phariyadi's blog

mencari dan memberi yang terbaik

 

Beverages: Beyond Thirst-Quenchers

 
FRI Vol XV/02 2020

Beverages: Beyond Thirst-Quenchers

Aneka tuntutan dan kebutuhan konsumen terhadap produk minuman terus bekembang. Tidak lagi sekadar mencari minuman untuk memuaskan dahaga saja, tetapi juga baik bagi kesehatan, mempunyai kandungan energi yang sesuai, sekaligus memberikan kesegaran dan kenikmatan ketika dikosumsi. Tuntutan konsumen ini disambut oleh industri dengan berinovasi mengembangkan aneka produk minuman yang menjanjikan untuk memberikan manfaat khas di luar fungsi tradisionalnya sebagai penghilang haus. Beyond Thirst-Quenchers.

Dalam kondisi saat ini, dengan kesadaran konsumen yang tinggi mengenai hubungan antara keamanan, mutu dengan kesehatan, maka industri perlu selalu berinovasi. Inovasi yang dilakukan dapat berkaitan dengan formulasi baru (ingridien dan rasa baru, fungsi baru), tampilan (bentuk, jenis) kemasan yang berbeda, hingga mengaitkan minuman dengan gaya hidup.

Salah satu tantangan mengenai hal ini adalah tentang kandungan gula pada produk minuman. Konsumen dan publik pada umumnya semakin mempunyai pemahaman yang lebih baik mengenai pengaruh konsumsi gula berlebih terhadap aneka penyakit tidak menular. Asupan gula berlebih berpotensi menyebabkan sistem insulin menjadi tidak mampu memetabolisme gula menjadi energi dengan baik, sehingga akan meningkatkan gula darah yang dapat bermuara pada meningkatnya risiko terjadinya kegemukan (obesitas) dan diabetes.

Diabetes yang tidak terkendali akan meningkatkan risiko terganggunya organ lain pada tubuh, misalnya jantung, ginjal dan lain-lain. Kesadaran ini mendorong konsumen mengubah pola konsumsi minumnya, dari konsumsi minuman bergula menjadi minuman tanpa gula, atau bergula rendah. Jelas ini memunculkan tantangan bagi industri untuk melakukan reformulasi, berinovasi bagaimana memenuhi tuntutan konsumen tanpa kompromi dengan kualitas sensori, terutama rasa dan kenikmatan.

FOODREVIEW Indonesia edisi kali ini membahas beberapa hal terkait dengan tantangan dan peluang inovasi pada produk minuman. Ulasan terkait dengan kondisi umum industri minuman juga akan disajikan, terutama yang berkaitan dengan peta konsumen dan pasar industri minuman, khususnya pada era persaingan global yang cukup sengit.

Semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat dalam meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

phariyadi’s blog phariyadi’s blog – mencari dan memberi yang …

 

 

Tantangan Keberlanjutan Industri Bakeri 2020

 

Tantangan Keberlanjutan Industri Bakeri 2020

06012020-Screen-Shot-2020-01-06-at-3.56.12-PM

Pangan selalu berhubungan dengan keberlanjutan; khususnya keberlanjutan kehidupan. Tidak akan ada kehidupan jika tidak ada pangan. Manusia pun semakin mempunyai kesadaran tentang hubungan penting antara pangan – dan makan (sebagai tindakan individu) – dengan banyak aspek kehidupan manusia lainnya. Kegiatan makan tidak hanya terkait dan dipengaruhi oleh aspek kesehatan, tetapi juga oleh, antara lain, kenikmatan, kesenangan, lingkungan sosial-budaya, iman (agama), gaya hidup, kinerja yang diharapkan tertentu dan aspek keberlanjutan. Aspek yang terakhir ini, aspek keberlanjutan, merupakan aspek yang sangat penting dan menjadi perhatian global. Oleh karena itu, tantangannya adalah bahwa industri pangan harus memperhatikan multi-faktor ini dalam hal memberikan pilihan produk pangan bagi konsumennya; baik untuk konsumen yang sekarang maupun untuk konsumen yang akan datang.

Memastikan pasokan pangan secara berkelanjutan untuk populasi dunia yang tumbuh cepat jelas bukan tantangan yang ringan. Diperkirakan bahwa pada tahun 2050 populasi Indonesia akan menembus angka 300 juta orang; dari angka sekitar 266 juta orang pada tahun 2019. Produksi pangan jelas perlu ditingkatkan. Tantangan ini menjadi lebih berat lagi mengingat bahwa ketersediaan lahan yang menyempit, serta air dan energi yang juga semakin terbatas. Belum lagi tantangan yang berkaitan dengan persyaratan gizi untuk mendukung kesehatan yang baik.
Semua tantangan ini perlu disadari oleh semua insan pangan Indonesia; sehingga dalam setiap langkah inovasinya dapat mengupayakan solusi keberlanjutan. Salah satu tantangan itu juga tergambarkan dengan perkembangan produk dan industri bakeri. Produk bakeri telah lama menjadi produk pangan yang dikenal konsumen. Namun, seiring dengan isu keberlanjutan, maka pengembangan produk bakeri tentu perlu mengikuti tren gizi dan kesehatan, ketersediaan bahan baku, yang terajut dengan jaringan sosial budaya dan ekonomi masyarakat.

Foodreview Indonesia edisi kali ini membahas inspirasi dalam berinovasi, khususnya yang berkaitan dengan aspek keberlanjutan industri pangan; khususnya lagi untuk produk dan industri bakeri.
Semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat dalam meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.
Selamat Tahun Baru 2020.

Purwiyatno Hariyadi
Phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

Seasons Greetings

 

For everyone everywhere who is celebrating …

May your holidays be filled with lots of happiness, peace, love … and, safe and nutritious foods too.

phariyadi.staff.ipb.ac.id

happy Holidayss 2019

 

 

 

Sustainability: Food Packaging Challenges

03122019-Cover_edisi-12_2019

Sustainable development is development that meets the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs. Gro Harlem Brundtland

 

Berbagai negara, termasuk Indonesia, mempunyai komitmen untuk mencapai tujuan-tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals, SDGs).  Bidang pangan, termasuk industri pangan, mempunyai peran penting untuk mencapai tujuan ini.  Dalam hal ini, industri pangan mempunyai tantangan besar, terutama dari aspek peningkatan populasi dan lingkungan.

Tantangan dari aspek peningkatan populasi; yang diperkirakan akan meningkat dari 7 menjadi 9 miliar pada tahun 2050, adalah bagaimana meningkatkan pasokan pangan untuk memenuhi kebutuhan yang akan meningkat secara signifikan. Tantangan ini semakin besar; terutama dengan adanya tantangan dari aspek lingkungan; di mana kondisi produksi pangan yang semakin memburuk; terutama berkaitan dengan berkurangnya ketersediaan dan menurunnya kesuburan lahan, serta keterbatasan air.

Sektor kemasan mempunyai peranan yang sangat penting bagi industri pangan; untuk mendukung upaya pencapaian SDGs.  Peran penting kemasan ini terutama adalah dalam hal (i) memperpanjang masa simpan dan mengurangi kerusakan serta kemubaziran pangan (food loss and waste); sehingga mampu meningkatkan ketersediaannya,  serta (ii) memastikan bahwa kemasan pangan menjadi lebih ramah terhadap lingkungan; sehingga tidak memperparah kondisi sistem produksi pangan.  Selain itu, peran klasik pengemas pangan tetap harus bisa dipertahankan; terutama yang berkaitan untuk memastikan keamanan pangan.

Foodreview Indonesia edisi kali ini akan membahas berbagai peluang inovasi terkait dengan kemasan pangan, terutama untuk mendukung upaya industri pangan dalam kontribusinya pada pencapaian SDGs.  Informasi lain terkait dengan berbagai isu mutu dan keamanan pangan, terutama tentang ingridien asam lemak tak-jenuh ganda, juga kami laporkan. Semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat dan menjadi referensi dalam meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.

Purwiyatno Hariyadi

Phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

CCNFSDU plays a pivotal role devoting its energy to those who need special protectionhttp://www.fao.org/fao-who-codexalimentarius/news-and-events/news-details/en/c/1252905/

 

http://www.fao.org/fao-who-codexalimentarius/news-and-events/news-details/en/c/1252905/

CCNFSDU plays a pivotal role devoting its energy to those who need special protection

 25/11/2019

In Düsseldorf, Germany an extended session of the Codex Committee on Nutrition and Foods for Special Dietary Uses (CCNFSDU) with nearly 400 delegates in attendance, kicked off Sunday 24 November 2019.

Speaking via a video message Julia Klöckner, German Federal Minister of Food, Agriculture and Consumer Protection, said that with over 820 million people still suffering from hunger whilst at the same time almost a third of the global population is affected by excess weight and obesity, nutrition and health policies must respond, and Codex plays a pivotal role. Codex also devotes its energy to young children, who are particularly vulnerable and therefore need special protection, she said.

Lorenz Franken

Lorenz Franken, DG, German Federal Ministry of Food and Agriculture

Lorenz Franken Director General for Consumer Health Protection, Food and Nutrition, Product Safety, in the Federal Ministry of Food and Agriculture, welcomed delegates. Health protection and the removal of trade barriers are more important than ever in a globalized world and growing international trade and other emerging problems have increased the complexity of the international food system.

We should work hard to improve the visibility of Codex.

“Ensuring food safety should be high on the political agenda in every country and participation in Codex work plays a key role in harmonizing food safety and quality”, he said. CCNFSDU has a responsibility to drive the delivery of safer and quality food for a growing world population. “We should work hard to improve the visibility of Codex and seek to raise awareness of the importance of Codex and food safety among all relevant stakeholders”, he said.

Purwiyatno Hariyadi

Purwiyatno Hariyadi, Indonesia, vicechairperson Codex Alimentarius Commission

“Codex, as a body operating within the framework of the UN, has a shared responsibility to contribute to the attainment of the Sustainable Development Goals”, said Purwiyatno Hariyadi, Indonesia, vice-chairperson of the Codex Alimentarius Commission. “The outcomes of our deliberations are expected to help every actor along the global food supply chain in assuring the safety and nutrition of food products important for maintaining a healthy and active life”, he said.

Tom Heilandt, Secretary

Codex Secretary Tom Heilandt

The essential work of CCNFSDU.

Codex Secretary Tom Heilandt spoke of the essential work CCNFSDU performs in dealing with foods which are not consumed by the ones who buy them but which are bought for those who they care about most: infants and small children. “The first 1 000 days have been called a critical window of opportunity for growth and development in a child’s life. Nutritional gains during this period continue to benefit the child throughout life, while the damage from nutritional losses also lasts a lifetime”, he said.

 

Learn more

Follow the working documents for this session.

 

 

http://www.fao.org/fao-who-codexalimentarius/news-and-events/news-details/en/c/1252456/ – Codex nutrition committee – a common goal to combat malnutrition and obesity

 

Codex nutrition committee – a common goal to combat malnutrition and obesity

http://www.fao.org/fao-who-codexalimentarius/news-and-events/news-details/en/c/1252456/

 23/11/2019

In the week that WHO urges action to increase physical activity levels in girls and boys aged 11 to 17 years and reports that more than 80% of school-going adolescents globally do not meet current recommendations of at least one hour of physical activity per day, it is timely that the Codex Committee on Nutrition and Foods for Special Dietary Uses (CCNFSDU) is meeting from 24 to 29 November in Duesseldorf, Germany.

Purwiyatno Hariyadi, Indonesia, Vice-chairperson of the Codex Alimentarius Commission said: “The current triple burden of undernutrition; overweight and obesity, and micronutrient deficiencies is the main problem faced by many parts of the world”. This situation prevents many people from living healthy, active and productive lives.  “By setting standards concerning the nutritional aspects of all foods, CCNFSDU, can play a significant role to help solve this problem”, he said.

CCNFSDU41 - co-chairs

Anja Broenstrup and Hilke Thordsen

With as many as 400 delegates present, CCNFSDU continues to be one of the best attended Codex meetings. The topics of CCNFSDU are of particular importance when it comes to protecting consumers and to fighting against malnutrition worldwide. “Health protection and the removal of barriers to trade are more important than ever in our globalized world”, said Hilke Thordsen, who co-chairs the committee together with chairperson Anja Broenstrup, both from the German Federal Ministry of Food and Agriculture who host the committee.

One of the biggest items on the agenda is the work on follow-up formula attracting interest from both members and observer organizations.

 Looking forward to significant progress.

Jenny Reid, from New Zealand, who have been leading the work on the review of follow up formula for a number of years said they were looking forward to significant progress at this meeting.  “We know that many of the issues up for discussion on this agenda item are contentious and we look forward to effective compromise while retaining sound scientific principles underpinning the decisions”, she said.

“Malaysia hopes CCNFSDU can make significant progress on important issues including the review of follow-up formula standard. We believe Codex standard are pertinent in harmonizing international food trade practices and avoiding unnecessary trade barriers”, said Ruhana binti Abdul Latif, from the Ministry of Health.

“The market shows that we really need guidance for a nutritionally meaningful composition of these products. It is our responsibility to develop this standard further and to ensure that products are composed based on science”, said Thordsen.

Maria Xipsiti, Nutrition Officer FAO said: “The work of CCNFSDU is critical for revising existing standards and guidelines with a view to aligning them with new scientific findings and other developments.

I am looking forward to fruitful discussions by the committee on follow up formula and other special foods”.

CCNFSDU41 - follow-up formula

The committee will discuss follow-up formula and other special foods

 Protecting the age group that represents our future.

The meeting is “an opportunity to discuss new data on nutrition and dietary aspects in particular”, said Henda Souilamas, from the Ministry of Commerce in Algeria. The standards the committee develops are for the age group that “represents the future of our world”, she said.

The interest of Kazakhstan to participate at the CCNFSDU meetings is primarily linked to non-communicable diseases (NCDs). “One of the main directions of the healthcare strategy of Kazakhstan is the reduction of morbidity and mortality rates caused by NCDs”, said Zhanar Tolysbayeva, a nutrition expert.

 Science should take precedence.

Gilbert Tshitaudzi, South Africa expects the decisions made by the committee to be in the interest of public health, especially the most vulnerable groups such as infants and young children. “Science should take precedence when decisions are made to ensure that Member States feel confident about the Codex processes”, he said.

“I expect that all the items on the agenda will be discussed based on science. I also expect that consensus will be built and standards developed on time”, said Atul Upadhyay from Nepal.

Consumer groups and private sector interest in the committee is high

Over 30 observer organizations will take part in CCNFSDU representing both the private sector and consumer groups with interest on many agenda items extremely high.

“We expect CCNFSDU41 to make important steps in providing the necessary guidance to help governments, businesses and other stakeholders enhance nutrition and facilitate international food trade”, said Dirk Jacobs from FoodDrinkEurope.

Jean Christophe Kremer represents the International Special Dietary Foods Industry, a longstanding observer at CCNFSDU. “We expect a challenging agenda and hope that the Dusseldorf meeting will enable all delegates and observers to find compromise”, he said.

The American Oil Chemists’ Society is particularly interested in agenda items that relate to oilseeds and other crop proteins. “We anticipate there will be discussions at the meeting that may impact our stakeholders”, said Barry Tulk.

The European Network of Childbirth Associations and the International Baby Food Action Network are always active participants in CCNFSDU. “We hope that child and planetary health is put before commercial concerns and that the deceptive cross-promotion on labelling of products for young children will not be permitted”, said Patti Rundall.

The meeting will also discuss a proposal on probiotic guidelines for use in foods and dietary supplements, a topic first raised by the International Probiotics Association (IPA) at the committee in 2017. “Codex Standards reflect a best practices scenario globally. We look forward to this year’s CCNFSDU41 to begin work on the proposed harmonization initiative for Codex probiotic guidelines”, said George Paraskevakos, Executive Director of IPA.

Future priorities

The host secretariat, Germany will introduce a paper on the development of a mechanism to prioritize new work proposals for its agenda. Dealing with issues related to the diet of vulnerable population groups means topics in the committee are high on political agendas and under increasing public scrutiny. “Over many years CCNFSDU has shown it can consistently create global reference points. Discussion on prioritization will be key to ensuring that its work remains relevant and sustainable”, said a representative of the International Alliance of Dietary Food Supplement Associations.

Ensuring a successful meeting

Helena S. Alcaraz from the Philippines hopes the chairperson continues to give equal opportunity to each delegate to speak whenever possible. “I also hope that the delegates will actively participate in the discussions so we can come up with true consensus on all critical agenda items”, she said.

“We should bear in mind that we all strive for a common goal: to combat malnutrition and obesity, especially in vulnerable population groups” said Thordsen. It is important the committee does not lose sight of this common goal. What matters “is the will to compromise and to find consensus on the basis of mutual understanding”.

 

Read more

Follow the meeting agenda on the Codex web site.

 

Gizi dan Kesehatan: Tantangan Industri Pangan

 

04112019-Cover-FRI-edisi-11_2019

Gizi dan Kesehatan: Tantangan Industri Pangan

Baru saja kita memperingati Hari Pangan Sedunia (HPS), 16 Oktober yang lalu.  Kemudian, pada bulan November ini, tanggal 14, kita memperingati Hari Diabetes Sedunia.  Dua peringatan ini meneguhkan hubungan erat antara pangan, gizi, dan kesehatan.  Kualitas konsumsi pangan akan menentukan kualitas asupan dan kecukupan gizi, dan pada akhirnya akan menentukan tingkat kesehatan masyarakat. Secara khusus, pola konsumsi pangan sering menjadi salah satu faktor pemicu munculnya berbagai jenis penyakit tak menular. Konsumsi pangan bergula berlebihan, misalnya, dapat meningkatkan risiko terkena diabetes.

Karena alasan itulah maka sektor penyedia pangan merupakan sektor strategis bagi suatu negara. Sektor produksi pangan, termasuk industri pangan, mempunyai tanggung jawab untuk memastikan tercapainya tujuan-tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/ SGDs). Kenyataan bahwa tingkat kerawanan pangan di Indonesia yang masih mengkhawatirkan, perlu menjadi keprihatinan dan sekaligus tantangan bagi industri.

Menurut Riset Kesehatan Dasar terbaru (2018), prevalensi anak-anak kurang gizi (di bawah 5 tahun) adalah 17,7%. Laporan yang sama juga menyatakan bahwa prevalensi stunting anak-anak (di bawah usia 5 tahun) di Indonesia adalah 30,8%. Konsekuensi dari tingginya angka stunting ini sangat signifikan, terutama dalam kaitannya dengan kapasitas kecerdasan sumber daya manusia, karena kondisi stunting akan memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak serta kecerdasan.

Keprihatinan industri ini, perlu dimanifestasikan dengan memastikan bahwa produk pangan yang dihasilkan perlu dirancang dengan bertanggung jawab, untuk dapat memberikan dampak positif bagi status gizi dan kesehatan konsumennya. Demikian pula dalam beriklan, memberikan pendidikan pangan dan gizi yang tepat; sehingga akan membangun gaya hidup yang lebih sehat.

Tentu saja industri tidak bisa bermain sendirian, perlu dukungan dan rancangan kebijakan yang mendorong industri bisa memerankan peran dan tanggung jawabnya dengan baik.  Konsumen juga demikian, perlu melengkapi pengetahuan dan berupaya mengubah gaya hidup yang lebih sehat; baik dalam memilih konsumsi pangannya, maupun dalam berbagai aktivitas sik lainnya.

Foodreview Indonesia edisi kali ini akan membahas hal terkait dengan hubungan pangan, gizi dan kesehatan; serta berbagai tren-tren terkait gaya hidup konsumen. Semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat
dan menjadi referensi dalam meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia; yang pada akhirnya akan meningkatkan daya saing manusia Indonesia.

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

http://pustakapangan.com/store/?category=Foodreview

 

01102019-Cover-edisi-10_2019

Better Machinery, Better Processing, Better Quality of Foods

Pangan adalah kebutuhan dasar manusia.  Selain jumlah, aspek keamanan dan mutu pangan perlu mendapatkan perhatian serius.  Hal ini untuk memastikan bahwa pangan yang beredar memenuhi persyaratan keamanan dan mutu; sehingga akan memberikan manfaat kesehatan bagi konsumen.

Dalam atmosfir persaingan usaha global yang semakin menguat, untuk meningkatkan produksi secara lebih efisien, industri mengolah pangan dengan berbagai teknik pengolahan.  Tujuan utamanya adalah untuk menghasilkan produk pangan yang mampu memenuhi persyaratan keamanan dan mutu, serta memenuhi keinginan konsumen yang bervariasi.

Karena itulah, terdapat tuntutan untuk mendapatkan dan menggunakan mesin-mesin pengolahan yang lebih baik, teknologi proses yang lebih baik, untuk mendapatkan produk pangan yang lebih bermutu.  Better Machinery, Better Processing, Better Quality of Foods.

Selain itu, pengendalian dan optimalisasi proses juga perlu menjadi perhatian industri pangan. Karena itu, kebutuhan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas SDM juga menjadi faktor penting yang sangat menentukan upaya menjadi lebih baik. Pemahaman mengenai mesin-mesin dan teknologi pengolahan pangan sangat diperlukan untuk proses inovasi guna peningkatan daya saing dan keberlanjutan industri pangan.

Jika dipahami dengan baik, dipilih dengan benar, penggunaan mesin dan proses pengolahan pangan, akan menghasilkan pangan olahan yang beraneka ragam, memberikan aneka pilihan pangan aman dan bermutu bagi konsumen, mendorong permintaan dan menawarkan kesempatan pertumbuhan industri, yang pada gilirannya menciptakan lapangan kerja.

Untuk itu, Foodreview Indonesia edisi kali ini akan membahas beberapa hal terkait dengan upaya mengoptimalkan proses dalam rantai produksi dan teknologi dalam beberapa mesin yang digunakan. Semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat dan menjadi referensi dalam meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.

Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

 

https://www.agrofarm.co.id/2019/09/18623/

 

Pemerintah Diminta Atasi Isu 3-MCPD dan GE pada Minyak Sawit

https://www.agrofarm.co.id/2019/09/18623/

Agrofarm.co.id-Pemerintah diminta menyelesaikan isu kontaminan 3-monochlorpro-pandiol ester (3-MCPD Ester) dan glycidol esters (GE). Ini dapat menghambat perdagangan minyak sawit Indonesia ke Uni Eropa.

Berdasarkan hasil penelitian di Eropa menyebutkan bahwa minyak sawit mengandung 3-MCPD Ester dan GE yang tertinggi diantara minyak nabati lainnya, yakni masing-masing sebesar 3-7 ppm sebesar 3-11 ppm.

Senyawa 3-MCPD merupakan senyawa hasil hidrolisis 3-MCPD ester yang memiliki efek negatif terhadap ginjal, sistem syaraf pusat, dan sistem reproduksi pada hewan percobaan. Menurut International Agency for Research on Cancer (IARC), senyawa 3-MCPD kemungkinan juga dapat menyebabkan kanker bagi manusia.

Sahat Sinaga Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mengungkapkan, Uni Eropa sangat konsen terhadap isu ini . “Apalagi tahun 2020 masalah ini tidak segera terselesaikan, ini akan mnjadi hambatan dagang minyak sawit Indonesia ke depannya,” ujar Sahat dalam acara 1st International Seminar on Oil Palm di IPB International Convention Center (IICC) Bogor, Rabu (05/9/2019).

Menurutnya, jika tidak mencapai standar produk sawit Indonesia kemungkinan tidak laku dijual. Parahnya lagi selama ini Indonesia tidak mempunyai standar minyak sawit mentah (crude palm oil).

“Untuk itu, perlu satu kementerian yang fokus dalam mengatasi masalah ini. Kementerian Kesehatan dapat memimpin guna menyelesaikan masalah 3-MCPD. Selain itu, di Indonesiatidak ada laboratorium pengujian khusus 3-MCPD,” jelasnya.

Sahat menuturkan, perusahaan pengolahan minyak sawit pada dasarnya siap untuk memenuhi standar kandungan 3-MCPD maksimum 2,5 ppm seperti yang diatur oleh Komisi Eropa. Meskipun para pelaku usaha membutuhkan waktu.

Guru Besar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian (ITP-Fateta) Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Purwiyatno Hariyadi menambahkan, isu keamanan pangan pada kelapa sawit menjadi pennting karena 80-85% digunakan untuk pangan.

“Sehingga isu yang berkaitan dengan pangan mempengaruhi isu pada kelapa sawit. Konsumen sangat peduli terhdap isu keamanan pangan, termasuk labeling dan gizi,” ujar Purwiyatno.

Dia mengatakan, 3-MCPD dan GE sebagai kontaminan dalam proses pengolahan (refeneri) sawit. Masalah ini menjadi perhatin serius di negara-negara konsumen sawit. Apalagi minyak sawit banyak digunakan untuk bahan baku makanan bayi.

“Untuk itu, pemerintah harus menjamin bahwa minyak sawit itu aman untuk dikonsumsi, terutama untuk konsumen dalam negeri karena cukup besar penggunaannya. Standar internasional 3-MCPD belum ada, namun di beberapa negara Eropa sudah mulai menggunakan standar,” terangnya.

Dia meminta, industri dan petani awit menerapkan tata cara produksi yang baik agar kadar 3-MCPD dan GE yang dihasilkan rendah. “Perlu penanganan dari perbaikan penanaman, pemupukan hingga pengolahan sawit dengan pembuatan SOP,” katanya. Bantolo

 

http://www.fao.org/fao-who-codexalimentarius/news-and-events/news-details/en/c/1234630/

 

http://www.fao.org/fao-who-codexalimentarius/news-and-events/news-details/en/c/1234630/

Through Codex, Asia works together to strengthen the Codex system and regional cooperation

 23/09/2019

Delegates from 18 member countries are gathered in Goa, India 23 to 27 September, for the 21st FAO/WHO Coordinating Committee for the Asian region (CCASIA).

Sunil Bakshi, Chairperson of the committee and Head of Regulations at the Food Safety and Standards Authority of India (FSSAI), extended a warm welcome to those present emphasising that the main objective of CCASIA is to promote mutual communication and resource sharing to develop regional standards and regulations for food products.

A great opportunity to work together.

Rita Teaotia (main photo), Chairperson FSSAI, in her inaugural address, said it was a difficult time for trade and globally economies including major ones were slowing down. “Trade tensions and rising protectionism are increasing and in this environment the Codex Alimentarius Commission and CCASIA in particular offer us a great opportunity to work together to strengthen both the Codex systems as well as our regional cooperation”, she said.

Asia is a rapidly growing region, rich in linguistic, economic and cultural diversity and shares an ancient history of robust trading relations. Countries trade extensively with each other and at least in food, almost 60 percent of food trade is within the region. “To my view, this alone is enough reason for us to develop a common ground for cooperation”, said Teaotia, underlining the need to create a network of scientific and research institutions for collection and assimilation of scientific data for the region and the opportunity to explore ways of exchanging information regarding food fraud and other areas of core interest to countries.

CCASIA21-Goa-Speakers

Left to right: Sunil Bakshi, Rajeev Kumar Jain, Purwiyatno Hariyadi, Steve Wearne, Rita Teaotia, Sridhar Dharmapuri, Gyanendra Gongal, Sarah Cahill 

Sarah Cahill, Senior Food Standards Officer, Codex Secretariat said the “coordinating committees are unique among Codex meetings and the focus of such meetings is not only on standard setting but also to shine a light on various food safety and quality issues in the region”. Regional meetings provide a forum for collaboration and knowledge sharing, for promoting discussions on new issues emerging on the horizon and then “to take critical decisions on setting standards that are central to addressing food safety and quality in the region”, she said.

Steve Wearne, Vice-Chair, Codex Alimentarius Commission highlighted said “the regional coordinating committees and member countries collectively set the direction and the priorities of Codex”, and looked forward to seeing the results of the deliberations and key analysis to facilitate the continuing discussions on what more Codex can do “to ensure our international and national food control systems”.

Purwiyatno Hariyadi, Vice-Chair, Codex Alimentarius Commission said the “countries should aim to have more such initiatives at the regional level to ensure that key issues unique to Asia can be discussed”.

Elevating the status of food safety on the international development agenda.

Sridhar Dharmapuri, Senior Food Safety and Nutrition Officer, FAO said the two high-level events in Addis Ababa and Geneva “have firmly placed the topic of food safety front and center of the food agenda, alongside ending hunger and tackling the consequences of climate change”. Unlike the other two priorities, food safety is under-represented within the Sustainable Development Goals, “but we now have the opportunity to elevate its status on the international development agenda and integrate it as we proceed towards 2030”, he said.

Gyanendra Gongal, Technical Officer, WHO, representing Regional Director Poonal Khetrapal, said that standards set by Codex are of global relevance: “All countries have a duty to adhere to the Codex standards and guidelines and to ensure more coordination amongst the regions”, he said.

CCASIA21-lighting the lamp

Rita Teaotia leads the lighting of the lamp ceremony at the opening of CCASIA21.

 

Read more

Follow the CCASIA21 agenda on the Codex website and on social media #CCASIA21

Source:

http://www.fao.org/fao-who-codexalimentarius/news-and-events/news-details/en/c/1234630/