INTEGRITAS PANGAN: Menjamin Keamanan, Mutu dan Keaslian Pangan

Food Integrity “the state of being whole, entire, or undiminished or in perfect condition”.

The agricultural European Innovation Partnership (EIP-AGRI).

 

Industri pangan banyak mengalami perubahan dan perkembangan dalam cara pangan diproduksi di hulu, diproses, dipasarkan di hilir, dan bahkan dikonsumsi.  Sistem pangan menjadi semakin kompleks, memacu efisiensi dalam memenuhi tuntutan konsumen yang makin kompleks pula.  Sebagai makhluk ekonomi, konsumen selalu menuntut produk pangan dengan nilai tertinggi untuk setiap rupiah yang dikeluarkannya. Artinya, terdapat persaingan dan motivasi yang kuat bagi industri untuk menyediakan produk pangan yang lebih murah.  Hal ini dijawab oleh industry dengan melakukan inovasi untuk meningkatkan efisiensi demi memberikan layanan kepada konsumen.

Kondisi kompetitif ini ternyata juga mendorong sebagian orang tak bertanggung jawab melakukan kecurangan dengan melakukan pemalsuan pangan, secara tidak jujur menjual dengan harga lebih murah, dengan motivasi utama mendapatkan keuntungan ekonomi. Pencampuran daging sapi dengan daging kuda di Eropa, atau skandal penambahan melamin pada susu formula di China merupakan kasus pemalsuan pangan yang sangat menghebohkan. Dampak dari pemalsuan pangan tidak hanya merusak praktik adil (fair) perdagangan pangan, tetapi bahkan mengakibatkan dampak negatif luar biasa pada kesehatan publik. Pelaku pemalsuan pangan juga semakin “inventif” dalam melakukan praktik curangnya, memanfaatkan sistem pangan yang sangat kompleks.

Karena itu, dalam sistem manajemen keamanan dan mutu pangan, perlu dilengkapi dengan sistem pencegahan terjadinya pemalsuan pangan, sistem penjaminan integritas pangan. Dalam konteks sistem pangan, menjamin integritas pangan berarti menjamin keamanan, mutu dan keaslian pangan. Dari sudut bisnis, memastikan integritas pangan berarti membangun dan memperkuat kepercayaan konsumen, bahwa pangan yang dibeli dan dikonsumsinya adalah pangan aman, bermutu, asli sesuai apa yang dinyatakan pada label; dengan informasi yang benar mengenai asal-usul bahan baku, pengolah, cara pengolahan, dan-lain-lain.  Untuk itu, sistem manajemen keamanan dan mutu pangan perlu direviu, dan diperbaiki dengan pendekatan multi dan transdisiplin. Pendekatan dan kerja sama antar disiplin ilmu dan teknologi pangan (termasuk keamanan dan mutu pangan), gizi, kriminologi, sistem, IT, dan bisnis dan bahkan ahli budaya dan perilaku manusia sangat diperlukan. Dalam hal ini, setiap insan pangan -di sepanjang rantai pangan- perlu membangun budaya menghormati pangan, untuk menjamin integritas pangan.

Sekarang ini, kebutuhan akan adanya jaminan integritas pangan semakin mendesak karena data global menunjukkan bahwa kondisi wabah COVID-19 ternyata mengakibatkan peningkatan pemalsuan pangan (https:// www.foodsafetynews.com/2020/05/food-fraud-riseinevitable-because-of-covid-19/).  Aneka gangguan pada rantai pasok pangan yang diakibatkan oleh COVID-19, disertai dengan berkurangnya intensitas pengawasan, atau perubahan ke sistem pengawasan secara daring, ternyata dimanfaatkan oleh orang tak bertanggung jawab untuk melakukan perusakan integritas pangan, dengan melakukan pemalsuan pangan. Dalam hal ini, industri juga perlu lebih peka dan hati-hati, khususnya produsen produk pangan dengan permintaan tinggi, yang memerlukan kontinuitas pasokan bahan baku.  Gangguan rantai pasok (kemacetan pengiriman, kelangkaan dari pemasok) dapat memaksa industri membuka pintu bagi pemasok baru, yang jika tidak dikaji secara mendalam dan hati-hati dapat memasukkan alternatif bahan baku yang inferior, atau bahkan palsu. Juga, dalam konteks kehalalan pangan, alternatif bahan baku tersebut perlu pula dipastikan kehalalannya.

Untuk mengetahui dan mengendalikan integritas pangan diperlukan alat dan metode analisis yang memadai. Dengan semakin kompleks dan cepatnya pergerakan pangan saat ini, diperlukan alat analisis untuk mendeteksi dan melaporkan hasilnya kepada industri dan regulator secara real time, sehingga potensi masalah yang berkaitan dengan integritas (keamanan, mutu dan keaslian) pangan, dapat dideteksi secara dini dan diambil tindakan segera. Selain alat, perlu juga metode analisis yang tepat dan cepat.

Edisi FoodReview Indonesia kali ini menyajikan berbagai artikel yang mengeksplorasi berbagai pendekatan untuk memberikan jaminan integritas pangan yang lebih baik. Semoga sajian FoodReview Indonesia kali ini bisa memberikan manfaat, meningkatkan daya saing produk dan industri pangan Indonesia.

Purwiyatno Hariyadi

phariyadi.staff.ipb.ac.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.