phariyadi's blog

mencari dan memberi yang terbaik

 

Pertemuan Codex Committee on Food Import and Export Inspection and Certification System ke-24

 

Pertemuan Codex Committee on Food Import and Export Inspection and Certification System (CCFICS) ke-24

__pertemuan-codex-committee-on-food-import-and-export-inspection-and-certification-system-ke-24-5-1540793873 (1) __pertemuan-codex-committee-on-food-import-and-export-inspection-and-certification-system-ke-24-3-1540793806 (1) __pertemuan-codex-committee-on-food-import-and-export-inspection-and-certification-system-ke-24-2-1540793790 __pertemuan-codex-committee-on-food-import-and-export-inspection-and-certification-system-ke-24-1-1540793622

http://www.kemendag.go.id/id/photo/2018/10/29/pertemuan-codex-committee-on-food-import-and-export-inspection-and-certification-system-ke-24

 

01 Nov 2018 8:33 AM

Pertemuan Codex Committee on Food Import and Export Inspection and Certification System (CCFICS) ke-24 berlangsung di Sofitel Brisbane, Australia pada 22 – 26 Oktober 2018. Komite CCFICS adalah komite yang bertugas mengembangkan standar terkait principles danguidelines sistem sertifikasi dan inspeksi ekspor dan impor untuk produk pangan. Komite ini dibentuk dalam rangka harmonisasi metode dan prosedur terkait hal tersebut .

 

Pertemuan CCFICS ke 24 ini membahas 3 draft pedoman yaitu Guidance on the Use of System Equivalence, Guidance on Paperless Use of Electronic Certificates, serta Guidance on Regulatory Approaches to Third Party Assurance Schemes in Food Safety and Fair Practices in the Food Trade.

 

Delegasi Indonesia dipimpin oleh Direktur Standardisasi dan Pengendalian Mutu, Frida Adiati selaku koordinator Mirror Committee(MC) CCFICS yang juga dihadiri oleh Guru Besar SEAFAST Center Institut Pertanian Bogor, Prof. Purwiyatno Hariyadi selaku Vice Chairperson of the Codex Alimentarius Commission, perwakilan dari Badan POM serta Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Pertemuan diawali dengan pertemuan Codex Committee Asia (CCASIA) yang ditujukan untuk melakukan konsolidasi dengan sesama anggota Asia. Dimana terdapat usulan penyusunan standar dalam bentuk discussion paper terkait Food Integrity and Food Authenticity,discussion paper on consideration of emerging issues and future directions for the work of CCFICS, maupun prosedur Intersessional dalam Project Working Grup di CCFICS.

 

Di sela-sela Sidang, Delri juga melakukan pertemuan bilateral. Bilateral dengan Australia dilakukan dengan Slava Zeman, Direktur pada Exports Division, Department of Agriculture and Water Resources, Australia. Dalam Pertemuan dimaksud dibahas mengenai kendala perdagangan yang dihadapi Australia, terutama terkait dengan proses audit dan registrasi produk bahan baku pakan ternak serta proses pembayaran.

Sumber: http://codexindonesia.bsn.go.id/main/berita/berita_det/1245

 

 

HARI PANGAN SEDUNIA: Peluncuran Prosiding WNPG bidang Peningkatan Penjaminan Keamanan Pangan

 

PELUNCURAN PROSIDING WNPG XI BIDANG 3, Prioritaskan Keamanan dan Akses Pangan untuk Generasi Penerus Berkualitas

16 Oktober 2018 | 17:08 WIB (Humas & DSP)

 

 

 

 

 

 

 

 

Jakarta –Stunting merupakan manifestasi dari malnutrisi atau gizi buruk sebagai akibat dari kebutuhan pangan yang tidak tercukupi pada anak-anak. Stunting ditandai dengan gangguan pertumbuhan anak sehingga memiliki tinggi badan lebih rendah dari standar usianya. Kondisi ini dapat berdampak pada pertumbuhan fisik yang tidak optimal dan juga berisiko menimbulkan gangguan kesehatan dan perkembangan kecerdasan anak-anak yang akan menjadi generasi penerus bangsa. Karena itu, saat ini keamanan pangan dan akses pangan yang bernutrisi dan berkualitas menjadi prioritas dari World Health Organization (WHO) dan menjadi fokus tema dari Hari Pangan Sedunia Tahun 2018, yaitu Our Actions are Our Future, a Zero Hunger World by 2030 is possible.

Bertepatan dengan Hari Pangan Sedunia yang jatuh pada tanggal 16 Oktober 2018, BPOM menyelenggarakan acara peringatan Hari Pangan Sedunia 2018 dengan tema Penjaminan Keamanan dan Mutu Pangan untuk Pencegahan Stunting di Jakarta. Acara yang dibuka secara langsung oleh Kepala BPOM, Penny K. Lukito, dihadiri juga oleh Sekretaris Utama BPOM RI, Elin Herlina; Plt. Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan, Tetty H. Sihombing; serta pimpinan unit kerja di lingkungan BPOM pusat.

Dalam sambutannya, Kepala BPOM memberikan apresiasi atas kehadiran para tamu undangan di acara tersebut sebagai bentuk komitmen dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan. “Setiap orang berhak untuk hidup yang memadai atas kesehatan dan kesejahteraan dirinya, termasuk hak atas pangan. Ini adalah target pembangunan global kita,” tegas Penny K. Lukito.

“WHO menargetkan penurunan prevalensi stunting sebesar 40% pada tahun 2025. Termasuk untuk kita di Indonesia. Tentunya untuk mencapai angka tersebut perlu strategi penanganan yang holistik dan intervensi yang tepat. Kuncinya adalah melalui strategi pemberdayaan dan edukasi kepada masyarakat serta peran multisektor melalui fungsinya masing-masing, termasuk peran perguruan tinggi, pelaku usaha, dan media. BPOM harus berada di depan terlibat dalam mengantisipasi masalah ini.” tambah Penny K. Lukito lagi.

Hari ini juga dilakukan peluncuran Buku Prosiding Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) XI Bidang 3 “Peningkatan Penjaminan Keamanan dan Mutu Pangan untuk Pencegahan Stunting dan Peningkatan Mutu SDM Bangsa dalam Rangka Mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan’. Prosiding tersebut berisi rumusan rekomendasi WNPG Bidang 3 yang sebelumnya telah dirumuskan bersama oleh Tim Perumus pada beberapa kali pertemuan.

Peluncuran Buku Prosiding dilakukan secara simbolis dengan penekanan bel oleh Kepala BPOM, didampingi oleh Plt. Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan; Vice President Codex sekaligus Tim Perumus WNPG XI Bidang 3, Purwiyatno Hariyadi; Asisten Deputi Ketahanan Gizi, Kesehatan Ibu dan Anak dan Kesehatan Lingkungan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Meida Octarina; perwakilan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Standardisasi Nasional (BSN), dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Selanjutnya dilakukan penyerahan Buku Prosiding oleh Kepala BPOM kepada perwakilan Kementerian/Lembaga, antara lain BSN, LIPI, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dan Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI).

Acara kemudian dilanjutkan dengan Talkshow bertema “Penjaminan Keamanan dan Mutu Pangan untuk Pencegahan Stunting dalam Rangka Memperingati Hari Pangan Sedunia“ dengan narasumber Purwiyatno Hariyadi dan Meida Octarina dan dipandu oleh Tetty H. Sihombing.

“Kita sepakat bahwa stunting bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga terkait akses pangan, layanan kesehatan dasar, akses air bersih, sanitasi serta pola pengasuhan yang baik. Melalui kegiatan hari ini diharapkan menjadi momentum komitmen kita untuk mempertajam rencana tindak lanjut yang nyata atas rekomendasi WNPG XI Bidang 3”, ujar Penny K. Lukito menutup sambutannya.

 

HM-Herma

Biro Hubungan Masyarakat dan Dukungan Strategis Pimpinan

(http://www.pom.go.id/mobile/index.php/view/berita/14971/PELUNCURAN-PROSIDING-WNPG-XI-BIDANG-3–Prioritaskan-Keamanan-dan-Akses-Pangan-untuk-Generasi-Penerus-Berkualitas.html)

 

Tambahan oleh phariyadi.staff.ipb.ac.id:

PHA - presentation PHA - presentation - 2

File presentasi dapat diunduh di  SINI

atau di

http://standarpangan.pom.go.id/berita/peluncuran-prosiding-wnpg-xi-bidang-3

Prosiding dapat diunduh di

http://standarpangan.pom.go.id/dokumen/lain-lain/WNPG/e-Book_Prosiding_2018.pdf

 

 

SNI Valuasi, Vol 12, No 2, 2018

 

PHA at SNI Valuasi

SNI Valuasi, Vol 12, No 2, 2018

STANDAR PANGAN: Untuk Keamanan dan Perdagangan -SNI Valuasi Vol 12 No 2, 2018, hal 14-29

 

 

 

 

FIA – Innovative Ingredients for a Better Health – Jakarta 4 Oct 18

 
 
 Time: 1:15pm – 4:00pm
Venue: Jakarta International Expo, Room D2-GF-04, Arena Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran, Jakarta 10620
Indonesia, much like other countries in the Southeast Asian region experience has seen an increase in the prevalence of overweight/obesity alongside its economic growth over the last three decades. Despite its flourishing economy, it is also one of the few countries with a high prevalence in stunting in children, which is a precursor to the increased risk of developing non-communicable diseases when they are older.

With the country becoming increasingly urbanised, Indonesians are leading sedentary lifestyles while also consuming that are particularly high in carbohydrates and fats as a result of increased food availability and changing diets. As such, a quarter of its population is classed as overweight and about six per cent are obese.

With the growing policy pressures to address the overconsumption of sugar, rising epidemic of obesity and non-communicable diseases (NCDs), the F&B industry has been investing in R&D to reduce sugar in its products. However, sugar reduction is far more challenging than ‘just taking the sugar out’ as they contribute to other functional roles apart from influencing taste. As such, Low/Non-Calorie Sweeteners (LNCS) has been identified as a growing alternative to sugar.

But, its collective reputation has become the subject of intense public debate. Each speaker brought along their unique expertise that gave the session a diverse insight on addressing the negative narrative on LNCS, as well as the barriers and opportunities in accelerating product in promoting healthier eating behaviours among Indonesian consumers.

Presentation Decks:

Photos taken during the event can be viewed here.

 

 

Aspek Keamanan dan Mutu dalam Tren Produk Kopi

 

Aspek Keamanan dan Mutu dalam Tren Produk Kopi

Tren kopi kini semakin meningkat seiring dengam beberapa faktor yang memengaruhi konsumen. Faktor utama seperti gaya hidup menjadi faktor terkuat dalam mengangkat citra kopi. Namun, tren kopi yang semakin beragam tentu tidak dapat terlepas dari beberapa aspek tertentu terkait dengan komoditas pangan seperti aspek keamanan dan mutu.”Untuk dapat berdaya saing, maka kopi harus aman dan juga terjaga mutunya. Aspek keamanan, seperti pada Undang-Undang Pangan No. 18 Tahun 2012 maka harus aman secara jasmani dan juga rohani,” jelas Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor, Prof. Purwiyatno Hariyadi dalam National Food Tecnology Seminar yang diselenggarakan dalam rangkaian acara LCTIP 2018 oleh HIMITEPA ITP IPB pada 7 Oktober 2018 di Kampus Dramaga Bogor.

Dalam kesempatan tersebut, Purwiyatno juga menyampaikan beberapa hal terkait dengan manfaat dari biji kopi yang berkaitan dengan antioksidan yang berasal dari kandungan asam klorogenat yang terdapat pada biji kopi. Bahkan, antioksidan dalam biji kopi memiliki persentase yang lebih tinggi dibandingkan dengan komoditas yang lain seperti cokelat. Fri-35

Sumber:

http://foodreview.co.id/blog-5669575-Aspek-Keamanan-dan-Mutu-dalam-Tren-Produk-Kopi.html

 

SAFETY OF FOOD INGREDIENTS

 

SAFETY OF FOOD INGREDIENTS

01102018-okt18

Keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi. 
(UU No 18, 2012, BAB 1, Pasal 1, Ayat 5)

Food ingredients are chemical substances which are used as food additives, food enzymes, flavourings, smoke flavourings and sources of vitamins and minerals added to food. (EFSA, https://www.efsa.europa.eu/en/applications/ foodingredients)

Industri ingridien pangan telah berkembang sedemikian pesat dan memberikan pilihan serta peluang bagi pengembangan produk pangan untuk berkreasi dan berinovasi menghasilkan produk pangan baru. Industri ingridien pangan telah menghadirkan aneka pilihan bahan, baik berupa bahan baku, bahan tambahan, bahan penolong, zat gizi, atau pun bahan lain yang bisa memberikan nilai tambah pada produk pangan. Pada dasarnya, ingridien adalah unsur atau bahan yang digunakan untuk membuat produk pangan sedemikian rupa, sehingga akan menghasilkan produk seperti yang diinginkan.

Aspek utama dari ingridien pangan adalah mengenai keamanan pangan. Secara khusus, FOODREVIEW INDONESIA edisi ini mengaitkan keamanan ingridien pangan dengan dua momen penting yaitu (i) pelaksanaan Permenkes No. 63 Tahun 2015 (tentang Pencatuman Informasi Kandungan Gula, Garam, dan Lemak serta Pesan Kesehatan untuk Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji) dan (ii) Undang-Undang No. 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal. Kedua momentum ini semuanya akan terjadi pada tahun 2019 mendatang, dan semuanya berkaitan dengan keamanan pangan (UU No 18, 2018 tentang Pangan). Hal ini juga berlaku bagi ingridien pangan, karena untuk mendapatkan produk pangan aman (dan halal) tentu memerlukan ingridien yang aman (dan halal) pula.

Industri pangan tentu harus siap dengan berbagai konsekuensi untuk mengimplementasikan kedua regulasi tersebut, termasuk dalam hal pemilihan dan penggunaan ingridien pangan. Tidak saja bertujuan untuk memberikan nilai lebih dalam hal (i) gizi, (ii) sifat fungsional, (iii) sifat sensori produk, dan (iv) keawetan, pemilihan dan penggunaan ingridien juga bertujuan untuk memberikan jaminan keamanan (dan di dalamnya tentu kehalalan) pangan. Hal ini tentu merupakan tantangan (dan sekaligus peluang besar) bagi industri ingridien pangan.

Dengan berbagai sumber daya yang ada, Indonesia mempunyai potensi dan peluang besar sebagai pemasok ingridien pangan untuk masa depan industri pangan. Semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat dalam meningkatkan daya saing produk dan industri (ingridien) pangan Indonesia. Selamat membaca.

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

FOCUS GROUP DISCUSSION INDONESIA RISK ASSESSMENT CENTER (INARAC)

 

FOCUS GROUP DISCUSSION INDONESIA RISK ASSESSMENT CENTER (INARAC)

6 September 2018 | 11:47 WIB (Pusat Riset dan Kajian Obat dan Makanan)

fgd bpom

Sejak tahun 2014, Indonesia telah memiliki forum Pengkaji Risiko Keamanan Pangan atau Indonesia Risk Assessment Center (INARAC) yang telah diresmikan oleh Menteri Kesehatan pada tanggal 20 November 2014 di Jakarta.  Forum ini dibentuk untuk memfasilitasi pool of expert (kelompok pakar) di bidang kajian risiko keamanan pangan untuk tingkat nasional, peningkatan kapasitas, serta berkomunikasi dengan pelaksana kajian risiko di masing-masing Kementerian/Lembaga.  Berdasarkan Peraturan Kepala BPOM No 26 Tahun 2017 tentang Organisasi dan Tata Kerja BPOM, maka Manajemen INARAC beralih dari Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan menjadi di bawah koordinasi teknis Pusat Riset dan Kajian Obat dan Makanan, BPOM dan diperkuat dengan SK No. HK.04.03.73.04.18.1462 tanggal 11 April 2018 dari Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan, BPOM.

Pada tanggal 3 September 2018, Pusat Riset dan Kajian Obat dan Makanan (PRKOM) sebagai Sekretariat Indonesia Risk Assessment Center (INARAC), BPOM telah menyelenggarakan pertemuan Focus Group Discussion (FGD) di Hotel Grand Mercure Kemayoran Jakarta, dalam rangka “Menggalang Komitmen Dan Koordinasi Kementerian/Lembaga Untuk Pelaksanaan Kajian Risiko Keamanan Pangan”.  Pertemuan ini dihadiri perwakilan dari FAO, WHO, K/L terkait seperti Balitbangkes Kemkes, Bappenas, BB Riset Pengolahan Produk Kelautan dan Perikanan-KKP, Balitvet Kemtan, Kemenristek-dikti, BBIA-Kemenperin, Puslit Kimia-LIPI, Puslit Biologi–LIPI, BPMB Kemendag, Sekretariat INARAC dan unit-unit terkait di BPOM

Sekretaris Utama BPOM, Dra. Elin Herlina Apt., MP. memberikan arahan bahwa komitmen yang telah terbentuk sejak tahun 2014 harus terus ditingkatkan dan Kepala PRKOM, Dra. Sutanti Siti Namtini, Apt., Ph.D. sebagai Koordinator Manajemen INARAC menyampaikan Laporan Kegiatan yang meliputi latar belakang terbentuknya INARAC, kegiatan INARAC tahun 2014 – 2018 serta peran INARAC sebagai focal point ASEAN Risk Assessment Center (ARAC).   Narasumber antara lain Dr. Roy A. Sparringa dengan topik mengenai Penggalangan komitmen kelembagaan INARAC dan Food Safety Emerging Issues, Prof. Purwiyatno Hariyadi sebagai Vice President CODEX memaparkan peran INARAC dalam mendukung posisi Indonesia pada proses pengembangan standard di CODEX dan Prof. Dedi Fardiaz menyampaikan hasil rekomendasi Food Control System Assessment (FCSA) atau penilaian sistem pengawasan pangan oleh FAO/WHO.

Terdapat 8 rekomendasi hasil pertemuan FGD ini, yaitu (1) adanya data nasional yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan tingkat nasional, regional dan internasional, (2) meningkatkan koordinasi lintas sektor, (3) perlu meyakinkan Manager Risiko tentang pentingnya kajian risiko, (4) membangun dan memelihara kapasitas Manager Risiko dan Pengkaji Risiko, (5) perlu leadership, awareness raising, commitment, institutional strengthening, capacity building, coordination, communication dan cooperation(6) dibuat roadmap kegiatan kajian risiko keamanan pangan bersama, (7) memahami dan menerapkan Sanitary and Phitosanitary (SPS), dan (8) menindaklanjut rekomendasi FCSA yaitu menyusun dokumen kategorisasi risiko untuk pangan dan usaha pangan termasuk produksi primer dan dokumen untuk penggunaan prinsip-prinsip analisis risiko dalam proses pengambilan keputusan dengan melibatkan Kementerian/Lembaga, pemerintah daerah dan akademisi.

 

The RIGHT INGREDIENTS

 

03092018-Cover

The RIGHT INGREDIENTS Setiap resep atau formula produk pangan sukses selalu memerlukan kombinasi tepat berbagai ingridien yang cocok. Untuk itu, diperlukan penguasaan pemahaman mengenai aneka ingridien pangan dengan baik; sehingga pemilihan dan penanganannya dapat disalurkan dengan baik pula.

Produk sukses diartikan sebagai produk yang mampu memberikan jawaban atas keinginan, harapan, atau tuntutan konsumennya. Sama saja dengan berbagai pekerjaan atau prakarsa yang lain, untuk dapat memutuskan langkah-langkah tepat, maka hal pertama dan utama yang perlu dirumuskan adalah tentang keinginan atau tuntutan konsumen. Karena alasan itu; produk pangan sukses tidak saja selalu memerlukan ingridien pangan yang tepat; tetapi juga memerlukan “ingridien” sosial, budaya, dan ekonomi yang tepat pula; the right ingredients.

Secara umum, sering dikemukakan bahwa konsumen saat ini semakin memberikan perhatian besar mengenai aspek-aspek keamanan, kesehatan, keberlanjutan (sustainability), serta aspek-aspek lain yang perlu digali dan dipahami oleh produsen. Khususnya di Indonesia, dalam hal pangan, konsumen juga mempunyai perhatian besar terhadap “kemandirian” dan “kedaulatan” pangan. Pertanyaan mengenai dari mana datangnya ingridien yang digunakan oleh industri menjadi lebih sering dikemukakan.

Hal ini merupakan tantangan khusus bagi industri pangan, termasuk industri ingridien pangan di Indonesia. Kenapa? Sebagai negara kaya dengan biodiversitas, Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang kaya akan sumber daya alam. Pada edisi kali ini, FOODREVIEW INDONESIA menyajikan sebagian kecil saja dari aneka potensi yang ada, seperti bunga telang sebagai ingridien pewarna, atau gambir sebagai antioksidan, serta biji kenari, kulit kakao, dan lain sebagainya.

Aneka produk lokal tersebut jelas mempunyai keunggulan dari sisi memenuhi perhatian konsumen tentang “kemandirian” dan “kedaulatan” pangan, dan bahkan keberlanjutan pangan. Karena itu, sudah selayaknya bahwa eksplorasi dan pengembangan bahan baku lokal potensial untuk ingridien pangan perlu mendapat dukungan. Dengan meramu dan merekayasa secara tepat, termasuk meramunya dengan “ingridien” sosial, budaya dan ekonomi, Indonesia berpeluang besar untuk sukses memanfaatkan ingridien-ingridien lokal yang ada di Indonesia. Yang diperlukan adalah komitmen dan prakarsa sinergis berbagai pihak, yaitu pihak pemerintah, industri, akademisi dan masyarakat, sehingga potensi besar itu dapat direalisasikan. Semoga praksarsa ini dapat segera dimulai. Semoga artikel yang tersaji di FOODREVIEW INDONESIA edisi ini berkontribusi memicu langkah pertama prakarsa sinergis itu, niat.

Semoga.
Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

Konferensi Internasional ICAPHP 2018 Digelar di Kuta, Bali

 

Konferensi Internasional ICAPHP 2018 Digelar di Kuta, bali

Isu yang berkembang di dunia internasional saat ini di antaranya yakni low energy, small medium enterprises, food security and safety, food waste and losses serta mendukung program Kementerian Pertanian sehingga siap menghadapi kompetisi di pasar global.Bertolak dari hal itu, Balai Besar Penelitian Pascapanen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian RI menyelenggarakan 2nd International Conference on Agricultural Postharvest Handling & Processing (ICAPHP) pada 29-31 Agustus 2018. Acara yang berlangsung di Hotel Dynasty, Kuta Bali tersebut melibatkan para peneliti, akademisi, mahasiswa dan praktisi dari berbagai lembaga pemerintahan maupun swasta. Beberapa negara yang terlibat di antaranya yaitu Irlandia, Perancis, UK, Australia, Taiwan, Malaysia, Jepang, Thailand, Singapura dan Indonesia.

Konferensi bertujuan untuk: meningkatkan wawasan dan kapasitas komunikasi internasional peneliti dan tukar-menukar informasi hasil penelitian, menghilirkan hasil inovasi, pemikiran, dan informasi teknologi pascapanen kepada masyarakat ilmiah, pemerintah, dan pengguna teknologi pascapanen pada taraf internasional; menghasilkan publikasi ilmiah internasional terindeks scopus; dan meningkatkan jejaring dengan lembaga internasional.

Konferensi ini melibatkan 10 invited speaker dan 95 peserta dari beberapa negara. Berdasarkan hasil kompilasi diperoleh 103 abstrak yang terbagi dalam sesi presentasi 49 oral dan 54 poster. Hal ini tentunya untuk memenuhi target diseminasi hasil penelitian supaya dapat terpublikasi serta layak memenuhi standar terindeks scopus.

Adapun teknis pelaksanaan acara yaitu dua hari merupakan penyelenggraaan konferensi dan pada hari terakhir merupakan kegiatan field trip. Pada pelaksanaan kegiatan konferensi, remarks yang dilanjutkan dengan pembukaan disampaikan oleh Prof. Dr. Risfaheri MS, selaku Kapala Balai Besar Penelitian Pascapanen Pertanian mewakili Kapala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Dr. M. Syakir.

Acara dilanjutkan dengan sesi penyampaian makalah utama oleh invited speaker dan dilanjutkan dengan parallel sesion. Sepuluh makalah yang disampaikan oleh invited speaker merupakan makalah utama pendukung konferensi yang disampaikan oleh para ahli di bidang tersebut. Para pemakalah itu yakni (1) Global consumer trends in food (Jason Green, Foods Asia, Singapore); (2) New postharvest technology: improving grain quality (Prof. Shuso Kawamura, Hokkaido University Japan); (3) Fresh handling technology (Prof. Phe Be Ding, UPM Malaysia); (4) Food quality and safety (Prof. Purwiyatno Haryadi, Codex Alimentarius Commission); (5) Food processing and technology (Prof. Yrjo Roos, University of College Cork Ireland); (6) Local food for global market (Dr. Joni Munarso, ICAPRD Indonesia); (7) Supply chain management (Prof. Peter Batt, Curtin University Australia); (8) Experiences in managing postharvest handling of tropical fruits (Great Giant Pineapple Indonesia); (9) Reducing postharvest losses and waste in Asia (Anthony Bennet, FAO Thailand); (10) Sensors in foods and agriculture (Martin Peacock, Zimmer & Peacock ESensor Manufacturing and Technology, UK).

Untuk makalah oral yang masuk dalam sesi parallel session, terbagi kedalam tiga group yaitu (1) Postharvest technology & Postharvest management, policy and regulation; (2) Food processing Technology, Food and agriculture engineering, Agricultural waste and by-product valorisation; (3) Food quality and safety. Penyampaian makalah oral dipandu oleh para lead speaker yang terlebih dahulu menyampaikan makalah review sesuai dengan bidang group diskusi. Sedangkan makalah poster disampaikan sesuai dengan format dari IOP serta dipajang dan didampingi oleh pemakalah pada sesi poster. Penyelenggaraan field trip dilakukan dalam rangka untuk mendukung pelaksanaan kegiatan konferensi dua hari sebelumnya, dengan melakukan kunjungan lapang di sekitar lokasi konferensi di Bali. Fri-08

http://foodreview.co.id/blog-5669531-Konferensi-Internasional-ICAPHP-2018-Digelar-di-Kuta-Bali.html

Catatan: Presentasi dapat diunduh di sini:

 

FOODREVIEW INDONESIA IN-DEPTH SEMINAR: Ingredients & Technology for Signature Coffee, Tea, & Chocolate Based Beverages

 

FOODREVIEW INDONESIA IN-DEPTH SEMINAR 
Ingredients & Technology for Signature Coffee, Tea, & Chocolate Based Beverages
Kamis, 30 Agustus 2018 | 08.45 – 16.30 | IPB International Convention Center Bogor

Topik Seminar

  • Regulation of Beverages
  • Safety, Quality, and Functionality Ingredients of Coffee, Tea, Chocolate Based Beverages
  • Caramelised Sugar: Improving Quality and Character of Your Products
  • Beverages Market Analysis and Trends
  • Technology for Shelf Stable RTD Beverages

Para Pembicara :

  • Deputi 3 Badan POM RI
  • Prof. Nuri Andarwulan – SEAFAST Center IPB
  • Royal Buisman
  • Prof. Purwiyatno Hariyadi – SEAFAST Center IPB

Siapa yang perlu hadir
Profesional di Industri Pangan -Senior Management, Directors, Research & Development, Production, Quality Dept., Marketing Department-, Retail, Akademisi & Peneliti, Departemen & Pemerintah, Asosiasi, dan Stakeholder Industry Pangan