BEVERAGES INDUSTRY: Serving Healthy Citizens

 

BEVERAGES INDUSTRY: Serving Healthy Citizens

“Healthy citizens are the greatest asset any country can have.”

―Winston Churchill (1874-1965)

 

Pandemi COVID-19 telah membawa pengaruh yang sangat dramatis bagi hampir seluruh aspek kehidupan manusia, terutama pada kesehatan masyarakat, sistem pangan, dan ekonomi. Sampai saat tahun baru 2022 ini, suasana pandemi COVID-19 juga masih terus mewarnai kehidupan masyarakat. Namun demikian, datangnya tahun 2022 ini tentu perlu disambut dengan penuh syukur. Sekaligus, berharap bahwa tahun 2022 ini kondisi berbagai aspek kehidupan akan semakin baik.

 

Dari laporan berbagai survei diketahui bahwa salah satu dampak positif pandemi adalah meningkatnya kesadaran konsumen tentang betapa pentingnya hubungan antara pangan (termasuk minuman) yang dikonsumsi dengan kesehatan, khususnya dengan kondisi sistem kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit. Akibatnya, semakin banyak konsumen tertarik dan mencari produk pangan yang diyakini dapat membantu meningkatkan kesehatan mereka atau memiliki efek pencegahan terhadap penyakit.

 

Hal ini merupakan kesempatan bagi industri pangan, termasuk industri minuman, untuk menyediakan produk pangan sesuai dengan permintaan konsumen, yaitu pangan yang berpotensi meningkatkan kesehatan konsumen atau memiliki efek pencegahan terhadap penyakit. Upaya mengembangkan, memproduksi dan memasarkan produk pangan demikian, merupakan kontribusi langsung dan manifestasi tanggung jawab industri pangan dalam pembangunan nasional, yaitu membangun kesehatan masyarakat, aset terbesar suatu negara.

 

Memasuki tahun 2022, peluang ini penting disadari oleh industri minuman di Indonesia, bahwa produk minuman yang diproduksinya dapat berkontribusi pada terciptanya konsumen yang sehat. Sering sekali dalam masa pandemi ini didengar istilah komorbid COVID-19, yaitu penyakit bawaan atau penyerta yang jika penderitanya terinfeksi COVID-19 akan membawa risiko fatal. Diantaranya, komorbid COVID-19 ini adalah obesitas dan diabetes, yang keduanya berkaitan erat dengan konsumsi gula, komponen penting dari produk minuman. Dalam hal ini, industri minuman perlu menyadari bahwa berdasarkan pada data konsumsi (termasuk data Riset Kesehatan Dasar, Kementerian Kesehatan, RI) menunjukkan bahwa sebagian besar konsumen Indonesia mengonsumsi terlalu banyak gula. Data ini berkorelasi erat dengan berbagai masalah kesehatan, khususnya obesitas dan diabetes. Salah satu sumber utama asupan gula adalah dari konsumsi minuman bergula (sugar sweetened beverages).

 

Lalu, apa respon terbaik dari industri minuman?

 

Idealnya, industri minuman Indonesia perlu membuat resolusi nyata, mengembangkan, memproduksi dan memasarkan produk minuman tanpa penambahan gula (no-added sugar), mengandung lebih sedikit gula (less sugar), rendah gula (low sugar), atau bahkan tanpa gula (no sugar), sesuai dengan karakter produknya. Sekali lagi, idealnya, industri minuman (bisa melalui komitmen bersama, melalui asosiasinya) mengembangkan peta jalan untuk mengurangi kadar gula produk-produknya. Perubahan ini sebetulnya telah didorong oleh otoritas kesehatan di berbagai negara, yang secara jelas mengkampanyekan saran kepada konsumen untuk mengurangi konsumsi gula, serta mengembangkan berbagai kebijakan, antara lain menerapkan pajak gula, untuk mendorong industri melakukan reformulasi terhadap produknya.

 

Jelas hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi industri minuman. Tantangan cita rasa dan tesktur (viskositas, mouthfeel), yaitu bagaimana menghasilkan minuman dengan sedikit atau bahkan tanpa gula tetapi dengan cita rasa dan tekstur yang bisa diterima dengan baik. Dan tentu saja, tantangan biaya, karena penggunaan bahan tambahan inovatif untuk mengimbangi pengurangan atau bahkan penghilangan gula. Tantangan-tantangan ini perlu dipecahkan dengan riset dan pengembangan, untuk menghasilkan solusi inovatif.

 

Selain tantangan pengurangan gula, industri minuman juga mempunyai tantangan (dan peluang) untuk memanfaatkan aneka bahan lokal yang diyakini mempunyai manfaat meningkatkan kesehatan dan/atau mencegah serangan penyakit. Dalam editorial “Menata Ulang Industri Minuman” (FoodReview Indonesia, Februari 2021), disinggung tentang adanya pengakuan formal/legal tentang adanya aneka bahan lokal dalam resep tradisional yang dapat dikembangkan sebagai produk minuman; khususnya untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Pengakuan formal ini dituangkan ke dalam Surat Edaran (SE) Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan (No HK.02.02/IV.2243/2020), yang secara eksplisit mencontohkan ada enam ramuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh (https://bit.ly/obat-tradisional-kemkes). Keenam ramuan tersebut menyebutkan bahan-bahan lokal seperti jahe merah, jeruk nipis, kayu manis, kunyit, lengkuas, pegagan, temulawak dan lain-lain. Jelas potensi ini perlu dieksplorasi oleh industri minuman Indonesia.

 

Dengan komitmen bersama, semangat membangun daya saing bangsa, pengembangan aneka produk minuman untuk membangun kesehatan penduduk ini dapat dilakukan. Mudah-mudahan semangat ini bisa menjadi inspirasi bagi insan industri minuman Indonesia dalam berinovasi memanfaatkan keunggulan kekayaan alamnya.

Semoga informasi yang kami sajikan dapat bermanfaat dalam meningkatkan daya saing produk dan industri minuman Indonesia.

 

Purwiyatno Hariyadi

phariyadi.staff.ipb.ac.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.