Inovasi Susu Nusantara

Inovasi Susu Nusantara

Bagi insan pangan, bulan Juni adalah bulan istimewa.  Ada peringatan hari-hari penting pada bulan Juni ini. Pertama, 1 Juni adalah Hari Susu Dunia dan sekaligus Hari Susu Nusantara. Lalu ada Hari Lingkungan Hidup Sedunia (5 Juni), Hari Tempe Nasional (6 Juni) dan Hari Keamanan Pangan Sedunia (7 Juni).

Pada edisi ini, FoodReview Indonesia secara khusus menyoroti Hari Susu Dunia dan sekaligus Hari Susu Nusantara.

Hari Susu Dunia ini ditetapkan oleh Organisasi Pertanian dan Pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa, sejak tahun 2001, sebagai penghargaan dan pengakuan tentang peran penting susu dalam meningkatkan status gizi manusia secara global. Tidak hanya itu, Hari Susu juga menghargai dan mengakui peran penting yang dimainkan sektor persusuan dalam (i) kehidupan masyarakat (khususnya masyarakat peternak), (ii) perekonomian nasional, dan (iii) budaya masyarakat. Di Amerika Serikat, peringatan ini bahkan dilakukan di sepanjang bulan Juni, dengan menetapkan bulan Juni sebagai Bulan Persusuan (Dairy Month).

Kementerian Pertanian (sejak tahun 2009) menetapkan tanggal 1 Juni sebagai Hari Susu Nusantara. Hari Susu Nusantara, tidak hanya digunakan untuk mengingatkan dan mempromosikan nilai gizi dan aneka manfaat susu dan produk susu, tetapi sekaligus juga dapat digunakan sebagai momentum untuk meningkatkan komitmen semua pemangku kepentingan persusuan nasional, guna meningkatkan kapasitas dan daya saing industri persusuan nasional.

Menurut publikasi dari FAO (Dairy Market Review: Overview of Global Dairy Market Developments in 2020) yang terbit pada bulan April 2021, kondisi industri susu Indonesia masih sangat tergantung pada impor. Pada tahun 2016-2018, rata -rata produksi susu di Indonesia adalah 1.537 ribu ton (ekuivalen susu cair), lalu berturutturut meningkat menjadi 1.619 dan 1.644 ribu ton (ekuivalen susu cair) pada tahun 2019 dan 2020. Jumlah produksi dalam negeri ini tidak mencukupi kebutuhan yang sangat tinggi, sehingga sebagian besar susu justru harus diimpor. Pada tahun 2016-2018 angka impor Indonesia mencapai rata-rata 2.849, dan pada tahun 2019 dan 2020 berturut-turut mencapai 3.212 dan 3.062 ribu ton (ekuivalen susu cair).

Angka impor yang sangat besar itu tentu memprihatinkan, tetapi sesungguhnya bisa juga menggambarkan potensi pengembangan industri hulu susu (peternakan) dalam negeri. Kementerian Pertanian menyatakan, di hulu, kapasitas produksi peternakan di Indonesia masih rendah, dengan produktivitas ternak baru mencapai 8-13 liter per ekor/hari. Selain berusaha meningkatkan praktik peternakan yang baik untuk meningkatkan produktivitas per ekor, diupayakan pula untuk meningkatkan populasi ternak. Hal inilah yang perlu selalu menjadi perhatian semua pihak, terutama Kementerian Pertanian.

Selain itu, industri hilir susu juga berpotensi untuk mengembangkan produk olahan susu, yang bahkan berpotensi ekspor. Dengan manajemen keamanan dan mutu pangan yang baik, serta SDM kreatif dan inovatif dalam mengembangkan produk olahan susu, tidak mustahil industri kita mampu meningkatkan ekspornya. Hal ini telah terbukti dari data yang ada sampai pada tahun 2020. Publikasi FAO yang sama di atas, juga mencatat terjadinya kenaikan ekspor produk susu dari Indonesia, dari rata-rata 48 pada tahun 2016-2018, meningkat menjadi 52 pada tahun 2018, dan lebih meningkat lagi menjadi 59 ribu ton (ekuivalen susu cair) pada tahun 2020. Jadi, jika dikelola dengan baik, memanfaatkan inovasi dan kreativitas, apa lagi jika didukung dengan industri hulu yang memasok bahan baku dengan kuantitas dan kualitas baik, bukan tidak mungkin industri persusuan nasional Indonesia akan berkembang.

Salah satu kata kunci pentingnya adalah inovasi. Dalam rangka itulah maka FoodReview Indonesia menyajikan berbagai artikel, yang harapannya dapat berkontribusi meningkatkan inovasi di industri persusuan Indonesia. Semoga sajian FoodReview Indonesia kali ini bisa memberikan manfaat, meningkatkan daya saing produk (susu) dan industri (susu) pangan Indonesia.

Purwiyatno Hariyadi

phariyadi.staff.ipb.ac.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.