COUNTDOWN TO 2023: Menuju Dunia Bebas Asam Lemak Trans Industrial

COUNTDOWN TO 2023
Menuju Dunia Bebas Asam Lemak Trans Industrial
Salah satu prioritas dan target Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) saat ini adalah program penghilangan Asam Lemak Trans Industrial (ALTi), yaitu Asam Lemak Trans (ALT) yang diproduksi secara industrial melalui proses hidrogenasi parsial minyak nabati. WHO mempunyai target untuk mehilangkan ALTi di seluruh pasokan pangan global pada tahun 2023; Countdown to 2023 (https://apps.who.int/…/10665/331300/9789241516440-eng.pdf). Untuk itu, WHO telah meluncurkan paket kebijakan yang dinamakan sebagai REPLACE (https://www.who.int/…/nutrition-and…/replace-trans-fat).
REPLACE yang diluncurkan pada Mei 2018, berisi enam modul pedoman, yang masing-masing berupa modul untuk melakukan Review, Promote, Legislate, Assess, Create, dan Enforce mengenai berbagai kebijakan yang disarankan dilakukan menuju penghilangan ALTi. Sekali lagi, pada paket kebijakan REPLACE ini, WHO menargetkan untuk menghilangkan ALTi dari pasokan pangan global pada tahun 2023.
Seperti telah disampaikan di atas, ALTi (dalam Pustaka bahasa Inggris sering disebut industrially produced trans fat) adalah ALT yang diproduksi secara industrial melalui proses hidrogenasi parsial minyak nabati, menghasilkan partially hydrogenated oil (PHO). Tergantung dari tingkat hidrogenasinya, PHO diketahui mengandung ALTi sekitar 10-60%, dengan kebanyakan mengandung sebesar 25-45%. ALTi inilah yang diidentifikasi sebagai senyawa yang bertanggung jawab menyebabkan kematian karena penyakit kardiovaskuler. WHO memperkirakan bahwa setiap tahunnya, tingkat asupan ALTi saat ini teah menyebabkan lebih dari 500,000 kematian karena penyakit kardiovaskuler.
Karena alasan itulah maka beberapa negara mengambil kebijakan melarang penggunaan PHO pada pangan. Negara lain, membatasi secara ketat kandungan ALTi pada produk pangan beredar. Kebijakan ini diambil sebagai langkah perlindungan bagi sebagian besar populasi dunia terhadap potensi bahaya dari ALTi.
Lalu apa tantangan bagi industri pangan yang selama ini banyak menggunakan PHO, khususnya industri bakeri, snack dan konfeksioneri? Jelas mereka harus melakukan reformulasi proses dan produknya. Industri bakeri, snack dan konfeksioneri di Indonesia termasuk yang beruntung, harusnya, karena sudah seharusnya mereka terbiasa menggunakan sawit. Sebagai minyak alami yang bebas ALT, minyak sawit cukup mampu memberikan tekstur padat dan lembut yang diinginkan, tanpa harus melakukan hidrogenisasi (baca: Tantangan Reformulasi pada Industri Bakeri dan Konfeksioneri: Peluang Minyak Sawit? FRI Vol XVI (NO. 7/Juli 2021, Halaman 26-35). Karena alasan itulah banyak lembaga di dunia mengidentifikasi minyak sawit sebagai pengganti PHO yang potensial. Di banyak negara, hidrogenasi diperlukan karena minyak yang mereka pakai umumnya minyak kedelai, biji kapas, dan lain-lain yang memang memerlukan hidrogenasi untuk meningkatkan stabilitas dan untuk dapat memberikan karakter yang diinginkan.
Jadi, Indonesia harusnya melihat prakarsa WHO untuk menghilangkan ALTi pada tahun 2023 ini sebagai peluang, untuk menata industri berbasis sawit mengembangkan produknya menggantikan PHO dunia. Penelitian dan pengembangan dengan menggunakan metode fraksinasi, interesterifikasi dan pencampuran (blending) berbagai fraksi lemak bisa dieksplorasi oleh industri sawit untuk menawarkan pengganti PHO.
Sudah saatnya Indonesia, sebagai negeri penghasil minyak sawit terbesar di dunia segera (sangat segera, Countdown to 2023) perlu menyikapi kondisi ini dengan baik. Memanfaatkan peluang kesehatan dan ekonomi, serta pula peluang membangun citra positif minyak sawit. Sekaligus, peluang untuk meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia, khususnya industri bakeri, snack, dan konfeksioneri. Semoga.
Purwiyatno Hariyadi
phariyadi.staff.ipb.ac.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.