Pangan, Gizi dan Kesehatan: Pelajaran dari Pandemi COVID-19

Pangan, Gizi dan Kesehatan: Pelajaran dari Pandemi COVID-19

Silakan baca selengkapnya GRATIS, secara digital-interaktif di https://bit.ly/fri22marchonline
Daftar untuk berlangganan (GRATIS): https://bit.ly/FRIDIGITAL

The Covid-19 pandemic is fuelling the global nutrition crisis and highlighting the importance of good nutrition for our health.

The 2021 Global Nutrition Report (GNR); https://bit.ly/2021-GNR

Sudah lama diketahui bahwa ada hubungan erat antara pangan, gizi dan kesehatan. Datangnya pandemic COVID-19 telah membuat hubungan itu semakin disadari oleh banyak konsumen. Lebih dari itu, pandemi COVID-19 juga telah membuktikan bahwa pangan berhubungan erat (dan kompleks) dengan daya tahan tubuh, khususnya daya tahan terhadap infeksi virus. Hal ini pun diperkuat dengan berbagai publikasi dan rekomendasi ilmiah dari berbagai lembaga berwenang, yang menunjukkan pentingnya pangan dan gizi dalam memperkuat sistem kekebalan tubuh guna menghadapi pandemi COVID-19.

Dalam hal ini, sistem kekebalan diyakini sebagai senjata terbaik untuk melawan virus corona. Oleh karena itu, menjaga pola konsumsi pangan (diet) yang baik dengan menyertakan pangan tertentu akan dapat membantu pertahanan melawan virus. Hasil penelitian memang menunjukkan bahwa pangan tertentu, khususnya pangan kaya zat gizi mikro dan senyawa bioaktif berpotensi meningkatkan pertahanan melawan virus. Misalnya, pangan kaya vitamin C, A, D, dan E, dilaporkan dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan membantu sel-sel yang melawan infeksi. Demikian pula, pangan kaya zat gizi mikro, khususnya zat besi, seng, dan selenium, yang dilaporkan mengurangi risiko infeksi virus. Terdapat pula rekomendasi meningkatkan konsumsi jeruk, paprika, bawang putih, jahe, bayam, yoghurt, kunyit, dan pepaya dalam diet sehari-hari, untuk memperkuat kekebalan melawan infeksi. Peran pangan dan gizi dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh telah menjadi topik hangat di tengah pandemi COVID-19 ini.

Namun perlu ditekankan bahwa sampai sekarang belum ada pangan, senyawa gizi tunggal, termasuk suplemen pangan, yang mampu mencegah infeksi COVID-19. Kata kunci dari berbagai penelitian tentang hubungan pangan, gizi dan kesehatan itu adalah pentingnya diet beragam dan berimbang, mengandung zat gizi makro cukup, beragam zat gizi mikro, serta aneka senyawa bioaktif pangan. Gizi (makro dan mikro) yang cukup sangat penting untuk sistem kekebalantubuh berfungsi optimal.Peningatan kesadaran pangan-gizi-kesehatan ini, secara global terefleksikan dengan peningkatan belanja konsumen terhadap pangan yang diyakini memberikan manfaat kesehatan. Hal ini, membuka peluang bagi industry pangan untuk mengembangkan dan menawarkan produk pangan dengan nilai tambah yang berkaitan dengan manfaat kesehatan, yang sering disebut dengan istilah pangan fungsional.

Walaupun istilah pangan fungsional ini telah muncul pada awal 1980-an, tetapi sampai sekarang belum ada definisi legal (berupa standar atau peraturan) yang berlaku secara internasional. Namun demikian, dalam pustaka akademik, pangan fungsional ini didefinisikan sebagai pangan yang memiliki manfaat positif pada fungsi tubuh selain (di luar) dari fungsi zat gizi yang dikandungnya, antara lain dapat memberikan dampak (khasiat) pada peningkatan kondisikesehatan dan kebugaran dan/atau pengurangan risiko penyakit, dan/atau pencegahan penyakit.

Permintaan konsumen untuk jenis pangan seperti ini sangat besar dan terus meningkat. Dari laman pemerintah Canada (https://bit.ly/Gov-CA) dilaporkan bahwa industry pangan yang masuk kategori kesehatan dan kebugaran (Health &Wellness) – di dalamnya termasuk pangan fungsional- selama tujuh tahun mendatang diperkirakan akan bertumbuh dengan laju sekitar 9,5% (CAGR). Analisis lain (https://bit.ly/RL-functionalingredients) menyatakan bahwa walaupun dilanda krisis COVID-19, pasar global khusus pangan fungsional mencapai US$75,6 Miliar pada tahun 2020, diproyeksikan mencapai US$118,4 Miliar pada tahun 2026 (dengan CAGR = 7,6%). Terlihat, pangan fungsional dapat menjadi potensi pertumbuhan ekonomi yang besar.

Indonesia mempunyai kekayaan sumber daya alam dan tradisi tentang pangan fungsional untuk Kesehatan dan kebugaran ini. Di berbagai daerah, terdapat tradisi mengonsumsi pangan tertentu (sesuai dengan kekayaan lokalnya) untuk tujuan kesehatan tertentu; yang disebabkan karena adanya kandungan senyawa atau komponen tertentu (selain zat gizi). Sayangnya, sampai sekarang belum ada prakarsa nasional untuk mengungkap dan mengembangkan potensi luar biasa ini.

Semoga Indonesia dapat segera lolos dari bahaya pandemi COVID-19, serta lulus memetik pelajaran berharga, khususnya mengenai hubungan penting pangan-gizikesehatan. Semoga segera muncul prakarsa nasional untuk pengembangan potensi pangan fungsional sebagai sumber kekuatan baru pertumbuhan ekonomi (dan kesehatan) nasional.

Semoga sajian FoodReview Indonesia kali ini bermanfaat dalam meningkatkan daya saing produk dan sistem pangan Indonesia.

Purwiyatno Hariyadi

https://phariyadi.staff.ipb.ac.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.