPY INDULGENCE

 

02032017-Screen-Shot-2017-03-02-at-9.53.36-AM

HAPPY INDULGENCE

Sometimes, it’s just easier to say yes to that extra snack or dessert, because frankly, it is exhausting to keep saying no. Michelle Obama

Peranan pangan memang tidak terbatas untuk pemenuhan kebutuhan gizi dan menjaga kesehatan; tetapi juga mempunyai peran sosial dan budaya. Dalam konteks inilah maka; konsumsi pangan harus juga memberikan kenikmatan dan memanjakan sensori (indulgence) saat dikonsumsi. Dalam peranannya sebagai pemberi kenikmatan inilah muncul kategori produk makanan ringan.

Kebiasaan mencari kenikmatan menyenangkan dengan mengonsumsi makanan ringan ini telah menjadi tradisi dan kebiasaan sebagian konsumen. Happy Indulgence. Kebiasaan ngemil (snacking) inilah yang telah menjadi faktor pendorong tumbuh dan berkembangnya industri makanan di Indonesia, termasuk industri ingridien -seperti- industri krim isian untuk biskuit dan enzyme modified cheese (EMC) pada produk bakeri, dan sebagainya.

Namun demikian, konsumen juga semakin demanding, memiliki tuntutan yang tinggi. Konsumen tidak hanya menuntut bahwa produk harus memberikan kenikmatan (indulgence), tetapi juga harus menyehatkan (healthfull), praktis dan mudah (convenience) untuk dikonsumsi kapan saja. Kategori produk yang memiliki peluang besar memenuhi ketiga tuntutan tersebut adalah produk makanan ringan (snack).

Oleh karena itu, inovasi untuk menciptakan produk yang memberikan kenikmatan, praktis, dan juga menyehatkan perlu menjadi perhatian karena membuka peluang tersendiri bagi industri. Misalnya; inovasi penggunaan bahan baku lokal (misalnya talas, ubi, dan singkong) dan atau pengembangan fl avor sesuai dengan kebiasaan bagi penikmatnya; perlu selalu diusahakan untuk memenuhi tuntutan kenikmatan, kepraktisan, dan sekaligus kesehatan.

Akhirnya, semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat untuk berkontribusi peningkatan daya saing produk dan industri pangan.

Selamat membaca,
Prof. Purwiyatno Hariyadi

 

Seminar Nasional Excess – Universitas Lampung, 4 Maret 2017

 

Seminar Nasional Excess – Universitas Lampung, 4 Maret 2017
“PERAN KETEKNIKAN DALAM KETAHANAN PANGAN DAN ENERGI”
▪ Hari, Tanggal: Sabtu, 4 Maret 2017
▪ Pukul: 08.00 WIB
▪ Tempat: Aula Dekanat Fakultas Teknik Universitas Lampung

Pamflet-Seminar-Nasional-EXCESS-2017-2

Sumber:

http://www.teknikkimiaindonesia.org/index.php/2017/02/11/himatemia-unila-seminar-excess-2017/

 

QUALITY BAKERY

 

QUALITY BAKERY

01022017-Screen-Shot-2017-02-01-at-4.11.37-PM

 

Bread gains populartity in rice state
The Jakarta Post (June 8, 2016)

Produk bakeri, aneka roti, kue, biskuit dan lain-lain, semakin populer dan memiliki tingkat penerimaan yang tinggi oleh konsumen di berbagai wilayah Indonesia. Karena alasan itu, tepat sekali analisis Koran the Jakarta Post, 8 Juni 2016 lalu yang menyoroti laporan dari Rabobank yang melihat meningkatnya popularitas produk roti di negara yang secara tradisi mengonsumsi nasi. Laporan Rabobank tersebut juga menyatakan bahwa industri bakeri di Indonesia tumbuh pesat; dengan laju pertumbuhan volume produk bakeri mencapai 5,5% setara dengan peningkatan nilai 11,7%.

Pertumbuhan industri bakeri termasuk tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan kategori pangan lainnya. Hal ini juga terlihat dengan tumbuh dan berkembangnya industri bakeri baik dalam skala besar maupun kecil, termasuk munculnya aneka outlet dan ritel, berupa aneka toko roti dan warung kopi. Antara lain, pertumbuhan ini dipengaruhi oleh konsumen kelas menengah di Indonesia beserta perubahan gaya hidupnya. Konsumen selalu menuntut industri bakeri untuk bisa memberikan aneka pilihan produk serta memberikan jaminan keamanan dan mutu produk; termasuk pula produk bakeri.

Quality Bakery. Aspek mutu produk bakeri, baik mutu fisik, kimia/ gizi, dan mikrobiologis merupakan salah satu aspek yang harus serius diperhatikan oleh industri untuk memuaskan tuntutan konsumennya. Pembahasan aspek mutu inilah yang disajikan pada FOODREVIEW INDONESIA kali ini. Pembahasan quality bakery ini juga diharapkan dapat menjadi pemicu munculnya ide-ide baru, antara lain pengembangan aneka tepung lokal (non-terigu; tepung talas, tepung singkong, tepung garut, dan lain-lain) serta aneka ingridien lokal lainnya, misalnya aneka buah kering untuk lebih menumbuhkembangkan produk bakeri, khususnya bakeri berkualitas dan berciri lokal.

Selain itu, kami juga menyajikan aneka peraturan mutu dan keamanan pangan yang dikeluarkan oleh Badan POM RI yang tentunya erat terkait dengan mutu dan keamanan produk bakeri. Semoga ulasan yang kami sajikan dapat memberikan kontribusi untuk daya saing produk dan industri bakeri Indonesia.

 Purwiyatno Hariyadi

 

 

Innovation Challenges 2017

 
FRI VOL XII/01 2017
1-17-03012017-Screen-Shot-2017-01-03-at-8.38.11-AM

Innovation Challenges 2017

“In a world of plenty, no one, not a single person, should go hungry. But almost 1 billion still do not have enough to eat. I want to see an end to hunger everywhere within my lifetime.”
-Ban Ki-moon, United Nations Secretary-General

“Today we are seeing best practices in action. We know that, if scaled up with speed, these approaches could increase food production and improve livelihoods without damaging the environment. We need to create conditions for innovation and then invest so that innovation moves from the lab to the farmer’s fields.”
-Rachel Kyte, Vice President of the World Bank

“We need to strengthen research for efficiently produced, healthy food, while ensuring the availability of food at affordable prices. This includes improving logistics, infrastructure, and transportation systems to ensure those who need food are supplied with it.”
-Paul Bulcke, CEO of Nestle

Tantangan pangan untuk tahun 2017 dan tahun-tahun berikut akan semakin berat, terutama dikaitkan dengan tiga hal, yaitu (i) semakin meingkatnya jumlah penduduk, (ii) semakin menurunnya luas lahan untuk produksi pangan, dan (iii) semakin menurunnya kualitas lingkungan.
Dalam konteks global, untuk dapat menyediakan pangan bagi 9 miliar penduduk dunia pada tahun 2050, dunia harus mampu berinovasi untuk mendobel jumlah produksi panganya. Kutipan di atas, dari Ban Ki-moon, Rachel Kyte, dan Paul Bulcke kiranya dapat memberikan gambaran mengenai tantangan pangan masa depan yang perlu dijawab dengan mengembangkan kemampuan inovasi. Tantangan yang tidak mudah.
Sebagaimana pepatah “a journey of a thousand miles begins with a single step”, tantangan 2050 tersebut harus mulai dijawab sejak sekarang 2017, dengan semangat innovasi sebagai langkah pertama; Innovation Challenges 2017.
Dalam konetsks Indonesia, mandat UU Pangan No. 18, tahun 2012 kepada pemerintah untuk menuju ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan pangan juga hanya bisa dijawab dengan inovasi. Mengingat anatomi industri Indonesia yang didominasi oleh usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), maka perlu ada dorongan dan insentif khusus buat kelompok UMKM pangan ini untuk menyuburkan inovasi. Antara lain adalah dengan dikembangkannya skema nurturing, insentif, dan perlindungan-khususnya perlindungan kekayaan tradisi pangan lokal yang tersebar luas di Indonesia.
Akhirnya, semoga informasi yang kami berikan dapat bermanfaat untuk industri pangan. Selamat Tahun Baru 2017.

Selamat membaca,

Prof. Purwiyatno Hariyadi

 

Inovasi Produk Susu untuk Pembangunan Gizi

 
FRI VOL X1/06 2016
 6-01062016-Screen-Shot-2016-06-01-at-9.45.13-AM
Inovasi Produk Susu untuk Pembangunan Gizi

Susu berpotensi untuk berperan penting dalam struktur diet untuk menunjang kesehatan dan kebugaran. Banyak program perbaikan gizi yang menggunakan susu sebagai salah satu komponennya.

Tanggapan industri susu untuk menangkap peluang ini sungguh beragam. Salah satunya, secara inovatif melakukan pengembangan produk berbasis susu. Secara umum, bisa inovasi ini melahirkan 3 kelompok produk; yaitu (i) produk susu dasar (PSD; basic dairy products), (ii) produk susu dengan nilai tambah (PSNT; added-value dairy products), dan (iii) produk susu fungsional (PSF; functional dairy products).

PSD biasanya berupa susu & minuman susu, keju, es krim, frozen desserts & novelties, yogurt & produk susu fermentasi lainnya. PSNT pada dasarnya adalah PSD dengan perubahan komposisi sehingga memberikan nilai tambah bagi konsumennya. Contoh PSNT adalah produk susu rendah/bebas laktosa, produk susu hypoallergenic (dengan protein terhidrolisis), produk susu kaya kalsium, kaya vitamin, dan lain-lain. Sedangkan PSF adalah pengembangan produk PSD dan/ atau PSNT dengan menambahkan ingridien khusus dengan manfaat fungsional yang telah teruji. Contoh PSF adalah produk susu diperkaya dengan probiotik dan/atau prebiotik, kaya serat pangan, dan lain-lain.

Berbagai inovasi ini menambah variasi produk yang sekaligus meningkatkan peranan susu dan produk susu membentuk struktur diet untuk menunjang kesehatan dan kebugaran populasi.

Konsumen dihadapkan pada aneka pilihan produk susu; yang sering disertai dengan aneka klaim atas manfaat yang bisa diperoleh jika mengonsumsi produk tersebut. Disinilah peranan dan tanggung jawab industri diperlukan. Klaim harus sesuai dengan regulasi yang berlaku dan itu haruslah berdasarkan pada kaidah ilmiah yang baik. Dengan klaim yang tepat, disertai dengan edukasi dan promosi yang tepat pula, maka bukan tidak mungkin jika konsumsi susu yang semakin bervariasi, akan meningkatkan peranan susu dan produk susu membentuk struktur diet untuk menunjang kesehatan dan kebugaran populasi.

Semoga, bulan Juni, bulan susu, dimana kita memperingati Hari Susu Nusantara, bisa dijadikan sebagai momentum untuk menjalin kerja sama berbagai pihak dalam meningkatkan peranan susu dan produk susu nasional untuk pembangunan gizi nasional.

Semoga informasi yang diberikan dapat bermanfaat bagi para Pembaca sekalian.

Selamat menikmati,
Prof. Purwiyatno Hariyadi