COVID-19 dan KEAMANAN PANGAN

COVID-19 dan KEAMANAN PANGAN

Sebagai bagian dari sistem pangan, industri pangan bertanggung jawab atas produksi, pengolahan, dan distribusi pangan. Industri pangan bertanggung jawab memastikan bahwa pangan aman, bergizi dan bermutu tetap tersedia bagi negara, sehingga kebutuhan setiap individu setiap harinya akan bisa dipenuhi. Namun demikian, pandemi COVID-19 dan kebijakan negara dalam menanganinya memberikan tantangan baru bagi segala sektor kehidupan manusia, termasuk industri pangan.

Setelah berhasil bertahan, dan bahkan tumbuh selama 1 tahun terakhir, maka industri pangan perlu menarik pelajaran dari peristiwa pandemi COVID-19 ini. Hariyadi, P dan Dewanti-Hariyadi, R (2020) di FoodReview Indonesia (VOL. XV/NO. 5/Mei 2020; http://bit.ly/pranala1), mengidentifikasi terdapat sepuluh (10) “pelajaran” yang dapat diambil oleh industri pangan, baik industri pertanian, pengolah, gudang, restoran, dan lain-lain. Intinya, industri pangan perlu secara disiplin dan bertanggung jawab melaksanakan praktik higiene yang baik (Good Hygienic Practice), termasuk mereviu dan memperbarui sistem manajemen keamanan pangannya (HACCP, sesuai dengan pedoman Codex Alimentarius yang baru; (General Principles of Food Hygiene CXC 1-1969; http://bit.ly/pranala2). Dalam hal ini, implementasi praktik higiene yang baik, selain merupakan landasan untuk memastikan keamanan pangan, dalam konteks pandemi juga untuk meminimalkan penyebaran dari orang ke orang, serta meminimalisasi kontaminasi silang COVID-19 dalam operasi industri pangan.

Kontaminasi silang, khususnya dari orang ke produk atau kemasan pangan, saat ini merupakan hal yang kritis, khususnya untuk perdagangan internasional (ekspor) ke China. Walaupun banyak Badan Otoritas Keamanan Pangan dari AS (US-FDA), Eropa (EFSA), Kanada (CFIA), Asutralia dan Selandia Baru (FSANZ), dan Organisasi Pangan dan Pertanian/ Organisasi Kesehatan Dunia (FAO/WHO) tidak menemukan bukti bahwa pangan dan kemasannya adalah sumber COVID-19, China menyatakan bahwa virus itu dapat ditularkan melalui pengiriman pangan impor, terutama pangan beku. Karena alasan itulah, China (sejak Juni 2020) melakukan pengujian ekstensif terhadap pangan impor, menempuh kebijakan menangguhkan masuknya produk daging dan pangan laut (seafoods), dan meminta eksportir memberikan pernyataan bahwa produk yang dikirimkan ke China adalah produk bebas COVID-19. Komisi Kesehatan Nasional China mengeluarkan pedoman yang mempersyaratkan pemasok/eksportir daging di Brasil untuk melakukan pengujian ekstensif terhadap virus dan mengkonfigurasi ulang pabrik pengolahan daging untuk meminimalisasi kontaminasi silang.Kebijakan pengujian ini juga berlaku untuk produk Indonesia, khususnya pangan laut, yang diekspor ke China.

Kondisi ini jelas merupakan kontroversi. Beberapa negara telah menyatakan kerpihatinannya pada forum pertemuan komite World Trade Organization (WTO). Eropa, misalnya, menyatakan keprihatinannya dan meminta negara dengan tindakan seperti itu untuk membagikan data dan kajian yang dapat menjelaskan bahwa tindakan pengujian dan bahkan penangguhan adalah valid dan proporsional. Keprihatinan yang sama ditunjukkan oleh Swiss yang menyatakan bahwa persyaratan tambahan tentang COVID-19 untuk impor produk pangan, termasuk tes, inspeksi dan sertifikat, perlu didukung dengan penilaian risiko yang kuat. Bahkan, November 2020, Amerika Serikat dan Kanada, didukung oleh Australia, Brasil, Paraguay, Inggris, dan Meksiko, telah mendesak China untuk mencabut kebijakan terkait COVID-19. Namun China tetap pada pendiriannya, dengan alasan bahwa virus dapat bertahan dalam kondisi suhu rendah, dan China memang telah mendeteksi keberadaan virus pada kemasan dan wadah pangan beku impor.

Ilustrasi di atas menekankan pentingnya penerapan praktik baik penanganan dan pengolahan pangan, sedemikian rupa sehingga bisa menghindari terjadinya kontaminasi silang. Akhirnya, dengan mempraktikkan Cara Produksi yang Baik (GMP), Cara Higiene yang Baik (GHP) yang, antara lain, meliputi proses pembersihan dan sanitasi peralatan dan fasilitas pengolahan pangan dengan baik, dan higiene personalia yang terjaga, maka risiko kontaminasi silang, yang menyebabkan terdeteksinya virus pada permukaan (pangan dan/atau kemasan pangan) tersebut dapat diminimalkan.

Semoga sajian FoodReview Indonesia kali ini bisa memberikan manfaat, meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.

Selamat membaca. Selamat Idul Fitri 1442 H. Mohon maaf lahir batin.

 

Purwiyatno Hariyadi

phariyadi.staff.ipb.ac.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.